
Episode 318
“Tunggu dulu kak Bayu! Aku merasa prasasti ini bukan prasasti biasa. Pasti ada sebuah petunjuk yang tersirat di sini. Bukankah kata-kata matahari muncul merupakan petunjuk sebuah tempat. Itu artinya sebelah timur,” terang Intan yang kelihatan bersemangat menjelaskan kepada Bayu.
Ucapan Intan betul-betul bagaikan air yang mengguyur kepala di saat seseorang kepanasaan di padang pasir. Seketika pemuda itu seperti mendapatkan sebuah Ilham. Pikiran Bayu langsung terang. Ia kembali membaca isi sajak, kata perkata.
“Sepertinya kata kunci dari petunjuk di prasasti itu kata Matahari muncul dan wajah Indah. Bukankah di sebelah timur kuil ini ada kuil seorang dewi. Mungkin di sana kita mendapatkan petunjuk yang lain.”
Dengan perasaan yang menggebu-gebu Bayu mencoba memecahkan segala rahasia yang terkandung dalam prasasti. Pemuda itu bergegas pergi ke kuil lain yang berisi patung seorang dewi. Setelah berada di sana, kembali mereka mencari petunjuk lain.
Terdapat sebuah tulisan yang berbunyi “Bersujud tiga kali untuk menghormati sang Dewi”
“Kak Bayu, bukankah seharusnya petunjuk cara bersembahyang ini tidak perlu ada di sini. Dan mengapa bersembahyang di sini harus bersujud tiga kali?” tunjuk Intan pada sebuah
Kembali Intan mengemukakan sebuah keadaan yang janggal yang menurutnya itu bisa jadi sebuah petunjuk. Bayu pun mendekat kepada tulisan di bawah patung. Ia mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk dari papan tulisan yang terlihat baru saja dibuat.
“Intan, coba kau ikuti petunjuk dari papan ini!” pinta Bayu.
Perlahan Intan menghampiri patung Dewi kesuburan yang di pajang di tempat itu. Kemudian gadis itu bersujud selama tiga kali. Tidak ada yang berubah ataupun muncul petunjuk apapun.
“Sepertinya tidak berhasil. Haruskah kita hancurkan saja kuil ini supaya terbentuk lorong sebagai pintu masuk?” ucap Bayu sedikit kesal.
Intan tak membalas ucapan Bayu. Gadis itu malah kembali bersujud di depan patung Dewi Kesuburan. Namun ia tidak menyentuhkan kepalanya ke tanah melainkan menengok keatas ke arah kepala patung. Dari bawah terlihat sebuah titik hitam mirip sebuah tombol. Kemudian Intan bangkit, dan menekan sebuah titik hitam yang berada di bawah dagu patung.
__ADS_1
Tiba-tiba saja patung bersama altarnya bergeser. Ternyata di balik itulah pintu rahasia yang mereka cari-cari. Sebuah libang yang cukup lebar dan terdapat tangga dari atas menuju ke bawah.
“Kau pintar sekali Intan,” puji Bayu dengan senyuman khasnya. “mari kita lihat apa yang ada di dalam,” ucapnya lagi.
Dengan penuh kewaspadaan Bayu, Intan dan beberapa prajurit kerajaan Nagendrapura menuruni tangga yang menuju ke lorong bawah tanah. Perlahan-lahan mereka melangkah maju mengikuti lorong di depan. Tak seberapa jauh, akhirnya lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang cukup luas. Ada sekitar enam buah kamar di sana yang semuanya dalam keadaan terkunci.
Satu persatu Bayu dan Intan membuka kamar yang ada di sana. Setiap kamar ternyata menyekap beberapa orang pendeta yang masih hidup, dan dikumpulkan dengan beberapa orang pendeta dan resi yang sudah tewas. Tentu saja itu sebuah siksaan yang sangat berat. Rata-rata dari resi dan pendeta yang masih hidup kondisinya lemas dan kehausan.
Satu persatu mereka yang masih hidup dibawa keatas untuk diberikan perawatan. Dari enam kamar yang ada tinggal satu lagi yang belum terbuka. Kamar yang satu ini cukup keras dan sulit untuk dibuka.
“Biar aku coba mendobraknya!” ucap Bayu.
Para prajurit menepi memberi tempat kepada Bayu. Kemudian pemuda itu mengerahkan tenaga saktinya. Ia mencoba mengerahkan tenaga sakti ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke empat, Gerbang petir semesta. Sekali lagi Bayu harus dikagetkan dengan tenaga petir yang muncul berwarna hitam.
“Haaaaaa..”
Bayu memekik keras sambil mendorong kedua telapak tangannya kedepan. Seketika petir hitam meluncur deras ke arah pintu yang dituju.
Blaaaammm..
Ledakan keras terjadi, dan pintupun berhasil dijebol. Tiba tiba saja dari dalam kamar muncul cahaya berwarna kuning muda meluncur deras ke arah Bayu. Tanpa bisa di cegah, sinar itu menghantam Bayu dan membuatnya terlempar beberapa tombak. Bayu pingsan seketika, sementara petir hitam yang memancar dari tubuhnya lenyap seketika.
“Kak Bayu!” seru Intan seraya melesat menghampiri Bayu yang sedang pingsan.
__ADS_1
“Nisanak, kesinilah sebentar. Kujamin kekasihmu tidak kenapa-kenapa. Ia hanya pingsan karena tenaga hitamnya berbenturan dengan tenaga murini yang bersih.”
Terdengar suara seorang lelaki tua yang meminta Intan masuk kedalam ruangan. Intanpun perlahan masuk kedalam, setelah meminta beberapa orang prajurit menjaga Bayu. Di dalam nampak seorang lelaki sangat sepuh dengan seorang seorang pendeta kecil berada di atas kasur tempat itu. Nampak tua dan pendeta kecil itu dalam keadaan lemah.
“Nisanak, kau tolonglah anak ini dulu kasian dia kelaparan. Beberapa hari pendeta kecil ini belum makan,” ucap lelaki tua berpakaian putih dengan sebuah kain melilit di tubuhnya dan menyilang di bahu.
Intan memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa pendeta kecil itu keluar kamar untuk diobati. Saat lelaki tua itu hendak diangkat juga, ia menolaknya. Orang tua itu tidak ingin meninggalkan pembaringannya dengan alasan sudah terlalu tua untuk banyak bergerak. Intanpun tak ingin memaksa, ia pun meninggalkan orang tua itu untuk melihat keadaan Bayu.
“Tenang saja nisanak! Kekasihmu tidak akan apa-apa. Sebentar lagi juga akan pulih. Ia pasti akan ke sini untuk meemgikku.
Benar saja, tak lama berselang terdengar suara Bayu yang sudah sadarkan diri. Kemudian terdengar langkah pemuda itu menuju ke dalam kamar. Tak lama kemudian muncul bayi dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.
“Terima kasih atas Budi baik tetua yang menyembuhkan keadaan saya!” seru Bayu sambil menjura.
“Ahh.. tidak begitu. Aku belum berhasil sepenuhnya menghilangkan kekuatan hitam dalam tubuhmu. Ia masih begitu kuat dan bersumber dari pedang yang ada di tubuhmu. Kekuatan pedang pusaka Naga tidak mampu menghilangkan kekuatan hitam ilmu semesta hitam. Ia malah bergabung menjadi satu kekuatan yang dahsyat,” sahut lelaki tua itu.
“Apakah tidak ada cara menghilangkan kekuatan hitam ini tetua?” tanya Bayu sedikit dengan nada rendah.
“Tentu ada. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Salah satunya dengan cara kau membangkitkan ilmu tujuh ke rumah alam semesta tingkat ke enam yang sesungguhnya,” jawab orang tua itu.
Pernyataan yang keluar dari mulut orang tua itu, kembali menyadarkan Bayu bahwa selama ini ia sangat jarang berlatih, apalagi untuk meningkatkan kekuatannya. Pemuda itu lebih sering berpetualang, lupa akan keadaannya sendiri. Kini Bayu seperti terkena akibatnya sendiri.
Bersambung..
__ADS_1