
Cempaka memeluk suaminya yang sudah tak berdaya. Hanya hembusan nafas dan detak jantung yang lemah tersisa. Air mata Dewi Selendang Ungu mengalir dengan derasnya. Mulutnya tak berhenti memanggil-manggil nama suaminya.
Entah Bagaimana caranya, Rajawali Merah bukan hanya mampu meredam pukulan sakti tingkat terakhir Pendekar Halilintar. Bahkan ia membalikkannya menyerang sang pemilik. Kini Bayu Aruna mengambang di udara perlahan-lahan mendekati Jaka dan Cempaka. Bagaikan Malaikat Maut, wajahnya menunjukkan keangkeran.
"Bayu..." Desah Cempaka Lirih. Baru kali ini dia melihat Rajawali Merah yang ternyata adalah Bayu yang di kenalnya.
Sementara itu Rajawali Merah yang sudah dapat melihat siapa lawan yang menyerangnya, tak sedikitpun memperdulikan. Matanya yang mulai menampakan kilatan-kilatan halus menandakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta mulai memancar dari tubuhnya. Biasan embun yang keluar dari tubuh Ketua Istana Lembah Neraka itu membuat keadaan sekelilingnya menjadi sangat dingin.
Rajawali Merah mengangkat telunjuk kanannya keatas. dari jari itu terlihat seperti embun tipis yang menguap memancar. Sesaat kemudian telunjuk itu di arahkan nya ke Pendekar Halilintar yang tergeletak dipangkuan Cempaka. Melihat hal tersebut Istri Pendekar Halilintar itupun langsung melindungi suaminya dengan cara membiarkan dirinya menjadi tameng pelindung dan merentangkan kedua tangannya.
Di saat selapis embun membentuk garis memanjang yang keluar dari telunjuk kanan Rajawali merah itu hampir mengenai jantung, Bayu pun mulai timbul kesadarannya. Serangkum tenaga yang menyerang itupun berhenti sejengkal sebelum mengenai Cempaka. Langsung saja tenaga sakti itu ditariknya. Itulah kehebatan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta yang dapat diatur sesuka hati pemiliknya.
"Pulang lah kak Cempaka, Bawa serta suamimu." ucap Bayu seraya berbalik badan menghampiri pengawalnya yang masih pingsan. "Sebaiknya kalian tak usah ikut campur masalah ini." tambah Jaka lagi.
"Pihak Benteng Dewa Menginginkan Pertemuan di lakukan di Bukit kosong."
"Ya, Aku sudah tau itu."
"Bolehkah aku mengajukan permintaan padamu?"
"Katakanlah!"
"Kelak bila Istana Lembah Neraka yang menang, jangan sakiti penduduk yang tak bersalah."
"hmmm" hanya itu balasan Rajawali Merah.
Bayu mengenakan kembali topengnya yang tadi terlepas. Dengan memberikan beberapa totokan kepada Pranggala, dia berhasil membuat lelaki itu siuman. Pranggala yang baru saja sadar dari pingsannya, kebingungan melihat keberadaan orang lain di dekat mereka. Seorang perempuan sedang memangku laki-laki yang terluka.
__ADS_1
"Sudahlah kau istirahat saja paman. Pulihkan dulu tenagamu. Tak usah perdulikan apa yang terjadi di sini."
Bayu pun kembali menghampiri Cempaka. Pemuda itu memberikan beberapa totokan kepada cempaka. Kemudian Dia mengalirkan tenaga Saktinya ke tubuh Istri Pendekar Halilintar itu.
"Cepatlah kau bawa suamimu, dia memerlukan pertolongan cepat, di Benteng Dewa sudah ada Dewa Obat yang bisa membantumu. Aku tidak mengerti Ilmu pengobatan untuk bisa menyembuhkannya."
Cempaka mendongak, menatap ke arah Bayu. Ada perasaan ngeri mendapati kenyataan bahwa pemuda itu sudah mengetahui keadaan di Benteng Dewa. Dalam hatinya ia merasa tak ada kesempatan untuk pihaknya bisa memenangkan pertarungan.
"Di dalam tubuhmu telah aku titipkan tenaga sakti dari Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Kekuatan itu akan bertahan kira-kira sepenanakan nasi, tapi sudah cukup untuk kau gunakan dalam ilmu meringankan tubuh kembali ke Benteng Dewa.
Setelah berbicara kepada Cempaka, dalam sekelebat Bayu menghilang di tempat itu bersama Pranggala, meninggalkan Cempaka bersama suaminya. Ada perasaan ragu di hatinya apakah bisa kembali dengan cepat. Sedangkan dia sendiri ketempat itu dari Benteng Dewa memerlukan waktu dua hari dua malam perjalanan tanpa istirahat. Untung saja saat pergi mereka dibekali pil yang bisa memulihkan tenaga dengan cepat, sehingga setelah sampai bisa kembali memulihkan tenaganya.
"Cepatlah kak Cempaka"
Suara Bayu yang entah dari mana mengejutkan wanita itu. Diapun bergegas mengangkat suaminya dan segera berlari menuju Benteng Dewa. Benar saja, kurang lebih sepeminuman teh lamanya dia sudah berada di Benteng Dewa.
"Cepat tolong panggilkan Dewa Obat, Suamiku terluka"
Setelah beberapa saat terbengong, beberapa orang yang kebetulan ada di sana langsung menghampiri Cempaka untuk membantu. Namun belum sempat menghampiri, kembali Istri Pendekar Halilintar itu melesat kedalam membawa suaminya. Sungguh cepat pergerakan wanita itu.
"Sungguh tak bisa dibayangkan, Pendekar halilintar dan Istrinya yang memiliki kesaktian seperti Setan itu saja kalah, entah bagaimana sebenarnya kesaktian musuh-musuh kita itu" ucap salah seorang murid kepada temannya yang lain.
Sesampainya di aula tempat pertemuan, Cempaka berteriak-teriak memanggil Dewa Obat. Kekhawatirannya terhadap suaminya membuat dia seperti orang kesetanan berteriak ke sana kemari.
Tak lama kemudian muncul Ketua Perguruan Macan Putih dan Ketua Perguruan Putih muncul di tempat itu.
"Apa yang terjadi nak Cempaka? tanya ketua perguruan Bangau Putih.
__ADS_1
"Kakang Jaka terluka saat mencoba menyerang Pimpinan Istana Lembah Neraka." sahut Cempaka
Kemudian kedua Ketua Perguruan itupun mengajak Cempaka menuju ruang pengobatan. Sesampainya di dalamDi dalam, sudah ada Dewa Obat yang sedang meracik ramuan. Melihat Jaka yang sedang terluka di papah kedua ketua perguruan. Orang tua itupun langsung memeriksa luka-luka Jaka.
"Tenaga inti Halilintar. Bagaimana bisa nak Jaka terluka oleh tenaganya sendiri?" tanya Dewa Obat kepada Cempaka.
Di sana juga sudah ada Malaikat Petir dan Malaikat Bertangan Sakti. Yang kelihatan sangat khawatir Malaikat Petir. Tentu saja hal itu dikarenakan Jaka Andara adalah satu-satunya murid dan ahli waris seluruh kepandaiannya.
Secara singkat Cempaka menceritakan apa yang mereka alami saat menemui pimpinan dari Istana Lembah Neraka tersebut. Hanya saja tentang siapa Rajawali merah yang sebenarnya juga ia kenal tidak dikatakan.
"Begitulah Ki, Entah kenapa saat itu dia tidak membunuh kami. Mungkin memiliki alasan sendiri." selesai Cempaka bercerita, tiba-tiba ia pingsan.
Dewa obat pun langsung memeriksa Dewi Selendang Ungu. Didapatinya tenaga istri pendekar halilintar itu kehabisan tenaga.
"Ilmu meminjamkan tenaga. Siapakah yang membantu wanita ini?" gumam Dewa Obat.
Lelaki itupun menjejalkan semacam pil pemulih tenaga kepada Cempaka. Tak berapa lama kemudian wanita itu tersadar dari pingsannya. Setelah siuman, langsung saja dia menghampiri dan memeriksa suaminya yang ternyata masih belum berubah keadaanya.
"Mengapa Kang Jaka masih belum siuman ki? tubuhnya pun masih membiru."
"Maafkan aku anakku. Aku sudah berusaha keras mengeluarkan tenaga halilintar yang menyerang tubuhnya di dalam, tapi tenagaku belum sanggup melakukannya. Sepertinya hanya Rajawali Merah itu sendiri yang mampu melakukannya."
"Apakah tidak ada yang mampu kita lakukan ki?" sela Malaikat Petir yang juga bertambah kecemasannya.
Dewa Obat hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan orang tua itu.
"Kakaaaang..." teriak Cempaka histeris sambil memeluk erat Jaka mendapati kenyataan suaminya tak mungkin tertolong lagi.
__ADS_1