
"Luar biasa, ternyata nama Jari Malaikat bukan nama kosong belaka." Puji Malaikat Petir kepada ketua Perguruan Jari Sakti. "Sepertinya Ilmu tertinggi Jari Sakti sudah dikuasai"
"Ahh tak berani tak berani aku menerima pujian dari seorang Malaikat Petir. Hanya ilmu kacangan itu saja mana bisa disebut luar biasa"
Sebenarnya hampir semua orang yang ada disitu terkagum-kagum dengan hasil yang dipertunjukkan oleh Jari Malaikat. Bagi kalangan dunia persilatan menghancurkan batu keras yang besar memang sangat sulit. Biasanya tidak bisa di hancurkan secara merata. Namun lebih sulit lagi melubangi batu dengan lubang sebesar kacang, tanpa membuat batu itu retak atau hancur.
"Selanjutnya ujian ilmu meringankan tubuh dan kecepatan." Potong Malaikat Bertangan Sakti. "Di pohon tinggi itu sudah ada 12 buah medali. Masing-masing orang mengambil satu lalu meletakkannya di sini." tambahnya lagi sambil menunjuk sebuah pohon besar yang sangat tinggi, kemudian menunjuk ke sebuah meja di sana.
Kalau dilihat tinggi pohon itu berkisar sepuluh tombak lebih. Tidak banyak orang yang mampu menaikinya hanya dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tanpa bantuan benda lain. Beberapa orang menyatakan mundur dari ujian, karena merasa tidak mampu melakukan kedua tantangan sekaligus.
Kini ujian kedua hanya diikuti oleh tujuh orang. Malaikat petir, Malaikat Bertangan Sakti, Jari Malaikat, Pendekar Halilintar, Dewi Selendang Ungu, Pendekar Kipas Maut, Ketua perguruan Macan Putih
"Kali ini biarkan yang muda memulai duluan." usul Jari Malaikat.
Tanpa banyak cakap Pendekar Kipas Maut melompat kearah pohon besar dengan cara beberapa kali menotolkan kakinya di permukaan pohon yang kasar, iapun berhasil mencapai puncak. Kemudian ia turun dengan bantuan kedua kipasnya bagaikan sebuah sayap. Setelah itu dengan sigap menaruh medali di atas meja yang disediakan.
Yang kedua Dewi Selendang Ungu. Beberapa kali lompatan saja dengan bantuan selendangnya ia berhasil mencapai puncak pohon dan mengambil medali. Kemudian dengan gerakan yang sangat indah dia turun berlari dengan selendangnya terhampar menuju meja peletakan medali. semua orang memandang kagum, apalagi ia satu-satunya perempuan yang menjadi kandidat.
Selanjutnya giliran Jaka. Kali ini demonstrasi menakjubkan diperlihatkannya. Bagaikan kilat ia berlari keatas puncak tanpa bantuan benda apapun. Hanya berlari meniti batang pohon. Kemudian dengan bantuan halilintarnya dia berlari dari atas puncak pohon ke meja peletakan medali. Malaikat Petir saja menggeleng-gelengkan kepala melihat pertunjukan muridnya.
"Selanjutnya biar aku ki" Ucap Malaikat Bertangan Sakti.
__ADS_1
Malaikat Petirpun mengangguk menyetujui. Sesudah itu mirip dengan apa yang dilakukan oleh Pendekar Kipas Maut ia melakukan beberapa kali totolan diatas batang pohon hingga mencapai puncak. Hanya saja perbedaanya yang dilakukan Malaikat Bertangan Sakti sekali menotol jaraknya lebih jauh dan lebih cepat. Lalu dengan melemparkan beberapa daun dijadikannya tempat berpijak menuju meja peletakan medali.
"Ha ha ha permainan bocah-bocah segala dipertontonkan" Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar di berbagai penjuru. Padahal di sana yang ada merupakan orang-orang yang berkepandaian tinggi namun tetap saja beberapa orang merasakan sakit telinganya dan sesak dada.
Entah kapan datangnya di atas puncak pohon tempat medali di letakkan telah berdiri seorang kakek-kakek hanya menggunakan celana tanoa memakai baju. Kemudian orang tua itu turun dengan mudahnya dari atas pohon menggunakan daun bagaikan berselancar di air. Sesampainya di tanah, orang tua itu menatap bergantian semua yang ada di sana.
"Eh mana Si Muka Hitam katanya sudah ada di sini" Tanya orang tua yang tak lain adalah Petapa Sakti Tanpa Nama itu.
"Salam Hormat tetua" ucap serentak memberi salam semua orang di situ sambil merangkapkan tangannya. Sedangkan Malaikat Petir, Jaka, dan Cempaka melakukannya dengan berlutut.
"Wah wah wah, apa-apan ini, ayo bangun semua! pertanyaan ku tadi belum di jawab. Mana Iblis Muka Hitam, katanya ada di sini"
Belum sempat pertanyaannya di jawab, tiba-tiba serangkum angin dahsyat menyerang ke arah Pertapa Sakti Tanpa Nama. Menyadari hal itu si orang tua pun mengibaskan tangannya mengirim pukulan untuk menangkis serangan.
Blammm..
Terjadi ledakan dahsyat saat bertemunya kedua pukulan di udara, membuat beberapa orang disana terdorong beberapa langkah karena gelombang angin yang tercipta.
Sebuah bayangan hitam melesat menyerang kearah Pertapa Sakti Tanpa Nama. Orang tua itu pun menangkis serangan. Keduanya terlibat dalam pertarungan saling serang. Bahkan bukan hanya peetandingan jurus yang di perlihatkan. Ilmu meringankan tubuh, dan ilmu kesaktianpun di keluarkan.
Saking cepatnya pertarungan itu sulit untuk diikuti pandangan mata. Hanya beberapa orang yang ada di situ dapat melihat jelas siapa yang bertarung. Cepat dan sering berpindah tempat, sehingga bagaikan bayangan yang berlompatan ke sana ke mari.
__ADS_1
Blammm...
Sekali lagi ledakan dahsyat terjadi. Dua sosok tubuh sama sama terlontar sejauh dua tombak. kemudian kedua orang itu berputaran di udara dan turun dengan mantap ke tanah. Ternyata bayangan hitam yang menyerang tadi tak lain adalah si Iblis Muka Hitam.
"Hahaha semakin tua semakin alot saja kau Suro Geti" Puji Iblis muka Hitam kepada Suro Geti atau Pertapa Sakti Tanpa Nama
Mungkin di dunia ini hanya beberapa orang saja yang kenal dan tau siapa sebenarnya Pertapa Sakti Tanpa Nama. Salah satunya adalah Iblis Muka Hitam yang juga merupakan salah satu sahabat dari Pertapa Sakti Tanpa Nama. Walau berbeda aliran, keduanya tak pernah saling bersinggungan dan saling mencampuri urusan masing-masing.
"Hahaha Kau juga Amok Seta. Tidak cuma mukamu saja yang makin hitam, tapi kemampuanmu semaki berisi" balas Pertapa Sakti Tanpa Nama.
Keduanya pun saling merangkul. Melihat itu ada sinar terang dari pancaran mata Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan Sakti. Dengan hadirnya kedua tokoh sakti ini, harapan mereka untuk bisa menang akan bertambah besar.
"Sebuah keberuntungan besar bagi dunia persilatan dengan kedatangan tetua berdua. Harapan kita bisa memenangkan pertandingan ini semakin besar" tutur Malaikat Bertangan Sakti seraya menjura kepada Pertapa Tanpa Nama dan Iblis Muka Hitam.
"Siapa itu?" potong Pendekar Kipas Maut memecah suasana seraya menunjuk ke bawah bukit yang memang bisa terlihat dari tempat mereka berada.
Di bawah bukit memang terlihat sebuah bayangan hitam sedang melesat cepat menuju keatas bukit. Dari cepatnya gerakan orang itu, dapat di ketahui ilmu meringankan tubuhnya sudah masuk tahap yang tinggi.
Tak lama kemudian bayangan hitam itu telah berada di atas, tepat berada di depan mereka berkumpul dengan jarak beberapa tombak saja. Orang itu berpakaian serba hitam, dengan gambar Istana dikelilingi api di dadanya. Dia memakai Caping dengan kain hitam mengelilinginya sehingga wajahnya tak terlihat.
"Salam hormat saya Pertapa Sakti Tanpa Nama" ucap orang bercaping itu.
__ADS_1