
Salam Dunia Persilatan...
Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.
Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.
Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.
Salam Dunia Persilatan
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
Episode 89
Bertemu Lawan
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan berkuda mengawal kereta yang membawa anak pimpinan kota, akhirnya mereka sampai juga di perbatasan Negara Selatan dan Negara Utara. Tidak seperti sebelumnya, perbatasan di negara ini tidak terlalu ketat penjagaannya. Hanya sebentar melewati pemeriksaan mereka sudah mulai memasuki Negara Utara.
Kehidupan di Negara Utara memang terkenal paling makmur di banding negara lain. Kepedulian sang kepala Negara terhadap rakyatnya membuat kehidupan rakcat tercukupi. Sangat jarang terlihat kehidupan masyarakat yang sangat miskin. Apalagi para pendekar-pendekar aliran putih begitu mendukung kepemimpinan raja yang sekarang.
Hari ini Jaka dan yang lainnya singgah di sebuah pengingapan kota pertama yang mereka singgahi di Negara Utara. Riasan-riasan khas negeri utara menghiasai rumah makan yang sekaligus penginapan itu. Lalu lalang silih berganti para pelancong mengunjunginya. Rupanya tempat singgah Pendekar halilintar dan rombongannya itu merupakan tempat makan favorit di kota itu.
Setelah memesan kamar dan menaruh buntalan pakaiannya, Jaka, Cempaka dan Intan kemudian memutuskan makan di luar. Setelah memilih tempat, ketiganya memesan makanan. Beberapa meja lain sekitar meja mereka makan telah dipenuhi orang. Berbagai pembicaraan yang mereka bahas, namun ada salah satu meja yang pembicaraannya menarik perhatian Pendekar Halilintar.
"Apa benar yang kau katakan itu, di desa Bojana ada seorang pendekar yang mampu mengalahkan Siluman Racun dan gurunya Datuk Sesat Seribu Wisa?" tanya seorang lelaki berbaju hijau kepada dua temannya yang satu meja dengannya itu.
"Entahlah Parman, beritanya simpang siur. Mungkin saja dilebih-lebihkan. Tapi tentang kematian Datuk Sesat Seribu Wisa dan Muridnya itu memang benar-benar terjadi. Saat ini para prajurit kerajaan dibantu penduduk di dekat hutan seribu racun sedang membersihkan mayat-mayat yang bergelimpangan di sana." jawab orang di sebelah kanan Parman.
"Sudah bagus Datuk Sesat Seribu Wisa itu pergi keselatan, hingga tempat kita aman dan tentram. Eh malah balik lagi. Untung ada pendekar itu yang menghabisinya." Ujar Parman.
"Mungkin di selatan Penjahat itu tidak bebas melakukan kejahatannya. Di sana kan terkenal banyak pendekar-pendekar sakti yang selalu menentang segala bentuk kejahatan. Sedangkan di tempat kita kebanyakan para pendekar memilih menjadi abdi negara." timpal temannya Parman tadi.
__ADS_1
"Kakang, katanya Datuk Sesat Seribu Wisa telah tewas." bisik Cempaka kepada suaminya.
Jaka menganggukkan kepalanya menanggapi bisikan Istrinya. "Akupun mendengarnya Cempaka." ucap Jaka.
Braaakkkk...
"Lama sekali..."
Tiba-tiba semua pengunjung tempat makan dikejutkan dengan gebrakan meja secara kasar oleh salah satu pengunjung. Orang itu adalah Randu, cucu pendekar Pedang Kilat. Memang setiap kali kakeknya melarang apa yang ingin ia lakukan, pemuda itu selalu melampiaskannya dengan cara mabuk-mabukan di tempat ini.
"Hei bocah busuk, mengganggu orang makan saja. apa kau cari mampus" bentak laki-laki gempal berpakaian hitam dengan menampakkan bagian dadanya yang terbuka.
"Siapa kau" tanya Randu dingin.
"Hmmmm pantas saja kau berani bertingkah. Tidak kenal rupanya dengan Kebo Ireng" jawab laki-laki besar itu.
"Pantas saja aku mencium bau tak sedap dari tadi. Rupanya ada manusia kebo jarang mandi di sini" Ejek Randu.
Kebo Ireng bangkit dari duduknya. Dengan amarah yang meledak dihampirinya Randu yang sedang malas malasan di tempat duduknya. Setelah sangat dekat dengan pemuda itu, Ia pun mengangkat tangan kanannya berniat menggaplok kepala Randu. Namun yang terjadi malah naas baginya.
Sreeettt...
"Aaaaa..."
Dengan gerakan yang sangat cepat Randu menebas tangan Kebo ireng. Karena perbuatannya yang sangat gegabah membuatnya harus kehilangan tangan kanannya sampai siku. Kontan Lelaki besar itu meraung kesakitan. Darah segarpun berceceran.
Intan yang melihat kejadian itu sangat geram. Hampir saja dia berdiri dan menerjang pemuda yang membuat onar itu. Untung saja Cempaka memegang tangan gadis cantik itu. Hingga ia pun urung melaksanakan niat hatinya.
"Bedebah kau anak muda. Berani mengacau disini."
Tiba-tiba suarang bentakan memaki terdengar dari luar rumah makan. Seorang lelaki berpakaian perwira kerajaan bersama lima orang anak buahnya yang kebetulan lewat di tempat itu tiba-tiba berhenti mendengar teriakan kebo Ireng. Melihat Kebo Ireng yang tangannnya putus dan berdarah, perwira itu langsung berkesimpulan Randulah yang membuat keributan.
__ADS_1
"Hmmmm lagi-lagi anjing-anjing pemerintahan yang sudah bosan hidup mengganggu." jengek Randu.
Kemudian pemuda itu melompat keluar dari penginapan itu. Sementara kebo Ireng sudah dibantu beberapa orang pengunjung rumah makan. Mengira Randu akan lari sang perwira san kelima anak buahnya bergegas mengejar.
Saat keenam orang itu mengejar, tiba-tiba saja randu berbalik badan langsung berkelebat menebas keenam orang itu. Lima orang Prajurit langsung roboh dengan kepala lepas dari badannya. Beruntung bagi sang perwira yang memang siaga, sempat melemparkan dirinya menghindari serangan mendadak Randu. Sehingga walaupun bahunya tergores pedang, tak membuatnya kehilangan nyawa.
"Berisi juga kau rupanya. Tapi kau tak akan kubiarkan lolos karena mengganggu kesenanganku. Biarlah aku buat kau menyusul anak-anak buahmu itu." Ancam Randu.
Sang Perwira yang memang memiliki ilmu bela diri yang lumayan, tak sedikitpun gentar dengan ancaman Randu. Lelaki itu mencabut pedangnya dan bersiap untuk bertarung.
"Kau telah mengacau di tempat ini. Kalaupun aku akan mati, kelak kerajaan akan mencarimu, dan kau akan menjadi buronan seumur hidupmu." Ucap sang perwira dengan gagah berani.
Sang Perwira kerajaan melompat lalu menerjang Randu dengan Pedangnya. Mudah saja bagi pemuda itu menghindari serangan lawan. Bahkan gempuran-gempuran sang perwira dijadikan pemuda itu sebagai mainan. Dengan sambil tertawa-tawa beberapa kali sang perwira dibuatnya jatuh bangun.
srettt..
"Aduh..."
Tanpa diduga sang perwira, Randu menebaskan pedangnya ke telinga sang perwira. Seketika sebwlah telinganya putis. Darah segar mengalir deras keluar dari tempat telinganya yang putus itu.
"Hahaha, satu persatu bagian tubuhmu akan kubuat terpisah dari badan. Hahaha"
Tawa Randu terdengar menjadi semakin menyeramkan. Bagaikan kerasukan setan, pemuda itu menyiksa sang perwira. Kali ini Randu berniat memutuskan telinga perwira yang satunya. Namun belum sempat pedangnya menyentuh sasaran, tiba-tiba...
Trang...
Sebuah pedang menyambut serangan Randu. Tubuh Randu terdorong dua langkah kebelakang. Tangannya pun berasa panas dan kesemutan. Untung saja dia memegang pedang pusaka kakeknys, sehingga pedang itu tak sampai patah terkena tangkisan lawan.
Randu agak kaget melihat siapa orang yang telah menangkis serangannya. Seorang gadis yang sangat cantik mengenakan pakaian jingga kemerahan berdiri di depannya. Di tangan kanannya menggenggam sebatang pedang yang memancarkan cahaya api. Dengan sorot mata tajam menatap Randu.
Sesaat sebelum pedang Randu menyentuh sang perwira, dengan cepat Intan melesat sambil mencabut pedangnya lalu menangkis serangan Randu. Memang apa yang di lakukan Randu tak lepas dari pengawasan Jaka dan yang lain termasuk Intan. Tanpa meminta izin, gadis itu langsung melesat menyelamatkan sang perwira.
__ADS_1
"Manusia macam apakah kau ini?" Ucap Intan dengan dingin.