Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.181. Memilih Calon Ketua


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 181...


 


“Begitulah kabar yang aku terima dari sumber yang dipercaya. Aku mengumpulkan kalian kesini untuk sama-sama mendiskusikan bagaimana cara mengatasi masalah yang timbul akibat dua hal besar tersebut.” Ucap Pertapa Sakti tanpa nama lagi.


“Tetua apa kah kau juga mendapat kabar tentang pemberontakan terhadap kerajaan yang mendapat dukungan dari pendekar ternama Malaikat Putih.” Tanya Jari Malaikat.


“Aku memang mendapatkan informasi itu. Tapi aku tak tertarik sama sekali dengan urusan kerajaan, jadi masalah pemberontakan tidak aku bicarakan di sini. Kecuali masalah raja yang memusuhi orang-orang persilatan.”


“Tetua, dengan keadaan seperti itu, kita yang dimusushi oleh kerajaan, apakah kita hanya diam menunggu kematian di tangkapi para prajurit kerajaan. Raja yang sekarang memang dzolim. Bahkan jelas bagaiman nasibnya. ketua kami sampai sekarang tidak  ” potong wakil ketua perguruan Bambu Sakti.


“Benar tetua, ketua kami juga sampai sekarang tidak dapat ditemukan.” Timpal wakil ketua perguruan Bangau Putih.


“Hmm.. untuk urusan pemberontakan aku tak ikut campur. Tapi untuk orang-orang persilatan yang menghilang oleh perintah Raja Selatan, mau tidak mau kita akan meminta pertanggung jawabannya.” Sahut Pertapa Sakti Tanpa Nama.


Sesaat semua hening. Mereka sendiri sebenarnya tak ingin mengurusi masalah kerajaan. Tapi perbuatan Raja Selatan yang membunuhi daan menculik ketua-ketua dunia persilatan.


“Untuk pertemuan di benteng dewa nanti aku harap kerjasama kalian supaya yang memenangkan pertandingan nanti dan menjadi ketua dunia persilatan merupakan salah satu dari kalangan kita.”


“Tetua, kami kurang mengerti, mohon penjelasannya.” Tanya salah seorang dari pendekar yang berada di situ.


“Aku menginginkan kita bersatu, dan menunjuk satu atau dua orang yang kita calonkan sebagai ketua dunia persilatan. Kemudian pada pertemuan nanti di bukit benteng dewa, menjadikan dia wakil kita, sehingga mencegah pertarungan terjadi antara kita sesama aliran. Jadi kita tidak perlu bertarung yang memungkinkan kita kehabisan tenaga lebih dahulu sebelum ke pertarungan akhir.”


Sebagian besar orang yang berada di sana mengangguk anggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat Pertapa Sakti Tanpa Nama. Mereka pun mawas diri, sadar akan kemampuan  belum layak untuk memimpin para pendekar. Baik kemampuan dalam hal kesaktian, maupun kecerdasan.


“Tetua, menurutmu siapa yang pantas untuk mendapatkan kedudukan itu?”

__ADS_1


“Aku yang sudah tua ini berpikir sebaiknya yang menjadi wakil kita nantinya adalah angkatan muda yang memiliki kesaktian mumpuni. Dalam hal ini aku mengusulkan penerus Malaikat Bertangan Sakti dan penerus Malaikat Petir. Arya dan Jaka si Pendekar Halilintar.”


“Aku setuju...”


“Setuju...”


“Setuju..”


Bersahut-sahutan para pendekar menyatakan kesetujuannya. Hanya sebagian kecil saja yang diam tidak menyatakan kesetujuannya. Mereka masih menimbang-nimbang  apa keputusan itu tepat atau tidak.


“Tetua, maafkan sebelumnya bila aku lancang mengemukakan hal ini. Apabila ditinjau dari segi kebijaksanaan di antara kedua calon yang kau usulkan aku menjagokan murid mendiang Malaikat Bertangan Sakti. Namun rasa-rasanya itu tak cukup kalau tidak diimbangi kesaktian, karena di saat bertarung nanti tentu ia akan menghadapi banyak lawan tangguh. Kalau dalam hal kesaktian, selain kau sendiri di sini mungkin tidak ada yang mampu mengungguli pendekar Halilintar. Tapi semua masih tidak mungkin.” Ucap Jari Malaikat.


“Tidak mungkin bagaimana maksudnya?” tanya Pertapa sakti tanpa nama sedikit emosi.


“Maaf sebelumnya, bukan maksud merendahkanmu nak Jaka.” Ucap Jari Malaikat seraya mengalihkan pandangannya kepada Jaka yang berada di dekat Pertapa Sakti Tanpa Nama. “Di  dunia persilatan saat ini ada seorang pemuda sakti yang bergelar Rajawali Merah, rasa-rasanya saat ini tak ada seorangpun dalam dunia persilatan berada di atasnya. Selain dia di Benteng Dewa ada Dewa Iblis Kegelapan, akupun yakin tak satu orangpun di sini yang berada di atasnya.”


Jari Malaikat diam sejenak. Sementara yang lainnya terbang dengan pikirannya masing-masing. Tak terkecuali Pertapa Sakti Tanpa Nama ia masih ingat dulu Rajawali Merah pernah menghajarnya dan juga Iblis Muka Hitam hingga babak belur. Belum lagi keajadian di Bukit Kosong, pertarungan yang benar-benar dahsyat sehingga membuat Empu Adhiyak Sona harus mengorbankan dirinya.


“Jadi maksudmu perwakilan kita yang ada di sini tidak satupun  mampu mengalahkan mereka berdua.” Tanya Pertapa Sakti Tanpa Nama sambil mengerutkan dahinya.


“Kurang lebihnya seperti itu tetua. Kita boleh saja berstrategi, tapi jangan sampai tanpa perhitungan. Kalau bertanding masalah kesaktian sepertinya kita bakalan kalah telak, sebaiknya kita mencari cara lain untuk bertanding.” Ucap Jari Malaikat lagi.


“Tenang saja, ketua kami tidak akan ikut andil dalam pemilihan ketua dunia persilatan”


Tiba-tiba terdengar suara menggema dengan pengerahan tenaga dalam. Hampir semua orang merasakan getaran pada dada mereka saat suara itu terdengar.  Dapat dipastikan orang yang berbicara memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.


Tiba-tiba terdengar suara orang melangkah dari arah pintu masuk hutan. Semua orang menoleh ke arah sana. Nampak seorang lelaki berpakaian jingga di dampingi dua orang lelaki berpakaian serba hijau. Orang itu tidak lain adalah Pranggala dan dua orang anggota tingkat tiga dari perkumpulan Istana Lembah Neraka.


“Salam hormat pendekar-pendekar sekalian. Maafkan bila kedatatangan kami yang tak diundang ini mengganggu kenyaman kalian. Kami datang hanya ingin menyampaikan pesan ketua kami Rajawali Merah.”

__ADS_1


“Selamat datang ki sanak, sebuah kehormatan bagi kami semua, wakil ketua Istana Lembah Neraka datang ke pertemuan ini. Maafkan kami yang tak sempat menyampaikan undangan ke lembah neraka.” Sahut  Jaka membalas kesungkanan orang.


Wusssshh...


“Silakan tuan, terimalah penghormatan kami, maafkan hidangan kami seadanya, dan teh pun sudah dingin.” Ucap Pertapa Tanpa Nama sambil melemparkan secangkir teh dan buah pisang melayang ke arah Pranggala.


Lemparan itu bukan lemparan biasa, lemparan yang mengandung tenaga dahsyat seorang Pertapa Sakti Tanpa Nama. Serangkum hawa dingin pun merayapi mereka yang dilewati cangkir yang di lempar.


Seolah tak terjadi apa-apa, dengan santai Pranggala menangkap cangkir yang berisi air teh yang didinginkan oleh tenaga sakti yang dialirkan Pertapa Sakti Tanpa Nama. Nampak dari dalam cangkirmengepul asap. Pertanda air yang ada di dalam cangkir itu sangat panas. Sedangkan pisang yang di lemparkan pun dalam jarak satu depa sebelum mendekatipranggala tiba-tiba kulitnya mengelupas sendiri.


“Ohh..”


Seru  riuh terdengar dari decak kagum sebagian  besar pendekar-pendekar yang ada di situ. Tanpa terlihat melakukan pengerahan tenaga, tiba-tiba air di cangkir yang tadinya sangat dingin berubah menjadi sangat panas. Seketika perubahan itu terjadi saat cangkir menyentuh kedua jari yang menangkap cangkir.


“Terima kasih tetua, air tehnya cukup hangat dan nikmat.” Ucap Pranggala sambil melemparkan kembali cangkir kepada Pertapa Sakti Tanpa Nama.


Sekilas memang terasa hawa hangat oleh beberapa orang pendekar  yang dilalui cangkir teh yang melesat kearah Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Ukh..


Brakkk...


Pertapa Sakti Tanpa Nama memekik tertahan saat menangkap cangkir  yang di lemparkan  Pranggala. Orang tua itupun menghempaskan cangkir itu kemeja karena merasakan hawa yang sangat panas pada tangannya. Beberapa percik air tumpah ke atas meja dan membuat sebuah pemandangan yang luar biasa terjadi. Air yang tumpah itu bagaikan air keras langsung membuat meja berlubang.


Bersambung..


sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :


1. memencet tombol like

__ADS_1


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.


__ADS_2