
Satu hari sebelum hari yang di tetapkan suasana Benteng Dewa terlihat sangat mencekam. Murid-murid beberapa perguruan yang berlatih sangat jarang sekali mereka mengeluarkan kata-kata. Keadaan nampak tegang memikirkan persiapan besok.
Jaka Andara si Pendekar Halilintar pun sudah pulih dari lukanya. Dengan bantuan Dewa Obat, membuat tenaganya cepat pulih seperti semula. Dia sudah membaur dengan beberapa murid yang sedah latihan, sehingga murid-murid tak segan-segan bertanya kepada Jaka.
"Jaka, apakah mungkin kita bisa menang?" tanya Arya. Hatinya diliputi keraguan akan hasil pertarungan nanti. Pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu sebenarnya tidak takut menghadapi musuh. Namun ia khawatir terjadi kerugian besar dialami Benteng Dewa dan penduduk di sekitarnya.
"Entahlah, mungkin kita perlu keajaiban untuk bisa memenangkan pertarungan ini." keluh Jaka
Tak lama kemudian datang Rupaksa bergabung.
"Tak terasa besok kita sudah harus bertarung mati-matian. Entah siapa yang menang belum bisa dipastikan. Tapi aku selalu berkeyakinan, kebaikan selalu akan menang melawan kejahatan."
"Mudah-mudahan" Sahut Arya setengah putus asa.
Bonggg....
Bonggg....
Bonggg...
Suara lonceng raksasa di bunyikan. Tanda semua orang yang berada di wilayah Benteng Dewa harus segera berkumpul di depan Gedung Utama Perguran Tangan Dewa.
Semua orang menghentikan aktivitasnya. Mereka langsung berjalan menuju bangunan utama. Beberapa diantaranya berlari ke sana. Bahkan ada yang menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Dalam waktu singkat lapangan kosong di depan gedung utama Perguruan Tangan Dewa itu dipenuhi dengan orang-orang persilatan aliran putih. Sedikitnya ada delapan perguruan besar yang bergabung dan beberapa pendekar yang tidak berasal dari perkumpulan. Diantaranya Perguruan Macan Putih, Bangau Putih, Teratai Putih, Bambu Sakti, Bunga Bidadari, Perkumpulan pengemis selatan, Perkumpulan Jari Sakti, Perguruan Golok Terbang, dan pendekar-pendekar lainnya. Sedikitnya ada dua ratusan orang berkumpul di sana.
"Dari segi jumlah nampak kita lebih unggul dari musuh, tapi dari segi kemampuan musuh kita memiliki jago-jago yang sulit dicari tandingannya." desah Arya melihat pemandangan barisan manusia di depannya.
__ADS_1
"Percayalah kawan, kebaikan selalu akan menang" pungkas Rupaksa.
Keriuhan terjadi. Masing-masing hadirin mengobrol dengan orang yang berada disampingnya. Bermacam-macam pendapat yang mereka utarakan menanggapi keadaan saat ini. Ada yang optimis akan menang, ada yang merasa pesimis. Bahkan ada yang berniat untuk mundur dari pertarungan.
Tak seberapa lama, rombongan para ketua Perkumpulan pun keluar dari Gedung. Kemudian mereka berjajar di pelataran bangunan yang tingginya beberapa jengkal dari tanah. Posisi mereka berhadapan dengan kumpulan orang-orang di situ.
Kemudian Malaikat Petir mengangkat tangannya keatas. Seketika semua orang diam.
"Terima kasih kepada kawan-kawan pendekar yang sampai hari ini masih bersama kami. Tak terasa Besok kita sudah akan berhadapan dengan orang-orang Istana Lembah Neraka. Kita menang berarti kita akan membebaskan dunia persilatan ini dari tangan-tangan penjahat yang kejam. Kita kalah, maka akan menjadi akhir aliran putih di dunia persilatan wilayah daratan ini.
Hari ini kita berkumpul di sini membicarakan rencana yang akan kita lakukan pada pertarungan besok. Kelak sejarah Dunia Persilatan akan mencatat, kalianlah pejuang-pejuang penegak kebenaran" Seru Malaikat Petir
"Hidup Aliran Putih"
"Hidup Aliran Putih"
ucapan Malaikat Petir disambut gemuruh hadirin yang berada di situ. Sedikit banyaknya kata-kata guru Pendekar Halilintar itu membangkitkan lagi semangat mereka.
Bukit itu di namai bukit kosong di karenakan memang bukit yangbtak berpenghuni. Bahkan di lembah ataupun sekitar bukit itupun tak berpenghuni. Pada kesempatan itu pula di sepakati sebagai pemimpin persatuan pendekar saat itu adalah Malaikat Bertangan Dewa.
Setelah selesai, semua membubarkan diri kembali ke tempatnya masing-masing. Sedangkan beberapa orang berilmu tinggi bersama para ketua perguruan pergi ke lapangan belakang.
"Saat ini hanya kita para tetua dan beberapa orang pendekar berilmu sakti ada di sini. Kita akan mengurut siapa yang memiliki kemampuan tertinggi dan urutan selanjutnya." terang Malaikat Petir.
"Aku belum mengerti ki, untuk apa ini dilakukan?" tanya Pendekar Kipas maut, satu diantara pendekar muda yang berkemampuan tinggi.
"Tadi sebelum berbicara di depan seluruh pendekar, kami sudah bersepakat untuk mencegah korban yang banyak kita akan menantang pihak Istana Lembah Neraka Bertanding."
__ADS_1
"Maksudnya ki?"
"Kita akan tantang lima jagoan mereka melawan lima jagoan kita untuk bertanding. Siapa yang menjadi pemenang terbanyak dalam lima pertarungan, maka pihaknya lah yang menjadi pemenang. Pihak yang kalah akan menyatakan takluk dan menerima pihak yang menang sebagai pemimpinnya. Dan bersedia bergabung dalam kelompok yang menang."
"Bagus sekali ki," timpal Arya. "Tapi apakah kita mampi memenangkan pertandingan ini."
"Makanya kita akan melakukan pertandingan kecil untuk menentukan siapa-siapa yang akan menjadi perwakilan kita. Nantinya siapa yang paling kuat dari musuh akan melawan yang terlemah dari kita, begitu sebaliknya."
"Rencana yang bagus ki, tapi apakah kita mampu mengungguli lima terbaik dari pihak Istana Lembah Neraka"
"Kita hanya perlu mengungguli tiga dari jago mereka. Untuk itulah kita buat pertarungan terbalik, yang terendah kemampuannya melawan musuh yang paling tinggi" terang Malaikat Petir lagi.
"Tapi apa mungkin mereka menyetujui tantangan kita?"
"Itulah yang kami takutkan, kebanyakan mereka yang beraliran hitam tak akan peduli dengan aturan-aturan kependekaran. Apabila mereka tak menyetuinya, terpaksa kita berjuang sampai titik darah penghabisan."
"Baiklah kita mulai saja" Potong Malaikat Bertangan Sakti,"Semua yang ada si sini berjumlah dua belas orang, kita akan bertanding kekuatan, kecepatan, dan daya tahan tubuh. Dewa Obat sudah membuatkan obat penyembuh luka dan pemulih tenaga. Asal tidak sampai mati akan segera bisa dipulihkan." tambahnya lagi.
"Yang pertama kita akan uji kekuatan tenaga dalam. Di sana sudah ada dua belas buah batu besar, masing masing menggunakan tenaga saktinya untuk menghancurkan batu."
Kedua belas orang di sana masing masing berdiri di depan dua belas batu berukuran besar dengan jarak kurang lebih empat tombak. Masing-masing mereka mengerahkan tenaga saktinya.
hiiyaaaaa
Haaaaaa
Teriakan demi teriakan mengiringi pukulan yang dilancarkan kedua belas orang yang dianggap memiliki ilmu paling tinggi yang berada di Benteng Dewa. Kedua belas buah batu itu hancur dengan tingkat kerusakan berbeda beda. Yang paling parah batu yang di hantam tenaga halilintar milik Jaka. Hampir tak bersisa, hancur menjadi butiran-butiran kecil seperti pasir.
__ADS_1
Lalu di susul batu yang menjadi bagian Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan Sakti. Kemudian disusul Cempaka.
Ada batu yang terlihat tak hancur. Malah seperti tak terganggu sedikitpun. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata Batu itu berlubang sebesar biji kacang dan tembus kebelakang. Yang Hebatnya batu itu tak hancur sama sekali. Menandakan tenaga yang di gunakan sangat terukur, dengan kecepatan dan kekuatan yang begitu teratur. Ternyata batu itu miliknya ketua Perguruan Jari Sakti