
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 167...
“Laksmii..” pekik Dedemit Sukma Ular.
Murid Pertama Raja Siluman Ular itu meraung hebat melihat adik seperguruanya tewas di tangan Cempaka. Ia bergerak melesat ke arah Cempaka untuk menyerangnya. Namun baru seperempat perjalanan, Dedemit Sukma Ular terlempar ke samping beberapa tombak. Nampak Bayu dengan gagahnya melayang di udara. Rupanya tadi pemuda itu yang menendang Dedemit Sukma Ular
“Lawanmu adalah aku.” Ketus Bayu.
Beruntung tadi Bayu tidak menendang Dedemit Sukma Ular menggunakan tenaga saktinya. Pemuda itu hanya memberi pelajaran pada siluman ular itu.
Di sisi lain pertarungan sudah terjadi antara Jaka dan Raksutama adik seperguruan lelaki dari Dedemit Sukma Ular. Walaupun dalam tingkatan ia merupakan adik dari Dedemit Ular Sukma, namun secara kesaktian ia berada di atas.
“Manusia, sebenarnya aku tidak ada kegembiraan untuk bertarung denganmu. Terlebih aku tahu siapa yang aku bela saat ini. Hanya saja kematian adik ku tak mungkin tidak aku balas. Maka bersiaplah!”
Siluman ular yang bernama Raksutama itu melesat menyerang pendekar halilintar. Menggunakan tenaga sakti siluman ular tiingkat tertinggi ia menggempur Jaka habis-habisan. Namun dengan gabungan tenaga tingkat tiga Ilmu tujuh gerbang alam semesta, mudah saja Jaka melayani siluman itu.
Raksutama menyambar tubuh jaka dengan kedua telapak tangannya yang mengeluarkan asap hitam. Jaka yang melihat musuh menyerang tak sedikitpun membuatnya gentar.
Blammm..
Ledakan dahsyat terjadi. Raksutama terlempar jauh hinga menimpa tiang puri Raja Siluman Ular. walaupun mengalami luka dalam, ia masih mampu bangkit dan siap menyerang kembali.
Jaka sendiri hanya terdorong mundur dua langkah. Walaupun tidak mengalami luka dalam, dadanya sempat tergertar. Ia pun mengerahkan kembali tenaga saktinya ketingkat tertinggi.
Raksutama mengerahkan tenaga saktinya sampai kepuncak tertinggi. Asap hitam tebal mulai menyelimuti tempat itu. Jaka sendiri tak mau kalah, cahaya halilintar berwarna kemerahan berkilat menyambar-nyambar, tanda tenaga saktinya memancar hebat.
Sementara itu Bayu Sendiri sudah membawa Dedemit Sukma Ular agak menjauh dari puri Raja Siluman Ular. Hal ini guna mengalihkan perhatian supaya Cempaka bisa mencari keberadaan para pendekar lain yang dibawa ke alam lelembut.
“Sebaiknya kau menyerah saja mahluk jadi-jadian. Siapa tau aku memiliki belas kasih untuk mengampunimu.” Ketus Bayu dingin.
“Kau kira aku takut padamu bocah. Hanya mengandalkan ilmumu di alam ini, jangan terlalu percaya diri. Kau akan tau bagaimana rasanya mati anak muda.” Bentak Dedemit Sukma Ular.
__ADS_1
Blammm..
Bentrokan pertama terjadi antara Bayu dengan Dedemit Sukma Ular. Nampak siluman yang menjadi lawan Bayu terlempar sangat jauh sampai menimpa pepohonan di empat itu. Sedangkan Bayu sendiri tak bergeming sedikitpun. Pada dasarnya dedemit itu memang bukan tandingan Bayu, mudah saja baginya dalam sejurus menghabisi.
Di dunia manusia Nalini dan Canik Kemuning sedang berjaga di sekitar tubuh Bayu dan Cempaka. Saat itu Malaikat Putih sudah tidak lagi dalam semadinya ia masuk ke dalam bangunan utama perguruan Jari Sakti. Di sana banyak terlihat tubuh-tubuh para pendekar yang jiwanya sedang berada di alam Lelembut.
“Rupanya siluman itu hanya membawa sukmanya para pendekar ke alamnya. Tidak dengan jasad mereka. Sungguh sangat berbahaya apabila ada orang jahat yang memanfaatkan keadaan ini. Sebaiknya kau dan aku berjaga di sini raden.” Ucap Malaikat Putih kepada Raden Raga Lawing
“Aku berfirasat orang-orang Raja selatan akan kesini eyang. Mereka pasti memang menunggu keadaan ini untuk menghabisi pendekar-pendekar dunia persilatan.” Sahut Raden Raga Lawing.
Baru saja ucapan Raden Raga Lawing selesai samar-samar terdengar suara ramai kaki kuda dari kejauhan. Sepertinya ada serombongan orang menuju perguruan Jari Sakti.
“Ahh.. ternyata firasatmu benar Raden. Kau tetaplah di sini menjaga jasad-jasad mereka, agar jangan sampai ada yang mengganggu. Biar aku membantu gadis-gadis di luar itu.” Ucap Malaikat Putih.
Raden Raga Liwang mengangguk, Malaikat Putih pun melangkahkan kakinya keluar. Di luar nampak Nalini dan Canik Kemuning sedang bersiaga. Kedua gadis itu berdiri memandang ke arah pintu gerbang. Samar-samar terlihat rombongan orang-orang berkuda mendekat.
“Siapa mereka?” tanya Nalini.
Tak berapa lama kemudian rombongan orang berkuda itu telah tiba di depan pintu gerbang perguruan Jari Sakti. Mereka terdiri dari tiga orang berpakaian serba hitam. Masing-masing memiliki pedang tergantung di punggungnya.
“Serahkan pemuda baju merah itu, kalian akan selamat. Kalau tidak, hari inilah ajal kalian.” Ancam lelaki yang berada di tengah.
“Siapa kalian? Datang-datang mengancam kami.” Geram Nalini. “Jangankan tiga orang seperti kalian, walau sepuluh yang datang tidak akan kami takut.”
“Serang!”
Bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan Nalini, orang baju hitam yang di tengah malah memberikan perintah untuk menyerang. Dua orang berbaju hitam di samping hitam langsung melompat dari kudanya dan menyerang Nalini dan Canik Kemuning.
Melihat orang langsung menyerang, kedua gadis yang sedari tadi memang sudah menyiapkan diri, langsung menghunuskan senjata masing-masing. Nalini dengan pedangnya sedangkan Canik Kemuning dengan pit nya. Masing-masing menyambut serangan lawan tanpa gentar sedikitpun.
Kedua orang berbaju hitam menyerang dengan pedang di tangan masing-masing. Di posisi Nalini pada gerbrakan jurus ke dua luluh masih kelihatan imbang. Beda halnya dengan Canik Kemuning yang sudah mulai kewalahan dengan kelihaian musuh.
Bukan hanya permainan pit Canik Kemuning nampaknya bukan tandingan permainan pedang lawan, tapi dalam hal tenaga dalam gadis itu juga berada satu tingkat di bawah lawannya. Berkali-kali Canik kemuning harus membuang tubuhnya ke samping menghindari tebasan pedang lawan, hingga pada jurus ke empat puluh Canik terkena tendangan lawan.
__ADS_1
Canik Kemuning terlempar tiga tombak dari tempatnya. Untung saja tendangan lawan yang bersarang di lambungnya tidak mengandung tenaga sakti. Sehingga tidak menimbulkan luka dalam pada tubuhnya. Namun Lawan tidak berhenti disitu saja, ia terus menyerang walau gadis itu masih rebah berusaha bangkit. Pedang lawan siap menebas leher gadis itu.
Trang...
Saat keadaan sudah sangat genting, tiba-tiba sebuah kerikil memapaki serangan pedang orang berbaju hitam. Untuk sementara Canik Kemuning aman dari bahaya yang mengincar. Sementara orang berbaju hitam terdorong tubuhnya beberapa langkah. Pedang di tangannya terlihat buntung.
“Malaikat Putih! Beraninya kau ikut campur urusan ini.” Bentak lelaki pakaian hitam yang tadi memerintah masih berada di atas kudanya.
“Aku tak akan ikut campur seandainya Yang Mulia Raja tidak sewenang-wenang. Semenjak singgasana diwariskan kepadamu keadaan bukannya bertambah baik, malah semakin menyengsarakan rakyat. Aku turut campur karena hendak mengembalikan kerajaan selatan seperti sedia kala.” Sahut Malaikat Putih.
Melihat kedoknya di ketahui orang, Raja Selatan yang menutupi wajahnya dengan kain dan caping, kini melepasnya. Melihat junjungannya melepas kedok, orang yang tadi menyerang Canik Kemuning pun melakukan hal yang sama. Sedangkan yang satunya masih sibuk bertarung dengan Nalini.
“Barja.. Habisi gadis itu, Malaikat Putih biar aku yang menanganinya.” Perintah Raja Selatan.
Tanpa menunggu perintah dua kali orang yang bernama Barja itu langsung menyerang Canik Kemuning. Dengan susah payah gadis itu berusaha menghindari setiap serangan Barja. Sementara Malaikat Putih yang berusaha membantu langsung mendapat serangan Raja Selatan.
“Sedikit Banyaknya aku adalah gurumu! Tapi sepertinya itu tak berarti bagimu. Terbukti serangan mu tadi tanpa belas kasihan sedikitpun.” Ucap Malaikat Putih yang berhasil menghindari serangan maut Raja Selatan.
**Bersambung..
Salam Dunia Persilatan
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
memencet tombol like
Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya**.
__ADS_1