Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
25. Pengawal Pribadi


__ADS_3

"Hahaha, ayo kita bikin modar cecunguk Istana Lembah Neraka ini" seru salah seorang dari anggota perguruan teratai putih.


Kemudian kelimanya kembali mengeroyok lawannya. Jatuh bangun Anggota Istana Lembah Neraka itu mempertahankan diri.


Srett...


Salah satu pedang lawan melukai bahu kanan lelaki itu. Darah segar mengucur membasahi baju hitamnya. Sementara perempuan yang berada dalam perlindungannya pingsan tak mampu mempertahankan diri. Pada serangan berikutnya, membuat tangan anggota Istana Lembah Neraka itu keram dan kesemutan. Tak ayal lagi pedang digenggamannya pun terlepas.


"Hahaha, habisi manusia keparat itu" melihat lawannya tak berdaya lagi, pimpinan dari lima orang murid perguruan teratai putih itupun bersemangat menyuruh temannya menghabisi musuhnya. Serempak kelima orang itu mengayunkan pedangnya ke arah lelaki berbaju hitam. Lelaki anggota Istana Lembah Neraka itupun sudah merasa tak berdaya lagi. Iapun pasrah menerima nasib yang akan menimpanya


Traangg...


Tiba-tiba saja kelima orang penyerang itu terjengkang jatuh sejauh lima tombak. Pedang digenggaman mereka pun buntung. Entah kapan datangnya di depan orang berbaju hitam berdiri membelakangi seorang berbaju merah, dengan jubah menggantung dipunggungnya pun berwarna merah. Wajahnya tertutup topeng bercorak rajawali. Hanya bagian mulutnya saja yang kelihatan.


"Tinggalkan tempat ini, sebelum aku berubah pikiran untuk menghabisi kalian" ucap orang itu datar yang tak lain Bayu Aruna si Rajawali Merah.


Mengapa bisa kebetulan pemuda itu berada di sini? Setelah mengantarkan Intan ke bukit Batu Geni kediaman kakeknya, pemuda itu langsung berpamitan melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan dia mendengar suara orang bertarung. Bayu pun melesat ke tempat pertarungan itu. Melihat anak buahnya yang sedang dikeroyok karena melindungi seorang wanita, Bayu pun berniat menolong laki-laki tersebut. Karena tak ingin menunjukan wajah aslinya, maka iapun memutuskan menggunakan pakaian ketua Istana Lembah Neraka, kemudian menolong anak buahnya tersebut.


"Ra... rajawali merah! kaburrr!" teriak salah seorang dari murid perguruan Teratai Putih kemudian lari terbirit-birit. Melihat temannya kabur duluan, serentak empat orang lainnya lari meninggalkan tempat itu. Semenjak Nama Istana Lembah Neraka mulai terkenal di Dunia Persilatan, nama Rajawali Merah sebagai pemimpin perkumpulan tersebut semakin dikenal. Apalagi banyak berita yang mengatakan Empat Sakti Dunia Persilatan dikalahkan dan takluk menjadi anak buahnya. Semenjak itu pula Nama Rajawali Merah menjadi momok menakutkan baik di kalangan aliran hitam, maupun kalangan aliran putih.

__ADS_1


"Hormat kepada ketua, semoga ketua panjang umur, terima kasih kepada ketua yang telah menyelamatkan nyawaku yang rendah ini" ucap lelaki baju hitam, memberi hormat seraya berlutut kepada Rajawali Merah. Sementara perempuan yang tadi diselamatkannya pun sudah siuman dari pingsannya. Perempuan itu ikut berlutut dan berterima kasih kepada Rajawali Merah.


"Paman, kau antarkan dulu perempuan ini kerumahnya, kemudian temui aku di sini" Perintah Bayu.


"Baik ketua" balas anak buahnya. Kemudian lelaki itupun membawa si perempuan pergi. Tak sampai sepeminuman teh ia datang kembali dan memberi hormat.


"Paman siapa namamu, dari kelompok mana kau berasal?" tanya bayu kepada lelaki itu.


"Maaf ketua, saya yang rendah bernama Pranggala" jawab lelaki itu masih dengan menundukkan kepala penuh hormat.


"Baiklah paman, aku ingin kau menjadi pengawal pribadiku." ucap Bayu.


"Maaf kan saya ketua, saya tak pantas menjadi pengawal pribadi ketua, saya hanya anggota tingkat ke empat." sahut Pranggala lagi dengan menunduk. Lelaki berusia empat puluh tahunan itu tahu bahwa para pengawal pribadi ketuanya minimal berasal dari anggota tingkat ke dua. Pernah Suatu ketika Ketuanya ini bepergian dengan di kawal empat sakti dunia persilatan sebagai pembawa tandunya.


"Maafkan saya ketua yang telah lancang, terima kasih atas kepercayaan ketua" ucap Pranggala dengan berlutut seraya menyambut benda yang di lemparkan Bayu. Sebenarnya dalam hati lelaki ini sangat girang dipilih menjadi pengawal pribadi ketuanya. Semua anggota dari tingkat empat sampai tingkat ke dua sangat berharap bisa menjadi pengawal pribadi Rajawali Merah ini.


Karena hari sudah menjelang malam, maka Rajawali Merah memutuskan untuk menginap di penginapan terdekat. Dia dan pengawal pribadinya itupun beranjak menuju tempat penginapan yang tak jauh dari tempat mereka berada.


Sesampainya di sana, kehadiran Rajawali Merah menjadi perhatian pengunjung rumah makan sekaligus penginapan itu. Penampilannya yang mencolok dengan pakaian merah menyala, dengan gambar Istana dan api yang mengelilingi, di tambah jubah yang menggantung di punggungnya, bagi orang-orang dunia persilatan dengan mudah menebak siapa dirinya. Ketua Perkumpulan Istana Lembah Neraka yang kini menjadi perbincangan. Beberapa orang memilih beranjak dari tempat itu, sedang yang lain memilih bertahan takut menyinggung Rajawali Merah, selentingan kabar yang beredar ketua Istana Lembah Neraka ini dapat membunuh siapa saja tanpa berkedip, apabila ia tidak suka.

__ADS_1


Bayu dan Pranggala pun duduk di salah satu meja tempat makan di sana. Awalnya Pranggala sungkan untuk duduk satu meja dengan ketuanya. Namun dengan tegas sang ketua memerintahkannya untuk tetap bersamanya di meja itu. Ada perasaan senang di hatinya karena sang ketua tak sesombong yang biasa di perbincangkan para anak buah di Istana Lembah Neraka.


Tak lama kemudian datang seorang pelayan tergopoh-gopoh menghampiri.


"Mau pesan apa tuan, tanyanya dengan nada sedikit ketakutan." biar bagaimanapun reaksi orang yang banyak memilih beranjak dengan wajah pucat itu membuat dirinya berkesimpulan bahwa yang datang adalah orang yang sangat di takuti di dunia persilatan.


"Dua porsi makanan paling enak, dan tolong siapkan dua buah kamar untuk menginap" Jawab Rajawali Merah singkat.


Langsung saja pelayan itu kebelakang menyiapkan pesanan Rajawali Merah. Sesudah menghabiskan hidangan yang di sediakan, keduanya beranjak menuju kamar masing-masing.


"Hhhh... untunglah dia tak mengacau di sini" bisik salah seorang pengunjung yang duduk di pojokan bersama tiga orang temannya.


"Apakah kita tidak bertindak, bukankan ini kesempatan kita mumpung si Rajawali Merah tidak di temani anggota-anggota Istana Lembah Neraka yang lain." bisik orang yang satunya lagi.


Ketiga orang itu merupakan murid perguruan tongkat sakti. Padepokan mereka memang berada tak jauh dari desa Jati wengi tempat mereka sekarang. Sudah jadi kebiasaan para murid perguruan itu apabila melintasi desa Jati Wengi singgah di salah satu rumah makannya. Selain untuk mengisi perutnya juga di sana mereka dapat mencari informasi-informasi yang diperlukan perguruan baik secara gratis maupun dengan cara membayarnya.


"Apakah tidak sebaiknya hal ini kita laporkan kepada guru besar? mungkin beliau punya pandangan sendiri mengenai masalah ini." usul orang termuda dari tiga seperguruan itu.


Setelah membayar makanan mereka, ketiganya pun meninggalkan rumah makan bergegas menuju ke perguruan Tongkat Sakti.

__ADS_1


"Apa benar informasi yang kalian bawa ini?" tanya seorang lelaki tua berpakaian abu-abu dengan Tongkat berkepala Harimau di tangan kanannya.


"Benar guru, kami sendiri yang menyaksikannya, ciri-ciri orang itu mirip dengan Rajawali Merah pimpinan perkumpulan Istana Lembah Neraka" sahut salah satu dari tiga orang yang berada di rumah makan tadi.


__ADS_2