Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.177. Selamat Jalan Pendekar Tongkat Emas


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 177...


Bayu sangat terkejut melihat ada orang yang melindunginya dari serangan api hitan Nalini. Ternyata orang itu adalah pendekar tongkat emas. Iapun menghampiri lelaki tua itu.


“Ketua jangan sentuh!” cegah Pranggala. “Api itu sangat berbahaya.”


Bayupun terdiam. Ia tak tega melihat Pendekar Tongkat Emas yang kesakitan karena sedikit demi sedikit tubuhnya dilahap api hitam. orang tua itupun tak sanggup lagi berdiri. Ia jatuh terbaring di tanah sambil terus menahan rasa sakit.


“akhh..”


Kembali terdengar jeritan dari arah Intan berada. Ternyata memang gadis itu yang menjerit. Terlihat telapak tangan Intan mulai terbakar api hitam. Bayu yang melihat itu menjadi semakin khawatir.


Di tempatnya Nalini melihat setiap pergerakan orang-orang yang yang ada di sana. Terutama pergerakan Bayu dan Intan. Melihat Bayu khawatir dengan keadaan Intan dan akan menghampiri gadis itu, Nalini mulai melancarkan serangannya lagi. Kali ini bola api hitam yang meluncur jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Blam..


Bayu yang sedang melesat menghampiri Nalini tak sempat lagi menghindari api hitam yang menyerangnya. Walaupun tenaga saktinya secara otomatis melindungi, namun serangan kaliini berkali-kali lipat kuatnya. Ia pun terlempar jauh. Dan tubuhnya mulai di bakar api hitam.


Blassss..


Saat api mulai melahap tubuh Bayu, tiba-tiba seperti diguyur air yang sangat dingin api hitam itu langsung lenyap. Lalu terlihat cahaya putih terang bersinar di tubuh bayu. Membuat malam menjadi seperti siang di tempat itu. Matanya pun memancarkan sinar putih terang pertanda Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke enam muncul.


Bayupun melesat ke arah pendekar tongkat emas, hanya dengan sekali sentuhan api hitam yang membakar orang tua itu langsung sirna. Kemudian Bayu langsung melesat ke arah Intan. Ia pun menyentuh pundak gadis itu. Seketika api hitam yang membakar telapak tangannya padam. Hebatnya lagi luka bakar yang dialaminya seketika sembuh tanpa bekas. Bagaikan tak sedikitpun pernah dilalap api.


Bayu mengalirkan tenaga sakti gerbang ke enam ke tubuh Intan. Sungguh hal menakjubkan terjadi. Tenaga sakti Inti Giok es berpadu. Pancaran tenaga sakti yang tadinya berwarna hijau keputihan berubah menjadi berwarna putih salju.


Intan mengangkat tangannya ke atas, seketika butiran salju turun dari langit ke semua penjuru di tempat itu. Salju yang turun nampak berlapiskan cahaya putih. Lalu setiap butiran salju mengenai api hitam yang membakar sekitaran tempat itu langsung padam. Dalam waktu singkat seluruh api hitam padam.

__ADS_1


Melihat apa yang terjadi di sekitarnya, Nalini atau jiwa Burung Api Hitam yang ada di tubuhnya menjadi gusar.  Gadis itu mengerahkan kekuatan tenaga saktinya hingga mencapai puncak. Api hitam nampak berkobar-kobar di sekitar tubuhnya. Nalipun melesat menerjang ke arah intan dengan kedua telapak tangannya siap menghantam.


Blasssh..


Pukulan langsung Nalini kepada Intan langsung di tangkis dengan Perisai Giok Es. Kali ini perisai yang terbentang berwarna putih seputih salju. Selain itu perisai giok es memancarkan sinar putih terang. Pukulan api hitam yang di lancarkan Nalinipun mentah tak berbekas.


Bayu yang tadinya berada di belakang Intan tiba-tiba melesat kebelakang Nalini. Iapun menyentuh pundak gadis yang menjadi penjelmaan Roh Keramat Burung Api itu. Sesaat Nalini sempat terkejut, namun tiba-tiba saja cahaya hitam di tubuhnya berubah menjadi merah. Tak lama kemudian cahaya yang memancar di tubuh gadis itu berubah mejadi kuning kemerahan, ia pun pingsan.


“Intan, tolong kau pegang Nalini, aku ingin memeriksa keadaan kakek pendekar tongkat emas.”Ucap Bayu.


Intan mengangguk menyetujui permintaan Bayu. Kemudian Bayu melesat ke bawah menuju tempat pendekar tongkat emas terkapar. Malang nasib pendekar tua itu, hampir seluruh tubuhnya menghitam gosong terbakar. Nafasnya sendiri mulai terlihat satu-satu.


Bayu menyentuh tubuh orang tua itu. Seketika warna hitam gosong di tubuhnya lenyap. Luka bakar di tubuhnya pun berangsur-angsur pulih dengan cepat. Sehingga tak lagi tampak cacat di kulit tubuhnya. Semua kembali seperti sedia kala.


Walaupun keadaan tubuh pendekar tongkat emas sudah pulih seperti sedia kala, namun nafasnya masih seperti tadi. Satu-satu seperti orang sedang sekarat.  Dengan perasaan cemas, kembali Bayu menyentuh tubuh orang tua itu kemudian mengalirkan tenaga saktinya.


“Cukup ketua, jangan kau buang-buang tenaga sia-sia..” ucap Pendekar tongkat emas lirih. Orang tua itu mulai membuka matanya. “Sepertinya aku tidak akan lama lagi berada di dunia ini.  Seluruh organ tubuhku bagian dalam telah rusak terbakar api hitam.”


Mereka yang mendengar ucapan lirih pendekar tongkat emas terlihat sangat sedih, terlebih lagi Bayu. Pendekar tongkat emas menjadi seperti ini karena menyelamatkannya. Sebenarnya dengan pandangan mata gerbang ke enam, pemuda itu mampu melihat keadaan dalam tubuh pendekar tongkat emas. Namun rasa sedih dan rasa bersalahnya membuat Bayu tidak bisa menerima kenyataan.


“Ketua.. tak usah kau merasa bersedih ataupun merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku. Semua sudah menjadi takdir yang maha kuasa.” Ucap pendekar tongkat emas yang terlihat sangat tegar. “Ketua, bolehkah aku mengajukan permohonan padamu?” tanya pendekar tongkat emas.


“katakan kek!” sahut Bayu.


“Bila aku kelak sudah meninggalkan dunia ini, makamkanlah mayat ku ini di bukit kosong di dekat makam empu Adhiyaksona.”


Mendengar permintaan itu dada Bayu terasa sesak. Ia pun mengangguk lemas. Biar bagaimanapun diantara semua anggota pendekar tongkat emas merupakan anggota terlama yang menyertainya. Bahkan bisa di bilang selagi pemuda itu masih bayi. Sedikit banyaknya ia tidak lagi menganggap orang tua itu sebagai orang lain.


“Permintaan ku yang kedua, sama seperti harapan empu Adhiyaksona kepadamu, kuharap kau mau menjadi pelita dunia persilatan aliran putih.”

__ADS_1


Belum sempat Bayu memberikan jawabannya orang tua itu sudah terkulai. Nyawa pedekar tongkat emas telah meninggalkan raganya. Kesedihan melanda semua orang yang ada di situ. Terutama Bayu dan Dewi Pedang Khayangan. Pendekar Tongkat Emas pun meninggalkan dunia selama-lamanya.


“Paman Pranggala, siapkan upacara berkabung di sini. Biar aku membawa jasad kakek pendekar tongkat emas ke Bukit Kosong untuk dimakamkan. Mumpung tenaga sakti gerbang keenam masih memancar di tubuhku. Hanya dalam sekejapan mata aku akan sampai kesana. Untuk upacara penghormatan di pemakaman akan kita lakukan nanti bersama-sama.”


“Baik ketua, semuanya akan aku persiapkan.” Jawab Pranggala.


Bayupun mengangkat tubuh pendekar tongkat emas. Ia pun bersiap menggunakan kekuatannya untuk berpindah tempat dalam satu kedipan mata. Saat ia akan beranjak tiba-tiba terdengar suara memanggil dirinya.


“Ketua..”


Bayu menoleh kearah suara pemanggil. Ternyata yang memanggilnya adalah Dewi Pedang Khayangan. “Bolehkah aku ikut serta?” tanyanya kepada bayu.


Bayu mengerti maksud dan perasaan perempuan tua itu. Iapun mengangguk tanda setuju. Kemudian pemuda itu memegang pundak Dewi Pedang Khayangan. Selanjutnya tubuh pemuda itu bersama orang yang dibawanya berubah menjadi cahaya, kemudian lenyap.


Sepeninggalan Bayu semuanyapun berbenah dan kembali ke dalam lembah. Ada sebagian anggota yang tinggal di sana untuk menguburkan seluruh mayat yang bergelimpangan di tempat itu. Namun tanpa sepengetahuan mereka seseorang dari kejauhan sedang mengintai.


“Sungguh dahsyat kekuatan roh keramat burung api itu. Seandainya aku memilikinya tentu akan sangat mudah mengalahkan raja selatan. Terlebih kekuatan anak itu, dengan kekuatan gerbang ke enam tak akan ada yang mampu menandinginya. Sekalipun dua Mahluk keramat itu.” Ucap orang yang mengawasi tadi dalam hatinya.


 


Bersambung..


sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :


1. memencet tombol like


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.

__ADS_1


__ADS_2