Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.156. Musuh-musuh Pendekar Macan Putih


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 156...


Buuukkk...


“Ukhh..”


Dengan keras Sudika menyerang Serigala Bangkok Bukit Duri, namun bukan lawannya itu yang terluka, malah ia yang terjengkang beberapa tombak jauhnya. Lambungnya terkena tendangan keras dari Serigala Bangkok. Ia pun terduduk tak kuasa bangkit karena perutnya yang di rasa sangat sakit.


“Sudika.. bagaimana keadaanmu?” Tanya Ramaji yang tadi langsung melesat mendekati Sudika saat melihat adiknya itu terhajar lawan.


Sudika hanya menggeleng. Namun wajahnya nampak meringis menahan sakit. Sedangkan tangannya masih memegamg perutnya. Ramaji sudah menduga adik seperguruannya itu terluka lambungnya.


“Kau harus membayar ini Serigala Bangkok.” Geram Ramaji.


Ramaji langsung menerjang Serigala Bangkok. Ia sudah menggunakan cakar macan putih jurus andalan perguruannya. Serigala Bangkok sendiri tak mau kalah, lelaki besar itu menggunakan jurus cakar serigalanya menghadapi lawan.


Keduanya saling cakar dan saling terjang. Sesekali kaki mereka bermain mencari titik lemah lawan. Sampai berlalu dua puluh jurus tak ada satupun nampak lebih unggul. Hingga di jurus ke lima puluh keduanya melompat mundur kebelakang, lalu saling mengawasi dengan tatapan tajam.


“Serigala Bangkok, menghadapi bocah ingusan aja kau tak sanggup, bagaimana melawan gurunya.”


Tiba-tiba saja terdengar suara  yang menegejek Serigala Bangkok. Seperti dikomando kedua pihak yang sedang berseteru menoleh ke arah datangnya suara. Tepat berjarak tiga puluh tombak di sebelah selatan mereka berdiri, nampak seorang lelaki tua bertubuh cebol sedang berdiri tersenyum sinis.


“Hmmm.. rupanya kau Cebol Gunung Patakan. Apa kepentinganmu mencampuri masalahku. Jika kau ingin membela mereka, sini hadapi aku sekalian.” Geram serigala Bangkok.


“Hahaha. Tidak ada urusan aku membela para macan ompong seperti mereka. Aku ke sini hendak mencari guru mereka yang mangkir dari pertemuan kami. Rupanya sekaranh orang-orang aliran putih ini berubah jadi pengecut.” Ucap Cebol Gunung Patakan. “Biar aku bantu kau mencincang macan ingusan ini, supaya gurunya mau keluar dari persembunyiannya.”


Cebol Gunung Patakan langsung menerjang Ramaji dengan senjata gada berdurinya. Walaupun tubuhnya kecil, namun tenaganya besar. Terbukti ia dengan enteng mengangkat gada berduri yang terbuat dari baja itu. Bahkan dengan lincah memainkannya seperti memainkan sebuah pedang.


Ramaji yang diserang tak kalah sigap. Dengan lincahnya ia menghindari setiap serangan gada lawan. Namun berlalu dua puluh jurus kelincahannya itu tak banyak membantu. Lawan yang menggunakan senjata dan sangat lincah itu mulai membuatnya kerepotan.

__ADS_1


Sementara di dalam rumah makan sepasang anak muda yang tak lain Bayu dan Nalini itu mulai beranjak dari mejanya. Setelah membayar ke kasir, keduanya pun keluar meninggalkan tempat itu.


“Kak Bayu, apa tidak sebaiknya kita bantu pemuda itu? Sepertinya ia dalam kesulitan.” Tanya Nalini.


“Tidak usah. Kita tidak tau apa permasalahan mereka. Sebaiknya kita tidak mencampuri permasalahan pribadi orang-orang persilatan. Apalagi bila mereka tidak mengusik kita.” jawab Bayu.


Keduanya pun melangkah perlahan melewati jalan dekat kedua pihak yang bertarung. Seperti tak ada apa apa yang terjadi, Bayu dan Nalini berjalan dengan santainya. Baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara tawa keras mengandung tenaga dalam yang kuat.


“Hahaha.. hahaha.. hahaha..”


Suara itu menggema di mana-mana. Sehingga tak dapat di ketahui d mana ia berasal. Semua yang ada di sana meringis sambil menutupi telinga mereka. Kecuali Bayu dan Nalini, keduanya sama sekali tak terpengaruh. Itu artinya tenaga sakti orang yang tertawa itu masih di bawah mereka.


Sementara Ramaji dan Cebol Gunung Patakan telah berhenti bertarung. Keduanya terjajar beberapa langkah ke belakang oleh pengaruh tawa yang mengandung tenaga dalam itu. Bahkan mereka harus menutup telinga seperti rekan mereka yang ada di sana.


Tak lama kemudian suara tawa hilang.  Tiba-tiba saja di tengah-tengah pihak yang bertarung berdiri seorang lelaki sangat tua berpenampilan acak-acakan. Di tangannya memegang tongkat berkepala tengkorak kerbau. Pakaiannya berwarna kehijauan, atau lebih tepatnya berlumut. Sungguh penampilan yang terlihat menjijikkan.


“Hei bocah, mana gurumu.. berani benar dia mencuri di kediamanku saat aku tak ada ditempat. Tak disangka orang yang mengaku aliran putih tapi pekerjaannya mencuri dengan pengecut.” Geram orang tua yang baru datang itu.


“Hmmm.. aku kira siapa yang mengganggu kesenanganku makan, ternyata Setan bau yang menamakan dirinya Setan Rawa Bangkai.”


“Hahaha Rupanya Bidadari Sesat Lembah beracun pun ada di sini. Masih saja terlihat cantik padahal umurmu sudah lima puluh lebih hahaha. Apakah kau juga hendak ambil bagian terhadap murid dari macan ompong ini hahaha.”


“Hmmm.. setan tua, ketahuilah biar bagaimanapun guru mereka adalah kakak seperguruanku. Tak mungkin aku membiarkan keponakan muridku sendiri tewas di depan mataku tanpa aku berbuat sesuatu.” Jawab Bidadari Sesat Lembah Beracun.


Ramaji dan Sudika mendengar jelas ucapan demi ucapan kedua orang itu. Mereka agak kaget mendengar bahwa perempuan di depan mereka adalah adik seperguruan sang guru. Tentu mereka tidak percaya apalagi melihat wanita itu perkiraan usianya masih tiga puluhan. Namun kesungguhan si perempuan membantu mereka, mau tidak mau keduanya percaya dengan kata-kata perempuan itu.


“Hahaha.. kalau begitu aku tak akan sungkan.” Ucap Setan Rawa Bangkai seraya melesat menghantamkan tongkatnya ke arah Bidadari Sesat Lembah Beracun.


Keduanya pun terlibat pertarungan sengit. Nampak dua orang berlainan jenis  itu bertarung menggunakan senjata masing-masing. Setan Rawa Bangkai dengan tongkatnya sedangkan Bidadari Sesat Lembah Beracun menggunakan pedang.


“Trangg..”

__ADS_1


Benturan tenaga terjadi saat kedua tubuh senjata bertemu. Keduanya sama-sama terdorong mundur dua langkah. Muka Bidadari Sesat Lembah Beracun berubah pucat. Sementara itu Setan Rawa Bangkai nampak nafasnya tersengal-sengal. Keduanya berada dalam posisi seimbang.


Kembali keduanya melesat saling menyarang. Tusukan dan sabetan senjata masing-masing lawan mengancam bagian vital orang yang bertarung. Tak sekali dua mereka sama-sama harus bergulingan menghindari serangan lawan yang berbaya.


Melihat keadaan yang terus imbang, Cebol Gunung Patakan menjadi tak sabaran. Ia pun memutuskan untuk membantu Setan Rawa Bangkai. Manusia cebol itupun melemparkan gadanya ke arah Bidadari Sesat Lembah Beracun. Lemparan itu bukan lemparan biasa, melainkan lemparan dengan tenaga penuhnya. Lesatan senjata besar berduri itu sangat cepat meluruk kearah perempuan yang mengaku adik seperguruan pendekar macan putih itu.


“Bibi.. Awass!” teriak Ramaji. Melihat kecurangan lawan murid utama pendekar macan putih itupun berteriak mengingatkan bibi gurunya.


“Bedebah, tak tau malu, melawan perempuan masih saja membokong.” Geram Bidadari Sesat Lembah beracun. Perempuan itu bergulingan menghindari dua serangan sekaligus.


“Heii.. awas!” teriak Sudika yang melihat senjata si Cebol terus melesat ke arah Bayu dan Nalini yang sedang berjalan.


Dessshh..


Betapa terkejutnya mereka yang ada di sana melihat apa yang terjadi pada senjata Si cebol. Benda yang terbuat dari baja itu tiba-tiba terhenti lesatannya sehasta sebelum menyentuh Bayu. Lalu bagaikan gelas yang terbuat dari kaca, senjata si cebol tiba-tiba pecah berantakan dan mengapung di udara.


“Hmmm.. menganggu saja.” Gumam Bayu. Namun gumaman itu terdengar jelas di telinga semua orang di situ. Bahkan mereka yang mendengar merasakan dada mereka menjadi sangat sesak. Rupanya Bayu telah menggunakan kesaktian dalam gumamannya itu.


Tiba-tiba pecahan senjata si cebol melesat cepat kearah tuannya. Tanpa bisa di cegah benda-benda kecil itu masuk ketubuh si cebol. Tak berapa lama kemudian ia jatuh ke tanah dengan kondisi tubuh berlubang-lubang dan berlumuran darah. Hanya dalam waktu sekejap tokoh sesat Cebol Gunung Patakan menemui ajalnya.


Sementara Bayu dan Nalini terus melangkah meninggalkan tempat itu. Keduanya berjalan seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa pada mereka. Berbanding terbalik dengan kedua belah pihak yang bertarung. Mereka semua melongo tanpa mampu berbicara. Tak terasa tubuh mereka bergidik karena nyali mereka tergetar oleh kejadian tadi.


Bersambung...


Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :


1. memencet tombol like


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.

__ADS_1


Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.


 


__ADS_2