
Episode 312
“Mungkin nisanak berdua telah salah. Pemimpin agung baru-baru ini tidak pernah membawa seorangpun ke sini untuk berobat,” ucap resi penjaga.
“Aku tidak salah resi, dua pekan yang lalu Manusia suci kuil agung membawa temanku ke sini, beliau berkata untuk diobati.”
Mendengar ucapan Intan yang sangat yakin akan kebenaran ucapannya, para resi penjagapun saling pandang. Mereka memang tidak pernah mendengar langsung keterangan dari pemimpin agung tentang siapa dan kenapa pemuda yang dibawanya. Hanya saja tiga orang resi yang mengaku ada pada saat kejadian mengatakan pemuda itu merupakan orang yang menyebabkan tewasnya dua orang resi teman mereka. Itu sebabnya ketiga orang itu berkesimpulan pemuda itu dibawa untuk dimintai pertanggung jawaban.
“Mohon untuk nisanak berdua ketahui, pemimpin agung memang membawa seorang pemuda ke tempat ini, namun kemungkinan bukan teman nisanak. Karena orang yang di bawa oleh pemimpin agung adalah penjahat yang telah membunuh dua orang resi teman kami. Mungkin dia di bawa hendak dimintai pertanggung jawaban atas kejahatan yang dilakukannya. Bukan orang yang hendak berobat.”
“Dia bukan penjahat, pemimpin agung yang memaksanya ikut. Beliau mengatakan hendak mengobati temanku itu!”
Sekali lagi perdebatan antara Intan dan para resi terjadi. beruntung keduanya masih menjaga tata kesopanan sehingga tidak ada ucapan kasar ataupun yang bernada tinggi terjadi. Namun tiba-tiba muncul seorang resi yang tangannya buntung sebelah kanan. Ia merupakan salah satu resi yang selamat saat terjadi keributan di medan peperangan.
“Pemuda Iblis itu akan di hukum berat atas perbuatannya pada kami. Tanganku yang buntung ini adalah bukti kekejiannya. Kalau kalian ingin turut campur masalah ini, berarti kalian satu komplotan dengan pemuda iblis itu,” ucap resi yang buntung tangannya sebelah kanan.
“Jaga mulutmu orang tua. tak pantas kau sebagai orang mengaku sebagai pelayan dewa melontarkan kata-kata keji seperti itu. Seharusnya kau yang lebih bijaksana dalam memandang maslah ini, karena telah luput dari keduniawian,” ketus Nalini menyindir sang resi.
Dari tadi Nalini hanya berdiam diri mengikuti pembicaraan Intan dan para resi. Namun ketika resi yang buntung sebelah tangannya itu ikut berbicara dan melontarkan kata-kata kasarnya, tak sanggup juga gadis itu menahan sabar. Akhirnya Nalini membuka mulutnya dengan sindiran yang cukup pedas.
__ADS_1
“Tau apa kau bocah tentang kehidupaan. Rupanya kau memang ingin mengacau saja di tempat ini. Jangan salahkan kami bila harus membinasakanmu!” ancam sang resi yang buntung sebelah tangannya.
Mendengar perdebatan saudaranya dengan tamu yang datang, resi yang lain saling pandang dan mengernyitkan dahinya. Mereka memang setuju dengan ucapan Nalini tidak sepantasnya saudaranya itu mengucapkan kata-kata kasar. Walaupun mereka tahu bahwa dua orang yang telah tewas pada waktu kejadian itu, salah satunya merupakan saudara kandung dari resi itu. Namun ajaran yang mereka anut mengajarkan untuk memaafkan dan melupakan segala budi dendam di dunia ini.
Namun upaya pencegahan yang hendak resi lain lakukan sudah terlambat. Nalini dan resi itu tidak lagi terlibat perdebatan, namun sudah masuk ke gelanggang pertarungan. Entah siapa yang memulai duluan, yang pasti saat ini keduanya sudah saling serang dengan jurus-jurus yang berbahaya. Nalini bahkan telah menggunakan kekuatan inti apinya.
Pertarungan dahsyatpun tak terelakan terjadi. Sementara tak ada satupun dari teman kedua pihak berniat menghentikan pertarungan rekan mereka. Awal-awal pertarungan terlihat keduanya masih berimbang. Namum setelah berlalu beberapa jurus nampak resi yang menjadi lawan nalini sangat terdesak.
Sebelumnya memang Nalini hanya menggunakan sepertiga dari kekuatannya untuk melayani lawan, rupanya hal itu masih bisa diimbangi sang resi. Namun setelah Nalini menggunakan separu dari kekuatannya, resi buntung itupun terdesak hebat. Hingga pada suatu keadaan, sang resi terkena pukulan Nalini.
“Ukhhh.. huekk..”
“Adik Jataya, kau tidak apa-apa?” tanya resi yang berada di dekat Intan seraya melompat kearah sang resi buntung.
Sementara itu, melihat resi temannya terluka akibat pertarungan Nalini, beberapa Pendeta yang kebetulan berada di sana langsung melesat menghadang Nalini. Pendeta itu berjumlah dua belas orang. Dalam dunia persilatan mereka di kenal dengan dua belas prajurit benteng suci. Bisa dikatakan mereka merupakan pasukan khusus yang ada di sana.
“Adiiikk!” jerit beberapa orang resi bersamaan.
Rupanya sang resi buntung, tak sanggup menahan luka dalam yang di deritanya. Ia memang belum sembuh total dari luka dalam sebelumnya saat melawan Bayu. Lalu disaat melawan Nalini tadi, luka dalamnya bertambah parah. Ditambah lagi serangan Nalini yang begitu gencar membuat tenaganya terkuras dan isi perutnya terguncang. Puncaknya tendangan telak Nalini mengantarkan resi itu menemui ajalnya.
__ADS_1
“Formasi Benteng Suci!” seru pemimpin prajurit benteng suci.
Serentak kedua belas pendeta yang tergabung dalam prajurit benteng suci bergerak membentuk barisan dua lapis. Kemudian barisan di depan menghunuskan tombak yang mereka pegang ke arah Nalini. Tentu saja gadis itu tidak inging dirinya menjadi sasaran empuk lawan, gadis itu menangkis serangan para pendeta itu.
Blammmm...
Ledakan keras terdengar saat bentrokan tenaga sakti Nalini berhadapan dengan enam tombak Prajurit Benteng Suci yang dialiri tenaga sakti oleh para pendeta itu. Nalini terdorong beberapa langkah kebelakang, sementara enam orang pendeta lawannya masih dalam keadaan tegak berdiri ditopang enam pendeta di belakangnya. Tentu saja itu membuat Nalini marah. Ia pun melompat kebelakang beberapa tindak untuk mengerahkan teaga saktinya.
Nalini mengerahkan tenaganya hingga batas maksimal. Iapun kembali menyerang para pendeta itu dengan kekuatan apinya. Bentrokan tenaga kembali terjadi.
Blammmmm..
Kali ini bentrokkan tadi dimenangkan oleh Nalini. Ke dua belas pendeta yang dinamakan prajurit benteng suci terdorong hingga terpisah formasinya. Walaupun beberapaorang mengalami luka dalam dan luka bakar ditubuhnya, mereka masih mampu untuk membentuk formasi kembali.
“Formasi Dewa menggenggam semesta!” teriak pemimpin prajurit benteng suci
Serentak ke duabelas orang pendeta bergerak dan mulai menyerang Nalini. Mereka membentuk formasi menyerang dan saling menjaga untuk menyerang gadis itu. Apabila satu dari mereka mendapat serangan, maka pendeta yang lain menyerang Nalini dari arah berlawanan. Tak ingin mendapat kerugian terpaksa Nalini menarik serangannya dan melompat menghindari serangan yang lain. Hal seperti ini tentu saja membuat Nalini kewalahan.
Nalini melesat agak menjauh, tentu saja para pendeta tak ingin membiarkan gadis itu menghimpun kekuatannya. Merekapun terus menyerang Nalini, hingga mau tak mau gadis itu kembali melayani pertarungan jarak dekat lawan. Padahal Nalini sudah menyiapkan jurus andalannya yang dipelajarinya dari Bayu, Tarian naga api. Namun sayang ia tak memiliki kesempatan untuk menggunakannya.
__ADS_1
Bersambung...