
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 118...
Bayu sendiri merasa mengenal kakek yang satu ini. Namun dia tak mengetahui dimana dan kapan ia pernah bertemu. Sesaat ia sempat ragu, apakah orang ini kawan atau lawan.
Namun belum sempat Bayu berpikir lebih jauh, tiba tiba saja Dewa Pedang Sejagat menyerangnya dengan gencar. Orang tua itu menggunakan pedang yang sebelumnya dipakai sang murid bertarung. Kali ini ilmu pedang yang ditunjukkan nampak jauh lebih dahsyat dari yang digunakan si murid sebelumnya.
Dengan gesit Bayu menghindari serangan-serangan Dewa Pedang sejagat. Namun tetap saja beberapa kali ia hampir menjadi korban kedahsyatan ilmu pedang lawan. Lama kelamaan Bayu nampak terdesak. Ia sendiri masih ragu menggunakan Tenaga Sakti miliknya.
Di tempatnya nampak Nalini dan lainnya khawatir. Kemudian gadis itu meminta Bargawa memberikan pedang miliknya kepada Bayu. Orang tua itupun mengangguk seraya menerima pedang yang di berikan Nalini.
“Tuanku, pakai ini!” seru Bargawa seraya melemparkan sebatang pedang di tangannya kepada Bayu.
Bayu pun menyambut pedang yang di lemparkan Bargawa. Kemudian pemuda itu melawan ilmu pedang Dewa Pedang Sejagat dengan jurus pedang pembelah jagat. Pemuda itu menggabungkan dua jurus cipataanya untuk menyerang dan bertahan. Kali ini permainan pedang mereka nampak seimbang.
Dewa Pedang Sejagat melompat ke belakang. Lalu ia menarik nafas dalam-dalam dan mengerahkan tenaga saktinya sampai ketingkat yang paling tinggi. Sinar keiruan mulai berpendar pada pedang yang di genggam orang tua itu. Seketika cahaya dingin menyebar di tempat itu.
Tak ingin menganggap remeh lawan, Bayu mulai mengerahkan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta miliknya. Butiran embun mulai memancar dan menyelimuti tubuh pemuda itu. Hawa dingin semakin kuat dirasakan. Bahkan beberapa anak buah Partai Iblis Berkabut roboh karena hawa dingin yang sangat kuat.
Sementara di pihak Raja Pulau Es, nampak Nalini mulai bergetar. Tubuhnya kelihatan menggigil. Untung saja dengan sigap Intan membuka pedang dan mengerahkan hawa sakti miliknya. Sehingga di sekitar tempatnya di selimuti hawa hangat yang berasal dari pedang Naga Geni.
Dewa Pedang Sejagat kembali menyerang. Kali ini serangannya benar-benar dahsyat dan mematikan. Orang tua itu selalu mengincar bagian-bagian vital lawan. Untung saja Bayu sudah mengerahkan tenaga saktinya, sehingga serangan itu selalu membentur tenaga sakti yang melindungi tubuhnya.
“Benar-benar hebat ilmu pedang orang tua ini.” Gumam Bayu. Pemuda itu telah menggunakan jurus ketiga dari Ilmu Pedang Pembelah Jagat, tak sedikitpun membuat lawannya terpukul mundur. Malah dia sendiri yang sering terkena serangan senjata lawan. Untung saja tenaga saktinya selalu melindungi.
__ADS_1
Bayu melompat mundur kebelakang. Kini dia sudah mengerahkan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat Kedua. Tubuhnya memancarkan sinar kemerahan. Hawa Panas cepat menyebar di tempat itu.
Kembali Bayu melesat menyerang lawannya, kini dengan tenaga sakti gerbang ke dua nampak ia mulai menguasai lawan. Dewa Pedang Sejagat tak mampu lagi menyerang pemuda itu. Ia mulai kerepotan melayani pemuda sakti tersebut.
Dewa Pedang sejagat melompat mundur. Orang tua itu memasukan tangannya ke balik bajunya. Kemudian ia memasukkan sesuatu kedalam mulutnya. Seketika tenaga orang tua itu nampak meningkat pesat. Kini bukan hanya pedang, tubuhnya pun memancarkan sinar berwarna biru.
“Guru!! Pekik tirta yang khawatir melihat sang guru menelan sesuatu yang diambilnya dari balik baju. “Mengapa kau menggunakan pil terlarang itu.” Keluhnya lagi.
“Tenanglah cucuku, semua sudah di takdirkan yang kuasa. Mungkin cara ini satu-satu nya yang bisa kulakukan untuk membebaskanmu, dan menguji kemampuan pemuda ini benar-benar mampu atau tidak membawamu keluar dari sini” sahut Dewa Pedang sejagat kepada muridnya melalui ilmu mengirimkan suara.
Tirtapun terdiam. Nampak dari kelopak matanya air menggenang. Ia berusaha untuk tidak menangis. Murid dewa pedang sejagat itupun berbalik badan.
Pil yang ditelan Dewa Pedang sejagat itu merupakan ramuan yang dibuat oleh Dewa obat yang berfungsi meningkatkan tenaganya menjadi sepuluh kali lipat. Hanya saja orang yang menelan pil itu umurnya akan bersisa tiga hari saja. Semua anggota Partai Iblis Berkabut di berikan pil itu yang akan di gunakan apabila keadaan sudah terdesak.
Bayu agak terkejut tiba-tiba saja ada suara seperti berbisik ketelinganya. Ia maklum bahwa ada orang yang mengirimkan suara itu kepadanya. Ia pun dapat menduga orang itu adalah kakek di hadapannya ini.
“Anak muda.. di dalam sedang mengawasi seorang tokoh sakti yang baru saja bergabung dengan Partai Iblis Berkabut. Kesaktiannya bisa di bilang berada jauh di atasku. Asal kau mau membawa serta muridku pergi dari sini, aku akan mengulur waktu menghadapinya.
Bayu yang tidak mengerti maksud pembicaraan Dewa Pedang Sejagat hanya diam. Kemudian dia pun berbalik ke arah teman-temannya. “Apakah di pulau ini ada tempat lain yang bisa kita gunakan untuk istirahat?” tanya pemuda itu.
Raja Pulau Es dan yang lainnya tiba-tiba kebingungan. Aneh saja saat-saat di tengah pertarungan pemuda itu bertanya di mana tempat untuk beristirahat. Bahkan Intan jadi geli sendiri, dipikirnya sempat-sempatnya Bayu mencari tempat istirahat di saat-saat seperti ini.
“Ada nak Bayu, di gua Es, tempat pusaka pulau es di letakkan. Di sana tempat yang paling aman di pulau ini.” Sahut Bayu.
Tiba-tiba Bayu melesat ke arah Tirta murid Dewa Pedang Sejagat. Lalu tanpa di duga Bayu menotok Tirta sehingga pemuda itu roboh tak sadarkan diri. Bayu membopong Tirta di bahunya lalu melangkah ke tempat Raja Pulau Es dan yang lainnya. Tentu saja perbuatannya itu tak dimengerti lawan ataupun kawan.
__ADS_1
“Mari kita pergi dari tempat ini.” Ucap Bayu mengajak teman-temannya. “Kalau ada yang mengikuti, pemuda ini akan ku bunuh.” Ancam Bayu kepada pihak lawan.
Tak ada satupun dari mereka yang berani bergerak. Mereka hanya dapat membiarkan Bayu dan yang lainnya beranjak dari tempat itu. Dengan adanya murid Dewa Pedang Sejagat di tangan Bayu, mereka tidak berani bertindak gegabah. Salah-salah mereka sendiri yang akan berurusan dengan gurunya.
“Terimakasih Rajawali Merah”
Sebuah ucapan terima kasih kembali terdengar melalui ilmu mengirimkan suara. Bayu yang tidak tau cara menggunakan ilmu itu hanya diam tanpa membalas. Kemudian merekapun bergegas meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah mereka akan meninggalkan tempat itu tiba-tiba terdengar suara bentakan.
“Jangan harap kalian bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup selama Singa Langit masih ada di sini.”
Bersamaan suara bentakan itu muncul, nampak serangkum sinar keperakan berhawa dingin meluncur ke arah Bayu. Tanah atau apapun juga yang di lewati tempat itu nampak berubah menjadi es. Melihat tenaga yang besar sedang mengincarnya Bayupun mengangkat tangan kanannya menangkis serangan itu.
Blammmm..
Sebuah ledakan dahsyat terjadi. Bayu terjajar beberapa langkah kebelakang. Tangannya sempat merasa kesemutan. Walau hanya sesaat, namun membuatnya sangat terkejut. Di depannya kini berdiri seorang lelaki tua berpakaian serba putih. Rambutnya panjang dibiarkan meriap-riap, kumis dan jambangnya panjang sampai ke dada.
“Berisi juga kau bocah tak tewas karena pukulan ku barusan” ketus lelaki tua itu dingin.
Bersambung...
**Jangan lupa like dan kasih komentar, biar novel ini mendapat apresiasi dari pihak Noveltoon**
__ADS_1