
“Selamat Bertemu Raja Iblis Bukit Tengkorak” sapa Malaikat Bertangan Sakti membuka pembicaraan sekaligus memecah ketegangan yang terjadi.
“Tidak kah kau akan menjadi murid yang durhaka menjadi ketua Perguruan Tangan Dewa tapi berdiri berseberangan dengan pendirinya, Ageng Dasa Harsana.” Ucap Raja Iblis Bukit Tengkorak tanpa membalas salam dari Malaikat Bertangan Sakti.
“Seandainya guruku itu dalam keadaan sadar, tentu ia tak akan berada di belakangmu itu.” Balas Malaikat Bertangan sakti dingin.
“Hahaha, bukan hanya gurumu yang kami kuasai, tapi dunia persilatan akan berada dalam genggaman kami.”
Raja Iblis Bukit Tengkorak tertawa dengan keras. Tawa itu bukan tawa biasa, namun mengandung pengerahan tenaga dalam di baliknya. Beberapa orang yang berkemampuan rendah menutupi telinganya. Terlihat sekali mereka menahan rasa sakit yang ditimbulkan suara itu. Bahkan ada beberapa orang yang tidak memiliki kemaamouan bela diri langsung tewas.
"Hmmm..." Gumaman dari Pertapa Sakti Tanpa langsung menindih tawa Raja Iblis Bukit Tengkorak dan menghilangkan pengaruh maut tersebut.
"Hahaha rupanya Pertapa Sakti Tanpa Nama pun turun gunung membela Benteng Dewa. Yang aku tak mengerti urusan si Iblis Muka Hitam ini ada di sini untuk apa." Tunjuk Raja Iblis Bukit tengkorak kepada Iblis Muka Hitam.
"Yang pasti untuk menutup mulutmu itu selamanya" Iblis Muka Hitam.
"Maaf, boleh saya tau di mana ketua kalian, ada hal yang ingin kami sampaikan terlebih dahulu" Potong Malaikat Bertangan Sakti melerai keadaan.
Raja Iblis Bukit Tengkorak tercekat dengan pertanyaan Malaikat Bertangan Sakti. Sebenarnya sampai sekarang ia sendiri tidak tau di mana keberadaan ketua mereka.
"Kemana bocah itu, menyusahkan saja. Seandainya bukan dia yang di harapkan membasmi orang-orang aliran putih ini, tentu sudah lama aku singkirkan dia" Bisik Raja Iblis Bukit Tengkorak dalam hati.
"Katakan saja apa yang kalian inginkan. Aku yang mewakilinya" jawab Raja Iblis Bukit Tengkorak dingin.
"Hmmm dapatkah kami percaya cecunguk macam kau itu menjadi wakil Ketua Istana Lembah Neraka" Ejek Iblis Muka Hitam Sengaja memancing kemarahan lawan.
"Bedebah kau" Bentak Raja Iblis Bukit Tengkorak.
Raja Iblis Bukit Tengkorak yang berang dengan ucapan Iblis Mika Hitam langsung menerjang dengan kepalannya. Namun Iblis Muka Hitam sudah memperhitungkan hal itu, dia pun menghindari terjangan seraya mengirim sebuah tendangan ke punggung lawan. Namun Pelindung istana Lembah Neraka itupun mamou menghindarinya.
Raja Iblis Bukit Tengkorak pun Mengerahkan Tenaga Saktinya. Kali ini Dia menggunakan pukulan andalannya. Pukulan Iblis peremuk tulang. Seluruh Badan Raja Iblis Bukit Tengkorak mulai mengeluarkan asap.
"Tutup pernafasan kalian" Seru Malaikat Petir mengingatkan yang lain. Serentak mereka yang merasa kesaktiannya masih dibawah mundur beberapa langkah lalu menutup hidung dan mulut mereka dengan kain. Sedangkan mereka yang berkemampuan tinggi, tidak melakukan apapun, tetap mengawasi ke depan.
Iblis Muka Hitam pun tak mau kalah. Ia sudah mengerahkan kesaktiannya bersiap memapak serangan lawan. Keduanya melompat ke udara dan menerjang dengan kedua telapak tangannya masing masing. Namu Belum sempat dua pasang tangan itu bertemu tiba-tiba dua buah sinar melesat dari arah bayu mengincar kedua orang yang bertarung.
__ADS_1
Blamm..
Terjadi ledakan hebat saat sinar itu mengenai sepasang telapak tangan Raja Iblis Bukit Tengkorak dan Iblis Muka hitam. Keduanya pun terlempar ke rombongannya masing-masing.
"Tak ada satupun boleh bertarung tanpa seizinku"
Sebuah suara menggelegar bagai datang di segala penjuru tempat itu. Semua yang ada di sana merasakan getaran pada dada mereka. Bahkan beberapa orang di antara mereka bergidik karena bulu roma mereka berdiri.
Semua mata beralih pada sebuah gunung di sebelah kanan Bukit kosong.
Dari gunung itu terlihat melayang sesosok orang berbaju serba merah bagaikan terbang. Sungguh pemandangan diluar akal, tanpa sayap tanpa mengayunkan kakinya dia meluncur dengan cepat ke bukit kosong. Dialah Rajawali Merah dengan Bianglala melukis langitnya memperlihatkan ketinggian ilmu meringankan tubuhnya.
Hormat pada Ketua...
Semoga Ketua Panjang Umur...
Hidup Istana Lembah Neraka...
Hidup Rajawali Merah...
Di pihak Benteng Dewa hampir semua orang di sana terdiam, bahkan terbengong melihat atraksi ilmu meringankan tubuh yang di perlihatkan Bayu. Bahkan sekelas Pertapa Sakti Tanpa Nama danIblis Muka Hitam tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Bangunlah!" Perintah Rajawali Merah kepada abak buahnya. Serentak semua orang berdiri. Kemudian Bayu membalikkan badannya ke arah orang-orang Benteng Dewa. "Apa yang mau kalian sampaikan" Ucapnya kepada rombongan lawan.
"Selamat datang Ketua Istana Lembah Neraka." salam dari Malaikat Bertangan Sakti. "Sebelum pertandingan kita mulai, bolehkah aku menyampaikan sebuah usulan untuk kebaikan kedua belah pihak."?
"Hmmm apa itu? sahut Bayu Dingin.
"Kami menantang lima jagoan dari Istana Lembah Neraka bertarung dengan lima jagoan kami. Dengan kesepakatan siapapun pemenangnya, pihak yang kalah wajib patuh dan tunduk kepada yang menang." usul Malaikat Bertangan Sakti.
"Bagaimana menurutmu kek?" tanya Bayu kepada Raja Iblis Bukit Tengkorak.
"Hahaha, punya modal apa Benteng Dewa menantang Istana Lembah Neraka berduel. Baiklah kami akan terima tantangan kalian. Cuma peraturan hasil pertarungan sedikit di rubah.
"maksudmu?" Tanya Malaikat Petir yang curiga akan maksud orang.
__ADS_1
“Siapa yang kalah, akan menjadi budak yang menang selama sepuluh tahun”
“Mana ada aturan seperti itu”
“Hahaha… terserah, kalau kalian menyetujui kita laksanakan pertandingan. Kalau tidak sesuai perjanjian awal, pilihan kalian Menyerah dan bergabung di bawah kami, atau bunuh diri. Hahaha” Raja Iblis Bukit tengkorak tertawa mengejek.
"Bedebah rupanya sengaja kau mempermainkan kami" bentak Malaikat Petir.
Guru dari Pendekar Halilintar itu tak mampu mengendalikan amarahnya. Karena amarah yang meluap Malaikat Petir menyerang Raja Iblis Bukit Tengkorak dengan membabi buta. Bagi seorang ahli silat, pantang baginya bertarung dalam keadaan marah. Karena dengan mudah musuh melihat kelemahannya.
Sudah sepuluh jurus Malaikat Petir menyerang Raja Iblis Bukit Tengkorak. Tak sedikitpun ia mampu menyentuh lawan. Padahal Pelindung Istana Lembah Neraka itu sekalipun tidak melakukan serangan balasan. Ia hanya menghindar sambil tertawa-tawa.
Saat mencapai jurus ke dua puluh, Malaikat Petir melompat mundur beberapa tombak. Dikerahkan tenaga sakti inti petirnya pada tahap puncak. Cahaya petir yang berkilatan menyelimuti tubuhnya. Sambil menarik nafas panjang dia pun mempersiapkan Pukulan Halilintar Membelah Angkasa yang menjadi andalannya.
Melihat lawan menggunakan tenaga saktinya, Raja Iblis Bukit Tengkorak tak mau kalah. Dikerahkannya tenaga sakti miliknya menjadi sepuluh bagian. Kepulan asap putih keluar dari seluruh tubuhnya. Diapun mengeluarkan ilmu andalannya, Pukulan Iblis peremuk tulang.
"Hiyaaaattt..."
"Haaaaaa..."
Malaikat Petir dan Raja Iblis Bukit Tengkorak berteriak berbarengan. Kemudian keduanya saling menerjang menggunakan ilmu andalannya masing-masing.
Bukkkk...
Blammm...
Bukkkk...
Aaaaaa...
Tinju Malaikat Petir bersarang di dada Raja Iblis Bukit Tengkorak. Ia pun terdorong kuat lima langkah ke belakang. Hampir saja Ia oleng. Dari mulutnya mengalir darah kehitaman.
Namun yang lebih malang dialami oleh Malaikat Petir. Sepasang telapak yang mengandung pukulan beracun milik Raja Iblis Bukit Tengkorak Tepat menghantam kepala dan dadanya. Guru Pendekar Halilintar itu terlempar sejauh delapan tombak.
"Guruuu!" Pekik Jaka lalu melesat kearah gurunya.
__ADS_1