
Salam hormat dan salam Dunia Persilatan kepada pembaca sekalian. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas masukan, kritik dan saran dari pembaca sekalian.
sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa cerita Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta sudah selesai di buat dalam bentuk kerangka karangannya hingga ditamatkan. Jadi selanjutnya penulis hanya membuat cerita berdasarkan kerangka yang telah dibuat. Adapun alur cerita yang mungkin tidak sesuai dengan prediksi atau keinginan pembaca saya memohon maaf.
Cerita ini saya buat dengan segala pemikiran dan pertimbangan yang dicurahkan khusus di dalamnya. Insya Allah dibuat sedemikian rupa dengan alur yang tetap sesuai rencana awal hingga memiliki ciri khas sendiri dari cerita ini.
Sebagaimana alur kehidupan manusia, ada suka, duka, intrik, emosi dan lain-lain. Saya berusaha mengajak pembaca sekalian ikut di dalamnya.
Yang pasti saya pribadi sebagai penulis berusaha menyuguhkan cerita yang menarik, natural, tidak dibuat-buat. Dan pastinya ending cerita ini dengan sekuat pemikiran bisa memuaskan semua pembaca.
Jadi sabar dan terus ikuti cerita ini. Badai Pasti Berlalu.
Salam Dunia Persilatan
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 126...
Sesampainya di daratan mereka pun memilih jalan terpisah. Pranggala dan anggota Istana Lembah Neraka yang lainnya kembali ke tempat mereka, sedangkan Bayu, Nalini dan Bargawa singgah dulu ke desa Bojana.
Setelah membeli tiga ekor kuda di salah satu desa mereka melanjutkan perjalanan. Berkisar dua hari perjalanan dengan sesekali beristirahat akhirnya mereka tiba di Desa Bojana. Ketiganya langsung menuju ke kediaman Ki Jatar sang kepala desa sekaligus ayahnya Nalini.
Betapa terkejutnya mereka sesampainya di tempat itu keadaan rumah Ki Jatar rusak parah porak poranda hampir rata dengan tanah
“Ayah..” jerit Nalini khawatir.
Ketiganya mencari ke sekeliling rumah dan reruntuhan. Tak ditemukan satu sosok manusia pun di sana. Akhirnya mereka mencari di sekitaran tempat itu, namun tak ada sedikitpun petunjuk yang ditemukan.
Ketiganya memutuskan untuk berpencar. Nalini dan Bayu pergi ke rumah Ki Farja untuk mencari petunjuk, sedangkan Bargawa mencari keterangan ke rumah penduduk terdekat.
Di rumah Ki Farja Bayu dan Nalini kembali dikejutkan keadaan rumah yang hampir sama persis dengan rumah Ki Jatar. Hanya beberapa bagian saja nampak masih berdiri kokoh. Tetap saja itu terlihat sangat menggemaskan.
“Siapa melakukan ini?” geram Nalini.
Bayu yang juga merasa ada sesuatu yang tak beres langsung memeriksa keadaan di rumah itu. Di dalam dilihatnya sesosok tubuh tertimpa reruntuhan. Bayu pun bergegas mengeluarkan orang itu. Ternyata dia adalah istrinya Ki Farja.
“Nalini” Panggil Bayu mengangkat.
Nalini bergegas menghampiri Bayu. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui orang yang diangkat pemuda itu adalah istri gurunya. Yang lebih membuatnya terpukul saat mengetahui istri gurunya itu sudah tak bernyawa.
Keduanya memutuskan menguburkan istri Ki Farja tak jauh dari rumahnya itu. Dari bau busuk yang mulai tercium dari jasad istri Ki Farja dapat diketahui bahwa ia tewas sudah lebih dari dua hari.
Tak lama sesudah mereka berdua selesai menguburkan jasad istri Ki Farja, Bargawa datang ke tempat itu.
“Tuan.. di rumah penduduk tak kutemukan Ki Farja maupun Ki Jatar. Hanya putranya, cucu pendekar pedang kilat itu kutemukan. Ia dalam keadaan terluka berat dan di rawat di rumah salah satu penduduk.” Tutur Bargawa.
__ADS_1
“Di mana kek? Antar aku kesana?” ucap Nalini yang semakin cemas.
Ketiganya beranjak dari rumahnya Ki Farja. Berjalan hampir sepeminuman teh lamanya, mereka tiba di tempat yang di maksud Ki Farja. Rumah sederhana milik salah satu penduduk.
“Non Nalini!” seru sang pemilik rumah yang kebetulan membuka pintu hendak keluar. “Mari non.. ucap lelaki pemilih rumah mempersilakan Nalini untuk masuk.
Nalini dan yang lainnya masuk ke dalam rumah. Di dalam yang hanya ada satu ruang utama sekaligus tempat beristirahat itu tampak Randu terbaring. Ketika di dekati, sungguh keadaanya sangat memprihatinkan. Hampir seluruh bagian tubuhnya terdapat luka sayatan pedang.
“Kak..” panggil Nalini pada Randu yang masih terpejam, namun taka da jawaban. “Sudah berapa lama kakakku tak sadarkan diri ki?” Tanya Nalini kepada pemilik rumah.
“Sejak kami temukan dua hari yang lalu di dekat rumahmu non!” jawab pemilik rumah.
“Apa yang sebenarnya terjadi ki?”
“Aku sendiri kurang jelas non. Setahuku sehari setelah kepergian non Nalini dan den Bayu, sekelompok orang berpakaian hitam dipimpin seorang kakek yang menggunakan pakaian terbuat dari kulit ular menyerang rumah ki Farja dan ayah non.”
“Siapa mereka ki? Suara Nalini mulai bergetar.
“Entah lah non, tidak ada warga yang berani keluar saat kejadian berlangsung.”
Saat Nalini dan pemilik rumah terlibat pembicaraan, Bayu memeriksa luka-lukanya Randu. Kemudian iapun mengalirkan tenaga saktinya untuk mengobati luka dalamnya. Tak lama sesudah Bayu menghentikan pengobatannya, Randupun perlahan membuka mata.
“Ayah..” rintih Randu memanggil ayahnya.
“Adik.. ayah di tangkap Raja Ular Hitam.. huek..” Randu memuntahkan darah hitam setelah mengakhiri kata-katanya. Cucu Pendekar Pedang Kilat itu langsung terkulai. Randu menghembuskan nafas terakhir di dekat adiknya.
“Kakak..” jerit Nalini.
...***...
“Cempaka..!”
Cempaka langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
“Kakang.. dari mana kau tau aku di sini.” Tanya Cempaka seraya menghampiri pemanggilnya yang ternyata Pendekar Halilintar itu.
“Aku memang sengaja menunggu kau di sini. Ini masih lama dari waktu yang kita tentukan untuk bertemu di bukit Batu Hitam. Aku khawatir kau akan menyusul ke bukit banteng dewa setelah urusanmu selai.” Ucap Jaka menerangkan.
Keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan tempat itu. Memang saat ini mereka masih berada dekat dengan Benteng Dewa. Jaka khawatir keberadaan mereka menarik perhatian musuh. Iapun mengajak istrinya meninggalkan tempat itu.
“Apa yang kau temukan di sana kakang?”
“Belum sempat aku ke atas sudah bertemu dengan Arya dan murid-murid perguran Tangan Dewa yang lainnya. Tempat mereka kini telah di kuasai Dewa Iblis Kegelapan dan anak buahnya. Malaikat Bertangan Sakti sendiri telah tewas di tangan mereka.”
“Benar kah kakang? Ternyata sudah terjadi peristiwa sebesar ini. Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya kakang?”
__ADS_1
“Kita tunggu perkembangan dulu. Kematian Dewa Bertangan Sakti tentu membuat kaum persilatan aliran putih kehilangan pemimpin. Yang aku takutkan mereka akan bergerak sendiri-sendiri melawan musuh.
Tap..
Jaka menangkap sebuah benda yang meluncur ke arahnya. Ternyata benda itu sebuah gulungan surat. Sepintas tadi dia melihat orang yang melemparkan surat itu. Namun Jaka tau ia hanya utusan.
Kepada Pendekar Halilintar
Pada hari ke lima belas bulan ke tujuh diadakan pemilihan ketua dunia persilatan. Datanglah dan ikut dalam pemilihan. Bila tidak datang di anggap setuju dan takluk kepada ketua terpilih. Bagi mereka yang membangkang akan menjadi musuh seluruh pendekar dunia persilatan
Tertanda
Ketua Perkumpulan Benteng Dewa.
“Rupanya mereka telah merubah nama perkumpulan mereka. Entah apa tujuan orang-orang itu mengadakan pemilihan ketua Dunia Persilatan di Benteng Dewa.” Gumam Jaka.
“Kakang apa tidak sebaiknya kita menemui eyang Pertapa Sakti Tanpa Nama?” usul Cempaka.
“Benar juga usulmu istriku. Siapa tau beliau memiliki rencana.” Sahut Jaka. Keduanya pun memutuskan pergi ke tempat Pertapa Sakti Tanpa Nama di Hutan Pengecoh Arwah.
Sementara itu di Benteng Dewa terjadi kehebohan. Kedatangan Darba membawa berita dari pulau salju benar-benar membuat Singa Lembah Hitam dan Dewa Iblis kegelapan berang. Mereka tidak meyangka Singa langit harus tewas karena terpaksa meminum pil peningkat tenaga yang beresiko kematian itu.
“Jari Pedang!” teriak Dewa Iblis Kegelapan.
Jari Pedang bergegas menghampiri Dewa Iblis Kegelapan. Ia langsung membungkuk memberi hormat saat berada di depan sang ketua.
“Cari dan tangkap pemuda yang membunuh Singa Langit hidup atau mati.”
“Baik ketua.”
Dewa Iblis Kegelapan kali ini benar-benar marah. Ia tak menyangka adik seperguruan sahabatnya itu tewas di tangan seorang pemuda. Bahkan berhasil memaksa Singa Langit menelan pil peningkat tenaga. Tentu saja keberadaan pemuda itu merupakan sebuah ancaman.
Bersambung...
**Jangan lupa like dan kasih komentar, serta vote bila menyukai novel ini. biar novel ini mendapat apresiasi dari pihak Noveltoon. Namun bila tidak suka silakan lewat saja**
__ADS_1