
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 149...
“Yang mulia.. Telik sandi kita melaporkan bahwa Raja Kerajaan Selatan sedang melakukan pelesir di sekitaran sungai Birama Chandak dekat hutan Jati Alam. Ini kesempatan kita untuk menghabisi raja itu, dan merebut kekuasaanya.” Ucap Dewa Iblis Kegelapan kepada Penguasa Jagad.
Sudah sekitar sepeminuman teh lamanya Penguasa Jagad ditemani Dewa Iblis Kegelapan dan Singa lembah Hitam berada di bukit kosong yang bersebelahan dengan bukit Benteng Dewa. Penguasa Jagad memerintahkan beberapa orang anak buah Dewa Iblis Kegelapan untuk membongkar makam Empu Adhiyak Sona. Setelah di bongkar mereka tak menemukan apa-apa kecuali Jasad si Empu yang terlihat masih utuh tak berubah sedikitpun. Padahal Penguasa Jagad sedang mencari sesuatu yang entah itu apa, hanya orang tua itu sendiri yang tau.
“Apa yang hendak kalian lakukan? Menangkap dan menyerangnya? Kalian kira bisa semudah itu melakukannya. Sang raja berani berada di luar Istananya berarti sudah memiliki persiapan.” Sahut Penguasa Jagad sedikit emosi.
“Ketahuilah, antara ilmuku dan ilmu raja itu masih bisa dikatakan sebanding. Namun dia lebih unggul karena memiliki pusaka kerajaan turun temurun berupa pedang yang bernama Pedang Penguasa Naga. Konon pedang itu merupakan pedang pemberian dewa kepada Raja Pertama kerajaan Selatan atau nenek moyang raja sekarang. Pedang itu mampu membendung kekuatan apa saja, bahkan dari ilmu kesaktian terhebat sekalipun.” Tutur Penguasa Jagad
“Bahkan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang mulia?” tanya Dewa Iblis Kegelapan agak terkejut dan seakan tidak percaya.
“Ya.. bahkan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta, kecuali Ilmu itu sudah mencapai tingkat ke enam. Karena tingkat ke enam merupakan Gerbang Cahaya yang tak ada kekuatan sebanding dengan kekuatan cahaya.”
“Yang Mulia.. bukan kah anda telah menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta sampai ketingkat Empat, mengapa tidak anda lanjutkan mempelajarinya hingga tingkat ke enam.” Tanya Singa Lembah Hitam
“Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang kupelajari adalah telah tersesat. Aku mendapatkannya dari Adhiyak Sona keparat itu. Ternyata lembaran yang ditulisnya sebagian dilencengkan. Sehingga aku mengalami persimpangan tenaga yang membuat hampir tewas. Untung secara tidak sengaja aku menemukan kitab Ilmu Panca Sona, sehingga ilmu itu menyatu dan membuat tubuhku pulih.”
Dewa Iblis Kegelapan dan Singa Lembah Hitam terdiam.
“Yang Mulia, itu artinya si Rajawali Merah juga telah memiliki ilme sesat Tujuh Gerbang Alam Semesta?” tanya Dewa Iblis Kegelapan.
“Tidak Begitu keadaanya Pasupata. Meskipun yang dipelajari anak itu awalnya ilmu yang di sesatkan, semenjak Adhiyak Sona memberikan tenaga saktinya ke anak itu, semua persimpangan tenaga telah diperbaiki. Apalagi anak itu memang keturunan langsung orang yang menciptakan ilmu itu. Sedikit banyaknya darah yang mengalir di tubuhnya memiliki kecocokan dengan tenaga sakti yang dipindahkan Adhiyak Sona, walau tak sesempurna mempelajari kitab yang asli.”
“Lalu seandainya kitab yang asli kita temukan, apakah Yang Mulia bisa mempelajarinya? Atau salah satu dari kita mampu mempelajarinya?”
__ADS_1
Penguasa Jagad menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Dewa Iblis Kegelapan atau Braja Pasupata.
“Hanya jenis orang yang mampu mempelajari ilmu itu secara sempurna. Yang pertama keturunan langsung orang yang menciptakan ilmu itu, yang sebelumnya belum pernah mempelajari ilmu kesaktian apapun. Yang kedua orang yang memiliki hati bersih, tanpa kebencian, dan jauh dari nafsu keduniawian.”
“Seandainya kita memaksakan diri mempelajari ilmu itu bagaimana yang mulia?”
“Paling-paling hanya sampai ke gerbang pertama. Itupun bila memiliki dasar tenaga dalam yang tinggi. Dan butuh waktu dua puluh tahun baru bisa menguasainya. Kalau tetap melanjutkan mempelajarinya, akan mengalami persimpangan tenaga dan mati.” Jawab Penguasa Jagad atas pertanyaan Braja Pasupata.
“Lalu apa tujuan kita mencari kitab itu Yang Mulia?” tanya Singa Lembah Hitam.
“Memberikannya pada Rajawali Merah, dengan syarat mau bekerjasama dengan kita.”
“Seandainya dia tak menyetujui, dan merasa tak butuh akan kitab itu bagaimana Yang Mulia.”
“Dia pasti akan membutuhkan kitab itu. Akan ada masanya nanti ia harus menggunakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke enam untuk menyelamatkan seseorang yang ia sayangi. Aku telah menyiapkan rencana itu dengan matang. Hanya saja belum saatnya di jalankan. Hahaha..”
Tawa licik orang yang menyebut dirinya penguasa jagad itu menggema di bukit kosong. Beruntung saat ini bukit kosong telah ditumbuhi pepohonan dan tanaman lainnya, sehingga tawa itu tak sampai terdengar di bawah. Sedangkan kedua anak buahnya yang mendengar rencana sang pimpinan ikut tersenyum.
“Permisi.. Apakah yang punya rumah ada di dalam?” ucap Jaka Setengah Berteriak.
Tak ada jawaban yang terdengar. Bahkan bunyi sebuah gerakan pun tak terdengar. Rumah itu seperti kosong tak berpenghuni. Hanya saja keadaan yang sangat bersih terawatt di sana menandakan bahwa di rumah itu ada orang yang mendiami, atau minimal ada orang yang setiap hari membersihkannya.
“Permisi.. Apakah yang punya rumah ada di dalam?” kali ini Jaka benar-benar berteriak. Namun tetap tidak ada jawaban yang terdengar.
Ketiganya saling pandang. Jaka yakin sekali di dalam rumah ada orangnya. Saat dia mengerahkan tenaga saktinya untuk mengetahui keadaan di dalam, terdengar hembusan nafas teratur seperti orang tidur.
“Permisi.. Apakah yang punya rumah ada di dalam?” Sekali lagi Jaka berteriak memanggil. Dalam teriakan tadi ia menyertakan tenaga sakti di dalamnya. Tempat itu sedikit bergetar.
__ADS_1
“Hmmm.. kau kira aku tuli, sehingga memanggilku dengan cara seperti itu.”
Terdengar suara dari dalam. Dari nadanya terdengar sekali ketidak senangan dari orang itu. Beberapa saat kemudian nampak pintu rumah terbuka, dan seorang lelaki tua berusia sekitar enam puluh tahunan keluar.
“Kau kah yang berteriak itu bocah.” Tanya lelaki tua itu dengan nada membentak sambal menunjuk Pendekar Halilintar.
Hampir saja Canik Kemuning tersedak karena menahan tawa saat seorang berumur tiga puluhan seperti Jaka dipanggil bocah oleh orang tua itu. Cempaka sendiri tersenyum geli mendengar suaminya dipanggil seperti itu. Sedangkan Jaka sendiri merah padam wajahnya menahan dongkol.
“Maafkan saya yang muda kalo mengganggu istirahat tetua. Saya Jaka Andhara murid Malaikat Petir diutus oleh Pertapa Sakti Tanpa Nama menghadap tetua untuk menyampaikan pesan.” Ucap Jaka.
“Hmmm..”
Orang tua itu hanya menggumam. Kemudian orang tua itu masuk kedalam rumah sebentar lalu keluar lagi membawa sebuah kail. Tanpa berkata apa-apa sebelumnya, orang tua itu menyerang Jaka dengan kail yang berada di tangannya.
Ctarr.. ctarrr..
Dua kali orang tua itu melecutkan kailnya ke arah jaka. Tali dan kawat kail itupun meluncur kearah jaka menyerupai sebuah mata cambuk. Dengan sigap suami Cempaka itu menghindari serangan Nelayan Aneh Dari Selatan. Dua kali lecutan itu hanya mengenai tanah kosong. Namun tetap saja akibat dari serangan itu membuat tanah di tempat itu bergetar.
Bersambung...
Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar. Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.
__ADS_1