
... ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 108...
Srreetttttt.. srreeeeet..
bukk..
"ikhh.."
Arya terpekik ngeri melihat adik seperguruannya terbelah menjadi dua bagian di udara lalu jatuh ke tanah. Si Jari pedang dengan ilmu andalannya hanya dengan mengacungkan jari keluar sinar keperakan lalu mengiris kedua murid perguruan Tangan Dewa hingga terbelah menjadi dua. Beberapa orang murid lain hendak melompat lagi, langsung dicegah Malaikat Bertangan Sakti.
"Sudah cukup kebodohan kalian, hanya bia mengantar nyawa. Pergi dari sini" Bentak Malaikat Bertangan sakti.
Kedelapan orang murid yang tersisa hanya tertunduk lemas. Tak ada satupun dari mereka yang begerak. Tentu tak mungkin mereka meninggalkan guru mereka sendirian menghadapi musuh.
"Kalau kalian tak beranjak juga, berarti kalian memang tak menghargai aku sebagai guru kalian. Maka mulai sekarang kalian bukan muridku lagi!" bentak Malaikat bertangan sakti.
"Guru!!!" seru mereka semua sambil berlutut dengan mata berkaca-kaca.
Malaikat Bertangan Sakti tak lagi memperdulikan seruan mereka. Ia maju beberapa langkah ke arah rombongan Dewa Iblis Kegelapan. Matanya menatap tajam ke arah mereka.
"Kalian boleh menguasai tempat ini, tapi jangan sesekali menghancurkannya. Kami akan pergi dari sini dengan sukarena asalkan kalian menjamin hal itu padaku." tegas Malaikat Bertangan Sakti.
"Hahaha tak disangka kau akan menjadi begitu pengecutnya." ucap Iblis Merah. "Baiklah kami akan memenuhi permintaanmu dan melepaskan kalian asal kau mau mencium kakiku ini."
"Keparat kau iblis, kau kira kami orang-orang pengecut" teriak Arya tak terima perlakuan musuh terhadap gurunya.
"Diamlah kau Arya, aku bilang pergi kalian dari sini."
Murid-murid itu jadi serba salah. Maka dengan perasaan berat mereka akhirnya mau untuk turun gunung. Kedelapan murid itu kembali berlutut.
"Kami pergi dulu guru, jaga dirimu baik-baik.” Ucap Arya mewakili-teman-temannya.
__ADS_1
Sementara itu di balik semak-semak yang cukup jauh dari tempat itu sepasang mata mengawasi gerak-gerik mereka. “Sungguh sangat ceroboh” bisik orang itu dalam hati.
Malaikat Bertangan Sakti mengibaskan tangannya. Orang tua itu dalam hatinya sangat berharap kedelapan anak muridnya yang tersisa bisa meningalkan tempat itu. Itulah sebabnya ia menunjukkan kesan tak bersahabat kepada anak muridnya itu di depan orang-orang Partai Iblis Berkabut.
Perlahan Arya dan tujuh orang murid yang lain beranjak menuruni Bukit Benteng Dewa. Namun baru melangkahkan kaki beberapa Langkah, tiba-tiba terdengar bentakan dari Iblis Merah.
“Siapa yang mengizinkan kalian pergi dari sini?”
“Kami tidak perlu izin kalian, kemanapun kami melangkah itu urusan kami” Jawab Arya tak kalah garang.
Dess.. dess.. desss..
“Awas!!!” seru Malaikat bertangan Sakti.
Tiga larik sinar kemerahan meluncur kearah murid-murid Perguruan Tangan Dewa itu. Lima orang langsung menjatuhkan diri bergulingan menghindari sinar itu. Tiga lainnya menjadi sasaran empuk serangan Iblis Merah. Ketiganya langsung roboh. Dari pori-pori di tubuh mereka merembes darah segar, hingga tubuh itu mongering kehabisan darah.
“Mengapa kau halangi mereka untuk pergi dari sini?” tanya Malaikat sakti yang tidak senang atas Tindakan Iblis Merah.
“Sebelum kau mencium kaki ketua kami, tak ada seorangpun yang boleh meinggalkan tempat ini.” Jawab Iblis Merah dengan sinis.
“Jasad boleh hancur, tapi harga diri pantang di hina.” Geram Malaikat Bertangan Sakti.
Ketua Perguruan Tangan Dewa itupun mulai mengerahkan tenaga saktinya ketingkat yang paling tinggi. Pada pergelangan tangannya mulai memancar cahaya berwarna putih kekuningan. Melihat guru mereka sudah siap bertarung, kelima orang murid itupun menyiapkan diri mereka bertarung di belakang guru mereka.
“Hahaha.. Sudah lama aku mendengar kehebatan pukulan Tapak Suci milik perguruan Tangan Dewa. Izinkan kali ini aku yang mencobanya Wakil ketua” ucap Raja Iblis Api yang sejak tadi menonton.
Sejenak Iblis Merah melihat ke arah sang Ketua. Orang yang dilihat menganggukkan kepalanya. Kemudian Iblis Merah mengibaskan lengan bajunya ke depan isyarat menyetujui permintaan Raja Iblis Api.
Raja Iblis Api melompat ke hadapan Malaikat Bertangan Sakti. Kini di antara mereka hanya berjarak lima tombak. Raja Iblis Api tersenyum sinis melihat Malaikat Bertangan Sakti.
"Aku beri kau kesempatan menyerang tiga jurus duluan. Bila dalam tiga jurus kau sanggup membuatku berpindah tempat, maka aku kalah" tantang Raja Iblis Api dengan sombongnya.
"Baiklah, jangan katakan aku sudah menindas apabila aku menyerang lebih dulu" tegas Malaikat Bertangan Sakti.
__ADS_1
Malaikat Bertangan Sakti menerjang Raja Iblis api dengam Pululan Tapak Sucinya. Sebuah serangan telapak tangan mengincar dada lawan. Nampak pukulan itu memiliki kekuatan yang tidak sembarangan. Deru angin dan cahaya putih berderapan membias pada tangan ketua Perguruab Tangan Dewa itu.
Mudah saja bagi Raja Iblis Api menghindari. Dengan menekuk dalam lututnya lalu menarik kebelakang seluruh tubuh diatas lutut, Pukulan Tapak Suci pun lewat begitu saja. "Jurus Pertama" seru Raja Iblis Api setelah lepas dari pukulan lawan
Malaikat Bertangan Sakti kembali melancarkan serangan keduanya. Kakinya menendang musuh yang dalam posisi mirip berbaring dengan bertumpu pada kaki sebatas lutut itu. Tendangan itu dilakukan dari atas kebawah menghantam dada lawan.
Sungguh indah gerakan yang dilakukan Raja Iblis Api. Tanpa memindah tumpuan kakinya, tubuhnya yang rebah itu berpindah dari utara ke timur mirip bergeraknya jarum jam. Sekali lagi tendangan itu hanya mengenai tanah kosong. "Jurus kedua"
Malaikat Bertangan Sakti melompat mundur dan diam sesaat. Ketua Perguruan Tangan Dewa Itu berpikir keras bagaimana caranya membuat musuh itu berpindah dari tempat. Keningnya berkerut, di bagian samping dahinya menggenang keringat sebesar biji jagung.
"Saat aku melancarkan jurus ketiga larilah. Jangan membangkang. Kalian hanya menjadi beban bagiku bila tetap disini" Bisik Malaikat Bertangan Sakti menggunakan Ilmu mengirimkan suara kepada Arya.
Mendengar bisikan itu Arya tersentak. Untung dengan cepat dia mengenali suara gurunya. Lalu pemuda itu mengangguk ke arah gurunya.
"Raja Iblis Api!" ucap Malaikat Bertangan Sakti memanggil nama lawannya. "Ku harap kau bisa memegang janjimu melepaskan aku dan muridku untuk meninggalkan tempat ini." sambungnya lagi.
"Kau boleh pegang janjiku." Sahut Raja Iblis Api.
"Bagaimana dengan ketuamu dan yang lainnya? Apa mereka akan melepaskan kami?" Tanya Malaikat bertangan Sakti lagi.
Raja Iblis Api diam sesaat. Ia tak mengira Malaikat Bertangan Sakti akan melontarkan pertanyaan ini. Tentu saja ia tak dapat menjawabnya. Ia pun memalingkan tubuhnya melihat sang ketua seolah meminta jawaban.
"Akan kubiarkan kalian pergi bila kau dapat melakukannya" Ucap Dewa Iblis Kegelapan disertai dengan senyuman. Senyum itu terlihat berwibawa seandainya orang tidak tau dia adalah dedengkot Iblis berilmu hitam.
"Baiklah kalau begitu, aku percaya."
Setelah menyelesaikann ucapannya, Malaikat Bertangan Satu mulai mengerahkan tenaga saktinya ketingkat tertinggi. Tangannya di rangkapkan di depan dada. Kaki orang tua itu dibuka selebar bahu. Kemudian tangan kanannya direntangkan ke atas.
Cahaya putih kekuningan mulai membungkus tubuh Malaikat Bertangan Sakti. Cahaya itu berasal dari tempat antara kedua keningnya. Lama-kelamaan Cahaya Itu mulai menebal dan menyilaukan.
"Pukulan Dewa lebur bersama iblis" gumam Arya dengan suara bergetar.
Ilmu ini merupakan ilmu terdahsyat yang dimiliki perguruan Tangan Dewa. Dengan Ilmu ini sehebat apapun musuh, akan binasa. Namun penggunanya sendiri akan ikut binasa bersama musuhnya.
__ADS_1
**Bersambung...
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA**...