Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.233. Pertemuan yang tak diduga


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 233...


“Segitu sajakah kemampuanmu Maludra? Dengan kemampuan tingkat keroco seperti mu mau bersaing denganku. kita tidak sekasta Maludra!  Cari mati kau! Hahaha..”


Braja Pasupata tertawa mengejek melihat Panglima Maludra yang tak berkutik oleh sindirannya. Atraksi kekebalan terhadap senjata yang ia pamerkan tadi memang membuat panglima itu menjadi mati kutu dan kehilangan nyali untuk membuat masalah dengannya lagi. Braja pasupata sendiri memang sangat muak dengan kelakuan Panglima Maludra.


“Sudah cukup pertengkaran kalian yang tidak perlu itu, atau harus ku beri pelajaran kepada kalian berdua supaya tidak lagi  ribut sesama kawan.”


Tiba-tiba saja terdengar suara teguran keras kepada Braja Pasupata  dan panglima Maludra. Sesaat kemudian muncul asap hitam di hadapan mereka. Lalu hanya berselang waktu setarikan napas asap itu pun sirna kini yang nampak adalah perwujudan dari Raja Barat.


“Hormat kepada yang mulia, semoga yang mulia panjang umur.”


Serentak semua panglima perang dan beberapa orang  persilatan yang berkumpul di tempat itu berlutut saat kemunculan Raja Barat atau orang yang menamakan dirinya dengan sebutan penguasa jagad.


“Di saat seperti ini kenapa masih saja kalian meributkan sesuatu yang tidak penting. Di depan kita masih banyak rintangan yang menghadang dan kita masih perlu menaklukkan kota-kota sebelum akhirnya kita menyerang kota Raja. Kalau kalian selalu ribut seperti ini bagaimana caranya kita bisa memenangkan peperangan ini.” Ucap Raja Barat sedikit marah.


Semua yang ada disana tertunduk mendengarkan ucapan Raja barat yang bernada marah itu.


“Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan. Ingat ini peperangan antara kerajaan, jadi hindari sebisa mungkin untuk bentrok dengan orang-orang dunia persilatan. Kita hanya perlu memenangkan peperangan ini tidak usah mencari permasalahan” Ucap Raja Barat lagi.


“Baik Baginda. Untuk menarik simpati rakyat jangan berlaku sewenang-wenang, apalagi melakukan kejahatan pada rakyat. Utamakan usaha memenangkan peperangan bukan untuk mencari kesenangan dulu. Paham?”


“Paham yang mulia.” Jawab mereka lagi serentak.


“Kota Batu Sangga alam akan kita jadikan tempat utama pusat pemerintahan sementara seluruh pasukan. Aku yang akan langsung memerintah di sana. Apabila ada keperluan dan mengharuskan ku untuk meninggalkan tempat, maka pusat pemerintahan Selatan akan di pimpin oleh braja Pasupata.”


Kemudian Raja Barat  menjelaskan rencana-rencana selanjutnya yang akan dijalankan, terutama oleh pasukan perang. Setelah  selesai menjelaskan semuanya, Raja barat meninggalkan tempat itu. Begitu diikuti yang lainnya kembali ke tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


Sementara itu di desa yang berada di bawah kaki bukit benteng Dewa, Pangeran Mandaka mendapatkan kabar bahwa Bayu si Rajawali merah berada di perguruannya. Ia pun mencari cara bagaimana agar bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu pemuda itu.


Alangkah merasa beruntungnya pangeran Mandaka.  Pucuk  dicinta ulam pun tiba, tanpa disengaja Bayu dan Intan datang ke penginapan tempat pangeran Mandaka berada. Pagi itu  setelah menyelesaikan beberapa permasalahan dan memberikan pelatihan kepada murid-murid perguruan tangan dewa, keduanya memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan mencari keberadaan Nalini. Sebelum kembali ke tempat terakhir mereka menemukan jejak nalini, keduanya memutuskan untuk singgah dulu di desa terdekat dari benteng Dewa untuk melihat-lihat keadaan.


“Silakan den, den ayu!” ucap seorang pelayan ketika melihat kedatangan Bayu dan Intan ke tempatnya.


Memang tempat itu adalah penginapan sekaligus rumah makan. Keduanya sudah berencana untuk mengganjal perut mereka pagi ini di tempat itu sehingga memutuskan tidak makan dulu sebelum meninggalkan benteng dewa. Memang rumah makan itu selain terkenal memiliki masakan khas daerah setempat, di tempat itu juga biasanya mudah ditemukan informasi-informasi ataupun perkembangan yang terjadi di dalam dunia persilatan.


“Mau pesan apa den?” tanya pelayan lagi setelah keduanya memilih tempat.


“Masakan yang menjadi khas tempat ini ya mang, sama minumannya.” Ucap Bayu.


“Baik den, tunggu sebentar mamang siapkan!” sahut pelayan itu seraya masuk menyiapkan pesanan.


Tak lama menunggu akhirnya pesanan Bayu dan Intan pun datang. Mereka pun langsung menikmati hidangan yang mereka pesan. Nampak dari sudut rumah makan pangeran mandaka terus mengawasi gerak-gerik kedua pasangan muda-mudi itu.


“Intan!”


Tiba-tiba terdengar panggilan suara seorang lelaki tua kepada Intan. Gadis itu pun menoleh ke arah asal suara. Betapa terkejut dan gembiranya si gadis melihat siapa yang memanggilnya.


“Kakek!” ucap Intan seraya berdiri dan berlari  ke arah seorang lelaki tua yang berjalan ke arahnya.


Benar saja lelaki yang memanggilnya itu adalah kakeknya Intan yang bernama Eyang Ranubala guru besar padepokan Naga Geni yang berada di negeri timur.


“Intan cucuku, kau sudah sangat banyak berubah. Kenapa tidak pernah pulang menjenguk kakekmu ini.” Ucap eyang Ranubala.”


“Mari eyang duduk dulu. Kita bercerita sambil makan.” Ucap intan sambil menarik lengan kakeknya membawanya ke tempatnya tadi. “Pelayan siapkan satu porsi makan lagi untuk kakekku ini.” Ucap intan setengah berteriak kepada pelayan.


Ketika eyang Ranubala datang ke meja tempat ia makan, Bayu pun berdiri menyambutnya. Pemuda itu menjura sebagai bentuk penghormatan kepada kakeknya Intan. “Salam hormat eyang, bagaimana kabarmu?” ucap Bayu sambil tersenyum.

__ADS_1


Eyang Ranubala  membalas penghormatan Bayu sambil menjura, sesudah itu ia pun duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Intan. “Banyak baik anak muda. Kau sendiri bagaimana? Kulihat dari sorot mata dan pancaran wajahmu  jauh lebih matang dari saat kita bertemu pertama kali dulu. Banyak  hal yang sudah berubah dan tentu  banyak kemajuan dari ilmu kanuragan yang kau miliki.” Sahut orang tua itu.


“Ah.. hanya sebuah proses pendewasaan eyang, bukan sebuah perubahan yang istimewa.” Jawab Bayu merendah.


“Eyang sebenarnya apa yang membawamu meninggalkan padepokan hingga jauh-jauh datang ke negeri Selatan ini.” Tanya Intan penasaran.


“Hahaha, kau tidak berubah cucuku. Selalu saja tidak sabaran. Biarkan kakekmu ini menikmati hidangan yang kau pesankan tadi, baru kita bicara lagi.” Ucap Eyang Ranubala.


Intan pun tersipu malu mendengar ucapan kakeknya itu. Ia memang sangat penasaran apa yang menyebabkan kakeknya jauh-jauh datang ke negeri Selatan bahkan rela meninggalkan padepokannya. Padahal Ia sangat tahu bahwa kakeknya itu paling jarang  meninggalkan padepokan kecuali dalam keadaan sangat terpaksa.


“Salam hormat guru! Maafkan muridmu ini lama tidak pulang ke padepokan. Semoga kau orang tua selalu sehat dan mendapat perlindungan yang maha kuasa.”


Tiba-tiba seorang lelaki muda berlutut dihadapan Eyang ranubala.  Ia  memberikan penghormatan selayaknya seorang murid kepada guru. Kakeknya Intan itu pun menoleh, Ia pun sedikit terkejut ketika melihat siapa lelaki muda yang berlutut memberikan penghormatan kepadanya.


“Mandaka! Rupanya kau pun ada disini juga. Apakah di ke..”


“Sekali lagi maafkan murid guru. Memang tidak sempat memberi kabar saat memutuskan mengembara.” Jawab Mandaka. Nampak sorot mata pangeran putra mahkota kerajaan Selatan itu seperti memberi isyarat kepada Eyang Ranubala.”


Eyang Ranubala  menjadi sadar bahwa muridnya ini sedang merahasiakan  jati dirinya sebagai seorang pangeran. Orang tua itupun menyuruhnya  bangkit, dan mengajaknya bergabung di meja intan dan Bayu. Mandakapun tak menyia-nyia kan kesempatan ini. Ia  bergabung dengan mereka setelah sebelumnya memberikan penghormatan kepada intan dan Bayu.


Bersambung..


Jangan lupa like dan komentarnya.


ini penampakan cover baru, maunya sesuai genre nusantara, tapi susah banget carinya foto-foto pendekar nusantara.. jadi ini dlu sambil berjalan editnya



cover baru dan juga sedikit gambaran tentang Bayu dan Intan walaupun tidak sepenuhnya sama dari yang dipikiran Author.

__ADS_1


__ADS_2