Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Nalini Terluka


__ADS_3

...-------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------...


...Episode 105 ...


"Hahaha bagaimana gadis manis, apakah kau menyerah?" ejek Randu. "Asalkan kau suruh ayahmu itu bunuh diri di hadapanku. Maka nyawamu akan kuampuni."


"Hmm... Kau kira aku telah kalah? bertobatlah sebelum penyesalan datang bersama kematianmu"


Nalini mundur beberapa langkah. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam mengempos semangatnya. Lalu gadis itu mengerahkan tenaga dalamnya sampai ke puncak. Ia pun bersiap menggunakan jurus terakhir Ilmu Pedang Pembelah Jagad.


Kilatan-kilatan sinar keperakan mulai membungkus tubuh gadis itu. Beberapa lembar daun yang jatuh tepat didekat Nalini hancur terpotong ratusan sinar keperakan yang mengelilingi tubuhnya. Sinar itu sangat tajam bagaikan pedang pusaka.


Di sisi lain Randu kembali mengempos tenaganya hingga pada puncak. Debu-debu dan dedaunan berterbangan mengelilingi tempat Randu berada. Tubuh pemuda itu bagai diselimuti angin puyuh yang begitu hebatnya. Lalu dengan sekali hentakan Randu menerjang Nalini dengan pedangnya.


Sementara Nalini yang sudah menggunakan jurus terakhir Pedang Pembelah Jagad sepenuhnya. Langsung melesat menyambut serangan pemuda itu.


Ribuan kilat yang dihasilkan kecepatan gerak pedang Randu menyerang ke arah Nalini. Hebatnya serangan itu disertai terjangan angin yang begitu kuat. Namun sebuah pemandangan menakjubkan terlihat. Setiap serangan pedang itu selalu dipapaki oleh kilat berbentuk pedang yang mengelilingi tubuh Nalini.


Randu semakin hebat melakukan serangan, namun tak satupun serangan itu berhasil mengenai lawannya. Bahkan angin puyuh yang membantunya merobohkan lawan, seakan tak berkutik oleh perisai yang mengilingi Nalini. Padahal Nalini tidak melakukan gerakan apapun dengan pedangnya.


"Hiattt...." Nalini memekik lalu menebaskan pedang kepada Randu yang berada di hadapannya.


srreeettt..


"Akkhhh.."


Randu memekik tertahan. Lengan kanannya putus tertebas pedang Nalini. Lengan yang tergeletak di tanah itu masih memegang pedang pusaka dengan erat. Sedangkan di sisa potongan lengan yang masih menempel di tubuh Randu itu mengeluarkan darah.


Tak cukup sampai di situ, Nalini memberikan tendangan ke dada Randu. Pemuda itupun roboh terjengkang di tanah. Ia berusah bangkit namun tak mampu. Tubuhnya kini benar-benar lemah karena terlalu banyak darah yang mengalir.


Sementara itu dengan sekali lompatan Nalini melayangkan pedangnya ke arah kepala Randu. Saat pedang itu akan menyentuh leher prmuda itu, tiba-tiba saja...


"Tahan anakku. Dia sudah tak berdaya, hentikan seranganmu." seru Ki Jatar menyuruh anaknya menghentikan. "Bukan seorang ksatria menyerang musuh yang sudah tak berdaya." Sambung Ki Jatar mengingatkan anaknya.


Sementara itu Pendekar Pedang Kilat tak menyadari akan kekalahan cucunya. Pendekar Buta itu terus menyerang Bayu dengan hebatnya. Sampai-sampai Pemuda itu harus meninggatkan tenaganya sampai delapan bagian.

__ADS_1


Beberapa kali Pendekar Pedang Kilat terlempar karena pukulan bayu mengenai telak tubuhnya. Nampak tubuh pendekar tua itu sudah penuh dengan luka. Namun anehnya, tak sedikitpun ia merasa salit, bahkan tenaganya sedikitpun tak berkurang.


Pendekar Pedang Kilat kembali terlempar oleh tendangan Bayu. Pemuda itupun menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya lawan kembali berdiri seolah tak pernah terjadi apa-apa. Padahal nampak dari fisik Pendekar buta itu sudah penuh dengan luka di sekujur tubuhnya.


Bayu melayang keatas dengan Biang Lala Melukis Langitnya. Kemudian butiran embun yang mengitari tubuh pemuda itu berganti dengan pancaran cahaya merah. Cahaya itu memancar di seluruh tubuh Bayu.


Seketika hawa panas mulai menyebar di tempat itu. Bahkan beberapa lembar daun yang terbang tertiup angin ke arah Bayu langsung hangus bagai dilumat api yang sangat panas. Pemandangan itu membuat bergidik siapa saja yang melihatnya.


Namun tidak bagi Pendekar Pedang Kilat. Entah karena keadaannya yang buta atau memang sudah nekat, Orang tua itu kembali melompat menyerang Bayu yang sedang melayang di udara.


Blammm..


Suara ledakan keras terjadi. Tubuh Pendekar Pedang Kilat terlempar sangat keras dan jatuh kebawah. Mulut orang tua itu menyemburkan darah berwarna hitam tanda ia terluka dalam yang sangat berat. Pendekar Pedang Kilat masih berusaha untuk bangkit. Namun kali ini dia benar-benar tak punya kemampuan lagi.


Apa sebenarnya yang terjadi? Saat Pendekar Pedang Kilat menerjang keatas, Bayu mengangkat kedua telapak tangan kearah penyerangnya. Serangkum cahaya merah melesat dan tepat mengenai dada Pendekar Pedang Kilat. Pendekar tua itu langsung terlempar oleh kekuatan tenaga sakti yang di layangkan Bayu.


"Kuakui kau memang hebat anak muda. Bahkan dengan pil lima bintang yang membuat tenagaku ini meningkat lima kali lipat masih tak mampu menyentuh tubuhmu sedikitpun." puji Pendekar Pedang Kilat kepada Bayu.


"Semuanya sudah berakhir orang tua, cucumu pun telah kalah." ucap Bayu tanpa mempedulikan pujian pendekar Pedang Kilat. "Baiknya sudahi dendam ini. Terlalu banyak sudah korban yang jatuh" sambung Bayu.


Pendekar Pedang Kilat agak terkejut mendengar bahwa cucunya telah kalah. Telinganya bergerak-gerak mencari keberadaan Randu. Dapat di dengarnya nafas cucunya itu mulai lemah.


Sementara itu, melihat lawan-lawannya sudah tak berdaya, Ki Jatar berinisiatif mendatangi Randu, hendak menolong pemuda itu. Ia pun menghampiri Randu.


Bayu keadaan Pendekar Pedang Kilat yang sudah tak berdaya beranjak menghampiri orang tua itu. Niat hatinya ingin menolong si orang tua, namun ternyata...


Hiyaatt


Bukk...


Tubuh Bayu terlempar jauh akibat pukulan Pendekar Pedang Kilat yang melakukanya dengan sekuat tenaga.


"Randu sekarang" teriak Pendekar Pedang kilat.


Tiba-tiba saja Randu mengambil sesuatu dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah ki Jatar. Nalini yang melihat itu, segera berteriak mengingatkan ayahnya.

__ADS_1


Sebuah benda melesat kearah ki Jatar. Ayah Nalini yang tidak lagi memiliki kemampuan bela diri itu terlihat pasrah, tak tahu harus berbuat apa.


"Ayahhh.. awasss.." teriak gadis itu seraya melompat kearah sang ayah dengan sisa-sisa tenaganya.


srraapp...


Benda yang di lemparkan Randu tak sampai menyentuh ki Jatar. Namun benda itu tepat mengenai dada Nalini yang melompat mencoba melindungi ayahnya. Seandainya saja tenaganya tsk terkuras habis akibat menggunakan jurus ke tiga Ilmu Pedang Pembelah Jagat itu, tentu dengan mudah si gadis menangkis serangan mendadak Randu.


"Anakku..." pekik ki Jatar yang langsung menyambut tunuh anaknya.


Bagaimana dengan Bayu? Pemuda itu hanya terlempar karena tak menyangka akan perbuatan Pendekar Pedang Kilat. Walaupun orang tua itu memukulnya dengan sepenuh tenaga, namun tak sedikitpun mencederainya. Tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang digunakannya tadi secara otomatis melindungi tubuhnya.


"Nalini..." teriak Bayu saat melihat gadis itu terkena serangan Randu. Iapun melesat secepat kilat menghampiri gadis yang kini berada di pangkuan ayahnya. Ia pun memeriksa keadaan Nalini.


Entah apa yang dilontarkan pemuda itu tadi. Terlihat bekas luka di dada dekat jantung Nalini itu membiru. Tubuh gadis itupun terasa sangat dingin. Bibirnya pucat kebiruan.


Bayu mencoba mengobati Nalini dengan tenaga saktinya. Namun semua sia-sia, bahkan keadaan Nalini semakin bertambah parah. Gadis itu memuntahkan darah berwarna kebiruan.


"Cukup nak Bayu." ucap Ki Jatar menghentikan perbuatan pemuda itu karena khawatir keadaan anaknya bertambah parah.


"Biadab kau orang tua." pekik Bayu.


Pemuda itu mengepalkan tangannya. Ia begitu marah. Saat dia akan menyerang Pendekar Pedang Kilat, tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.


Ternyata Nalini yang melakukan itu. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda ia tak ingin Bayu melakukan perbuatannya.


"Mengapa kau begitu kejam orang tua." jerit ki Jatar tertahan.


"Hahaha, walaupun semua tidak berjalan sesuai rencanaku, tapi aku cukup puas hahaha.. uhukk hukk" sahut Pendekar Pedang Kilat sambil terbatuk-batuk.


"Aku tahu kau dan anakmu bakalan mendapat bantuan dari pemuda sakti itu. Makanya aku dan cucuku sebelumnya meminum pil lima bintang untuk meningkatkan tenaga kami secara drastis, ternyata itupun gagal. Tapi aku sudah menyiapkan rencana terakhir di saat yang tepat Randu membunuhmu dengan Bulu Landak salju itu hahaha..."


"Walaupun bukan kau yang tewas, tapi aku sudah cukup puas melihat putramu di hadapan matamu sendiri membunuh putrimu yang tak lain adalah adik tirinya sendiri hahahaha..."


Tiba-tiba tawa Pendekar Pedang Kilat terhenti. Nampak mulut orang tua itu masih menganga. Namun tak ada sedikitpun gerakan atau suara yang keluar. Pendekar Pedang Kilat telah tewas dalam keadaan tersesat dan menyedihkan

__ADS_1


Bersambung...


...-------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------...


__ADS_2