
Salam Dunia Persilatan...
Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.
Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.
Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.
Salam Dunia Persilatan
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
Episode 86
Pembantaian Di Balai Desa
Bayu dengan sigap menangkap orang yang meminta tolong itu saat akan jatuh.
"Hei, ada apa denganmu paman? mana ayah?" Tanya Nalini yang khawatir saat tau ternyata orang yang meminta tolong itu adalah salah satu pembantu ayahnya.
"Ba.. balai desa di diserang? orang itu langsung terkulai menghembuskan nafas terakhirnya setelah menjawab pertanyaan Nalini.
"Kak Bayu, kita ke balai desa, aku takut terjadi apa-apa terhadap ayah!" Pinta Nalini dengan nada khawatir.
Keduanyapun berlari menuju balai desa. Bahkan Nalini berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Sebentar saja ia telah hilang dari pandangan Bayu.
Bayu langsung melesat menuju Balai Desa. Hanya dalam waktu singkat ia telah sampai di tempat itu.
Betapa terkejutnya Bayu melihat mayat bergelimpangan di mana-mana. Namun dari semua mayat tak ditemukannya ki Jatar. Hanya gurunya Nalini yang terlihat rebah bersimbah darah.
Beberapa saat kemudian, Bayu merasakan adanya orang yang akan datang, ia pun langsung menyembunyikan diri. Yang datang tak lain adalah Nalini. Gadis itu begitu terkejut saat melihat banyaknya mayat yang bergelimpangan. Lalu matanya tertuju pada satu sosok tubuh yang rebah tak jauh dari pelataran Balai Desa.
"Guru!!! jerit Nalini saat melihat ki Farja yang sudah rebah bersimbah darah. Di tubuhnya banyak terlihat luka sayatan pedang. Bahkan di wajah ada beberapa sayatan pedang.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Bayu memunculkan diri seolah-olah dia baru saja sampai di tempat itu. Melihat Bayu datang, langsung saja Nalini munubruk pemuda itu kemudian memeluknya seraya membenamkan kepalanya di dada pemuda itu. Bayu membiarkannya sejenak.
Tak berapa lama kemudian, Bayu mencoba menenangkan Nalini dan melepaskan pelukannya. Kemudia ia memeriksa keadaan ki Farja. Setelah memeriksa beberapa tempat, ia mendapati kenyataan bahwa guru Nalini itu masih bernyawa. Ada detak nadi yang masih terasa.
"Nalini gurumu masih hidup, lekas kita bawa kedalam untuk diobati." ucap Bayu yang membuat gadis itu menyapu airmatanya dan ada keceriaan sekilas terpancar.
Keduanya membawa tubuh ki Farja ke dalam Balai Desa. Nalini begitu khawatir akan nasib gurunya. Namun tiba-tiba dia teringat akan ayahnya. Gadis itupun semakin panik, ia keluar lagi memeriksa mayat-mayat yang ada di sana. Kesempatan itu di pergunakan Bayu untuk mengobati ki Farja.
Setelah hampir sepeminuman teh, Nalini kembali ke balai Desa. Nampak dari wajahnya sebuah kepanikan dan keputus asaan. Lalu iapun duduk di samping gurunya.
"Ayah tidak ada kak Bayu" ucap Nalini dengan nada sedih.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak Nalini, Tunggu gurumu sadar, baru akan kita tanyakan apa yang terjadi." sahut Bayu.
Tak berapa lama kemudian ki Farja mulai membuka matanya. Ia mencoba bangun namun langsung terbatuk-batuk. Di rasakan seluruh badannya nyeri.
"Jangan banyak bergerak dulu ki. Tubuhmu masih belum kuat." cegah Bayu saat guru Nalini itu akan memaksakan diri untuk bangkit.
"Aku sudah agak mendingan" sahut Ki Farja mengeraskan hati.
Akhirnya orang tua itu pun mengalah. Dia kembali memejamkan mata. Tak lama kemudian ki Farja tertidur. Dengkurnya mulai terdengar.
Sejenak Bayu memandangi Nalini. Begitu salut dia dengan keteguhan hati si gadis. Dalam kondisi khawatir dengan keadaan sang Ayah, dia dapat bersabar untuk tidak mengganggu gurunya menanyakan hal tersebut.
Hampir setengah harian Ki Farja tertidur, akhirnya diapun bangun. Kali ini ia merasakan tubuhnya jauh lebih baik. Di lihatnya di samping ada muridnya yang sedang menunggui.
"Mana nak Bayu?" tanya ki Farja.
"Sedang mengubur mayat-mayat para membantu balai desa guru." jawab Nalini. "Guru, di manakah ayah berada?" tanya Nalini lagi.
Sementara Bayu yang sedang mengubur mayat satu persatu mendapati kenyataan bahwa semua korban tewas karena sayatan pedang. Yang menarik perhatian Bayu sayatan ini sangat tipis namun begitu tajam. Bahkan beberapa mayat yang didapatinya dalam keadaan tersenyum dan tertawa. Seolah mereka tidak menyadari akan kematiannya.
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap pergerakan orang bersembunyi di balik salah satu pohon tak jauh dari tempat itu. Dengus nafas orang itu pun dapat dia dengar. Walau sedemikian orang itu berusaha tidak diketahui, namun Bayu yang Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semestanya dengan mudah mengetahui keberadaan orang tersebut.
__ADS_1
Pemuda yang menjadi Ketua Istana Lembah Neraka itu berpura-pura tidak mengetahui sedang di awasi. Ia sengaja membiarkan hendak mengetahui maksud orang. Ditunggu hingga lama, tak jua orang itu keluar dari persembunyiannya. Ia pun melangkah kan kakinya masuk ke dalam balai desa.
Setelah dirasa aman, orang yang bersembunyi di balik pohon itupun menampakkan diri. Cukup lama ia mengawasi balai desa. Ternyata orang itu adalah seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Pemuda itu menghunakan pakaian berwarna kecoklatan. Di punggungnya menggantung sebuah pedang.
Tak lama kemudian pemuda berpakaian coklat itu membalikkan badannya. Kemudian ia melesat meninggalkan tempat itu. Tubuhnya melesat cepat meninggalkan balai kota. Namun tanpa sepengetahuannya sebuah bayangan merah yang jauh lebih cepat gerakannya mengikuti di belakang.
Setelah berlari cukup jauh dengan ilmu meringankan tubuhnya, pemuda berbaju coklat itu berhenti di sebuah hutan yang bejarak puluhan mil dari desa Bojana. Kemudian memuda itu melihat sekelilingnya, setelah memastikan tak ada seorangpun yang mengikutinya, ia pun masuk ke dalam hutan tersebut.
Di tengah-tengah hutan, terdapat sebuah pondokan kecil yang terbuat dari pohon bambu. Sesampainya di situ, pemuda berbaju coklat langsung membuka pintu pondok dan masuk kedalamnya. "Aku pulang kek" ucapnya.
"Randu, apa yang kau lakukan seharian ini di luar?" tanya seorang kakek-kakek yang sedang duduk bersandar di satu-satunya kursi yang ada di pondok itu.
"Tidak ada kek, aku hanya bermain sebentar." sahut pemuda berpakaian coklat yang ternyata bernama Randu itu.
"Hmmm.. apakah kau mulai membunuh orang-orang di desa itu. Ada bau darah kucium saat kau datang tadi." ucap kakeknya Randu. "Tak baik dendam itu kau tututkan.
Kaget juga Randu mendengar ucapan kakeknya ini. Walaupun ia tahu kakeknya memang merupakan seorang yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi, tetap saja ia tak menyangka kakeknya dapat mengetahui apa yang sudah ia lakukan.
"Apakah kau tak sakit hati kek atas perbuatan mereka. Ibuku bunuh diri sewaktu aku masih kecil, ayahku tewas sewaktu menuntut peetanggung jawaban atas kematian ibu. Dan engkau sendiri, orang-orang licik itu meracunimu lalu membikin matamu buta." protes Randu kepada kakeknya.
"Mengenai kematian ibu dan bapakmu itu karena kesalahan mereka sendiri. Sedangkan apa yang terjadi padaku aku sudah memaafkannya." jawab kakek itu.
Diatas pohon tak jauh dari tempat itu, bayangan merah yang tak lain adalah Bayu itu mendengarkan semua pembicaraan kakek dan cucunya itu. Namun maksud dari perkataan sang kakek belum bisa ia tangkap dengan jelas. Hanya ia dapat menyimpulkan pelaku pembunuhan di balai desa Bojana adalah cucu dari kakek buta itu. Karena tak ingin kepergiannya membuat khawatir Nalini, Bayu pun dengan ilmu Bianglala Melukis Langitnya meninggalkan tempat itu tanpa suara sedikitpun.
Di dalam pondok tiba-tiba kakeknya Randu terdiam. Kakek itu merasakan perasaan yang tidak mengenakkan. Bahkan bulu kudukknya sampai merinding. Tiba-tiba mukanya berubah menjadi pucat.
"Randu, saat kau pulang tadi apakah tidak ada yang mengikutimu?" tanya Kakek itu.
"Tidak ada kek, aku sudah memeriksanya." Jawab Randu.
"Apakah kau yakin?" tanya kakek itu seolah tak percaya.
"Yakin kek, bahkan aku sudah berkali-kali memeriksanya." tegas Randu meyakinkan kakeknya.
__ADS_1
"Siapakah orang sakti ini?" gumam Kakeknya Randu. Suara itu pelan sekali hingga tak bisa didengar oleh Randu.