
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA ...
...Episode 93...
Tak lama setelah Intan datang, Jaka pun tiba di tempat itu. Ada raut keterkejutan yang terpancar dari raut wajahnya. Kemudian suami Cempaka itupun menghampiri Intan.
“Apakah burung rajawali itu mengajakmu kesini Intan?” tanya Jaka.
“Iya kak, apa yang terjadi tempat ini mirip dengan keadaan di kediaman aku dulu bersama ayah saat kak Bayu mengamuk melawan musuh.” Tutur Intan yang kembali teringat kenangan pertama kali ia bertemu Bayu.
Tempat yang mereka datangi itu memang merupakan hutan yang menjadi tempat latihan Bayu sebelum menghadapi Datuk Sesat Seribu Wisa dulu. Belum mencapai satu bulan kejadian makanya tempat itu masih belum berubah banyak.
“Sayang sekali aku tidak mengetahui secara pasti ciri-ciri ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Tapi seandainya pun benar ini akibat yang ditimbulkan Ilmu itu, belum tentu juga Rajawali merah yang melakukannya. Bisa jadi ada orang lain yang juga menguasai ilmu itu yang melakukannya. Karena tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang juga menguasai ilmuitu di negeri ini.” Ucap Jaka.
Intan yang mendengar ucapan Jaka hanya menghela nafas panjang menanggapinya. Ia sendiri setuju dengan pendapat Pendekar Halilintar Itu. Hanya saja besar harapannya bisa bertemu Bayu di tempat itu.
"Entah apa maksud burung rajawali ini membawa kita ke sini." gumam Intan.
"Biar bagaimanapun yang namanya burung tetaplah burung. Walaupun dia terlatih dan menjadi sakti" ucap Jaka.
Keduanya pun memutuskan kembali ketempat penginapan. Tak jauh di tempat itu, berlindung di balik batu besar seseorang sedang mengawasi mereka. "Kalau aku tak salah lihat, lelaki itu adalah Pendekar Halilintar. Entah ada urusan apa dia kesini" gumam orang itu sambil mengawasi kepergian mereka.
Setelah Intan dan Jaka meninggalkan tempat, orang itupun keluar dari persembunyiannya. Ternyata tak lain ia adalah Dewa Tuak Gila. Kemudian ia pun melesat meninggalkan tempat menuju desa Bojana.
Di balai Desa Bojana kembali terjadi keributan. Randu datang mempermainkan para keamanan desa. Walaupun tidak sampai membunuh, namun pemuda-pemuda desa Bojana itu menjadi bulan-bulanan dipukul dan di tendang kesana kemari oleh Randu. Kebetulan sekali Bayu dan Nalini tidak ada di sana karena mengantarkan ki Farja pulang kerumahnya.
__ADS_1
"Hahaha... empat hari lagi aku akan kesini lagi membantai semua penduduk desa ini kalau si Jatar tak menyerahkan diri" ancam Randu seraya menendangi beberapa orang pemuda desa. Randupun melesat meninggalkan tempat itu.
Tak lama berselang Bayu dan Nalini datang ke balai desa. Betapa terkejutnya mereka mendapati keadaan penjaga keamanan yang babak belur ditambah balai Desa yang porak poranda. Keduanya langsung memeriksa para pemuda yang dihajar Randu tadinlalu mengobati luka-luka mereka.
"Benar-benar biadab perbuatan pemuda itu." Geram Nalini.
Tak lama setelah mereka selesai mengobati para pemuda keamanan desa Bojana, Ki Jatar datang bersama seorang lelaki tua berpakaian serba kuning. Rambutnya berwarna kemerahan. Dialah paman guru dari ki Jatar dan Ki Farja, tokoh sakti yang bergelar Elang Emas dari Utara.
"Ayah... Kakek guru..." Sapa Nalini, seraya menjura memberikan hormat. Terdengar nada bicara yang keluar dari mulut gadis itu sedikit janggal. Bahkan ia hanya sesaat menatap ayahnya lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Ki Jatar sendiri menyadari akan sikap putri satu-satunya itu. Memang ki Farja yang menceritakan tentang asal usul permasalahan itu karena dia yang memintanya. Kepala Desa Bojana itupun sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Salah satunya apa yang putrinya akan lakukan.
"Hmmm... Siapa yang melakukan ini?" tanya Elang Emas Utara agak geram melihat pemandangan di depan matanya.
"Cucu dari Pendekar Pedang Kilat." jawab Nalini hambar.
"Apa-apaan kau ini Jatar! kau suruh aku berurusan dengan Pendekar Pedang Kilat." Bentak Elang Emas Utara. "Kau kira aku sudah tidak sayang nyawaku lagi. Apalagi urusan Pendekar Pedang Kilat adalah urusan masalalumu." geramnya lagi.
Tanpa berpamitan Elang Emas dari Utara melesat meninggalkan tempat itu. Ki Jatar hanya tertunduk lesu. Ia pun menghempaskan tubuhnya duduk di tepian Balai Desa. Semua itu tak lepas dari perhatian Nalini.
"Ayah...." Jerit Nalini seraya berlari memeluk ayahnya.
Tak mampu juga gadis itu membendung air matanya yang mengalir membasahi pipi. Biar bagaimanapun, ki Jatar tetap ayah kandungnya yang paling ia sayangi.
"Sudah.. sudah, jangan menangis anakku." Ucap ki Jatar yang tak tega melihat anaknya menangis. "Mungkin sudah takdir ayahmu ini membayar segala kesalahan masa lalu dengan cara seperti ini." keluh kepala Desa itu.
__ADS_1
Bayu yang menyaksikan pemandangan di depannya merasa terharu juga. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa dia mampu menghadapi musuh ayahnya, namun pemuda itu masih ragu. Selain masalah ini masalah pribadi ki Jatar, ia sendiri ragu akan masa lalunya. Ia takut kalau kalau memang benar masalalunya sebagai gembong penjahat di dunia persilatan.
"Hahaha... hehehe..."
Tak lama berselang tiba-tiba Dewa Tuak Gila muncul dengan tawa khasnya. Orang tua itu langsung saja mendekati Bayu yang sedang bengong.
"Anak muda, aku punya berita baru untukmu" bisik Dewa Tuak Gila.
Mendengar itu Bayu langsung mengajak Dewa Tuak Gila agak menjauh dari situ. Kemudian iapun menanyakan orang tua itu tentang kabar yang ia dapatkan. Sejenak Dewa Tuak Gila diam sambil meneguk tuak kesukaannya.
"Berita yang kudapat tentang Istana Lembah Neraka." ucap orang tua itu disela-sela meminum arak. Ia oun duduk bersandar di bawah pohon besar yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa dengan Istana Lembah neraka kek?" tanya Bayu. Ia mengira berita itu tentang dirinya. Ketika orang tua itu mengatakan tentang Istana Lembah Neraka, dia agak kurang tertarik.
"Anak muda, bila benar kau adalah Rajawali Merah, maka Istana Lembah Neraka dan orang-orangnya adalah kepunyaanmu. Itu artinya berita ini sangat penting buatmu" Sungut Dewa Tuak Gila yang melihat gelagat Bayu seperti merasa tidak penting akan berita yang di bawanya.
"Hehe kok malah kau yang marah orang tua." sahut Bayu geli. "Aku hanya berharap bukan Rajawali Merah, dan bukan ketua perkumpulan orang-orang jahat itu." desahnya lirih
"Makanya berita ini kuanggap penting untukmu. Kabarnya Perkumpulan itu sudah melakukan perubahan besar. Mereka tidak lagi berjalan dalam jalur kesesatan. Bahkan kini perbuatan mereka banyak dipuji orang-orang beraliran putih, terutama penduduk sekitar lembah itu."
Dewa Tuak Gila berhenti sejenak bercerita. Orang tua itu meneguk kembali tuak yang berada di bambunya. beberapa kali dia menepuk-nepuk bambu itu. Berharap ada tuak yang bisa keluar lagi, walaupun dia tau isinya telah habis.
"Yang aku tidak mengerti, sedikitpun tidak kudapatkan berita tentang Rajawali Merah. Seolah-olah Perkumpulan Istana Lembah Neraka memang merahasiakan berita tentang ketua mereka." tutur Dewa Tuak Gila melanjutkan ceritanya.
Ada pancaran kegembiraan dari mata pemuda itu mendengar cerita Dewa Tuak Gila. Ia sendiri tidak mengerti mengapa berita itu begitu menggembirakannya. Sejenak Bayu tenggelam dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...
Mohon jangan lupa menyempatkan like dan komentar.