Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
92. Pertanda Dari Rajawali


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.


Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.


Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 92


Pertanda Dari Rajawali


Kembali Pertapa Sakti Tanpa Nama menjelaskan secara terperinci apa yang dilihatnya di pantai kemarin. Nampak wajah-wajah cemas menyelimuti orang-orang yang adai di situ. Terutama Malaikat Bertangan Sakti, keringat dingin mengalir dari tubuh ketua Perguruan Tangan Dewa itu.


"Sepertinya kehancuran memang tidak bisa di elakkan bagi Perguran Benteng Dewa." keluh Malaikat Bertangan Sakti.


"Jangan putus asa ki, kita akan berjuang bersama-sama." hibur ketua perguruan Bangau Putih. Kehancuran Benteng Dewa sama saja dengan kehancuran dunia persilatan di Selatan ini." tambahnya lagi.


"Rasanya kali ini walaupun kita bergabung belum tentu bisa menghadapi Dewa Iblis Kegelapan dan anak buahnya. Apalagi kekuatan kita sudah sangat berkurang dibanding dulu saat menghadapi Istana Lembah Neraka." ungkap Malaikat Bertangan Sakti. Ada nada keputus asaan dari nada bicaranya.


"Hmmm... apakah tidak sebaiknya kita meminta bantuan Istana Lembah Neraka menghadapi Dewa Iblis Kegelapan itu guru" Usul Arya yang juga ada di sana.


"Apakah tidak akan menjadi bahan tertawaan dunia persilatan, Benteng Dewa mengemis pertolongan Istana Lembah Neraka yang pernah jadi musuh besarnya." timpal Pertapa Sakti Tanpa Nama.


Sebenarnya Malaikat Bertangan Sakti sendiri tidak mempermasalahkan apapun perkataan orang apabila meminta bantuan Istana Lembah Neraka. Yang ada dalam pikirannya bagaimana cara menyelamatkan perguruan itu dengan murid-muridnya. Tapi pandangan beberapa tetua yang ada di sana tidak meangimini hal tersebut.

__ADS_1


"Aku punya rencana lain, apabila kita tidak meminta bantuan orang luar." ucap Malaikat Bertangan Sakti. Kata-kata itu sepertinya ditujukan untuk mereka yang tidak menyetujui meminta bantuan Istana Lembah Neraka.


"Apa itu ki?" tanya ketua Perguruan Bangau Putih sedikit prnasaran.


Kita lihat saja nanti, apabila benar-benar rombongan Dewa Iblis Kegelapan itu hendak menyerang ke Benteng Dewa ini.


...***...


Setelah beristirahat sehari semalaman akhirnya ki Farja sudah banyak membaik. Hari itu pagi sekali dia sudah mendengar teriakan-teriakan Nalini yang sedang berlatih. Ada perasaan iba ada perasaan khawatir di hati Ki Farja melihat gadis itu.


"Nalini, mana nak Bayu" tanya ki Farja sambil berjalan perlahan menuruni Balai Desa.


Nampak di tempat itu sudah ada beberapa pemuda desa menggantikan para keamanan desa yang telah tewas di tangan Randu. Walaupun dihantui rasa cemas dan khawatir akan ada serangan berikutnya, pemuda-pemuda itu tetap memberanikan diri menjadi keamanan desa. Selain sebagai mata pencaharian buat mereka, juga tuntutan tanggung jawab moral akan keamanan desa.


"Pergi keluar sebentar guru, mencarikan makanan untuk kita." sahut Nalini samb terus memainkan pedangnya.


Sebenarnya dalam pandangam ki Farja kemajuan ilmu pedang Nalini sungguh sangat mengagumkan. Bahkan ia menganggap muridnya itu sudah melampaui ilmu pedangnya. Namun untuk berhadapan dengan cucu dari Pendekar Pedang Kilat, sangat jauh dari cukup.


Kali ini Nalini menghentikan latihannya. Ia memandang gurunya dengan lekat. Kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan gurunya tadi.


"Hmmm... apakah ayahmu tidak berhasil mendapatkan bantuan paman guru kami, sehingga belum juga kembali." tanya ki Farja.


Kembali Nalini menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya pertanyaan itu ia ajukan untuknya sendiri. Tapi karena di sana ada Nalini, maka gadis itupun merasa pertanyaan itu adalah untuknya.


Di kejauhan, nampak Bayu sedang berjalan kaki menuju Balai Desa. Setelah sampai, nampak di tangan pemuda itu membawa sebuah bungkusan. Setelah mengajak Nalini dan Ki Farja kedalam, Bayu mengeluarkan isi dari bungkuan yang di bawanya, ternyata didalamnya adalah makanan buat mereka bertiga.


"Ku lihat kau berkeliaran kesana kemari nal Bayu, apakah tak pernah sedikitpun mendapat gangguan dari pengacau itu?" tanya ki Farja berhati-hati.


"Tidak pernah ki, mungkin karena dia tau aku bukan penduduk asli desa Bojana ini" jawab Bayu asal saja.

__ADS_1


Namun ternyata jawaban Bayu yang asal itu merupakan jawaban yang masuk akal bagi Ki Farja. Gurunya Nalini itupun manggut-manggut menyatakan setuju akan pemikiran Bayu itu.


"Tadi di pantai aku mendapat informasi dari beberapa orang nelayan, bahwa di kota baru saja terjadi keributan antara seorang pemuda dengan seorang gadis di kota. Di saat sang pemuda sudah akan dihabisi, datang seorang kakek buta menyelamatkannya." tutur Bayu menceritakan apa yang didengarnya tadi di pantai.


"Siapa kah gadis itu? sebegitu hebatnya kah hingga bisa mengalahkan cucu dari Pendekar Pedang Kilat." gumam ki Farja.


"Benarkan pemuda itu cucunya Pendekar Pedang Kilat ki?" tanya Bayu


"Ya aku sangat yakin. Di Utara ini hanya ada satu orang yang bebas dan mudah berkeliaran tanpa khawatir diganggu sedang dia dalam keadaan tidak melihat. Tak lain dan tak bukan Pendekar Pedang Kilat" jawab Ki Farja lirih. Bahkan suaranya bergetar saat mengetahui bahwa Pendekar Pedang Kilat sudah memunculkan dirinya.


"Apakah kau tanyakan siapa gadis yang mengalahkan cucu Pendekar Pedang Halilintar itu." tanya ki Farja kepada Bayu.


Kali ini Bayu menjawab hanya dengan gelwngan kepalanya saja. Pemuda itu tidak mengerti apa maksud ki Farja menanyakan tentang gadis yang dikabarkan telah mengalahkan cucu Pendekar Pedang Kilat itu.


"Sayang sekali. Padahal kita bisa meminta bantuan pendekar itu untuk menghadapi pengacau di desa kita ini." ucap ki Farja menyayangkan.


"Aku tidak terpikiran hal itu ki" sesal Bayu.


Sementara itu di tempat penginapan Intan, Jaka dan Cempaka dikejutkan suara Burung Rajawali yang sangat keras memekakkan telinga. Intan yang tau burung itu adalah kepunyaan Rajawali Merah, dan kemarin Wakil ketua Istana Lembah Neraka mengatakan apabila keberadaan mereka dekat dengan sang pemilik, maka burung rajawali itu akan memberikan tanda.


Ingat akan hal itu kontan Intan melompat keluar kamarnya melalui jendela. Gadis itu melihat di atas langit burung rajawali sedang berputar-putar seperti ingin mengatakan sesuatu. Tak lama kemudian burung itupun terbang menuju kearah desa Bojana yang tak jauh jaraknya dari kota itu.


"Kakang, bisakah kau ikuti Intan, gadis itu masih sangat kurang pengalaman, takutnya di perjalanan ia akan mendapatkan kesusahan." pinta Cempaka kepasa suaminya saat melihat Intan mengikuti terbangnya Rajawali.


"Baiklah istriku. Kau juga harus berhati-hati di sini" pesan Jaka kepada istrinya.


Tak lama kemudian Jaka pun menyusul Intan. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna, mudah saja bagi Jaka menemukan keberadaan gadis itu.


Setelah terbang Lumayan jauh jaraknya dari penginapan, burung Rajawali itu berhenti dan hinggap di bahu Intan saat dia berada di sebuah hutan. Ada sebuah pemandangan yang membuat dia bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi.

__ADS_1


Di hutan itu masih terlihat jelas sisa-sisa kebakaran. Bahkan beberapa tempat terlihat porak poranda seperti dihantam badai besar.


"Apa maksudmu kakak Rajawali membawa aku ke sini" tanya Intan kepada Rajawali yang hinggap di bahu kanannya.


__ADS_2