
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...
...Episode 286...
“Sudahlah Intan, bisa saja nama itu hanya mirip. Jangan terlalu berprasangka yang tidak-tidak,” ucap Bayu menghibur.
Walaupun ucapan Bayu itu sedikit melegakan Intan, namun gadis itu masih merasakan ke khawatiran dan perasaab resah. Bayu sendiri sendiri sebenarnya yakin orang yang dimaksud oleh itu adalah kakeknya Intan. Hanya saja ia masih belum bisa memastikan akan kebenaran cerita yang disampaikan oleh Nalini. Bayu sendiri sangat mengetahui bahwa Nalini tidak pernah sama sekali mengenal dengan Eyang Ranubala, apalagi sampai mengetahui bahwa Intan adalah cucu dari orang tua itu.
Sementara Intan kini mulai menatap Nalini dengan tajam. Gadis itu seolah ingin menyelami relung hati Nalini yang paling dalam. Ia ingin mengetahui apakah nandini berkata jujur ataukah bohong. Sesaat semua terdiam tak berani berbicara. Nalini sendiri merasa jengah ditatap seperti itu.
“Maaf sebelumnya ketua, ada hal yang ingin aku perlihatkan pada ketua,” Ucap Arya memecah kesunyian.
Bayu mengangguk mendengar ucapan Arya. Aryapun kemudian menyerahkan sebuah kitab kepada Bayu. Ketua Istana Lembah Neraka itupun mengerutkan keningnya melihat kitab yang diserahkan oleh Arya.
“Bukankah ini kitab yang pernah kita baca dulu mengenai asal-usul burung api keramat?” Tanya Bayu tak mengerti.
“Benar sekali ketua, hanya saja ada sesuatu yang terlewat dari perhatian kita. Ada catatan kecil yang di tulis menyamping di salah satu halaman itu,” ucap Arya sambil membuka salah satu halaman di dalam kitab dan menunjukkannya kepada Bayu.
Sebenarnya halaman itu hanya berisikan gambar seekor burung yang memancarkan tenaga api. Saat dilihat dalam posisi lurus, di sana terdapat sebuah tulisan yang isinya merupakan sajak yang hidup kala itu. Tapi saat buku itu dimiringkan, akan nampak hurup yang dicetak tebal bertuliskan, “Sebelumnya aku peringatkan, bahwasanya tulisan ini baru akan muncul setelah dibuka oleh orang yang sama sebanyak tiga kali.”
__ADS_1
Membaca keterangan itu, Bayupun membuka tutup buku itu sebanyak tiga kali. Tiba-tiba saja halaman yang tadinya berisi sebuah lukisan burung api, kini berubah menjadi sebuah tulisan.
Berhati-hatilah, buku ini aku tulis atas perintah orang sakti yang jahat untuk mengecoh para tokoh sakti generasi yang akan datang agar memisahkan dua jiwa roh burung api keramat yang telah di satukan agar mereka terpisah kembali. Apabila mereka dipisahkan maka akan terjadi kehancuran luar biasa.
Roh Burung Api yang terpisah akan menjadi haus dengan kekuatan api. Mereka akan menghisap semua api yang ada di muka bumi sebagai makanannya dan juga menambah kekuatan mereka. Terutama mereka akan menghisap tenaga sakti dan jiwa orang-orang yang memiliki tenaga sakti berunsur api atau berhawa panas lainnya.
Orang sakti yang jahat itu melakukan ini semua agar bisa hidup sepanjang masa meminjam kekuatan kedua burung api keramat itu. Apabila tenaga api telah terkumpul, maka kedua mutiara pengikat jiwa yang berada di tubuh burung api keramat akan terlepas dengan sendirinya kemudian menjadi satu. Saat itulah manusia sakti setengah iblis, setengah siluman ini bangkit.
Tentu semua ini terlihat mustahil dan seperti cerita dongeng saja. Sebenarnya orang sakti ini bisa melakukannya karena telah menemukan puncak kekuatan Ilmu Panca Sona yang dapat membangkitkan orang yang sudah mati. Iapun tak segan-segan bersekutu dengan iblis untuk mencapai maksudnya.
Sebenarnya cara untuk mencegah ini terjadi. Yaitu saat pertama kali jiwa dua burung api keramat itu dipisahkan, kedua roh burung api itu hanya memiliki setengah dari kekuatan mereka, itulah kesempatan terbaik untuk melenyapkan mereka selama-lamanya.
Bayu membaca isi catatan dari kitab tersebut dengan lantang sehingga didengar oleh yang lainnya. Tentu saja keterangan itu mengejutkan semua orang yang ada di sana. Terutama bagi mereka yang memiliki tenaga sakti berunsur api, ataupun berhawa panas.
“Sungguh berbahaya sekali apabila mereka mulai menghisap seluruh kekuatan api yang ada di dunia ini. Makhluk seperti apa sebenarnya mereka. Mengapa sang pencipta menciptakan makhluk itu kalau hanya membawa kehancuran di jagad raya ini,” gumam Bayu.
“Ketua, kemungkinan ada petunjuk lain yang menerangkan tentang kedua makhluk burung api tersebut. Hanya saja aku belum sempat memeriksanya, hal ini dikarenakan aku ingin memperingatkan ketua agar tidak melakukan proses pemisahan jiwa itu,” ucap Arya.
“Kalau begitu kita sama-sama pergi keperguruan tangan dewa memeriksanya. Siapa tahu ada petunjuk lain yang kita dapatkan. Bahkan mungkin ada petunjuk mengenai cara menghabisi orang sakti tersebut apabila sampai bangkit,” sahut Bayu.
__ADS_1
“Mohon maaf ketua, bukankah kita telah melakukan kesepakatan kepada malaikat putih untuk membantu mereka saat peperangan nanti. Kita berjanji untuk tidak menyerang Raja Barat, namun apabila peperangan antara Kerajaan Barat dan kerajaan Selatan di menangkan oleh raja selatan, kita telah berjanji kepada mereka akan membantu penyerangan,” ucap Pranggala mengingatkan.
Memang telah terjadi hal besar yang tidak disangka-sangka oleh Bayu dan pihak Istana Lembah neraka yang lainnya. Setelah membantu Bayu melacak keberadaan suku api yang tersembunyi, Malaikat Putih banyak kehilangan tenaganya. Saat pendekar Sakti itu bersemadi memulihkan tenaga saktinya, ternyata kekuatan siluman Naga Putih orang itu tak bisa lagi kembali. Ia pun kehilangan kesaktiannya.
Malaikat Putih kehilangan kesaktiannya dikarenakan saat ia mencoba memulihkan tenaga saktinya, Pedang Penguasa Naga ditubuh Bayu yang saat itu berada bersebelahan ruangan dengan Malaikat putih, secara otomatis menyerap jiwa siluman naga orang tua itu. Tentu saja kecelakaan yang terjadi itu sangat merugikan pihak malaikat putih dan Raden Raga Lawing.
Sebagai bentuk tanggung jawab dari kejadian itu, Bayupun berjanji memberikan bantuan kepada pihak Raden Raga Lawing, dengan syarat tidak untuk bertarung dengan raja Barat. Kedua belah pihak pun akhirnya sepakat dengan keputusan itu. Malaikat Putih sendiri tidak menyesali apa yang terjadi dengannya, karena dengan bantuan itu merupakan sesuatu yang sangat besar nilainya dibandingkan kesaktiannya yang hilang.
“Tenang saja, aku masih ingat perjanjian itu. Kau siapkan saja semuanya, tiba waktunya nanti kalian lebih dulu bergabung dengan pasukan Raden Raga Lawing. Nanti aku akan menyusul kalian,” ucap Bayu.
“Baik ketua,” sahut panggala sambil membungkukkan badan.
“Lalu Bagaimana dengan Putri Yassika? Apakah kita tidak berusaha untuk menyelamatkannya?” tanya Intan yang terlihat mengkhawatirkan putri Yassika.
“Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Tapi kita akan tetap berusaha menyelamatkannya. Kita akan mencari tahu keadaanya setelah menemukan sepasang burung api keramat itu,” sahut Bayu.
Memang Intan sebenarnya sudah dapat menduga-duga apa yang dialami oleh putri Yassika. Pertanyaan itu ia ajukan karena melihat Pranggala yang begitu terpukul. Ia yakin itu dikarenakan nasib yang dialami murid satu-satunya itu. Semuanya pun akhirnya diam. Sesaat kemudian muncul Pendekar Halilintar bersama Cempaka dan Danastri.
Bersambung...
__ADS_1