Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
38. Rahasia Rajawali Merah


__ADS_3

Pertapa tanpa nama menganggukkan kepala membalas penghormatan orang bercaping.


"Apa yang sudah kalian persiapkan untuk besok?" tanya orang bercaping sambil mengarahkan pandangannya ke arah Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan Sakti yang saat itu berdiri berdampingan.


"Kami akan menantang bertanding pihak Istana Lembah Neraka lima lawan lima, dengan siapa yang menang akan menjadi pengikut yang kalah" jawab Malaikat Petir.


"Apakah kalian kira mereka akan menyetujui? Kebanyakan orang-orang beraliran hitam tak akan peduli dengan aturan aturan ke kesatriaan kaum persilatan. Kurasa mereka tak akan menyetujui"


"Tak ada salahnya kita coba" Celetuk Pendekar kipas maut. Sontak semua pandangan beralih padanya. Pendekar Kipas Maut pun menutup mulutnya merasa kelepasan omong.


Orang bercaping pun melanjutkan bicaranya.


"Mau tidak mau kalian harus tetap menyiapkan orang-orang terpandai besok. Sebaiknya para murid yang memiki kemampuan tak seberapa tidak perlu diikutkan. Hanya membuang nyawa sia-sia."


"Apakah dengan keadaan kita saat ini mampu melawan musuh?" Tanya Malaikat Bertangan Sakti.


"Seandainya mereka tanpa Rajawali Merah, tentu keadaan kita saat ini bisa dibilang berimbang, bahkan unggul dari sisi jumlah. Apalagi aku sudah menyiapkan rencana untuk tiga Dewa Dunia Persilatan. Yaitu merebut Lonceng Pengikat Jiwa atau menghancurkannya."


"Menghancurkannya? bukankah itu bisa berakibat kematian bagi mereka bertiga?" tanya Malaikat Bertangan sakti


"Ya begitulah, kalau memang itu terpaksa, mau tidak mau kita harus melakukannya. Tapi bukankah ada Dewa Obat di pihak kalian? siapa tau orang itu bisa memberikan pemecahan masalah itu."


"Ah.. benar sekali. Mengapa tidak terpikirkan sampai kesana." timpal Malaikat Petir. "Lalu untuk ketua Istana Lembah Neraka sendiri apakah kau punya rencana? tambahnya.


"Kalau aku sebenarnya tidak ada. Kalau untuk mengalahkan ketua, mungkin di dunia persilatan saat ini tidak ada yang mampu melakukannya."


"Hmmm. Apakah sesakti itu? geram Petapa Tanpa Nama yang di sebelahnya juga berdiri Iblis Muka Hitam sedang Bersedekap.


"Dengan Menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta sampai tingkat ke lima, rasanya sepuluh orang seperti tetua pun kesaktiannya bergabung masih belum mampu menyentuhnya." Balas orang bertopeng

__ADS_1


Duaarrr...


Sebuah batu pecah akibat tenaga sakti yg dilontarkan Petapa Tanpa Nama dari jarak yang cukup jauh. Orang tua sakti itu agak tersinggung dengan ucapan orang bercaping.


"Baiklah, akan aku lihat sendiri seperti apa kemampuannya. Di Manakah dia berada sekarang?"


"Maafkan aku tetua, bukan bermaksud menyinggung atau meremehkanmu, aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat. Bila kau ingin menemuinya, saat ini dia berada di desa Anjum Anyam sebelah selatan bukit kosong. Dia bersama pengawal pribadinya."


Petapa Sakti Tanpa Nama pun melesat meninggalkan tempat itu diiringi Iblis Muka Hitam.


Orang bercaping pun melepas caping yang menutupi kepala dan wajahnya. Semua orang pun dibuat terkejut setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Pendekar Tongkat Emas!" Seru Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan Sakti berbarengan.


Ternyata orang yang selama ini orang yang selalu memberikan informasi kepada mereka tentang Istana Lembah Neraka adalah Pendekar Tongkat Emas.


"Tenang Ki, aku bergabung dengan mereka ada tujuan, bukan untuk menjadi gembong penjahat," jawab Pendekar Tongkat Emas sambil tersenyum. "dan sebenarnya aku bergabung dengan Istana Lembah Neraka karena perintah seseorang." tambahnya.


"Seseorang? siapa ki?" tanya Malaikat Petir penasaran. Dalam hatinya heran siapa yang bisa membuat seorang Pendekar Tongkat Emas tunduk dan melaksanakan perintah. Apalagi kabarnya Pendekar Tongkat Emas telah memutuskan mengundurkan diri dari dunia persilatan.


"Aku belum bisa memberitahukan tentang orang itu. Yang pasti dia memiliki tujuan baik untuk dunia persilatan. Dan pesannya padaku untuk di sampaikan kepada kalian semua, Istana Lembah Neraka bukanlah masalah dunia persilatan yang sebenarnya. Ada bahaya yang lebih besar mengancam dunia persilatan" Ungkapnya.


"Bahaya yang lebih besar, apa itu ki? apa yang lebih besar dari Istana Lembah Neraka. Ini saja sudah banyak menimbulkan korban nyawa." Keluh Malaikat Petir.


"Entahlah, aku sendiri tidak diberitahu masalah itu."


"Lalu apa lagi informasi yang kau dapat ki tentang Istana Lembah Neraka". kali ini Pendekar Kipas Maut yang kembali bertanya.


"Tentang Rajawali Merah. Ternyata anak itu tidak ada ikatan darah atau kaitan sama sekali dengan Raja Iblis Bukit Tengkorak."

__ADS_1


"Anak? apa maksudnya ki? apa maksudmu Ketua Istana Lembah Neraka itu masih anak-anak?" timpal Jaka, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Benar, dia masih pemuda tanggung berumur 16 tahun. Dan pewaris sebenarnya Majikan Istana Lembah Neraka yang telah tewas. Namun sampai sekarang tidak ada yang tau siapa dan apa penyebab kematiannya."


"Lalu bagaimana ceritanya sampai Iblis Bukit Tengkorak itu berkaitan dengan Istana Lembah Neraka?"


"Entahlah, sampai sekarang aku masih belum mendapatkan petunjuk tentang itu."


"Yang aku masih penasaran bagaimana anak itu bisa menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta semuda itu, bahkan sudah mencapai tingkat lima." tukas Malaikat Petir.


"Dari keterangan yang ku dapatkan, Raja Iblis Bukit Tengkorak menemukan sebuah kitab yang ternyata berisi Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Semula ia sendiri yang ingin mempelajarinya, namun selalu gagal Bahkan mengalami luka dalam yang parah."


"Mengapa bisa begitu ki?" Tanya Dewi selendang ungu yang gatal juga mulutnya harus terus diam.


"Karena Ilmu ini tidak bisa dipelajari oleh orang yang memiliki ilmu sesat atau beracun. Hanya orang berhati lurus bisa mempelajarinya. Rajawali Merah mempelajari ilmu ini sejak berumur sepuluh tahun. Dengan cara melatih semedi dan pernafasan yang dialiri tenaga sakti oleh tiga Sakti Dunia Persilatan. Karena kalau dengan cara biasa untuk bisa mempelajari tingkat pertama Ilmu ini sedikitnya memerlukan waktu dua puluh tahun."


"Kalau seperti itu seharusnya dia bukan orang yang jahat ki" Sela Dewi Selendang Ungu lagi.


"Seharusnya memang seperti itu. Namun dikarenakan ilmu beracun yang dialirkan ke kepalanya oleh Raja Iblis Bukit Tengkorak, menyebabkan anak itu terkadang hilang kendali. Sehingga membuatnya bersifat dingin dan kadang tak bisa mengendalikan diri" jawab Pendekar Tongkat emas sambil menghela nafas berat.


"Jadi apa yang harus kita lakukan terhadapnya?" tanya Malaikat Petir menimpali.


"Entahlah. Tapi urusan Rajawali Merah itu menjadi tanggung jawab orang yang memberikanku perintah. Tapi yang pasti cepat atau lambat Rajawali Merah sendiri akan tewas oleh racun yang ada di kepalanya. Semakin banyak ia mengerahkan kekuatannya, semakin ia dekat akan kematian".


"Baguslah kalau begitu, berarti kita tak perlu repot-repot memikirkan si Rajawali Merah itu."


"Tidak seperti itu ki, Raja Iblis bukit tengkorak sudah memikirkan hal ini dengan matang. Kalau aku tak salah dengar pemuda itu akan menemui azalnya sepekan sesudah penyerangan ke tempat ini. Atau saat dia mengerahkan seluruh tenaganya sampai ketingkat ke enam Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta."


Saat pembicaraan semakin menarik dan menegangkan semua orang yang ada di situ, tiba-tiba dari bawah bukit terlihat sebuah bayangan hitam melesat dengan cepat keatas. Tak lama kemudian bayangan hitam yang ternyata Iblis Muka hitam itu datang memapah Pertapa Sakti Tanpa Nama yang terluka berat. Ia sendiripun mengalami luka dalam namun tak seberat sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2