
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 150...
Melihat serangannya bisa di hindari Jaka, orang tua itu diam sejenak. Kemudian ia melangkah turun dari rumahnya yang agak tinggi dari tanah itu.
“Memangnya kau ke sini mencari siapa bocah?” tanya orang tua itu.
“Kami mencari Nelayan Aneh dari Selatan tetua. Apakah tetua orang yang di maksud?” sahut Jaka.
Ctarrr..
“Enak saja kau bilang aku aneh.”
Orang tua itu kembali melecutkan kailnya kearah Jaka. Lagi-lagi Pendekar Halilintar harus berlompatan menghindari serangan itu. Bahkan sekali dia harus bergulingan karena serangan si orang tua hampir mengenai pundaknya.
Sebenarnya bisa saja Pendekar Halilintar melawan dan membalas serangan. Namun ia tidak menghendaki orang tua itu tersinggung dan membuat rencana Pertapa Sakti Tanpa Nama jadi berantakan. Mau tidak mau murid mendiang Malaikat Petir itu harus mengendalikan dirinya untuk tidak membala serangan.
Apakah gurumu si Malaikat Petir itu tidak becus mengajarimu hingga kau bisanya cuma menghindar.” maki si orang tua. “Ayu balas serangan, aku ingin tau apakah kau layak bertemu aku si Nelayan dari Selatan ini.
Jaka yang mendengar nama gurunya dimaki tentu saja tidak terima. Ia tak lagi menghindar saat tali kail pancingan Nelayan Aneh dari Selatan itu mengincarnya.
Blammm..
Terdengar ledakan nyaring saat kail yang menjadi senjata orang sakti itu menyentuh tangan Bayu. Pendekar Halilintar menangkis serangan orang tua itu dengan tenaga saktinya yang di alirkan pada sepasang tangan. Nelayan Aneh dari Selatan yang tidak mengetahui setinggi apa kemampuan Jaka, tergetar mundur beberapa langkah. Sekilas wajahnya nampak menunjukkan keterkejutan.
“Hmmm.. boleh juga kau bocah. Sekarang terimalah ini..”
Nelayan Aneh dari Selatan melemparkan pancingannya ke samping. Kemudian orang tua itu menerjang Jaka dengan kedua telapak tangannya yang sudah memancarkan cahaya berwarna keperakan. Melihat serangan si orang tua yang bersungguh-sungguh, Jaka pun mengerahkan tenaga saktinya hingga delapan bagian.
__ADS_1
Blammm..
Ledakan terjadi begitu keras. Jaka derdorong mundur dua langkah. Sedangkan Nelayan Aneh dari selatan terdorong lima langkah.
“Sungguh tak kusangka kau sehebat ini bocah. Setahuku Malaikat petir saja belum mencapai tarap ini. Dan aku tahu kau belum menggunakan kekuatanmu sepenuhnya.” Puji Nelayan Aneh dari Selatan.
“Tetua terlalu merendah. Semua pasti karena kemurah hatian tetua untuk mengalah. Kalau tidak, awal-awal saya yang muda ini sudah terkapar.” Ucap Jaka Merendah.
“Ahh.. kau ini sama saja dengan gurumu. Aku sangat tidak suka dengan umpakkan seperti itu. Mari ikut aku ke dalam. Aku buatkan kalian bakaran ikan dengan bumbu special racikanku.” Ajak Nelayan Aneh dari Selatan.
“Waahh kek benar-benar enak masakan kakek.” Ucap Canik Kemuning memuji masakan buatan Nelayan Aneh dari Selatan sambil mencoba satu persatu hidangan di meja yang telah disiapkan.
Sementara Jaka dan Cempaka tak mau kalah menikmati hidangan yang di suguhkan kedua orang tua itu. Sepasang suami istri itu malah sudah menikmati makanan dengan sepiring nasi dengan dicampur berbagai lauk pauk yang disediakan Nelayan Aneh dari Selatan.
“Jaka, kau coba ini, dijamin tak ada yang bisa memasak seperti ini.” Ucap Nelayan Aneh dari Selatan sambil membawa sebuah nampan berisi Kepiting dan Udang Panggang. “Walau aku kalah dengan mu untuk urusan tenaga, tapi kujamin kau kalah urusan masak-memasak. Bahkan Istrimu pun tak mampu menandingiku hahaha.”
Jaka dan Cempaka tertawa kecil mendengar ucapan orang tua itu. Mereka tak menampik apa yang diucapkan Nelayan Aneh dari Selatan adalah kebenaran yang tak bisa dibantah.
“Ahh.. apa yang bisa kulakukan dengan tubuhku yang sudah tua ini. Mungkin kalian mengira aku masih berusia enam puluhan, padahal sudah sembilan puluh lebih. Usia yang sudah dekat dengan tanah. Adanya kalian yang muda-muda dan memiliki tenaga lebih dari aku yang tua ini sudah lebih dari cukup.”
“Mungkin usia kami masih muda, dan sebagian dari kami memiliki kesaktian melebihi kalian para tetua, namun tak dapat disangsikan kematangan kalian dalam berpikir dan pengalaman kalian tak dapat kami yang muda menggantikan.”
“Hahaha kalian ini memang pandai mengumpak aku yang sudah tua. Lihat lah nanti, sampaikan saja pada Pertapa Sakti Tanpa Nama aku pasti akan ke sana, tp masalah ikut keramaian dunia persilatan atau tidak, biar nanti melihat keadaan.” Ucap Nelayan Aneh dari Selatan.
Ke esokkan harinya, setelah menginap di rumah Nelayan Aneh dari Selatan, Jaka, Cempaka dan Canik Kemuning melanjutkan perjalanan menuju hutan pengecoh Arwah.
...***...
Sementara itu di tempat lain, Iblis Muka Hitam atau orang yang bernama Amok Seta itu sedang melakukan perjalanan dengan misi yang sama seperti Jaka dan yang lainnya. Namun bedanya Amok Seta bertugas mengajak orang-orang aliran sesat yang sudah tidak lagi hidup dijalan kesesatan seperti dirinya.
__ADS_1
Kali ini Amok Seta mengunjungi kenalan lamanya yang bernama Sora Dadap atau yang dikenal sebagai Setan Kalong Ireng. Kediaman orang itu berada di gunung Tengger berdekatan dengan batas wilayah Negara Timur. Sudah hampir dua puluh tahun lamanya orang itu tenggelam dari dunia persilatan. Kekahalahannya dengan salah satu tokoh aliran putih dulu membuatnya enggan masih bercokol di dunia persilatan.
Kini Amok Seta sudah berada di kaki gunung Tengger. Matanya menengok ke atas gunung. Tepat di puncak itulah orang yang dicarinya berada. Namun ia agak sangsi orang yang dicarinya ada di tempat. Sekalipun ada, apakah orang itu bersedia diajak kerjasama.
Dengan memantapkan hati Amok Seta atau Iblis Muka Hitam melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya ke atas. Lengan Bajunya sebelah kiri melambai-lambai oleh terpaan angin akibat cepatnya ia berlari. Walau kini hanya mempunyai sebelah tangan, Amok Seta tak kehilangan kegagahan dan kegarangannya.
Di atas gunung tengger nampak sebuah bangunan cukup besar berdiri. Beberapa orang terlihat lalu lalang di depan bangunan itu. Tak nampak seperti tempat tinggal seorang tokoh aliran hitam yang dulu di takuti. Lebih cocok di sebut tempat tinggal seorang saudagar kaya.
Melihat keadaan bangunan itu, Amok Seta menjadi ragu, apakah orang yang di carinya benar-benar tinggal di sana. Namun karena sudah jauh-jauh datang ke tempat itu, iapun melangkah mulai mendekati bangunan. Melihat ada yang datang, seorang lelaki paruh baya datang mendekati Amok Seta.
“Siapa kau orang tua? Ada keperluan apa kemari?” Tanya lelaki paruh Baya itu kepada Amok Seta dengan nada kurang bersahabat.
Amok Seta mengerutkan dahinya. Sikap orang di depannya ini sedikit membuatnya tersinggung. Mengingat ia ada keperluan di sana, lelaki yang dulu merupakan seorang tokoh sesat yang sangat ditakuti itupun berusaha menahan kesabarannya.
“Aku mencari Sora Dadap atau Kalong Ireng apakah dia tinggal di sini?” tanya Amok Seta.
Sesaat muka si lelaki paruh baya itu mengalami perubahan. Orang itu menatap tajam ke arah Amok Seta penuh selidik. Dahinya berkerus seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Siapanya kah kau orang tua?” tanya orang itu dengan nada bicara sedikit melunak.
Melihat perubahan orang, Amok Seta dapat menebak bahwa orang yang dicarinya memang tinggal di tempat itu. Bahkan kemungkinan besar ia adalah orang penting di bangunan itu.
“Katakan padanya aku Amok Seta Iblis Muka Hitam sahabatnya datang berkunjung.” Jawab Amok Seta.
“Baiklah, kau tunggu dulu aku melapor kedalam.” Jawab lelaki itu seraya membalikkan badannya lalu melangkah menuju kedalam bangunan besar itu.
Bersambung...
Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar. Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.
__ADS_1
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.