
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
...Episode 102...
Keesokan harinya, setelah beristirahat selesai melakukan pengobatan putri pemimpin kota, Jaka dan yang lainnya beranjak meninggalkan penginapan. Sesudah sampai di perbatasan negara, merekapun berpisah dengan rombongan pemimpin kota, Jaka dan yang lainnya bergerak menuju Bukit Benteng Dewa.
Agak siang Jaka, Cempaka, dan Intan singgah di rumah makan untuk mengganjal perut mereka. Nampak di sana ramai lalu lalang orang-orang dunia persilatan. Padahal jarak mereka dengan Benteng Dewa masih berkisar satu hari penuh perjalanan berkuda.
Setelah memilih salah satu meja di rumah makan yang ia singgahi, ketiganya pun memesan makanan yang mereka inginkan. Tak berselang lama saat mereka tengah menikmati makanan, masuk seorang lelaki paruh baya yang menggunakan pakaian putih. Cempaka langsung mengenali orang itu.
"Paman.. Paman Jampalu" teriak Cempaka.
Lelaki separuh Baya yang memang adalah Pendekar Pedang Perak itu menoleh. "Cempaka" serunya. Kemudian Ki Jampalupun menghampiri mereka bertiga.
"Tak di sangka ketemu kalian di sini, apa kabar kalian suami istri" sapa ki Jampalu
"Mari makan bersama paman" Ajak Cempaka, tanpa menjawab pertanyaan ki Jampalu dulu.
Setelah ki Jampalu bergabung, masing-masing bercerita apa yang sudah mereka lewati. Ternyata ki Jampalu baru saja datang dari Banteng Dewa. Di dunia persilatan telah tersebar akan ada penyerangan bukit tersebut. Yang melakukan penyerangan adalah Partai Iblis Berkabut.
"Tidak disangka dunia persilatan kembali dirongrong oleh Partai dari aliran hitam." keluh Cempaka.
"Bagaimana nak Jaka, apakah kalian tetap meneruskan perjalanan ke Benteng Dewa?" tanya ki Jampalu. "Malaikat Bertangan Sakti sudah berpesan siapapun tidak boleh mencampuri permasalahannya." tambahnya lagi.
Ternyata rencana yang disiapkan Malaikat Bertangan Sakti adalah untuk menghadapi musuh tanpa melibatkan orang lain. Ketua perguruan Tangan Dewa itu tak ingin menimbulkan korban lebih banyak. Dia telah membuat pernyataan bahwa orang lain diluar Perguruan Tangan Dewa tidak boleh ada satu orang pun mencampurinya. Bila masih melakukan berarti tidak memandang dirinya sebagai ketua perguruan tersebut.
"Entahlah paman, kalau orang tua itu bersikeras untuk tidak ingin dicampuri, sulit juga kita bergerak. Aku yakin tujuannya buka karena kesombongan. Tapi lebih tak ingin membuat susah orang lain" ungkap Jaka. "Bagaimana pendapatmu Cempaka" tanya Bayu lagi kepada Istrinya.
"Terserah kakang saja, aku ikut saja apa kehendakmu" jawab istrinya.
Lalu kedua suami istri itu menoleh kearah Intan. Gadis itu mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. Kiranya Intanpun menyerahkan semua keputusan pada Pendekar Halilintar.
"Bagaimana kalo kita secara diam-diam saja mengawasi keadaan Benteng Dewa. Bila memang diperlukan, tak ada salahnya kita membantu Malaikat Bertangan Sakti dengan murid-muridnya itu." Usul ki Jampalu.
Akhirnya mereka sepakat atas usul Pendekar Pedang Perak. Setelah menghabiskan makan mereka, Keempat orang itu langsung berangkat menuju Benteng Dewa.
Sementara itu di halaman rumahnya, setelah kehadiran cucu Pendekar Pedang Kilat Nalini benar-benar giat dalam berlatih ilmu Pedang Pembelah Jagat. Selain dia, Ki Farja pun turut berlatih. Setelah hampir setengah harian baru ki Farja bisa menguasai jurus pertama Ilmu pedang ciptaan Bayu itu. Walaupun tidak se dahsyat yang di kuasai Nalini, namun orang tua itu sudah sangat puas dengan apa yang ia capai.
__ADS_1
Sedangkan Nalini nampak telah sangat menguasai jurus pertama dan kedua Ilmu Pedang Pembelah Jagat. Sedangkan jurus ketiga agak sulit ia melatihnya, karena setiap kali selesai melakukan jurus itu, tubuhnya lemas kehilangan tenaga. Walaupun begitu, jurus itu cukup sempurna ia kuasai.
Diawasi oleh Bayu, kedua orang guru dan murid itu terus berlatih. Ketika sedang asik berlatih, Dewa Tuak Gila datang.
"Hahaha... bagus bagus, berlatih untuk kemajuan. "Puji Dewa Tuak Gila. "Eh.. itu jurus apa? hebat sungguh hebat" puji Dewa Tuak Gila lagi yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat jurus pedang yang diperagakan Nalini.
Nalini berhenti sejenak, ia pun tersenyum ke arah Dewa Tuak Gila. "Jurus Pedang Pembelah Jagat kek, ciptaan kak Bayu Kek!" seru Nalini seraya meneruskan latihannya.
Dewa Tuak Gila menghampiri Bayu yang sedang duduk sambil mengawasi Nalini dan ki Farja yang sedang latihan.
"Rupanya kau sudah berterus terang pada mereka anak muda."
"Keadaan mendesak kek, besok Nalini akan bertarung dengan cucu Pendekar Pedang Kilat." sahut Bayu menanggapi pernyataan Dewa Tuak Gila.
"Kiranya memang kau yang menciptakan jurus pedang itu" ucap Dewa Tuak Gila sambil duduk di samping Bayu dan mengarahkan pandangannya ke arah dua orang yang sedang berlatih. "Benar-benar jurus yang luar biasa."
"Sebenarnya aku tak ingin mencampuri urusan pribadi Ki Jatar dan Pendekar Pedang Kilat itu, tapi perbuatan mereka sudah benar-benar kelewatan." ungkap Bayu.
"Kalau bukan kau, mungkin tak ada yang mau berurusan dengan orang tua sakti itu."
"Ada yang ingin ku kabarkan padamu anak muda."
"Ada apa kek, apa ada berita baru tentang aku?"
"Bukan, ini tentang dunia persilatan. Di selatan telah muncul perkumpulan beraliran hitam yang ingin menguasai dunia persilatan. Kabarnya saat ini mereka telah bergerak untuk menghancurkan Benteng Dewa" tutur Dewa Tuak Gila.
"Lalu apa hubungannya dengan kita kek?" tanya Bayu.
"Ini erat hubungannya denganmu. Kabarnya pemimpin perkumpulan yang menamakan diri sebagai Dewa Iblis Kegelapan merupakan tokoh besar aliran hitam pada ratusan silam. Saat itu yang bisa mengalahkannya hanya Empu Adhiyak Sona muda. Yang artinya hanya orang yang memiliki Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang mampu melakukannya."
"Tapi aku bukan Empu Adhiyak Sona" kilah Bayu.
"Benar, namun kau pemilik satu-satunya yang masih hidup Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta."
"Kau sendiri belum yakin Ilmu yang kumiliki memang Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta" sahut Bayu.
Dewa Tuak Gila terdiam sejenak. Ia sendiri memang masih sangsi apakah yang dimiliki Bayu Ilmu langka itu. Karena selama ini orang tua itu belum pernah menyaksikan seperti apa Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.
__ADS_1
"Anakku, aku kira di utara ini engkaulah pendekar nomor satu yang tidak tertandingi. Bahkan oleh Pendekar Pedang Kilat sekalipun. Dalam kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus kau pikul." ucap Dewa Tuak Gila menasehati.
Bayu terdiam. Saat ini yang jadi beban pikirannya adalah pertarungan Nalini besok melawan Randu cucu Pendekar Pedang Kilat. Ia sama sekali tidak memikirkan dunia persilatan yang lebih luas.
"Biar lah kek, selama orang-orang itu tidak mengganggu kami, tak akan kami mencampuri urusan mereka. Tapi satu saja dari kami yang mereka lukai, tak akan ada satupun dari mereka yang akan tetap hidup." tegas Bayu.
Bergidik juga Dewa Tuak Gila mendengar ucapan Bayu. Sejenak dia teringat cerita tentang kekejaman ketua Istana Lembah Neraka yang membunuh tanpa berkedip.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ke selatan melihat keramaian." pamit Dewa Tuak Gila. Setelah berpamitan Dewa Tuak Gila beranjak meninggalkan tempat itu.
Wraaakkk.. Wraaakkk..
Tiba-tiba Bayu dan yang lainnya dikejutkan oleh suara burung yang sangat keras. Bukan suara burung biasa, suara yang mengandung kekuatan sakti. Mereka pun secara serempak menengok keatas. Tepat di atas mereka seekor burung berwarna jingga kemerahan sedang berputar-putar di atas langit.
"Pertanda apalagi ini" ucap ki Jatar cemas.
Bersambung...
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
Salam Dunia Persilatan...
Mudah-mudahan keberkahan dan perlindungan Yang Maha Kuasa selalu bersama kita. Karya Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) mudah-mudahan bisa mendapat tempat di hati kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.
Jangan lupa kunjungi karya saya yang lain
Dark Hunter
Pendekar halilintar (Kisah Pertama trilogi Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta)
Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan, sudilah kiranya memberikan like, dan komentar pada cerita ini.
Salam Dunia Persilatan
__ADS_1