
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...
...Episode 291...
Serangan yang dilakukan Bayu hanya mengenai tanah kosong. Tempat itu menjadi terlihat berlubang besar akibat pukulan mengandung petir putih yang dahsyat. Walau kekuatan serangan begitu dahsyat, namun kalah cepat dengan gerakan lawan
Bayu meningkatkan serangannya, gerbang keempat pun di kempos hingga sampai puncak. Serangan Bayu berubah menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Eka Wirendra memang agak kesulitan kali ini menghindari serangan Bayu.
Blammmm...
Eka Wirendra terlempar saat serangan Rajawali Merah mengenai telak dada putra mahkota kerajaan barat itu. Tubuhnya terhempas ke tanah dengan kondisi dada berlubang dan tubuh menghitam. Tubuh Eka Wirendra diam tak bergerak, nampak putra raja barat itu tewas seketika terkena serangan Bayu.
Namun hanya sesaat tubuh Eka Wirendra diam tak bergerak, kemudian tubuh itu bergerak-gerak kelojotan, tiba-tiba saja tubuhnya bangkit. Perlahan-lahan warna hitam di tubuh Eka Wirendra berubah menjadi cerah kembali, sementara dadanya yang berlubang sedikit demi sedikit pulih. Tak berapa lama kemudian Eka Wirendra bangkit dan hidup kembali.
“Hmmm.. rupanya dia memang mewarisi ilmu ayahnya.”
Bayu kembali mengerahkan tenaga Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semestanya. Kali ini ia menggunakan ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke lima, gerbang gerak tanpa wujud. Bayupun langsung mengerahkan tenaga gerbang ke lima itu hingga kepuncaknya. Tenaga sakti gerbang pertama hingga ke empat berkumpul di sisi Bayu, ditambah seluruh benda benda kecil yang terangkat melayang di sekitarnya.
Eka Wira sendiri kaget dengan kekuatan yang Bayu kerahkan sekarang. Badannya seolah terkunci tak mampu bergerak. Sementara tenaga saktinya sendiri seakan-akan tersedot keluar.
“Hmmm... Tenaga apa ini? Sungguh sangat mengerikan. Apakah kali ini pemuda itu mampu menjebol pertahanan ilmu semesta hitam dan pancasona,” bisik Eka Wirendra dalam hatinya.
__ADS_1
“Hiyaaaa..”
Bayu kembali melancarkan serangan ke arah Eka Wirendra. Seluruh kekuatan yang berada di sampingnya ia kerahkan menyerang paman tirinya itu. Tanpa bisa melakukan perlawanan sedikitpun, putra mahkota kerajaan barat langsung terkena serangan dahsyat yang di lancarkan Bayu. Tenaga Semesta Hitamnya sendiri yang sudah mulai melemah hanya mampu menahan kekuatan Bayu sesaat.
Bagaian diiris ribuan pisau kecil sedikit demi sedikit tubuh Eka Wirendra mulai terkoyak. Lesatan tenaga yang membentuk jarum-jarum kecil yang tajam mulai melenyapkan tubuh Eka Wirendra. Di saat-saat keadaan mulai sangat genting, sebuah bayangan hitam melesat. Jasad Eka Wirendra yang hanya tersisa bagian kepala saja itu lenyap di bawa bayangan hitam.
“Hmmmm.. pasti itu raja barat,” ucap Bayu melihat musuhnya dilarikan orang.
Bayu tidak mengejar orang yang melarikan musuhnya. Memang pada dasarnya ia tidak ingin bermusuhan dengan pamannya itu. Namun karena
“Rajawali Merah, kemungkinan orang itu akan bangkit lagi. Ilmu pancasona apabila menyentuh tanah, walaupun bagian tubuh orang itu hanya tersisa setetes darah, ia akan kembali lagi seperti semula,”
“Jangan kau kira kami baru saja di tempat ini Rajawali Merah. Kami telah berada di sini bahkan sebelum pertapa sakti tanpa nama berada di sini dan bertarung. Karena merasa keadaan tidak menguntungkan maka kami tidak memunculkan diri.”
Bayu mengangguk-anggukan kepalanya sudah mengerti keadaan. Pemuda itu sebenarnya sudah menduga Eka Wirendra akan bangkit dan hidup kembali. Ilmu pancasona tingkat tinggi memang sulit untuk ditaklukan kecuali oleh ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke enam yang sempurna. Mungkin ilmu hitam tersebut juga bisa dikalahkan dengan cara menggabung pedang penguasa naga dengan tenaga sakti tingkat ke enam. Namun kedua cara itu masih sulit untuk Bayu Lakukan.
Bayu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dilihatnya Arya sedang mengobati Jari Malaikat. Kemudian pemuda itu melihat ke arah Raja Siluman Ular yang sedang tergeletak lemah. Perlahan Bayu menghampiri Raja Siluman Ular yang sudah tak berdaya lagi. Lalu dengan ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke lima pemuda itu mengeluarkan jiwa Raja Siluman Ular di tubuh Raja Iblis Bukit tengkorak.
Tubuh Raja Iblis Bukit tengkorak yang ditempati Raja Siluman ular mulai mengeluarkan asap putih. Sesaat kemudian warna asap berubah menjadi hitam lalu asap tersebut mengumpul menjadi satu di telapak tangan Bayu. Setelah sepeminuman teh asap hitam berubah menjadi batu berwarna kebiruan.
Sementara itu jasad Raja Iblis Bukit tengkorak perlahan-lahan meleleh hingga menyisakan tulang-belulangnya saja. Raja Siluman Ular sendiri sudah berubah wujud menjadi batu Mestika yang kini berada di tangan Bayu. Bangsa siluman memang sulit untuk mati, karena mereka melakukan perjanjian dengan Raja Iblis.
__ADS_1
“Ketua, luka Pertapa Sakti Tanpa Nama sudah sangat parah, tenagaku tidak mampu memberi pertolongan terhadap orang tua itu,” ucap Arya yang berada di sebelah Bayu setelah beberapa saat menunggu Bayu selesai mengeluarkan Raja Siluman Ular dari tubuh mendiang Raja Iblis tengkorak.
Bayu bergegas mendekati Pertapa Sakti tanpa nama. Orang tua itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bayu pun mulai memeriksa keadaan orang tua itu. Terlihat pemuda itu menghela nafas panjang.
“Seluruh organ dalam di tubuh Pertapa Sakti Tanpa Nama telah rusak seluruhnya. Saat ini aku tidak dapat menggunakan pedang penguasa naga membangkitkan gerbang ke enam. Pedang itu masih dalam masa pemulihan,” ucap Bayu dengan nada penuh penyesalan.
“Uhukk..”
Tiba tiba terdengar suara batuk dari Pertapa Sakti Tanpa Nama. Sontak semua perhatian tertuju padanya. Pertapa sakti tanpa nama mulai membuka matanya. Dengan lemah ia terlihat menggerak-gerakkan bibir ingin mengucapkan sesuatu. Arya yang melihat itu mendekatkan telinganya kepada orang tua itu.
Pertapa Sakti tanpa nama nampak menggerak-gerakkan bibirnya di dekat telinga Arya. Murid utama perguruan tangan dewa itupun menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian pertapa sakti tanpa nama jatuh terkulai. Orang tua itupun menghembuskan nafas terakhirnya.
“Orang tua ini begitu cintanya kepada sahabatnya sehingga ia berpesan apabila ia telah meninggal dunia ingin dikuburkan di samping sahabatnya itu,” ucap Arya.
Tak lama setelah kepergian Pertapa Sakti Tanpa Nama meninggalkan dunia, jasadnya dan jasad Amok Seta atau Iblis Muka Hitam di kuburkan bersampingan di tempat itu juga. Walaupun mereka yang ada di sana tidak begitu mengenal dengan kedua orang itu, namun rasa kehilangan tetap mereka rasakan.
“Mereka bersahabat selagi hidup, dan bersahabat juga setelah matinya,” ucap Arya.
“Hidup dan mati sudah di atur. Tak perduli tua atau muda, bila tiba masanya pasti akan datang malaikat maut menjemput. Hanya saja perbuatan kita akan menjadi sebuah kisah yang akan kita tinggalkan kelak. Iblis Muka Hitam yang dulunya dianggap dedengkot aliran sesat, sebelum azal dia berada di jalan kebenaran. Jari Pedang sang pembela kebenaran di masa mudanya, matinya sebagai momok pembawa kehancuran,” gumam Malaikat Putih.
Bersambung...
__ADS_1