Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.213. Untuk Jari Malaikat.


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 213...


 


“Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan-kesalahan ku  masa lalu kak Jaka.” Ucap Bayu.


Jaka dan Cempaka tak dapat berkata apa-apa lagi. Keharuan menyelimuti hati mereka berdua. Kini pemuda yang berada di hadapan mereka ini benar-benar sudah dianggap sebagai saudara sendiri.


Tak berapa lama kemudian datang serombongan pendekar menghampiri mereka


“Sudah satu pekan kami berada di sini, mungkin hari ini kami akan pamit memohon diri Bayu. Dengan kau yang mengambil alih benteng dewa sebagai ketua Perguruan Tangan Dewa kami bisa lega. Kedepan tidak tau akan ada kejadian apa, kami harap kau dan Benteng Dewa tidak berdiam diri bila dunia persilatan terancam” Ucap Pertapa sakti tanpa nama.


“Aku tidak berani berjanji Eyang. Tapi Pendekar Halilintar sekarang bukan Pendekar Halilintar yang dulu. Dia pasti bisa menyelamatkan dunia persilatan apa bila dalam keadaan terancam.” Ucap bayu.


Setelah berpamitan Pertapa Sakti Tanpa Nama pun meninggalkan tempat itu, diikuti yang lainnya.  Kini di sana hanya tertinggal Jaka, Cempaka, Canik Kemuning dan juga Jari Malaikat. Sorenya merekapun turut meninggalkan  benteng Dewa. Hingga di tempat itu hanya Jari Malaikat dan Intan yang bukan orang-orang perguruan Tangan Dewa.


Keesokan harinya Jari Malaikat menemui Bayu berniat untuk berpamitan.


“Rajawali Merah, aku mohon diri dulu untuk kembali ke perguruan Jari Sakti. Banyak hal yang ingin aku selesaikan di sana. Mudah-mudahan kelak kita bisa berjumpa kembali.” Ucap Jari Malaikat menemui Bayu yang kala itu berada di belakang bukit sedang melatih beberapa murid utama perguruan tangan Dewa.


“Oh.. baiklah paman, terima kasih atas kunjunganmu ke tempat ini” Ucap Bayu memposisikan diri sebagai tuan rumah.


Sekilas memang terlihat lucu sikap yang di  tunjukkan Bayu, dengan usia semuda itu berurusan dan berbasa-basi dengan orang-orang dewasa bahkan orang tua. Namun begitulah adanya dunia persilatan, apabila menjadi ketua perguruan maka harus bisa bersikap seperti itu. Sikap seorang pemimpin akan mewakili orang yang dipimpinnya.

__ADS_1


“Akulah yang selayaknya berterima kasih padamu Bayu. Banyak hal yang telah kau lakukan untukku.. ahh seandainya tidak melihat terlalu banyak hutang budi Jari Malaikat ini padamu, ingin rasanya lagi aku..” ucapan Jari Malaikat tertahan. Ia terlihat sungkan meneruskan kata-katanya.


“Katakanlah paman! Bila aku bisa melakukannya, akan kulakukan untukmu!” ucap Bayu, walaupun sedikit banyaknya dia sudah menangkap maksud hati orang.


“Ah.. tidak apa-apa, baiklah aku aku mohon diri dulu.” Ucap Jari Malaokat berpamitan diikuti enam orang anak buahnya yang kemarin datang ke Benteng Dewa menjemput guru mereka.


Jari malaikat pun melangkah meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah lelaki itu meninggalkan tempat, Bayu memanggil Jari malaikat kembali. Mencari malaikat pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Bayu.


“Ada apa Bayu?”


“Paman boleh aku melihat semua jurus-jurusmu?” ucap Bayu.


Mendengar itu Jari Malaikat langsung terlihat girang.  Tanpa diminta dua kali ketua perguruan Jari Sakti itu bersiap menunjukkan kemampuannya. Bagi kebanyakan orang dunia persilatan permintaan melihat kemampuan seseorang sama saja dengan tantangan untuk melakukan tanding. Tapi Jari Malaikat paham akan maksud dan tujuan Bayu.


Bayu mengerahkan tenaga saktinya. Nampak Cahaya putih terang memancar dari tubuh Pemuda itu. Bulatan hitam di bola matanya pun berubah menjadi putih terang memancarkan cahaya. Pemuda itu telah  menggunakan gerbang ke enam Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.


“Ah aku yang bodoh ini hanya mampu menguasai tujuh tingkatan jurus ini. Dua tingkat terakhir hanya bis ku kuasai secara teori, namun tak mampu mempraktekkannya.” Ucap Jari Malaikat penuh sesal. Jari Malaikat kemudian menjelaskan dua teori jurus terakhir.


Dengan cepat Bayu menangkap intisari dari sembilan jurus jari sakti. Kemudian pemuda itu mempraktekannya. Beberapa kali pemuda itu menjentikkan jari telunjuknya kearah bebatuan di tempat itu. Sungguh menakjubkan apa yang terjadi, membuat Jari Malaikat dan semua muridnya terkagum-kagum melihat ini.


“Ternyata begitulah ilmu Jari Sakti yang telah sempurna.” Gumam Jari Malaikat penuh kekaguman.


Jari Malaikat memeriksa setiap batu yang menjadi sasaran serangan Bayu. Batu itu berlubang, sangat rapi tidak ada retakan sedikit pun. Terlalu rapi dan sangat mematikan.


“Paman kemarilah.” Ucap Bayu.

__ADS_1


Jari Malaikat menghampiri pemuda itu. Kemudian Bayu menyentuh pundaknya. Tiba-tiba lelaki itu terduduk. Murid-muridnya hendak bergerak mengira Bayu menyerang guru mereka. Namun Jari Malaikat memberi isyarat untuk tetap diam di tempat.


Ternyata Bayu sedang membuka seluruh pembuluh yang tertutup. Hal ini bertujuan untuk membuka seluruh jalur penghimpunan dan penyaluran tenaga dalam. Selain itu Bayu juga meningkatkan tenaga sakti Jari Malaikat hingga mencapai titik tertinggi dari kemampuan lelaki tersebut.


Setelah selesai, kemudian Bayu menjelaskan semua intisari yang dipahaminya tentang Ilmu Jari Sakti milik Jari Malaikat. Tanpa di duga sama sekali tiba-tiba saja Jari Malaikat berlutut di hadapan Bayu. Ketua Perguruan Jari Sakti itu tak sedikitpun merasa malu dihadapan murid-murid nya berlutut untuk berterimakasih.


“Budi baikmu kepadaku dan kepada perguruan Jari sakti yang setinggi gunung ini belum tentu aku bisa membalasnya. Aku hanya berdo'a semoga yang maha kuasa selalu memberkahi kehidupanmu. Semoga kau selalu dalam jalurnya.” Ucap Jari Malaikat.


Melihat gurunya berlutut, para murid pun mengikutinya. Hal ini membuat Bayu jengah dan gelagapan. Ia pun meminta semua orang yang berlutut untuk berdiri. Kemudian merekapun berdiri.


“Aku hanya mampu melakukan apa yang bisa kulakukan untuk dunia persilatan ini. Kedepannya aku tak tahu akan terjadi apa, dan apakah aku bisa ikut turut serta menjaga kedamaian duni persilatan negeri Selatan ini.” Ucap Bayu.


“Selamanya perguruan Jari Sakti akan mengingat kebaikanmu. Selamanya Jari Malaikat ini akan berada di belakangmu. Kami berangkat dulu Pendekar Rajawali Merah!”


Setelah berpamitan jadi Malaikat dan semua merk muridnya pun meninggalkan Benteng Dewa. Kepergian mereka kebawah bukit diantar oleh beberapa orang Murid Tangan Dewa. Tak lama kemudian akhirnya datang menghadap Bayu.


“Menghadap Ketua” ucap Arya sambil berlutut. “Aku telah menyelesaikan tingkat ke tiga Tenaga Sakti Jiwa Suci.” Tambahnya lagi.


Seharusnya memang Bayu dipanggil dengan sebutan guru besar. Karena selain dirinya yang menjadi ketua, dia juga lah yang mengajarkan seluruh murid perguruan Tangan Dewa ilmu dari kitab peninggalan leluhur perguruan tersebut. Namun pemuda itu merasa risih dengan sebutan itu, sehingga ia menyuruh murid-murid untuk memanggilnya dengan sebutan ketua saja.


Selain Arya yang menjadi murid utama, ada empat orang lagi yang dididik Bayu secara khusus. Mereka berlima lah yang membantu bayu mengajari murid-murid yang lain. Tak terasa Sudah satu bulan Bayu berada di Benteng Dewa dan menjadi ketua perguruan besar tersebut.


“Baguslah kalau begitu. Empat orang yang lain sudah menyelesaikan pelajaran tahap pertama mereka mempelajari ilmu itu.” Ucap bayu. “ Dengan menguasai ilmu tingkat ke tiga, bisa dibilang kemampuan mu sekarang setara denga ketua perguruan generasi ke dua yang lalu. Malaikat Bertangan Sakti.” Ucap pemuda itu lagi.


“Semua ini atas Budi baik dan kemurahan hati ketua mengajarkan kami.” Ucap Arya bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2