
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...
...Episode 289...
“Rajawali Merah!” Seru Jari Malaikat.
Di depan Jari Malaikat kini Berdiri Bayu Si Rajawali Merah. Melihat kedatangan Bayu, Raja Siluman Ular terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka akan bertemu Bayu di tempat itu. Hal ini tentu saja bisa membuat segala rencananya gagal total.
Rupanya saat berhenti di depan hutan tadi, Bayu memutuskan masuk ke dalam hutan untuk melihat pertarungan. Ia pun melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Betapa terkejutnya Bayu melihat Iblis Muka Hitam terkapar dalam keadaan tak bernyawa, sementara orang tua yang bergelar Pertapa Sakti Tanpa Nama pun dalam keadaan terluka parah.
Kedatangan Bayu tepat di saat Jari Malaikat akan mendapat keroyokan beberapa orang lelaki berpakaian serba hitam. Saat mereka akan menusukkan pedangnya kepada Jari Malaikat, Bayu mengirimkan pukulan tapak suci milik perguruan Tangan Dewa. Namun ternyata serangan itu hanya berhasil menggagalkan niat mereka membunuh Jari Malaikat, tidak untuk membunuh mereka. Penyerang Jari Malaikat mampu kembali bangkit walaupun dadanya berlubang terkena serangan Bayu.
“Anak-anak habisi pemuda itu!” perintah Raja Siluman Ular yang geram melihat kemunculan Bayu.
Orang berpakaian serba hitam yang berjumlah lima orang itupun langsung mengeroyok Bayu. Tentu saja Rajawali Merah sangat mudah mengatasi serangan-serangan lawan. Bahkan beberapa kali pemuda itu memberikan serangan mematikan pada lawan. Tiga orang dari mereka langsung roboh dengan kondisi kepala pecah, namun yang selalu terjadi mereka bangkit lagi sesaat setelah roboh menyentuh tanah. Keadaan mereka pun kembali seperti semula.
Bayu yang awalnya musuh-musuh yang dihadapinya hanya keroco-keroco sehingga pemuda itu mengerahkan tenaga sakti hanya seperempat bagian saja. Itupun yang di gunakan pemuda itu bukan Tenaga Sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Nampak mudah bagi Bayu menghabisi lawan, namun siapa sangka mereka bisa bangkit lagi setelah tewas. Hal ini membuat Bayu Geram dan kesal.
Melihat Bayu yang nampak kesal dengan kehebatan ilmu pancasona yang dimiliki oleh pasukan berpakaian serba hitam yang dipimpinnya, Raja Siluman Ular tersenyum penuh kemenangan. Kemudian ia pun turun ke gelanggang ikut mengeroyok Bayu Bayu dengan kekuatan silumannya.
__ADS_1
Walaupun dikeroyok oleh enam orang berilmu tinggi, tetap saja mereka bukan tandingan Bayu. Jika saja bukan karena ilmu pancasona yang mereka miliki, tentu awal-awal orang-orang berbaju serba hitam itu sudah tewas. Lain halnya dengan Raja Siluman Ular, sadar tidak memiliki ilmu Panca Sona seperti orang-orang berpakaian serba hitam, ia pun menghindari pertarungan jarak dekat dengan Bayu. Raja Siluman Ular selalu mencari-cari kesempatan untuk menyerang Bayu saat pemuda itu lengah.
Bukkkk..
“Ukhhh..” jerit tertahan Raja Siluman Ular.
Sebuah tendangan telak dari Bayu mengenai lambung Raja siluman ular hingga membuatnya terlempar belasan tombak lalu jatuh tersungkur ke tanah. Mulutnya pun langsung menyemburkan darah segar. Untung saja pemuda itu belum menggunakan ilmu tujuh gerbang alam semesta miliknya, sehingga luka dalam yang diterima Raja Siluman Ular tidak begitu parah.
Raja siluman ular kembali bangkit. Ia mengambil sebiji pil yang di simpan dibalik saku bajunya. Raja Siluman Ular menelan pil menyembuh luka dan pemulih tenaga. Beberapa saat saja lamanya Raja Siluman ularpun sembuh dari lukanya.
Melihat upayanya menggunakan ilmu sakti jiwa Suci milik perguruan Tangan Dewa tidak membuahkan hasil, Bayu pun mengerahkan tenaga sakti alam semesta tingkat pertamanya. Seketika tempat itu mulai dihujani butiran embun. Hawa dingin pun mulai merayap masuk kepori-pori orang yang ada di sana.
Saat Pertarungan sedang berlangsung, Bayu menghadapi enam orang lawan, Arya Muncul di tempat itu. Arya yang merasa terlalu lama menunggu Bayu, sementara yang ditunggu tak juga muncul, ia pun pergi menyusul ke tempat itu. Dilihatnya sang ketua sedang berada di atas angin melawan musuh-musuhnya, sehingga tak perlu bantuannya. Arya menghampiri jari Malaikat dan juga Pertapa Sakti tanpa nama untuk melihat keadaan kedua orang tersebut.
“Nak Arya, kau tolonglah Pertapa Sakti Tanpa Nama lebih dahulu. Keadaannya sudah sangat memprihatinkan. Sejak ia pingsan sampai sekarang belum siuman juga,” pinta Jari Malaikat
Arya menganggukkan kepala mendengar permintaan Jari Malaikat. Ia pun langsung memeriksa keadaan Pertapa Sakti Tanpa Nama yang tak sadarkan diri itu. Arya melihat ada beberapa luka yang didapat orang tua itu tepat berada di bagian penting tubuhnya. Ia pun memasukkan sebuah pil penyembuh luka kemulut orang tua itu, kemudian mendudukkannya. Arya pun mengerahkan tenaga sakti mengobati pertapa sakti tanpa nama dengan menyalurkan tenaga saktinya.
Setelah beberapa lama melakukan dengan cara melakukan pengerahan tenaga sakti, Arya pun menghentikannya. Ia sadar usahanya tak membantu banyak. Pertapa Sakti Tanpa Nama telah banyak mendapat luka di bagian tubuh yang mematikan. Bahkan tubuh orang tua itu juga mulai menghitam pertanda iapun mengalami keracunan.
__ADS_1
“Sudah terlambat tetua,” ucap Arya kepada Jari Malaikat.
Jari Malaikat menghela nafas panjang. Ia pun sebenarnya sudah bisa menebak bahwa Pertapa Sakti tanpa nama sulit untuk bisa tertolong nyawanya dengan keadaan luka seperti itu. Ia berharap Bayu bisa menolong orang tua itu. Namun keadaanya yang masih disibukkan oleh musuh, membuatnya harus bersabar memenunggu.
Sementara pertarungan Bayu dengan enam orang pengeroyoknya semakin hebat. Bila dihitung-hitung sudah puluhan kali musuh-musuh Bayu yang berpakaian serba hitam itu mati dan bangkit lagi. Bayu pun semakin dongkol dan geram di buatnya. Lalu dengan tenaga sakti gerbang embun, pemuda itu membekukan kelima orang lawannya.
Bayu terus mengurung ke lima orang berpakaian serba merah dengan tenaga embun yang semakin dingin melebihi dinginnya salju. Semakin lama gerakan orang-orang berpakaian hitam semakin lambat, sampai akhirnya mereka semua diam tak bergerak. Terlihat kaku dan diliputi semacam salju. Sesaat kemudian ke lima orang itu diam membeku.
“Haaaaa...”
Blammmm..
Setelah membekukan ke lima orang musuh berpakaian serba hitam itu Bayu kemudian menggempur mereka dengan tenaga saktinya. Seketika tubuh kelimanya meledak dengan kondisi badan hancur lebur menjadi serpihan daging beku. Sesudah itu, Bayupun langsung melesat memberikan hajaran kepada Raja siluman Ular.
Raja Siluman ular yang memang sedari tadi mulai waspada terhadap serangan Bayu, ia pun membanting tubuhnya ke kanan menghindari serangan tenaga embun pemuda itu. Namun Bayu tidak membiarkan musuh menghindar begitu saja, ia kembali mengirimkan serangkum tenaga sakti berhawa dingin. Kali ini serangan tersebut tepat mengenai tubuhnya.
Melihat lawan sudah terkena satu kali serangannya, dan payang untuk bangkit, kembali Bayu melayangkan tenaga sakti Gerbang Embun. Tenaga sakti ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat pertama yang sudah melewati tahap penyempurnaan itu menjadi sangat tangguh. Raja Siluman ular mulai kaku membeku. Sesaat kemudian tubuhnya diselimuti tumpukan embun yang berubah seperti salju.
Bersambung..
__ADS_1