Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Tewasnya Raja Obat, dan munculnya Raja Barat


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 269...


Dewi Api dan Eka Wira melesat ke arah Raja Iblis Kelelawar yang sedang berdiri  mengawasi jalannya perang. Sambil melesat dewi api mengirimkan sebuah pukulan Jarak Jauh ke arah Raja Iblis Kelelawar. Sebuah bola api kecil berwarna kemerahan meluncur cepat. Beberapa saat sebelum bola api itu mengenainya, Raja Iblis Kelelawar sadar bahwa ada yang menyerangnya.


Blaaarrr..


Bola api menyambar tepat di tempat Raja Iblis Kelelawar berdiri. Beruntung ia cepat sadar sehingga sempat menghindari serangan. Raja iblis kelelawar melompat tepat sebelum bola api menyambar tubuhnya. Bola api pun meledak di tempat itu dan mengenai beberapa orang pasukan pemanah sehingga mereka berteriak kesakitan karena terbakar.


Kembali Dewi api memberi serangan jarak jauh dengan bola apinya. Kini bola api yang  dilontarkannya jauh lebih besar. Kali ini Raja Iblis Kelelawar mencoba menangkis serarangan itu. Braja Pasupata mengerahkan  tenaga saktinya hingga sepuluh bagian.


Blammmm..


“Ukhhh..”


Tubuh Braja Pasupata terlempar hebat hingga puluhan tombak. Beruntung ia tidak sampai terluka parah. Hanya dadanya saja sedikit tergetar hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Braja Pasupata bangkit dan kembali harus melesat menghindar menjauhi tempatnya agar tidak terkena serangan lagi.


Berkali-kali Braja Pasupata harus jatuh bangun menghindari serangan, tanpa ia sadari telah berada jauh dari tempat peperangan. Semua memang sudah direncanakan Dewi Api untuk menjauhkan Raja Iblis Kelelawar dari kawanannya yang berada di sekitar  peperangan. Dengan begitu, mudah bagi Dewi api untuk merobohkan raja iblis kelelawar.


“Siapa kau? Mengapa kau membawa aku kesini?” Ucap Braja Pasupata penasaran dengan perbuatan Nalini yang menggiringnya menjauhi medan peperangan.

__ADS_1


“Serahkan mutiara pengikat jiwa, maka kau akan kuampuni,” sahut Dewi Api.


Terkejut juga Raja iblis kelelawar mendengar ucapan Dewi api yang mengetahui bahwa mutiara pengikat jiwa ada padanya. Namun walaupun ia ingin menyerahkan mutiara itu untuk keselamatannya, tidak mungkin ia mengeluarkan mutiara itu dari tubuhnya sendiri. Apabila ia lakukan, maka perbuatan itu akan mengancam keselamatannya sendiri. Tanpa mutiara pengikat jiwa di tubuhnya, Ia hanya akan bisa bertahan hidup paling lama tiga hari di tubuh barunya.


“Permintaan itu sulit untuk ku kabulkan nisanak.  Dengan meminta itu dariku sama saja kau telah meminta nyawaku untuk dicabut. Tidak mungkin Aku memberikannya kepadamu,” jawab Braja Pasupata.


“Kalau begitu aku akan mengambilnya secara paksa!” ancam Dewi Api.


Sebenarnya ucapan Dewi Api itu tidak mungkin bisa dilakukannya. Mengeluarkan mutiara pengikat jiwa yang berada di tubuh seseorang hanya bisa  dilakukan oleh orangnya sendiri, atau dengan ilmu tertentu. Salah  satunya ilmu tujuh gerbang alam semesta. Apabila ia melakukannya dengan cara membunuh, maka mutiara pengikat jiwa akan hancur bersama tewas nya orang tersebut. Ini pun sudah diketahui oleh Dewi api, itu sebabnya ia memanfaatkan ilmu yang ada pada Bayu untuk melakukannya.


Dewi api mengerahkan tenaga saktinya. Seketika itu juga tubuh Dewi Api memancarkan api berwarna kemerahan. Terkejut juga Raja Iblis Kelelawar melihat perubahan pada tubuh Dewi api. Baru kali ini ia melihat tenaga sakti yang memancarkan api tanpa membakar tubuh  itu sendiri.


Dewi api melesat ke arah Raja Iblis Kelelawar. Kali ini Dewi api menyerang lawannya dari jarak dekat. Braja Pasupata mencoba menangkis setiap serangan yang dilancarkan padanya. Namun setiap tangannya bentrok dengan Dewi Api, bukannya mampu menangkis serangan, namun dia beberapa kali harus terjajar beberapa langkah. Ia pun harus merasakan hawa  teramat panas pada bagian tubuhnya yang digunakan untuk menangkis.


Blammmm..


Sebuah ledakan dahsyat kembali terjadi. Serangan tenaga yang sifatnya keras di lawan oleh Braja Pasupata dengan jenis tenaga yang sama, sehingga menimbulkan bentrokan tenaga yang sangat dahsyat.  Mau  tidak mau Braja pasupata harus menelan pil pahit dikarenakan kekuatannya tidak mampu menahan arus tenaga sakti dari musuh. Ia pun sekali lagi harus terlempar jauh dari tempatnya. Bahkan kali ini mulutnya sampai menyemburkan darah segar pertanda ia mengalami luka dalam yang cukup berat.


Perlahan Dewi Api berjalan menuju Raja Iblis Kelelawar yang tergeletak lemah di tanah. Melihat Dewi Api mendekat, Raja Iblis kelelawar mengeluarkan sesuatu di balik bajunya. Kemudian ia memasukkan sebuah pil ke dalam mulut, dan melempar sebuah benda lain ke atas langit.


Duaaarrr..

__ADS_1


Sebuah kembang api melesak di atas langit. Ternyata yang dilempar oleh Raja Iblis Kelelawar adalah sebuah kembang api tanda bahaya. Ia mencoba menghubungi rekan-rekannya yang berada di medan perang. Melihat apa  dilakukan oleh Raja Iblis Api itupun tersenyum. Pandangannyannya di arahkan ke arah kanan di mana di sana Eka Wira sedang bersembunyi  melihat pertarungan   Dewi Api.


Dewi Api memang sengaja menyuruh Eka wira untuk bersembunyi di balik semak-semak untuk melihat pertarungan. Ia memerintahkan agar untuk membuka pagar gaib yang melindungi keberadaan Dewi api apabila sudah waktunya. Hal ini bertujuan untuk memancing kedatangan Bayu si Rajawali marah. Setelah orang yang di maksud, iapun akan memainkan sandiwaranya.


Di medan perang pertarungan antara Jantar Geni melawan dua orang jagoannya Pangeran Mandaka masih berlangsung seru. Jantar Geni memang memiliki tenaga sakti yang luar biasa. Tangan, mulut, dan matanya bisa mengeluarkan api untuk menyerang lawan. Nampak dua orang lawannya, si Raja Peramal dari Timur dan Dewa Tapak Putih tengah kepayahan menghadapi Raja Iblis Kelelawar tersebut. Pertarungan yang dilakukan dari jarak dekat maupun jarak jauh, Jantar Geni berada di atas kedua lawannya.


Sementara itu Dewa Obat kini melawan dua orang jagoannya Pangeran Mandaka. Setelah berhasil membinasakan Singa Lembah Hitam, pendekar bayangan setan membantu Iblis Kalong Merah menghadapi Dewa obat. Kali ini rajanya di dunia persilatan dalam hal meramu obat itu mengalami kesulitan menghadapi ke dua lawannya. Posisi yang tadinya ia berada di atas angin kini berbalik membuatnya terdesak. Beberapa kali Dewa Obat terkena hantaman tenaga sakti lawan, namun beruntung ia memiliki obat mujarab yang seketika membuatnya sembuh.


“Kalau begini terus bukannya mati karena pukulan lawan, malah aku akan mati keracunan karena kebanyakan menelan obat. Aku harus mencari jalan bagaimana caranya untuk meninggalkan tempat,” gumam Dewa Obat.


Namun terlambat, apa yang dipikirkannya tidak lagi bisa ia wujudkan. Perpaduan serangan kedua orang tokoh nomor satu di dunia persilatan dari negeri Timur berhasil menembus pertahanannya. Dari depan pukulan Kalong Darah menghantam dada Dewa Obat, sementara dari belakang Pendekar Bayangan Setan berhasil menusuk dengan pedang  di tangannya] sehingga menembus dada ahli pengobatan itu.


“Akhhhh..”


Dewa obat roboh bersimbah darah. Pandangannya nanar menerawang di detik-detik azalnya. Ada rasa penyesalan dalam dirinya karena telah bergabung dengan Braja Pasupata. Namun di sisi lain ia menganggap itulah bentuk pengabdiannya kepada sang kakak kandung. Dewa obat pun menghembuskan nafas terakhirnya sebagai pasukan pasukan kerajaan Raja Barat.


Tepat  saat terbunuhnya Dewa Obat, kembang Api dari arah pertarungan Raja Iblis Kelelawar terlihat meledak di langit. Semua orang yang ada di medan perang melihat keatas langit namun sebagian lain tidak memperdulikannya. Berbeda dengan Jantar Geni yang tahu itu adalah isyarat bahaya dari muridnya.


“Kau Bantulah muridmu, dia sedang menghadapi mahluk keramat burung api. Biar aku membereskan semua yang ada di sini.”


Entah Dari mana datangnya tiba-tiba saja muncul Raja Barat di tengah-tengah pertarungan antara Jantar Geni melawan dua  orang jagoan dari pihak pangeran Mandaka. Melihat ucapan itu datangnya dari Raja Barat, Jantar Geni pun mengangguk. Ia pun segera meninggalkan tempat itu menuju kearah muridnya berada.

__ADS_1


__ADS_2