
“Salam Hormat dewa dan dewi api!” sapa pangeran Mandaka, yang dibalas anggukkan kepala oleh keduanya.
“Apa yang membawamu ke tempat kami pangeran Mandaka?” tanya Dewa Api.
“Aku ingin menawarkan kerjasama yang akan memberikan keuntungan bagi kita kedua belah pihak. Aku hanya ingin tuan berdua membantuku menguasai sebuah ilmu kesaktian dengan cara menyalurkan tenaga api murni saat aku mempelajarinya. Dari kitab yang aku miliki ilmu ini akan menjadi sempurna apabila kupelajari dengan menggunakan tenaga api murni,” jawab Pangeran Mandaka.
“Lalu apa yang akan kami dapatkan apabila membantumu?”
“Aku akan membagi setengahnya harta kekayaan yang aku miliki peninggalan mendiang raja yang masih tersembunyi di tempat rahasia di istana raja. Untuk bisa ke sana tentu aku harus menguasai ilmu kanuragan yang tinggi.”
Sejenak semuanya terdiam, dewa dan dewi api nampak memperhatikan Pangeran Mandaka dengan serius. Sepertinya keduanya mencoba mencari kebenaran dari ucapan pemuda itu.
“Baiklah kami akan membantumu untuk melatih ilmu itu tapi dengan satu syarat tambahan selain dari harta kekayaan itu.” Ucap Dewa Api setelah mendengar tawaran pangeran Mandaka.
Pangeran Mandaka terdiam sebentar. Ia berusaha mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh Dewa dan Dewi Api. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya iapun membuka suara.
“Mohon maaf sebelumnya, dewa dan dewi api. Bila kalian berkenan aku ingin meminta waktu memikirkan tentang syarat yang terakhir. Bukan aku tidak setuju, hanya saja mendiang kakekku pernah berpesan untuk tidak mengajarkan ilmu ini kepada siapapun.”
“Silakan kalau kau hendak mempertimbangkannnya dulu. Hanya saja yang perlu kau ketahui dengan kau mengajarkan Eka Wira ilmu itu, berarti kau memiliki tambahan sekutu yang lebih kuat. Dan kau tak perlu khawatir kami akan bersaing denganmu untuk memperebutkan tahta kerajaan, kami tidak tertarik untuk itu.”
Seketika wajah Pangeran mandaka berubah menjadi merah dadu. Ia tak mengira apa yang dihasilkannya dalam hati dapat dewa api menebaknya. Dengan salah tingkah Pangeran mandaka mengatakan bahwa ia tidak mas bermaksud menyangka pihak suku api akan berubah seperti itu. Pangeran manakah meminta waktu untuk berusaha berkomunikasi dengan mendiang kakeknya untuk meminta izin.
“Baiklah kalau begitu, kami tidak memaksamu untuk memutuskannya sekarang. Terlebih lagi menerima atau tidak atas syarat yang kami ajukan itu bukanlah suatu hal yang besar bagi kami. Karena yang memerlukan bantuan adalah kau sendiri pangeran Mandaka, buka kami.”
Ucapan Dewa Api yang bernada menyindir itu membuat pangeran Mandaka merasa tidak enak. Ia memang mengakui dalam hatinya bahwa saat ini bantuan dari kedua titisan burung keramat itu sangat ia butuhkan. Namun ia masih sangsi apakah orang-orang suku api akan benar-benar membantu dan tak balik menyerang akhirnya.
“Aku mohon diri dulu, besok aku akan kembali membawa khabar. Biar aku coba menghubungi arwah kakekkku menggunakan ritual yang diajarkannya. Aku yakin ia tak akan keberatan. Hanya saja aku tidak berani langsung memutuskannya sekarang.”
__ADS_1
Setelah menjura memberi hormat, pangeran Mandaka meninggalkan tempat itu. Ia kembali ke penginapan yang telah disediakan suku api untuknya. Malamnya ia berpura-pura melakukan ritual meditasi untuk menghubungi sang kakek. Hal ini ia lakukan supaya menghilangkan kecurigaan orang-orang suku api kepadanya.
Benar saja, malam itu orang-orang berilmu tinggi dari suku api diutus oleh Eka Wira untuk menyelidiki apa yang dilakukan oleh Pangeran Mandaka. Saat mereka berada di tempat pangeran Mandaka menginap, tentu saja yang mereka lihat keadaan pangeran Mandaka yang sedang bersemadi. Mereka mengira itu memang sedang melakukan ritual berkomunikasi dengan arwah.
Orang-orang suku api itupun kembali dan menghadap kepada Eka Wira. Mereka melaporkan bahwa saat mereka menyelidiki, pangeran Mandaka memang sedang melakukan ritual berkomunikasi dengan arwah. Mendengar itu Eka Wira menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya ada-ada saja kelakuan manusia.
Ke esokkan harinya pangeran Mandaka ditemani Ekawira kembali menghadap dewa dan dewi api di tempatnya. Pangeran Mandaka menyampaikan persetujuannya atas syarat yang diajukan Dewa dan Dewi api. Kemudian kedua belah pihak sepakat untuk melakukan latihan tiga hari kemudian. Pangeran Mandakapun menyerahkan kitab ilmu tenaga Inti Surya kepada dewa api.
Namun bila orang yang mempelajari tidak memiliki tenaga dengan unsur api, maka ia membutuhkan waktu setidaknya dua puluh tahun lamanya untuk menguasai ilmu itu. Dengan pertimbangan itulah pangeran Mandaka meminta bantuan para suku api. Ia ingin mempelajari dahulu ilmu tenaga inti api milik suku api.
Sebelumnya ia pernah mencoba untuk mempelajari tenaga inti api itu sendiri, ternyata tidak berhasil. Ilmu tenaga inti api sendiri hanya bisa dipelajari orang-orang yang memiliki darah suku api, atau orang yang dibangkitkan tenaga inti apinya oleh orang memiliki tenaga unsur api yang kuat. Dengan begitu ia dapat mempelajari ilmu tenaga inti api dengan mudah. Karena pertimbangan itulah Pangeran Mandaka meminta bantuan suku api.
Pangeran Mandaka sendiri percaya Tenaga Inti Surya yang sempurna mampu mengimbangi ilmu ujuh gerbang alam semesta. Ini dapat ia lihat saat Bayu menghadapi kakeknya dulu. Pangeran Mandaka merasa Rajawali Merahlah satu-satunya halangan ia dalam mewujudkan ambisinya selaa ini. Namun setelah melihat peninggalan sang kakek buyut muncul kembali harapannya, dan ia yakin akan mampu mengalahkan si Rajawali Merah.
__ADS_1
Tiga hari kemudian pangeran Mandaka dan Eka Wira mendaangi kediaman Dewa dan Dewi api. Pangeran Mandaka pertama-tama akan mempelajari Ilmu tenaga inti api dengan bantuan dewa api. Sementara Eka Wira yang memang memiliki dasar tenaga inti api langsung mempelajari ilmu tenaga inti surya dengan bimbingan dewi api. Setahun lagi akan muncul dua orang sakti setingkat Raja Pertama Kerajaan Selatan.
Sementara itu di sebuah pulau pemukiman baru kehidupan para suku es, kehidupan di sana aman dan tenteram jauh dari keramaian dan hiruk pikuknya dunia luar. Pulau es yang sekarang jauh lebih subur daripada pulau es sebelumnya yang kini telah hancur. Waktu itu Intan sebagai Bidadari Giok Es.
Namun dibalik kehidupan yang aman dan tentram berlaku di sana, sebelumnya terjadi perubahan yang sangat besar. Suku es yang dulunya dipimpin oleh seorang raja yang memiliki hubungan darah dengan Intan, kini telah digulingkan. Raja Es, kedua anak dan istrinya dijadikan tawanan dan dikurung di penjara bawah tanah pulau itu.
Kini suku Es di pimpin oleh orang tua yang bernama Empu Sadajiwa. Orang ini tiba-tiba muncul di pulau es dan mengaku sebagai leluhurnya suku es yang masih hidup. Raja Es dan para suku Es yang awalnya tidak percaya , meminta Empu Sadajiwa membuktikan kebenaran dari ucapannya. Kemudian dengan gamblang empu Sada Jiwa menerangkan semua sejarah suku es, mahluk keramat, dan juga senjata suku es yang sudah lama menghilang.
Kebenaran ucapan dari orang tua itu mau tidak mau membuat mereka percaya tentang latar belakang orang itu. Apalagi orang tua itu memiliki senjata kuno yang dianggap legenda suku es, yakni Pedang Es Abadi. Semenjak itulah Empu Sada Jiwa dianggap leluhur di istimewakan di kalangan suku es. Ditambah lagi kesaktiannya yang tidak berada di bawah bidadari giok es.
Setelah beberapa bulan berada di sana, banyak yang dilakukan orang iu, termasuk melatih orang-orang suku es untuk mejadi lebih hebat lagi. Dalam waktu singkat, seluruh orang di pulau es memiliki ilmu kanuragan berunsur es. Hal ini tentu saja merupakan sebuah kemajuan luar biasa bagi orang-orang suku es.
TAMAT
__ADS_1
Bersambung di ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA 2.
silakan cari di pencarian, atau klik di profil penulis maka akan teman-teman temukan cerita selanjutnya kelanjutan cerita ini