
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 159...
“Jangan Percaya! Dialah iblis yang sebenarnya.” Teriak Jari Malaikat yang terbaring di tanah.
Seketika murid-murid perguruan Jari Sakti bergerak melindungi Jari Malaikat yang sedang terbaring.
“Apa-apaan kalian. Mengapa melindungi musuh yang mengacau. Bukankah tadi sudah jelas, dia salah mengenali orang hingga dikira anaknya.” Bentak Jari Malaikat yang satunya seraya mengalihkan serangannya ke tempat lain.
Kini para murid kembali di buat bingung. Mereka saling pandang. Kejadian semacam ini belum pernah mereka alami.
“Begini saja, untuk sementara jangan ada yang saling bunuh dulu. Sampai bisa di ketahui siapa Jari Malaikat yang asli.” Usul Dewi Sesat Lembah Beracun.
“Hmmmm...” gumam Jari Malaikat yang memenangkan duel tadi. “Kalian hanya tamu di sini, kalian sudah terlalu jauh ikut campur urusan perguruan kami.” Sindir Jari Malaikat lagi yang merasa tidak senang akan ucapan Dewi Sesat Lembah Beracun.
Rupanya ucapan Jari Malaikat tadi mengena di pikiran para murid perguruan Jari Sakti. Pandangan mereka terlihat mulai kurang senang dengan perempuan itu.
“Nisanak, sebaiknya kau tak usah ikut campur urusan perguruan kami. Sudah baik kami memberi pelayanan istimewa buat kalian. Bila tak bisa diam, alangkah baiknya tinggalkan tempat ini.” Ucap salah seorang murid utama perguruan Jari Sakti.
“Heeii.. apa-apaan kalian ini. Di bantu malah kasar seperti itu pada kami.” Teriak Sudika yang dari tadi hanya menonton.
Perkataan murid perguruan Jari Sakti membuat Sudika merasa tersinggung. Walaupun ucapan itu ditujukan untuk Dewi Sesat Lembah Beracun, namun ia merasa disindir juga karena datang bersama perempuan itu. Dewi Sesat Lembah Beracun sendiri mendelikkan matanya mendengar ucapan murid itu.
“Anak-anak kita tinggalkan saja perguruan tidak tahu terima kasih ini.” Ketus Dewi Sesat Lembah Beracun mengajak kedua muridnya.
“Maafkan murid-muridku Dewi, mereka tidak tahu.” Sesal Jari Malaikat yang terbaring di tanah mendengar percakapan muridnya dengan Dewi Sesat Lembah Beracun.
“Berani kau mengakui mereka sebagai murid.” Bentak Jari Malaikat yang berdiri. “Apa kau kira murid-murid bodoh tidak bisa menilai mana yang benar. Mana ada seorang ketua perguruan membiarkan urusan pribadi perguruannya dicampuri orang lain.” Ucapnya lagi.
Para murid yang mendengarkan ucapan Jari Malaikat yang berdiri itupun membenarkan pernyataan itu. Mereka bertambah yakin bahwa Jari Malaikat yang asli adalah yang memenangkan pertarungan tadi. Melihat keadaan tak berpihak pada mereka, Dewi Sesat Lembah Beracun dan kedua murid keponakannya itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Setelah kepergian ketiga orang itu, nampak Jari Malaikat tersenyum penuh kemenangan. Sayangnya hal itu tidak ada satupun dari para murid Jari Malaikat yang mengetahuinya. Perhatian mereka masih teralihkan pada Jari Malaikat satunya yang masih dalam keadaan terbaring karena terluka.
“Guru, kita apakan pengacau ini?” tanya salah satu murid sambil menendang kaki Jari Malaikat yang satunya.
“Habisi saja.. jangan sampai orang-orang persilatan menganggap perguruan kita lemah.”
“Baik guru.” Sahut para murid.
Mereka membenarkan kata-kata Jari Malaikat akan perlunya menjaga kewibawaan perguruan. Keputusan menghabisi orang yang dianggap pengacau merupakan salah satu peringatan bagi orang-orang persilatan lain agar tidak meremehkan dan berlaku sembarangan atas perguruan mereka.
Seorang murid mencabut pedang di punggungnya. Kemudian murid yang berusia kurang lebih tiga puluh tahunan itupun menebaskan pedangnya ke arah leher Jari Malaikat yang dianggap palsu itu. Saat pedang si murid hampir mengenai leher si Jari Malaikat tiba-tiba saja..
Wushh..
Sebuah bayangan merah melintas cepat di tempat itu, lalu lenyap. Secara tak di duga Jari Malaikat yang berada di tangan murid yang sia untuk di binasakan ikut lenyap. Melihat kejadian yang begitu cepat terjadi itu semua menjadi kebingungan. Termasuk Jari Malaikat yang lain.
“Hmm.. apa itu tadi? Mengapa tiba-tiba jari Malaikat bisa lenyap. Padahal tinggal sedikit lagi. Tapi tak apa, murid-murid tolol ini sudah mulai mempercayaiku sepenuhnya. Berarti aku hanya tinggal menjalankan rencana berikutnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa bisa Bayu tiba-tiba ada di perguruan Jari Sakti dsn menyelamatkan ketua perguruan itu?
Sebelumnya, melihat bayangan putih yang berkelebat melintas di hadapan mereka, Nalini mengajak Bayu untuk mengikutinya. Namun pemuda itu sama sekali tidak menggubris ucapan Nalini. Karena tanggapan Bayu yang membuatnya tidak puas, Nalinipun meminta izin untuk mengikutinya seorang diri.
Keinginan Nalini itu tidak mendapatkan izin dari Bayu. Bayupun berkata biar ia saja yang mengikuti orang itu. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang kehebatannya tiada duanya, tak perlu waktu yang lama Bayu sudah berada di dekat perguruan Jari Sakti. Sehingga dari awal kejadian ia sudah mengetahui apa yang terjadi.
Pada saat si penyamar merubah dirinya menjadi mirip dengan Jari Malaikat, Bayu sedikitpun tak melihat perubahan pada diri orang itu. Ini dikarenakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tidak mempan terhadap sihir dan Racun. Jadi dengan mudah pemuda itu mengetahui mana yang asli mana yang palsu. Sampai akhirnya saat Jari Malaikat dalam keadaan terdesak, Bayupun menyambar tubuh lelaki itu dan membawanya meninggalkan tempat itu.
“Apa yang terjadi kak? Siapa dia?” tanya Nalini seraya membantu Bayu membaringkan Jari Malaikat.
Secara ringkas Bayu menjelaskan apa yang terjadi. Kemudian pemuda itu menghampiri Jari Malaikat dan mengobatinya. Hanya dalam waktu singkat pemuda itu berhasil menyembuhkan luka dalam si Jari Malaikat.
“Terima kasih atas pertolonganmu anak muda? Kalau boleh aku tahu siapa kah engkau gerangan?” ucap Jari Malaikat.
__ADS_1
“Namaku Bayu Ki, kebetulan aku tadi lewat dan menyaksikan semua kejadian di tempatmu. Lalu aku bawa kau ketempat ini.”
“Siapakah orang yang mengacau di tempatmu itu ki? Tanya Bayu.
“Entahlah nak Bayu, aku sendiri tidak mengetahuinya. Tapi aku curiga dengan salah satu tokoh sesat yang sangat sakti, yakni Iblis Seribu Wajah. Kemampuan orang yang mengacau tadi meniru orang lain, mirip dengan kesaktian yang dimiliki dedengkot aliran hitam yang lama menghilang itu.
“Dia bukan Iblis Seribu Wajah ki. Setahuku Iblis Seribu wajah dalam menyerupai orang lain dia tidak menggunakan ilmu sihir. Sedangkan orang tadi hanya menyihir kalian, dia sedikitpun tidak mengalami perubahan.” Ungkap Bayu.
“Ahh.. benarkah itu nak Bayu? Berarti kami semua yang ada di sana terkena sihir pengacau itu.?” Tanya Jari Malaikat.
Bayu mengangguk. Iapun menceritakan kejadian tadi secara jelas. Bayupun berkata bahwa saat itu ia tak terkena sihir, sehingga mudah baginya mengetahui siapa yang asli siapa yang menyamar.
“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih nak Bayu atas pertolonganmu menyelamatkanku dan juga mengobati luka dalamku.” Ucap Jari Malaikat Bersungguh-sungguh.
Bersambung...
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.
__ADS_1