Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.232. Persaingan Para Pembantu Raja


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 232...


Besok paginya keadaan perbatasan benar-benar menjadi sangat mencekam. Kedua pihak yang akan berperang sudah siap dengan senjatanya masing-masing. Terutama pasukan kerajaan Barat, mereka telah menyiapkan pasukan yang terdiri dari orang-orang dunia persilatan. Perebutan benteng kota Batu Sangga alam kali ini diserahkan kepada pasukan yang bernama pasukan kelabang Hitam.


Pasukan kelabang hitam merupakan pasukan yang dibentuk dari orang-orang memiliki kemampuan silat yang yang diberikan ramuan racun kelabang. Dengan ramuan itu semua pasukan memiliki kesaktian ilmu pukulan racun kelabang. Walaupun kekuatannya tidak seperti pemilik aslinya, namun tetap saja yang dikeluarkan oleh orang-orang  itu sangat mematikan bagi orang biasa, ataupun mereka yang berkepandaian rendah.


Brradaamm daamm.. dammm.. damn..


Tabuhan genderang perang mulai dibunyikan. Pasukan pasukan kerajaan barat yang siap menaklukkan benteng kota Batu Sangga alam berjajar di depan benteng dengan jarak kurang lebih delapan puluh tombak. Sedangkan di atas benteng kota para pasukan pemanah telah siap melepaskan anak panahnya.


“Pasukan kelabang.. Seraaang!” teriak panglima perang kerajaan barat.


Seketika pasukan berpakaian serba hitam dengan jumlah sekitar seratus orang bergerak cepat menuju benteng pertahanan kota Batu Sangga alam. Di pihak lawan perintah untuk melepaskan busur panah telah di ucapkan. Ribuan anak panah menyerang pasukan kerajaan barat yang berpakaian serba hitam yang berlari cepat menuju benteng. Hanya beberapa orang yang terkena panah namun itu pun mereka masih tetap bisa lari dengan cepat seolah tidak terjadi apapun. Sementara pergerakan mereka sudah sangat dekat dengan benteng pertahanan.


Dengan sangat terlatih pasukan berpakaian serba hitam menaiki benteng penjagaan kota yang cukup tinggi itu mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan bertumpu pada temannya sendiri. Satu demi satu dilontarkan dari bawah berpijak pada tangan temannya yang lain. Saat berada diatas mereka langsung melepaskan pukulan jarak jauh ilmu kelabang hitam. Sontak para penjaga yang sebagian besar tidak mengerti ilmu silat secara telak terhantam pukulan dan roboh.


Yang mengenaskan adalah pasukan yang lain yang tidak mengetahui bahwa temannya telah terkena racun. Saat  satu prajurit roboh, prajurit yang lain menyingkirkan jasad temannya. Tak pelak racun yang sudah bersarang  di jasad prajurit  lain yang telah mati, kembali meracuni pasukan yang lain saat mereka menyentuh jasad temannya itu. Seketika keadaan semakin panik hingga terdengar teriakan dari salah satu sudut untuk tidak menyentuh teman yang terkena pukulan lawan.


“Yang Mulia, keadaan benteng sungguh memprihatinkan. Musuh menyerang dengan  pasukan yang terdiri dari ahli-ahli silat yang memiliki pukulan beracun. Sudah hampir separuh pasukan kita yang tewas, bagaimana menurut yang mulia.”

__ADS_1


“Kasihan para prajurit yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdaya melawan orang-orang dunia persilatan. Kibarkan bendera putih dan secepatnya kita meninggalkan tempat ini. Walaupun  itu hal yang sangat berat bagiku, namun untuk keselamatan para prajurit kita harus melakukannya.” Ucap pemimpin kota.


Mendengar ucapan pemimpin kota seperti itu, perwira yang melihat langsung keadaan para prajuritnya menjadi sangat lega. Lalu dengan sigap ia memerintahkan anak buahnya untuk menjalankan keputusan yang diambil oleh pemimpin kota tadi. Sedangkan  ia sendiri mempersiapkan kepergian mengawal pemimpin kota mengungsi dari kota Batu Sangga Alam.


Sementara itu di luar banteng  terdengar sorak-sorakan  kegembiraan dari pasukan kerajaan Barat. Hal ini dikarenakan mereka melihat kibaran-kibaran  bendera putih tanda menyerah nya pasukan lawan. Tak lama kemudian pintu gerbang benteng kota Batu Sangga alam terbuka. Lalu secara perlahan pasukan pasukan kerajaan barat memasuki kota tersebut.


Sekitar sepeminuman teh lamanya, akhirnya pasukan perang kerajaan barat pun memasuki kota Batu Sangga alam seluruhnya. Para pemimpin pasukan perang langsung menuju kediaman pemimpin kota. Untuk sementara mereka beristirahat di kota tersebut sebelum mereka melanjutkan perjalanan menaklukan kota-kota yang lain.


“Mohon maaf panglima, izin melaporkan!” ucap seorang prajurit yang datang berlutut satu kaki sebagai bentuk penghormatan.


“Ada apa kau datang menggangguku. Baru saja aku menikmati kursi kebesaran pimpinan kota ini kau sudah datang mengganggu. Apabila bukan berita penting yang kau sampaikan akan ku penggal kau.” Ucap sang Panglima.


“Mohon ampun yang mulia, hamba hanya menyampaikan pesan dari Tuan Braja Pasupata bahwa semua panglima perang di tunggu di ujung benteng perbatasan.  Yang  mulia raja akan datang untuk  menyampaikan beberapa hal. Katanya jangan sampai terlambat. Kalau  tidak, siapapun yang terlambat akan...” Ucap sang prajurit terpotong tidak berani meneruskan perkataannya.


“Hamba tidak berani.” Jawab si Prajurit dengan kepala tertunduk.


“Katakan! Atau kau yang akan kupenggal!” ucap sang Panglima mulai emosi.


“Dihabisi.. yang mulia. Itu yang di katakan tuan Pasupata.” Jawab Prajurit itu gemetaran.


Craaakkk..

__ADS_1


“Bedebah Pasupata itu. Baru menjadi pembantu yang mulia raja sudah belagu.” bentak sang Panglima gusar.


Tanpa belas kasihan Panglima itu memenggal kepala prajurit yang menyampaikan pesan. Ia begitu gusar atas ucapan yang disampaikan oleh braja pasupata melalui mulut prajurit itu. Dengan perasaan marah Ia pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian beranjak dari sana menuju tempat berkumpulnya para panglima yang di disampaikan oleh prajurit tadi. Lelaki itu berangkat menggunakan kuda perang tunggangannya.


Di tempat yang  ditentukan oleh Raja barat itu telah berkumpul banyak panglima perang kerajaan, ditambah beberapa orang tokoh dunia persilatan yang menjadi pembantu utama Raja Barat. Dengan agak malas-malasan panglima perang yang menaklukkan  kota Batu Sangga Alam turun dari kudanya. Kemudian Ia pun melangkah menuju sebuah tempat dibangunnya tenda-tenda pasukan sayap kiri.


“Selamat datang  Panglima Maludra. Selamat atas keberhasilanmu menaklukkan kota Batu Sangga alam. Pasti kau akan mendapatkan hadiah besar dari yang mulia raja. Memang benar kata pepatah bahwa di bawah pimpinan Panglima yang kuat tidak ada prajurit yang lemah.” Puji Panglima Sayap kiri pasukan perang kerajaan Barat yang bernama Daru Parima itu.


“Hmmm.. rupanya panglima perang yang mengandalkan pasukan orang lain untuk menang merebut kota telah datang. Panglima hebat apanya, hanya memiliki pasukan gentong nasi yang tidak bisa diandalkan. Seandainya Bukan pasukan kelabang ku yang membantu mungkin malah pasukannya yang dibantai oleh penjaga gerbang kota Batu Sangga alam.” Ucap seorang pemuda berpakaian serba hitam yang tak lain adalah jasad jelmaan Braja Pasutpata atau Iblis Kelelawar itu.


“Bedebah kau Pasupata. Kau kira tanpa pasukan kelabang mu itu aku tak sanggup merebut kota. Pasukanmu pun bukan pasukan terbaik yang bisa diandalkan. Buktinya dari seratus pasukan yang kau kirim untukku hanya bertahan enam puluh orang yang masih hidup.” Balas panglima Maludra dengan nada keras dan menghina.


“Hahaha siapa yang tidak tau pasukanku itu kau jadikan sebuah umpan untuk menghabisi prajurit-prajurit kerajaan Selatan. Memang pasukanmu Tak ada satupun yang mati karena tidak ada satu pun juga yang turun ke gelanggang pertempuran. Panglimanya pengecut apalagi pasukannya.” Ejek Braja Pasupata lagi.


“Bedebah!” maki Panglima Maludra. Ia pun mencabut pedangnya hendak menebas leher Braja Pasupata. Braja Pasupata sendiri membiarkannya tanpa melawan. Hingga pada saat pedang itu akan menyentuh lehernya, muncul bias sinar berwarna hitam melindungi kulit Raja Iblis Kelelawar itu.


Traaannggg..


Pedang Panglima Maludra patah menjadi dua bagian. Lelaki separuh baya itupun berubah pucat mukanya. Ia tak menyangka sama sekali orang yang dianggapnya saingan ini memiliki kekebalan terhadap senjata tajam.


Bersambung..

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya agar novel ini bisa terus maju


 


__ADS_2