Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Intan dan Nalini Menuju kuil Agung


__ADS_3

Episode 311


Pagi-pagi sekali Pranggala tiba di istana Nagendrapura setelah menempuh dua hari perjalanan. Kedatangan Pranggala tersebut tentu saja membuat Prabu Ragalawing sangat gembira. Dia mengira bahwa Pranggala akan membatalkan niatnya untuk menjadi mahapatih di kerajaan Nagendrapura.


“Salam hormat, yang mulia raja. Maafkan hamba Baginda karena terlambat datang ke istana. Hamba siap dihukum karena keteledoran hamba,” seru Pranggala sambil berlutut satu kaki dihadapan Prabu Raga Lawing yang saat ini berada di singgasananya.


“Hahaha, aku tidak menyalahkan mu. Bangunlah, sesegeranya kita akan melakukan penobatanmu sebagai maha latih kerajaan Nagendra Pura,” sahut Sang Raja.


Pranggala pun bangkit dari berlututnya atas perintah sang raja. Kemudian Raja memerintahkan para bawahannya agar bersiap untuk melakukan prosesi penobatan Pranggala menjadi mahapatih. Mendapat perintah dari raja, beberapa prajurit dan beberapa orang pejabat istana melakukan persiapan untuk penobatan Pranggala Sebagai Maha Patih.


Keesokan harinya, acara prosesi penobatan Pranggala menjadi mahapatihpun dilaksanakan. Acara itu dilaksanakan di aula utama kerajaan kan Nagendrapura dan langsung dipimpin oleh Prabu Raga Lawing. Dengan bergabungnya Pranggala dalam sistem pemerintahan kerajaan, tentu saja kekuatan kerajaan Nagendrapura menajdi bertambah.


Tak berapa lamapun prosesi penobatan selesai. Hari itu juga Pranggala mulai menjalankan tugasnya sebagai maha patih. Pranggala juga mendapatkan  sebuah rumah besar yang letaknya tak jauh dari istana kerajaan. Pranggala bertugas sebagai wakil raja yang mengurusi berbagai hal terutama masalah keamanan negeri Nagendrapura.

__ADS_1


Sementara itu di Negeri Kecil yang baru saja terbentuk, Negeri Ganendra Intan dan Nalini sangat gelisah menunggu kabar dari Pranggala. Sudah dua pekan semenjak kepergian Pranggala, tak ada kabar sedikitpun darinya. Seharusnya satu pekanpun sudah cukup waktunya Pranggala memberikan kabar tentang hasil yang ia peroleh untuk menyelematan Bayu.


“Kak Nalini, apakah tidak sebaiknya kita susul paman  Pranggala ke kerajaan Nagendrapura agar kita bisa mengetahui perkembangan dari pembicaraannya kepada raja?” tanya Intan kepada Nalini.


Saat itu Intan dan Nalini sedang berbincang-bincang di taman sekitaran istana. Mereka mempermasalahkan kabar yang tak kunjung datang dari Pranggala. Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya akhirnya Intan dan Nalini berangkat ke Istana Nagendrapura. Setelah dua hari perjalanan merekapun tiba di sana.


Intan dan Nalini tidak langsung menuju ke kerajaan untuk menemui Pranggala. Ia mencoba untuk mencari tahu keadaan kota raja sekarang dan bagaimana pemerintahan raja yang sekarang. Dari informasi yang ia kumpulkan ia mendapatkan kesimpulan bahwa Raja yang sekarang memerintah cukup baik hingga mendapatkan kepercayaan dan dukungan rakyat. Tapi di balik itu ia juga mendapatkan informasi lain yang membuat kesalah pahaman terjadi.


Intan dan Nalini mendapatkan Informasi betapa keadaan Pranggala saat ini sangat menyenangkan. Selain menjadi ornag nomor dua di negeri ini, ia juga mendapatkan fasilitas yang sangat baik dari sang Raja. Karena hal ini kedua gadis itu menyangka bahwa Pranggala telah mabuk kemewahan sehingga melupakan  Bayu.


Sementara sang Prabu sendiri, terlalu sibuk menikmati kemenangannya. Walaupun tidak sampai merugikan rakyat, namun sifatnya yang suka akan kesenangan duniawi kelak akan dimafanfaatkan orang-orang penjilat di sekitarnya. Begitulah kehidupan manusia, apabila dunia yang ia kejar, meski dunia yang ia dapatkan, tapi dunia itu juga yang kelak menghancurkannya.


Intan dan Nalini yang Pranggala tidak bisa lagi diharapkan, memutuskan untuk pergi berdua menuju kuil agung. Tak menunda-nunsa waktu lagi, keduanya langsuk beranjak meninggalkan kota raja menuju kuil agung menunggang kuda. Melakukan perjalanan sebagai perempuan, tidak jarang keduanya mendapatkan gangguan di perjalanan. Apalagi keadaan masa peralihan kekuasaan ini, keadaan pasukan kerajaan yang terpusat di kota raja, banyak dimanfaatkan penjahat-penjahat untuk melakukan perampokan.

__ADS_1


Kuil agung terletak di pegunungan Khayangan. Untuk bisa kesana orang harus melewati hutan lebat yang mengelilingi gunung. Meski mereka hanya melakukan perjalanan berdua saja, sebagai orang yang berilmu tinggi, sedikitpun tak ada rasa gentar di hari mereka. Keduanya memasuki hutan yang terbilang sangat gelap karena ditumbuhi pepohonan yang sangat rindang.


Di dalam hutan beberapa keduanya harus berhadapan dengan binatang buas seperti harimau dan beruang. Yang anehnya hewan-hewan yang mereka hadapi seperti memiliki ilmu tenaga dalam, yang membuat mereka begitu kuat dan serangan mereka begitu ganas. Keduanya menduga hewan-hewan itu memang dilatih sebagai penunggu hutan itu. Entah siapa yang melatihnya, yang pasti orang itu adalah orang sakti hingga membuat hewan-hewan itu memiliki kemampuan diatas rata-rata hewan-hewan biasa.


Cukup lama Intan dan Nalini melakukan perjalanan di hutan, akhirnya mereka tiba juga di Kaki gunung pintu masuk ke kawasan  kuil agung. Di sana ada dua orang resi menjaga. Keduanya berpakaian serba putih dengan selembar kain menutup sebagian kepalanya. Di kuil agung sendiri terdapat dua jenis pelayan Tuhan, ada yang berpangkat sebagai resi ada yang berpangkat sebagai pendeta. Keduanya memiliki peranan dan kedudukan yang sama, hanya jenis pakaiannya saja yang berbeda (tidak mengambil jenis agama dan  pemuka agama tertentu, hanya menyesuaikan penyebutan nama di Nusantara).


“Berhenti Nisanak, silakan tinggalkan senjata bila hendak ke kuil,” cegat salah seorang resi saat mereka hendak nyelonong naik ke atas.


Diantara mereka berdua hanya nalini yang menggunakan pedang. Gadis dengan tidak keberatan meninggalkan pedangnya kepada resi penjaga. Setelah  menitipkan senjatanya kepada penjaga, mereka berdua diijinkan untuk ke atas.


Lebih dari sepenanakan nasi mereka berjalan menuju ke atas, akhirnya keduanya pun sampai di depan kuil agung. Di depan kuil terdapat beberapa orang pendeta dan resi yang menjaga. Keduanya pun ditanya tentang tujuan mereka. Intan pun menjawab bahwa mereka datang ke kuil Agung untuk bertemu dengan manusia suci kuil agung.


“Maafkan kami Nisanak berdua, ada keperluan apa engkau hendak bertemu dengan pemimpin Agung?” Tanya salah seorang resi yang merasa kedatangan mereka berdua bukanlah untuk sekedar bersembah yang di kuil.

__ADS_1


“Kami Anda bertemu dengan manusia suciku lagu untuk menjemput teman kami yang beberapa waktu  lalu beliau bawa untuk berobat. Sudah lebih dua pekan ia belum juga kembali maka kami berinisiatif untuk menjemputnya di sini,” jawab Intan.


Mendengar jawaban dari Intan, beberapa resi dan juga pendeta yang kebetulan berada di situ pun saling pandang. Mereka memang mengetahui bahwa sang manusia Suci kuil Agung yang menjadi pemimpin di kuil itu beberapa waktu yang lalu membawa seorang pemuda. Namun yang mereka tahu pemimpin agung bukan membawanya untuk berobat melainkan menangkapnya karena telah membunuh saudara mereka.


__ADS_2