Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
44. Tewasnya Iblis Pelebur Sukma tertua


__ADS_3

"Hmmm... itu keinginan mereka, bukan keinginan kami." Jawab Malaikat Bertangan Sakti.


"Baiklah kita mulai pertandingan pertama."


Setelah menghitung tiga hitungan, Raja Pulau Es melompat ke depan kerumunan penonton. Selanjutnya kedua belah pihak sudah saling menyerang. Pendekar Kipas Maut melawan Suwung Panca orang tertua dari iblis pelebur Sukma, sedangkan ketua perguruan Macan Putih melawan Darma Pati.


Pendekar Kipas Maut dan Ketua Perguruan Macan Putih tak tanggung-tanggung lagi. Jurus andalan mereka masing-masingpun dikerahkan. Mulanya Dua Iblis Pelebur Sukma yang menganggap enteng lawan keteteran juga.


Masuk pada jurus ke dua puluh, Kedua Bersaudara Iblis Pelebur Sukma mulai menggunakan ilmu andalannya. Pukulan Iblis Pelebur Sukma pun mulai di kerahkan. Bau busuk mulai menyebar cukup mengganggu pergerakan Pendekar Kipas Maut dan Ketua Perguruan Macan Putih.


“Beruang Hitam, Beruang Putih, tebarkan bubuk penguat Jiwa” perintah Raja Pulau Es.


Tanpa menunggu kedua orang anak buah Raja Pulau Es itu langsung menebarkan bubuk berwarna biru membentuk garis kesamping di depan barisan penonton. Bubuk itu berfungsi sebagai penawar racun yang menyebar terbawa udara.


Berlalu hingga tiga puluh jurus, keadaan pun berbalik. Pendekar Kipas Maut dan Ketua Perguruan Macan Putih hanya bisa bertahan tanpa mampu menyerang. Keringat dingin membasahi pakaian mereka. Selain menghindari pukulan merekapun harus mampu bertahan dari aroma beracun yang dilancarkan lawan.


"Kalian tak harus menang, apabila merasa tak sanggup menyerang lah, jangan memaksakan diri. semua kita masih berjalan sesuai rencana kita"


Sebuah suara yang hanya bisa didengar oleh Pendekar Kipas Maut dan Ketua Perguruan Macan Putih memperingatkan keduanya untuk tidak memaksakan diri. Sesaat keduanya saling pandang, kemudian sama-sama mengangguk. Lalu keduanya pun melompat agak menjauh dari lawannya.


"Kami menyerah" Ucap Pendekar Kipas Maut dan ketua Perguruan Macan Putih Berbarengan" seraya menjura kepada kedua lawannya.


"Istana Lembah Neraka memenangkan pertandingan pertama" Seru Raja Pulau Es.


Melihat itu kedua Iblis Pelebur Sukma pun melompat mundur beberapa langkah. Hanya saja Suwung Panca murid tertua dari Raja Iblis Bukit Tengkorak itu merasa kurang puas. Dengan rasa penasaran menyelimuti ia pun mengirimkan Pukulan Pelebur Sukmanya dari jauh ke arah Pendekar Kipas Maut.


Wushhh...

__ADS_1


Blammm..


Ledakan terjadi saat serangan Iblis Pelebur Sukma dihalangi sebuah pukulan yang dilancarkan Raja Pulau Es. Murid tertua Raja Iblis tengkorak itu pun terdorong hebat kebelakang. Seandainya tidak ditangkap oleh adik seperguruannya niscaya ia jatuh karena kehilangan keseimbangan.


"Jangan kotori kemenangan Istana Lembah Neraka dengan perbuatan liciknya" ketus Raja Pulau Es sambil melirik Rajawali Merah.


Merasa anak buahnya telah berbuat hal yang memalukan dirinya, Bayupun mengibaskan serangan kearah Suwung Panca. Sedangkan tenaga sakti melesat cepat kearah orang tertua dari Iblis Pelebur Sukma itu. Tanpa dapat dihindari tenaga sakti itu tepat mengenai pangkal lengan kanan Suwung Panca.


"Aaakhh"


Lengan kanan Suwung Panca pun terlepas dari badannya. Tak ayal hal itu membuatnya menjerit keras. Semua orang di sana tertegun melihat perbuatan Rajawali Merah.


"Keparat, dasar bocah sialan. Jangan Kira kau pantas jadi ketua" caci Suwung Panca. Diapun Nekat menerjang kearah Bayu dengan mengunakan segenap kekuatannya.


Raja Iblis Bukit Tengkorak yang melihat hal itu sontak tercekat. Dia pun seolah terpaku bingung hendak berbuat. Hanya matanya saja yang melihat muridnya itu dengan cemas.


Aaaaaa...


Blaarrrr...


Tepat pada jarak kurang lebih satu tombak dari Rajawali Merah, tubuh Iblis Pelebur Sukma yang tertua berhenti tak bergerak di udara. Tak lama setelah itu Suwung Panca berteriak kesakitan. Lalu tiba-tiba tubuhnya meledak hancur berkeping-keping.


Melihat itu Darma Pati adik seperguruan Suwung Panca menjadi berang. Hampir saja dia turut menyerang ke arah Rajawali Merah. Seandainya saat itu tangannya tidak dipegang erat gurunya, Iblis Pelebur Sukma termuda itupun pasti sudah menerjang ke arah Bayu.


"Bersabarlah. Apakah kau ingin mati konyol seperti saudaramu" tegur Raja Iblis Bukit Tengkorak menggunakan ilmu mengirim suara.


Rajawali Merah melayang setinggi dua tombak dari atas tanah. Sambil menghadap orang-orang Istana Lembah Neraka iapun berseru.

__ADS_1


"Walaupun dunia persilatan menganggap kita beraliran sesat, tapi tak seorangpun dari kita boleh menunjukan sikap tak jantan. Kita tunjukan pada dunia Istana Lembah Neraka memang layak memimpin dunia persilatan. Siapapun yang bertindak sembarangan, maka matilah hukuman untuknya".


Serentak semua anggota Istana Lembah Neraka berlutut. Dengan lantang merekapun berseru tanda kepatuhan pada sang pemimpin.


"Siap melaksanakan perintah ketua..."


"Hidup Istana Lembah Neraka..."


"hidup Rajawali Merah..."


Hampir semua yang ada di sana memandang kagum kejadian di hadapan mereka. Sikap gagah yang ditunjukan Bayu Sebagai ketua Istana Lembah Neraka membuat mereka gentar dan berdecak kagum. Hanya saja mereka menyayangkan orang sepertinya merupakan pentolan perkumpulan aliran sesat.


"Aku Raja Pulau Es mengakui kegagahan ketua. Untuk itu terimalah salam hormat saya" ucap Raja pulau es seraya menjura memberikan hormat. Dalam hatinya betul-betul memandang kagum Rajawali Merah. Bukan hanya kesaktiannya, namun ketegasan dan pendirian sang ketua betul-betul membuatnya takluk.


Bayupun kembali menjejakkan kakinya di tanah. Kemudian pemuda itu membalas penghormatan Raja Pulau Es dengan merangkaikan tangan di depan dadanya.


"Silakan Raja Pulau Es memimpin untuk melanjutkan pertandingan." pinta Bayu dengan hormat.


Sebenarnya bukan hanya Raja Pulau Es yang merasakan kekaguman pada pemuda itu. Malaikat Bertangan Sakti sebagai pimpinan pihak lawan pun merasakan yang sama. Diapun sangat menyayangkan seorang Rajawali Merah merupakan tokoh pimpinan aliran hitam.


"Sungguh sangat disayangkan orang sepertinya berada di jalan yang sesat. Seandainya saja dia berada satu jalan dengan kita, tentu dunia persilatan ini akan aman dari penjahat-penjahat yang merajalela." Gumamnya pelan.


Walaupun Malaikat Bertangan Sakti hanya berbicara untuknya sendiri, namun orang yang berada didekatnya dapat mendengar dengan jelas. Seperti Ketua Perguruan macan putih yang kebetulan berada di samping kirinya juga menganguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan pemikiran ketua Perguruan Tangan Dewa itu.


"Selanjutnya pertarungan kedua. Silakan masing-masing pihak mengajukan jagoannya ke arena" Teriak Setan Beruang Hitam yang diminta Rajanya menggantikan memandu pertandingan.


Tak menunggu lama, Pendekar Tongkat Emas, Dewi Pedang Khayangan dan Datuk Sesat Seribu Wisa melompat ke arena pertarungan setelah sebelumnya menghormat kepada sang ketua. Hanya Datuk Sesat Seribu Wisa yang terlihat sangat bernafsu untuk menghabisi lawan. Beberapa kali Inya menyeringai licik.

__ADS_1


Dari pihak Benteng Dewa yang maju ke arena adalah Dewi Selendang Ungu, Arya Sona, dan Rupaksa. Tiga Orang muda melawan Tiga Orang tua.


__ADS_2