
"Apa kabarmu Setan Tengkorak Putih?" sapa Jaka dengan nada dan senyum yang sinis. "Tak ingatkah kau dengan perjanjian kita di hutan Karang Jati, Setan Tengkorak Putih? " geram Pendekar Halilintar.
"Kau tak perlu ikut campur Pendekar Halilintar. Ini urusan pribadi kelompok kami, tidak ada hubungannya dengan oranh luar. Jadi akupun tak pernah menyalahi janjiku." Balas Setan Tengkorak Putih memberanikan diri.
"Hmmm... Urusan pribadi seperti apa? dari tadi aku mendengar pembicaraan kalian di atas pohon itu. Semuanya sudah jelas, kau memang manusa bajingan." Bentak Pendekar Halilintar.
"Anak-anak serang..." teriak Setan Tengkorak Putih.
Merasa sudah tidak ada gunanya lagi mencari alasan, maka Setan Tengkorak Putih pun menyuruh anak buahnya untuk menyerang Pendekar Halilintar. Sedangkan ia sendiri kabur setelah anak buahnya mulai menyerang.
"Kakang...! Penawarnya, jangan biarkan Setan Tengkorak Putih kabur." seru Cempaka mengingatkan suaminya.
Jaka pun langsung melesat menyusul Setan Tengkorak Putih. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang ia miliki, tak perlu waktu yang lama ia sudah melihat Setan Tengkorak Putih yang sedang berlari di depannya. Lalu dengan sekali lompatan Pendekar Halilintar sudah berada di hadapan orang yang di kejarnya.
"Mau lari kemana kau bajingan" Bentak Pendekar Halilintar.
Melihat Pendekar Halilintar sudah berada di depannya, Setan Tengkorak Putih mencoba balik arah untuk lari lagi. Namun Belum sempat ia mengerahkan Ilmu meringankan tubuhnya, Jaka sudah melayangkan pukulan halilintarnya ke arah Setan Tengkorak Putih.
Blammm..
Setan Tengkorak Putih terlempar sejauh tiga tombak lebih. Untung saja sebelumnya ia telah mengerahkan tenaga saktinya sehingga dia tidak menderita luka dalam. Apalagi Pendekar Halilintarpun hanya mengeluarkan tiga bagian tenaganya saja. Sehingga apa yang dialami Setan Tengkorak Putih hanyalah luka ringan biasa. Dengan cepat ia mampu bangkit lagi.
"Apa maumu Pendekar Halilintar?" tanyanya gentar, sambil menyapu pakaiannya yang penuh dengan debu itu.
"Serahkan penawar racun iblis darah." sahut Jaka Dingin.
Setan Tengkorak Putih merogoh sebuah botol kecil di balik bajunya. Kemudian dilemparkannya botol kecil itu ke arah Pendekar Halilintar. Dengan sigap Jaka menangkap botol itu lalu memeriksanya.
"Bagaimana aku yakin kalau ini adalah penawar asli?" tanya Jaka dingin."
"Mudah saja bagimu membinasakanku bila aku berbohong Pendekar Halilintar." Jawab Setan Tengkorak Putih.
__ADS_1
"Hmmm... Itu kalau kau tak bersembunyi setelah ini." timpal Jaka.
"Terserah kau mau percaya atau tidak Pendekar Halilintar. Bila kelak aku membohongimu, kau bisa cari aku di Pulau Es." tantang Setan Tengkorak Putih.
"Kau kira aku takut. Baiklah, aku percaya kau kali ini, kelak kalau kau berdusta, akan kuhancurkan tubuhmu itu berkeping-keping" Ancam Jaka.
"Terserah kau Pendekar Halilintar" sahut Setan Tengkorak Putih. Bergidik juga Ia mendengar ancaman Jaka. Setan Tengkorak Putih pun bergegas ingin meninggalkan tempat itu.
"Setan Tengkorak Putih, setidaknya kau harus terima dulu cideramata dariku ini" ucap Jaka.
Kata-kata itu membuat Setan Tengkorak Putih tercekat. Ia paham betul apa yang dimaksud cinderamata oleh Pendekar Halilintar. Apalagi di lihatnya ujung tangan kanan Jaka mengeluarkan kilatan cahaya berbentuk Halilintar. Kali ini ia hanya pasrah, kalau ia kabur, maka akibatnya akan lebih buruk lagi.
Wusss...
Jaka mengirimkan Pukulan Halilintarnya ke arah Setan Tengkorak Putih. Seberkas sinar membentuk halilintar melesat. Setan Tengkorak Putih pun menjadi gemetar. Namun belum serangan itu mengenainya tiba-tiba saja...
Blammm...
"Begitu rupanya sifat seorang pendekar kenamaan yang dipuja-puja orang-orang aliran putih. Itukah sikap ksatria seorang pendekar yang tega menganiaya musuh yang sudah menyerah." Ucap seorang kakek berbaju serba merah dengan rambut dan alis semua berwarna merah yang tidak lain adalah Raja Iblis Api.
Jaka yang disindir sedemikian rupa jadi jengah juga. Wajahnya memerah menahan malu bercampur marah. Sedikit banyaknya ucapan Raja Iblis Api mengena di hatinya.
"Hmmm... kali ini kau kuampuni Setan Tengkorak Putih." Tegas Jaka. Kemudian ia pun melesat meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih pelindung menyelamatkan jiwa hamba." Seru Setan Tengkorak Putih seraya berlutut dengan satu kaki kanannya, sedangkan tangannya menjura ke arah Raja Iblis api. Sepasang Raja Iblis Api memang diangkat sebagai pelindung perkumpulan. Sehingga semua bawahannya memanggil mereka sebagai Tuan Pelindung.
Kemudian Raja Iblis Api membalas dengan anggukkan. Setan Tengorak Putih pun kembali berdiri. Kemudian ia melangkah menghampiri Raja Iblis Api.
"Tuan pelindung kenapa tidak kita habisi saja Pendekar Halilintari i..."
Hueekk...
__ADS_1
Belum selesai kata-kata yang keluar dari mulut Setan Tengkorak Putih, tiba tiba saja Raja Iblis Api memuntahkan darah segar.
"Tuanku tidak apa apa?" tanya Setan Tengkorak Putih khawatir seraya memegang dada atasannya itu.
"Hmmm.. mungkin sebenarnya aku bukan lawan Pendekar Muda itu. Tadi sengaja aku memprovokasi dia supaya malu dan meninggalkan kita. Saat benturan tenaga tadi aku memang menderita luka dalam. Walau sepertinya terlihat aku yang lebih unggul. Aku yakin dia belum menggunakan separu dari kekuatannya." tutur Raja Iblis Api sambil menepis tangan Setan Tengkorak Putih.
Setan Tengkorak Putih segera menarik tangannya sambil membungkuk isyarat meminta maaf.
"Lain kali lihat keadaan. Seandainya bukan karena menderita kerugian sewaktu pertarungan di bukit kosong itu, dan istriku ada di sini mungkin aku bisa mengimbanginya. Di tambah bantuanmu, sedikit banyaknya tiga orang kita bisa mengatasi pendekar muda itu." keluh Raja Iblis Api lagi.
Keduanya perlahan melangkah meninggalkan tempat itu. Di belakang mereka para anak buah berjalan mengikuti.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu? apakah kau dapatkan keterangan tentang siapa pemuda yang melukaiku di Bukit Kosong itu." Tanya Raja Iblis Api sambil berjalan.
"Sudah Pelingdung." jawab Setan Tengkorak Putih.
"Lalu apa hasilnya?" potong Raja Iblis Api sambil menghentikan langkah kakinya.
"Dari keterangan yang ku dapat, ia merupakan ketua perkumpulan Istana Lembah Neraka." jawab Setan Tengkorak Putih lagi seraya menghentikan langkanya.
"Sejak kapan Istana Lembah Neraka memiliki sebuah perkumpulan" gumam Raja Iblis Api. "Lalu dari mana Ketua Istana Lembah Neraka itu memiliki Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Setahuku tokoh-tokoh Istana Lembah Neraka memang kebanyakan orang sakti berilmu tinggi. Namun tidak ada satupun yang menguasai ilmu langka itu." tambahnya lagi.
"Untuk hal itu saya belum mendapatkan petunjuk apapun pelindung."
"Lalu di mana sekarang Ketua Istana Lembah Neraka itu berada? Entah dari golongan mana dia berasal. Kalau dia menjadi lawan kita, tentu akan menjadi rintangan yang berat buat perkumpulan kita menguasai dunia."
"Dari informasi yang di dapat, Pemuda itu telah tewas saat bertarung dengan Empu Adhiak Sona di Bukit Kosong. Kabarnya kedua-duanya tewas akibat pertarungan itu." terang Setan Tengkorak Putih.
"Apa dia telah tewas... Adhiak Sona Telah Tewas... Pemuda itupun telah tewas... Hahaha. Kalau Begitu Partai Iblis Berkabut tidak akan punya rintangan lagi... hahaha"
Tawa Raja Iblis Api pun pecah. Mendengar berita yang disampaikan Setan Tengkorak Putih perasaannya sangat senang. Terlebih lagi mendengar kematian Empu Adhiyak Sona yang dulu pernah mempecundanginya.
__ADS_1
...***...