
Semakin lama semakin terlihat siapa yang lebih unggul diantara kedua belah pihak. Kedua bersaudara Setan Beruang terjajar mundur sedikit demi sedikit. Kedua belah tangan Pranggala mulai memancarkan warna merah sampai kesiku. nampaknya tanpa sengaja, karena menghadapi musuh yang kuat, malah memberikan latihan buatnya untuk semakin menguasai tenaga inti api.
Keringat sebesar biji jagung sudah mulai membasahi wajah kedua Setan Beruang bersaudara. Walaupun mereka menggunakan tenaga berhawa dingin, tetap saja Tenaga Inti Api dapat nenindihnya. Bisa di bilang dua orang Setan Beruang Bersaudara ini termasuk orang-orang utama di pulau es. Hanya empat orang yang kemampuan dan kedudukannya di atas mereka, tidak lain adalah keluarga Raja Pulau Es Sendiri, yaitu Raja, istri dan kedua anaknya.
Haaaaa..
Pranggala berteriak keras, tenaga sakti didalam tubuhnya bergolak dan meluncur menghantam lawan. Dorongan yang dihasilkan semakin kuat sehingga kedua Beruang bersaudara terdorong kebelakang dengan keras.
"Hmmmm.."
Saat tubuh kedua orang Setan Beruang Bersaudara terdorong kebelakang hampir menimpa meja, tiba-tiba seseorang melesat menyambut keduanya. Bukan hanya itu, Ia pun membantu kedua beruang bersaudara menghalau dorongan tenaga inti api nya Pranggala sehingga tiga tenaga sakti sekaligus mengarah ke Pengawal Rajawali merah itu.
Dengan sigap Pranggala menyambut serangan tersebut. Pengawal Pribadi ketua Istana Lembah Neraka itu merentangkan kedua tangannya menghadang serangan lawan. Tenaga Sakti Inti Api dikerahkannya.
Blamm..
Pranggala terdorong dua langkah kebelakang. Ternyata ia masih belum mampu mengungguli tenaga gabungan lawan. Walaupun begitu, ia yang baru menguasai ilmu yang diajarkan Bayu itu tak mengalami luka sedikitpun. Hanya dadanya sedikit sesak terhimpit gabungan tenaga lawan. Untung saja tempat di situ tidak hancur, Hanya beberapa buah meja dan perabotan yang berantakan. Orang-orang yang tadinya berada di sana memilih angkat kaki sehingga menyisakan orang-orang Pulau Es dan Istana Lembah Neraka.
"Terima kasih yang mulia" Ucap dua Setan Beruang Bersaudara serentak sambil berlutut di hadapan orang yang baru datang.
Lelaki yang dipanggil yang mulia itu memiliki Wajah tampan, berkulit putih bersih, walaupun sebagian sudah berwarna putih menghiasi rambutnya yang terurai. Dia menggunakan pakaian dari bahan sutera. Dengan Mantel bulu di lehernya menambah indah penampilannya. Dialah Raja Pulau Es.
__ADS_1
"Tak disangka di sini bertemu dengan orang-orang utama Istana Lembah Neraka" ucap Raja Pulau Es.
"Ah, mana bisa aku yang rendah ini disebut orang-orang utama Istana Lembah Neraka. Aku hanya pengawal pribadi Ketua" sahut Pranggala merendah. Sedari awal ia sudah menebak orang yang datang ini adalah Raja Es. Namun yang tak ia mengerti apa gerangan yang membuat tokoh sakti itu datang kedaratan.
"Hahaha baik.. baik.. memang sering kudengar bahwa orang-orang daratan suka merendah dan menyembunyikan kekuatannya" Saat berbicara Raja Pulau Es berkali-kali melirik kearah Bayu yang asik makan tanpa memperdulikan sekitar seolah tidak terjadi apa-apa. Ada perasaan tersinggung namun juga terbesit perasaan kagum atas ketenangan orang.
"Aku yang rendah tidak berani menerima pujian tinggi dari Raja Pulau Es." Sahut Pranggala. Sempat ia melirik kearah sang ketua.
"Baiklah, kebetulan sekali bertemu orang sakti dari Istana Lembah Neraka, biar kucoba bermain-main sebentar, semoga anda tidak keberatan." ucap Raja Pulau Es lagi.
Bergetar juga nyali Pranggala mendengar ucapan orang. Semua orang tau siapa Raja Pulau Es dan bagaimana kesaktiannya. Hanya saja tak ingin membuat nama Istana Lembah Neraka malu, iapun menyambut tantangan orang. Sekali lagi Pranggala melirik ketuanya, dilihatnya Bayu seakan tak mempedulikan sama sekali. Masih asik menyantap hidangan di mejanya.
Raja Pulau Es melirik sebentar ke arah Bayu, kemudian melesat menyusul kearah perginya Pranggala. Kemudian kedua Setan Beruang bersaudara pun mengikuti di belakang. Menyisakan Bayu yang seolah masih tak peduli dengan apa yang terjadi.
Cukup jauh dari rumah makan, Pranggala sudah berhadapan dengan Raja Pulau Es dan anak buahnya. Walaupun di luar tampak tenang, namun jantungnya berdegup kencang. Ia sendiri sadar bukan tandingan Raja Pulau Es. Harapannya sang ketua akan membantunya, namun melihat Rahawali Merah tak kunjung datang, harapannya pun pupus. Memang ia kenal betul sang ketua yang tindakannya tidak mudah untuk di tebak.
"Kau mulailah dulu orang tua" ucap Pranggala mengeraskan hatinya menindih rasa takutnya.
"Hmmm.." Raja Pulau Es hanya menggumam.
Dengan satu kali lompatan Lelaki tua itu menyerang Pranggala. Tinju keras di sarangkan kearah kepalanya. Dengan sedikit merunduk ia menghindari serangan itu, di susul kakinya yang menyapu kaki lawan. Raja Pulau Es melompat sambil memberikan tendangan kearah perut Pranggala. Pranggala mundur kemudian melakukan satu kalo salto ke belakang
__ADS_1
Sepuluh Jurus berlalu, keduanya masih seimbang. Serangan demi serangan Raja Pulau Es selalu bisa di hindari Pranggala. Ia sadar dari sisi tenaga dalam masih kalah dengan lawan. Hingga selalu menghindari benturan fisik dengan Raja Oulau Es. Namun dari sisi kecepatan, dia mampu mengimbangi bahkan mengungguli lawan. Itu sebabnya segala macam serangan lawan mampu ia hindari.
Raja Pulau Es melompat kebelakang menghentikan serangannya. Ia sadar Lawan selalu menghindar bila akan terjadi benturan fisik. Kali ini Orang nomor satu di pulau Es itupun Mulai menggunakan tenaga saktinya. Seketika hawa dingin mulai merayapi tempat tu.
Pranggala yang melihat musuh mulai serius langsung saja memusatkan tenaga inti apinya keseluruh tubuh. Sedikit demi sedikit kedua lengan Pranggala berubah memerah. Sesaat kemudian Tenaga saktinya mampu melindungi tubuhnya dari serangan pancaran tenaga sakti musuh.
Yang mendapat kerugian dari unjuk kesaktian yang dilakukan Raja Pulau Es dan Pranggala adalah Dua bersaudara Setan Beruang Putih dah Hitam. Mau tidak mau mereka harus menyingkir agak menjauh dari arena pertarungan. Hawa Dingin dan Hawa Panas yang saling menindih sedikit demi sedikit mengganggu pertahanan mereka. Walau bisa dibilang keduanya memiliki kesaktian sejajar dengan Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan sakti.
Raja Pulau Es kembali melesat menyerang kearah Pranggala. Kali ini lewat Sepuluh Jurus nampak pengawal Bayu itu mulai keteteran. Walaupun dari segi kecepatan ia masih unggul dari lawan, namun karena Raja Pulau Es sudah mengeluarkan Tenaga Saktinya hampir sampai puncak. Sehingga Ilmu meringankan tubuhnya terganggu hawa dingin yang semakin kuat.
Blamm..
Dua telapak tangan beradu. Raja Pulau Es masih Kokoh di tempatnya. Sedangkan Pranggala terdorong beberapa tombak sehingga mengharuskan dia melakukan beberaoa kali salto dan berputaran untuk memunahkan tenaga serangan musuh. Dengan manis Pranggala mendarat ketanah lalu bersiaga untuk menerima serangan susulan.
Dari luar Pranggala terlihat tak sedikitpun terluka. Namun sebenarnya ia rasakan, kedua tangannhya serasa membeku.. ada serangkum hawa dingin menerobos di pergelangan tangannya. Dengan Sekuat tenaga ia lawan hawa dinging yang ingin menerobos ke tubuhnya.
"Hahaha.. nama Istana Lembah Neraka rupanya bukan isapan jempol belaka. Selama ini belum ada yang mampu menahan racun es dari Tapak Es milikku tanpa meminum penawarnya. Tapi hanya menggunakan tenaga kau berhasil melakukannya." Puji Raja Pulau Es pada Pranggala.
Raja Pulau Es membuka kuda-kudanya kemudian merangkapkan kedua tangannya. Kali ini dia akan menggunakan segenap kemampuannya untuk merobohkan lawan. Seketika hawa dingin semakin kuat di tempat itu. Di sekitar Raja Pulau Es bertebaran benda kecil mirip salju.
"Pukulan Dewa Salju" ucap Pranggala lirih. Sewaktu masih berguru di perguruan tongkat sakti sering gurunya bercerita tentang tokoh-tokoh sakti di daratan maupun luar daratan. Salah satunya adalah Raja Pulau Es yang memiliki ilmu pamungkas Pukulan Dewa Salju. Mengingat hal itu, Pranggala sadar kini nyawanya terancam bahaya.. "Apakah aku akan berakhir hari ini?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1