
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 254...
“Perguruan tangan dewa,” ucap pendekar kipas maut saat mengenali penampilan dua orang lelaki di depan mereka.
Setelah itu secara bersamaan pendekar kipas maut dan para warga menengok ke arah atap rumah warga yang ditempati para ibu pemilik bayi. Mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi sehingga kedua orang orang perempuan menyeramkan yang lain terlempar dari sana. Betapa terkejut dan kagum nya mereka saat melihat seorang pemuda berpakaian serba merah sedang melayang di udara tanpa menginjakkan kakinya di atas atap dengan pancaran api putih di sekeliling tubuhnya.
“Rajawali Merah!” seru pendekar kipas maut dengan penuh kekaguman.
Pemuda yang berada di atas rumah warga itu memang Bayu si Rajawali Merah adanya. Setelah mendengar cara langkah empat orang yang memiliki tenaga cukup tinggi dari arah hutan menuju desa Mala Jangkit, Bayu pun bersama dua murid perguruan tangan dewa beranjak menuju arah yang di tuju oleh buruannya. Sesampainya di tempat itu ia melihat keadaan pendekar kipas maut dan para warga sudah terdesak. Kemudian Bayu dan kedua murid perguruan Benteng Dewa itupun membantu.
Dengan gerakan yang sangat enteng dan tak terlihat melakukan gerakan sama sekali, tubuh Bayu terbang menuju kumpulan orang-orang. Tepat di depan kedua murid perguran benteng dewa menjejakkan kakinya di tanah. Hal ini membuat orang-orang yang melihatnya kagum dan terheran-heran.
“Ketua!” ucap kedua murid perguruan banteng Dewa sambil berlutut dengan satu kaki memberikan hormat kepada Bayu yang dibalas pemuda itu dengan anggukan kepala.
“Selamat bertemu Rajawali merah! Selamat atas keberhasilanmu membangkitkan lagi perguruan tangan dewa. Aku lihat kedua murid yang masih muda ini memiliki ilmu kanuragan tak berselisih dengan Ketua terdahulu malaikat bertangan Sakti. Dan aku juga mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan nyawaku dan orang-orang di desa ini,” pendekar kipas maut setelah sempat tadi mengobati lukanya sendiri.
“Jangan terlalu di besar-besarkan, kami hanya kebetulan melewati desa ini. Sebaiknya kalian berhati-hati, menurut perkiraan ku mereka yang empat itu hanyalah bidak-bidak saja. Ada kekuatan lain yang menggerakkan mereka. Sepertinya orang itu berada di hutan sebelah kanan desa ini,” ungkap Bayu.
__ADS_1
Sontak semua yang ada di sana menjadi khawatir mendengar ucapan Bayu itu. Kalau anak buahnya saja sekuat itu bagaimana pimpinannya. Itulah yang mereka warga desa pikirkan saat ini.
“Apakah kau tidak bisa membantu penduduk desa ini untuk menyelesaikan masalah sampai ke akar-akarnya,” tanya Pendekar Kipas Maut penuh harap.
Nampak warga yang ada di sana pun menaruh harapan kepada Bayu untuk mau membantu mereka menyelesaikan masalah. Para warga desa sadar bahwa kekuatan mereka tidak mungkin bisa menandingi para dedemit. Kalau toh mereka tetap memaksakan diri tentu hanya akan mengantarkan nyawa saja.
Nampak Bayu menjadi serba salah untuk menjawab pertanyaan Pendekar Kipas Maut. Ia sebenarnya harus segera menuju istana Lembah neraka untuk bertemu Malaikat Putih. Tepat di waktu sore tadi rajawali peliharaannya datang membawakan pesan dari pranggala mengenai hasil pembicaraanya dengan Malaikat Putih.
“Ada apa Rajawali Merah? Sepertinya ada kesulitan yang kau hadapi sehingga terhalang untuk tetap disini menyelesaikan masalah orang-orang desa,” tanya pendekar kipas maut saat melihat Bayu sepertinya bingung untuk memutuskan.
“Sebenarnya aku pun sedang dalam urusan yang sangat mendesak sehingga tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Namun keadaan di sini pun sepertinya sangat genting untuk segera diselesaikan,” jawab Bayu.
“Aku pun berpikiran demikian. Baiklah aku akan pergi ke sana sekarang juga,” ucap Bayu. “Dirja, Jaya, kalian langsung saja berangkat sekarang menuju istana lembah Neraka,” perintahnya lagi.
“Baik ketua!” Jawab kedua murid perguruan tangan dewa serentak.
Setelah memberikan perintah kepada kedua murid perguruan tangan dewa itu, Bayu pun langsung melesat menuju hutan yang letaknya di sebelah kanan desa. Di sana pemuda itu tidak langsung menunjukkan dirinya. Melain ia melihat keadaan di sana terlebih dahulu sehingga bergerang mengendap-endap.
Benar saja apa yang dipikirkan oleh Bayu bahwa empat orang perempuan yang datang ke desa mala jangkit itu bukanlah pelaku utama penyerangan di desa itu. Terlihat di dalam hutan itu ada puluhan makhluk yang sama seperti empat orang yang menyerang desa mala jangkit. Di sana juga terlihat dua orang gadis yang memiliki wajah yang mirip seperti dua orang gadis kembar. Sepertinya kedua orang itulah menjadi pemimpin para manusia jadi-jadian itu.
__ADS_1
“Apa mungkin kedua Gadis itu yang menjadi penyebab semua kekacauan yang ada di desa Mala Jangkit? Walau kekuatan mereka memang berada di atas semua yang ada di sana, namun rasa-rasanya masih belum cukup untuk merencanakan sesuatu yang besar. Apa sebenarnya yang mereka rencanakan,” bisik Bayu dalam hatinya.
Sesaat kemudian ketika Bayu hendak muncul dan membasmi si biang masalah, Tiba-tiba terdengar langkah kaki puluhan orang menuju tempat itu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menyerang tempat itu, tetap diam di tempat melihat keadaan. Nampak beberapa orang prajurit kerajaan membawa puluhan peti mati yang kemudian ditaruh di depan kedua orang gadis itu.
“Mengapa sampai sekarang mayat hidup yang bertugas di desa Mala Jangkit belum juga datang,” gumam salah satu dari gadis kembar itu. Nampak ada sebuah kekhawatiran dari wajah gadis itu. “Buka semua peti mati nya!” perintah salah satu dari wanita kembar itu kepada para prajurit kerajaan itu.
Sekarang Bayu bisa melihat bahwa di antara dua orang gadis kembar itu hanya satu yang yang sepertinya memiliki emosi seperti manusia. Sedangkan yang satunya seperti perempuan-perempuan mayat hidup yang yang ada di sana. Hanya yang membedakan penampilannya, karena hanya Gadis itu yang memiliki keadaan fisik yang sempurna. Berbeda dengan perempuan yang lainnya yang penampilannya seperti demit kuntilanak.
Siapakah dua orang gadis kembar itu? Mereka tidak lain adalah Gayatri dan Danastri kedua orang ibu dan anak yang hidup semasa Jaka si pendekar halilintar masih remaja. Ketika itu Gayatri yang merupakan ibu dari Danastri gadis satunya itu di tewas di tangan pendekar Halilintar dikarenakan kejahatannya sendiri. Oleh Raja Peramal dari Timur ia dibangkitkan lagi untuk menciptakan mayat hidup yang nantinya akan dijadikan prajurit perang kerajaan melawan raja barat.
Gayatri merapalkan sebuah mantra kemudian mengambil sebuah wajan yang berisi darah bayi dan jantungnya. Lalu dengan melakukan gerakan memutar telapak tangan kanannya perempuan itu mengerahkan tenaga saktinya kewajan. Kemudian Darah dan jantung bayi itu bercampur menjadi satu cairan berwarna merah kehitaman. Ia pun kemudian memercikkan darah itu ke puluhan peti mayat yang baru saja di bawa oleh prajurit kerajaan.
Sekali lagi Gayatri merapalkan sebuah mantra. Tiba-tiba saja mayat yang tadinya ada di dalam peti bangkit. Semua mayat berjenis perempuan. Mata mereka semua memancarkan sebuah sebuah cahaya berwarna merah. Kalau saja ada orang biasa yang melihatnya tentu akan lari terbirit-birit karena ketakutan.
Sesudah melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang di sana, akhirnya Bayu pun memutuskan untuk memunculkan diri di tempat itu. Pemuda itu pun melompat dari tempat persembunyiannya kemudian menjajakan diri tepat berada di tengah orang-orang yang ada di sana.
Tentu saja kemunculan Bayu yang sangat mendadak dan tidak terdeteksi oleh Gayatri sangat mengejutkan baginya. Terlebih lagi bagi para prajurit kerajaan yang memang tidak memiliki kemampuan tinggi. Apalagi munculnya Bayu tadi seolah-olah terbang, sehingga mereka bingung yang muncul ini Apakah seorang Dewa ataupun seorang iblis. Sampai-sampai para pekerja ketemu mundur beberapa langkah karena keberaniannya tergetar.
Bersambung...
__ADS_1