
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 225...
“Hmmm.. rupanya Perkumpulan Elang Sakti yang membantu orang tua itu selama ini.” Gumam Gardana sedikit emosi setelah melihat lambang bergambar elang di dada orang-orang berpakaian serba cokelat.
Kembali Gardana beserta istrinya terlibat pertarungan melawan puluhan anggota perguruan Elang Sakti. Walaupun dikeroyok puluhan orang, Gardana dan istrinya masih mampu melayani semua serangan. Meski begitu mereka pun tidak bisa mendesak para pengeroyok. Rupanya para penyerang dari perkumpulan elang sakti itu adalah salah satu dari tiga pasukan terbaik yang mereka miliki.
“Nyai, kalau begini terus kita akan kehabisan tenaga. Sepertinya orang-orang elang sakti memang berniat merebut kedua bocah itu dari kita. Cepat kau nyalakan tanda.” Ucap Gardana kepada istrinya.
Seketika istri Gardana menyalakan kembang api dan mengarahkannya ke atas langit. Tak lama kemudian sebuah kembang api kemerahan meledak.
“Hati-hati kedua Bedebah itu memanggil bantuan. Gunakan cakar besi beracun kalian!” teriak seorang lelaki tua berpakaian putih sambil membebaskan kakek tua beserta istrinya.
“Baik ketua..” jawab orang-orang perkumpulan Elang Sakti
Serangan orang-orang perkumpulan orang sakti semakin menghebat. Kali ini mereka menggunakan sebuah senjata cakar dari besi yang menempel di pergelangan tangan mereka. Serangan mereka pun beraturan menggunakan sebuah formasi serang dan saling melindungi. Setiap dari mereka yang akan kena serangan oleh Gardana maupun istrinya setiap kali itu juga orang yang berada di belakangnya menangkis dan yang dibelakangnya lagi menyerang.
Sreeeeettt.. sreeettt..
Bukk..
Gardana mendapatkan luka cakar di bagian pinggang dan lengannya. Sedangkan istrinya harus terjungkal akibat tendangan salah satu anggota perkumpulan Elang Sakti. Kedua suami istri itu pun nampak sudah mulai kelelahan. Hampir-hampir mereka sudah tidak sanggup lagi untuk melakukan perlawanan.
Blammmm..
Di saat yang sangat kritis, saat puluhan pasang cakar besi hendak mengenai tubuh Gardana, tiba-tiba saja melesat sebuah sinar berwarna merah yang mengandung hawa panas ke arah anggota perkumpulan Elang Sakti. Ledakan dahsyat pun terjadi. Akibatnya puluhan anggota perkumpulan elang sakti berpakaian coklat itu pun terlempar belasan tombak kebelakang. Hampir separuh dari anggota perkumpulan Elang Sakti berpakaian coklat tewas sedangkan yang lainnya mengalami luka dalam.
“Bedebah! Siapa kau berani-beraninya membunuh dan melukai orang-orang ku.” Bentak ketua perkumpulan Elang Sakti.
__ADS_1
Kini tepat ditengah-tengah antara kedua belah pihak yang berlawanan berdiri seorang pemuda berpakaian Jingga bercampur hitam. Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahunan. Tatapan matanya mencorong tajam menandakan tenaga sakti yang ia miliki sudah mencapai tarap yang sangat tinggi.
“Siapakah pemuda itu. Mengapa ia juga memiliki pukulan api yang mirip dengan tenaga inti api dari istana Lembah neraka maupun tenaga api milik Nalini.” Gumam Bayu yang dari tadi memperhatikan jalannya pertarungan antara Gardana dengan lawannya.
“Aku juga merasa pemuda itu memiliki kesaktian yang hampir mirip dengan orang-orang Istan Lembah mereka maupun Kak Nalini. Siapakah dia sebenarnya?" sahut Intan
“Orang tua sebaiknya kau pergi meninggalkan tempat ini! Mumpung aku masih bermurah hati padamu. Kalau kau masih ikut campur urusanku, akan ku bumi hanguskan pengumpulan elang saktimu itu dengan api.” Ancam pemuda itu kepada ketua perkumpulan Elang Sakti.
“Bedebah sialan.. Bocah bau kencur seperti kau mau mengancam aku. Jangan kau kira aku takut dengan tipuan murahan mu itu.” Maki ketua perkumpulan Elang Sakti. “Anak-anak habisi bocah besar mulut itu.” Perintah orang tua itu kepada anak buahnya yang baru saja datang.
Memang tak lama setelah terjadinya ledakan tenaga oleh serangan pemuda berbaju jingga bercampur hitam itu, sekitar delapan orang anggota perkumpulan Elang Sakti berpakaian serba hitam muncul. Delapan orang ini merupakan pasukan khusus yang kehebatannya berada di urutan nomor dua dari tiga pasukan yang perkumpulan elang sakti miliki. Pasukan kedua ini dikenal dengan kemampuannya menggunakan senjata rahasia.
Singg.. singg..
Benda-benda kecil melesat ke arah Pemuda berbaju jingga kehitaman. Benda-benda kecil yang merupakan senjata rahasia itu dilemparkan oleh anggota perkumpulan elang sakti yang mengenakan baju hitam. Jumlahnya tidak sedikit mungkin ada ratusan.
Dengan mudah pemuda itu mampu menghindari setiap serangan senjata rahasia yang dilemparkan. Bahkan pemuda itu hampir tidak berpindah dari tempatnya. Ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menghindari setiap serangan. Bahkan beberapa senjata yang mampu ia kembalikan kepada pemiliknya.
Satu orang penyerang yang berpakaian serba hitam roboh terkena senjatanya sendiri. Senjata itu melesat dengan cepat bahkan dengan kekuatan berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tak pelak senjata kecil yang langsung mengenai pelemparnya itu menembus kepala.
Tak berselang lama, dua orang lagi penyerang berpakaian serba hitam roboh dengan dada berlubang oleh senjatanya sendiri. Tentu saja hal ini membuat ciut nyali temannya yang lain. Selanjutnya tak ada lagi orang yang berpakaian serba hitam maju menyerang Pemuda berpakaian jingga kehitaman itu. Mereka semua jerih melihat kesaktian si pemuda.
“Boleh juga kau anak muda rupanya harus aku sendiri yang menjadi lawanmu.” Puji ketua perkumpulan Elang Sakti.
Orang tua berbaju putih itu pun langsung melesat menyerang Pemuda berpakaian jingga bercampur hitam. Ia menggunakan jurus-jurus terhebat yang dimilikinya. Tenaga saktinya pun telah dikerahkan hingga ke puncak. Meski begitu sulit bagi orang tua itu menyentuh si anak muda walaupun hanya bajunya saja.
“Hmmm.. rupanya pemuda ini memang benar-benar hebat. Terpaksa aku harus menggunakan ilmu pamungkasku.” Gumam ketua perkumpulan Elang Sakti sesaat setelah orang tua itu melompat mundur beberapa langkah.
“Ajiiaan elang putih hiyaaa..”
__ADS_1
Ketua perkumpulan Elang Sakti. Memekik keras sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Tiba-tiba saja tubuh orang tua itu berubah menjadi berwarna putih seperti kapur. Warna putih itu meliputi seluruh kulit tubuhnya.
Setelah itu seluruh tubuhnya berubah menjadi berwarna keputihan. Ketua perkumpulan Elang Sakti itu pun menyerang Pemuda berbaju jingga kehitaman. Dengan jurus elang bersilat orang tua itu menyerang lawannya. Sangat terlihat perubahannya, setiap gerakan orang tua itu menjadi lebih cepat dan lebih bertenaga.
Braaaakkk..
Sebuah cakar milik ketua perkumpulan elang sakti hampir mendarat di bahu pemuda berbaju jingga. Untung saja pemuda itu gesit hingga membuat serangan si orang tua meleset. Cakar itu menghantam sebuah patung yang terbuat dari batu. Seketika patung itu hancur terkena serangan orang tua itu.
“Besar juga tenaga orang tua ini. Baiklah sekalian mencoba hasil latihan dan pemberian tenaga dari Dewi api akan ku lawan dia keras dengan keras.” Gumam si pemuda berpakaian serba jingga kehitaman.
Blammmm...
Terjadi ledakan yang sangat dahsyat oleh bentrokan dua tenaga. Akibatnya beberapa tempat menjadi porak poranda. Ketua perkumpulan Elang Sakti terpental beberapa tombak hingga jatuh ke tanah. Mulut orang tua itu langsung menyemburkan darah. Sementara si pemuda tetap kokoh berada di tempatnya.
“Hahaha memang luar biasa kehebatan tenag api ini.” Ucap pemuda itu kepada dirinya sendiri. “Akan kucuba seberapa kuat dan panas tenaga ini untuk membakar orang tua itu.” Gumamnya lagi.
Si pemuda mengerahkan tenaga saktinya hingga ke puncak. Tubuh pemuda itu memancarkan api berwarna merah. Kemudian kedua tangannya di arahkan kepada ketua perkumpulan elang sakti. Lalu dengan sekali hentakkan ia layangkan sebuah serangan kepada orang tua itu.
Wussssshh..
Sebuah pukulan jarak jauh mengandung api merah melesat ke arah ketua perkumpulan Elang Sakti. Orang tua itu hanya pasrah menerima nasib. Tepat saat serangan akan mengenai orang tua itu, sebuah bayangan merah melesat dan berhenti di depan ketua perkumpulan Elang Sakti itu. Kemudian bayangan merah yang tak lain adalah Bayu itu menangkap serangan api dan mengembalikan ke pemiliknya.
Blaaammmm..
Pemuda berbaju jingga kehitaman terpental sejauh tiga tombak. Dengan cepat ia bangkit. Baru saja ia berdiri kembali, mulutnya menyemburkan darah segar. Walau begitu ia tetap bertahan berdiri tegak. Dengan jarak enam tombak, dua pemuda sakti saling bertatapan dengan tajam.
“Dari mana kau dapatkan kekuatan itu?” tanya Bayu dingin.
**Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya**.