Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
41. Hari Pertarungan part 1


__ADS_3

Dua hari yang lalu Bayu sedang asik bersandar di bawah pohon ditemani rajawali yang selalu datang saat dipanggil. Memang hewan piaraannya yang satu itu selalu mengikutinya dari kejauhan. Waktu itu Bayu memain-mainkan kalung yang pada buahnya terdapat ukiran namanya. Secara tak sengaja ia menekan tombol kecil yang ada di situ. Buah kalung yang berbentuk telur rajawali itupun terbuka. Ada secarik kertas berisikan pesan di dalamnya.


Anakku pergilah ke sebelah kanan Lembah Neraka. Di sana terdapat makam keluarga kita. Carilah makam ke lima dari utara kemudian gali. Di sana kau akan mendapatkan petunjuk


Melihat isi pesan itu, Bayu mengerahkan Tenaga Saktinya ke sampai kepuncak. Kemudian menggunakan ilmu Bianglala Melukis Langit pergi menuju Lembah Neraka. Hanya dalam waktu singkat pemuda itu sudah berada di Lembah Neraka. Langsung saja dia mencari tempat yang di tulis dalam pesan tersebut.


Ternyata di sana memang terdapat makam tertutup semak-semak yang tinggi. Sesuai petunjuk pesan dia mencari makam ke lima yang dihitung dari sebelah utara. Diantara semua makam, memang terlihat makam itulah yang paling baru. Baru saja Bayu akan membongkar makam tersebut, tiba-tiba dia merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Saking tak kuatnya menahan pemuda itu bergulingan memegangi kepalanya dan akhirnya pingsan.


Setelah hampir sepeminuman teh lamanya Bayu pingsan, pemuda itupun siuman. Masih menahan sakit di kepalanya Bayu membongkar makam yang di maksud. Ternyata tidak ada jasad yang di kubur di situ melainkan sebuah kotak kayu berukuran kecil. Diambilnya kotak tersebut kemudian diratakannya kembali kuburan yang dibongkarnya tadi.


Perlahan Bayu membuka kotak di tangannya. Dalam kotak itu terdapat tiga gulungan surat, satu kitab, dan sebuah anak kunci. Satu persatu Ketua Istana Lembah Neraka itu membaca gulungan surat. Sesaat Bayu terdiam. Dari kelopak matanya menggenang air yang hampir tumpah. Kemudian Iapun bangkit, lalu melesat kembali ke tempatnya semula.


Suasana pagi langit kali ini terlihat begitu cerah. Sorakan mahluk mungil bersayap bernyanyi-nyanyi riuh menghiasi langit. Bersaing dengan begitu banyaknya orang-orang yang menaiki Bukit Kosong hari ini.


Bukit kosong. Memang lebih tepatnya disebut bukit gundul. Dari bawah bukit sampai ke puncaknya, tak ada satupun tumbuhan yang hidup. Hanya tumpukan pasir dan batu saja yang menjadi penghiasnya. Kalau tidak memiliki daya tahan yang kuat tentu akan cepat kelelahan berada di sana.


Sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan oleh orang-orang Istana Lembah Neraka dengan pihak Benteng Dewa, hari ini merupakan waktu terjadinya pertemuan antara mereka di Bukit Kosong. Belum lagi datang kedua belah pihak yang bersengketa, tempat itu sudah diramaikan oleh orang-orang yang ingin menyaksikan langsung pertarungan kedua belah pihak. Bukan hanya orang-orang dunia persilatan, bahkan mayarakat biasa yang memanfaatkan keadaan ini untuk berniaga di sana.


Nama Istana Lembah Neraka dan Benteng Dewa memang memiliki daya tarik tersendiri. Tak heran banyak yang penasaran akan pertemuan di Bukit Kosong tersebut. Terutama Istana Lembah Neraka. Bagi mereka yang sudah berkecimpung di dunia persilatan lima puluh tahunan yang lalu mereka tidak akan asing mendengar seorang tokoh sakti yang menamakan dirinya Majikan Lembah Neraka. Seorang tokoh yang tidak bisa di sebut beraliran putih maupun hitam, karena sepak terjangnya yang angin-anginan.


Pada masa-masa kejayaan Empat Sakti Dunia Persilatan, nama Majikan Istana Lembah Neraka sudah lebih dahulu tersohor. Bahkan ke empat tokoh dunia persilatan itu enggan berurusan dengannya. Namun belakangan sejak tiga puluh tahun terakhir nama Lembah Neraka semakin menghilang dan dilupakan orang karena tokoh sakti itu tidak pernah muncul lagi ke dunia persilatan.

__ADS_1


“Belum ada yang datang” celetuk salah seorang yang berdiri di kerumunan orang kepada temannya.


“Ya, memang kita saja yang terlalu pagi datangnya.” Sahut teman orang itu.


“Kalau tidak pagi-pagi tentu kita tidak bisa melihat keramaian di tempat paling depan”


“Benar juga. Tetapi kalua ada salah satu pihak yang mengamuk, tentu yang paling depan kena imbas duluan.


Orang-orang yang kebetulan berada di sekitar mereka mengangguk-angguk tanda setuju dengan apa yang mereka bicarakan. Bahkan ada beberapa orang yang turut menimpali pembicaraan dua orang tersebut.


“Menurutmu siapa yang memenangkan pertandingan kali ini?’


“Entahlah, siapa yang menjadi pemenang dialah yang akan memimpin dunia persilatan daratan nantinya.”


“Tidak, menurutku pihak Istana Lembah Neraka lah yang akan jadi pemenang” bantah orang yang pertama membuka pembicaraan.


“Mengapa begitu ki?” tanya temannya balik.


“Istana Lembah Neraka penuh dengan jago-jago tangguh dunia persilatan. Menurut berita yang kudengar Empat Sakti Dunia Persilatan saja bergabung dengan perkumpulan itu.


“Benarkah ki?’ tanya beberapa orang berbarengan.

__ADS_1


“Benar sekali. Bahkan konon ketua Istana Lembah Neraka memiliki kesaktian seperti Dewa. Tak ada satupun di dunia persilatan ini mampu mengalahkannya.”


Semua orang yang ada di sana terlibat pembicaraan dengan pendapatnya masing-masing. Keriuhan tersebut bahkan terdengar sampai ke bawah bukit. Dari sana terdengar suara bak lebah. Mereka tidak sadar apa yang mereka tonton adalah sebuah pertarungan. Tidak menutup kemungkinan merekapun akan jadi korban.


“Itu mereka datang” teriak salah seorang di kerumunan.


Serentak semua orang terdiam. Pandangan mereka tertuju pada rombongan orang yang baru datang. Mereka adalah orang-orang dari Pihak Benteng Dewa. Sedikitnya ada sekitar seratus orang jumlah mereka. Nampak yang jadi pimpinan orang-orang itu Malaikat Bertangan Sakti. Rombongan itu mengambil posisi di sebelah utara bukit.


“Ki, sepertinya sia-sia saja kita memindah tempat pertarungan keatas bukit kosong ini dengan harapan tidak ada korban dari orang yang tidak ada kaitannya dengan ini ataupun penduduk biasa.” Bisik Malaikat Petir kepada Malaikat Bertangan Sakti.


“Hmm… seperti itulah kiranya ki. Biar bagaimanapun pertemuan kita dengan orang-orang Istana Lembah Neraka memberikan daya tarik tersendiri bagi kaum persilatan. Bahkan bagi penduduk sekitar yang tak mengerti ilmu bela diri.”


“huhh… memang benar ki” sahut Malaikat petir lagi sambal menghela nafas.


Tak lama kemudian rombongan lain datang dari arah berlawanan. Rombongan yang tak lain orang-orang Istana Lembah Neraka yang dipimpin Raja Iblis Lembah Tengkorak. Tidak terlihat Bayu dan pengawalnya ada di sana. Rombongan itu pun mengambil tempat berhadapan langsung dengan orang-orang Benteng Dewa.


Cukup lama suasana hening menjalari tempat itu. Mungkin saking heningnya kepak sayap nyamuk yang lewat pun akan terdengar. Masing-masing rombongan saling menatap kearah lawannya. Tidak sedikit dari mereka yang merasakan debaran jantungnya sendiri.


Suasana semakin menegangkan. keringat yang mengalir di dahi dan leher orang-orang tak dapat lagi dibedakan penyebabnya. Apakah karena hari yang mulai terik, ataukah ketegangan itu sendiri penyebabnya.


“Sepertinya Rajawali Merah tak bersama mereka.” Bisik Iblis Muka Hitam kepada Pertapa Tanpa Nama.

__ADS_1


“Hmm… Mungkin dia sedang mengawasi di tempat yang lain” Jawab Pertapa Sakti Tanpa Nama.


Benar saja, di gunung yang terletak di sebelah bukit kosong itu berdiri Rajawali merah di puncak pohon tertinggi di sana. Tanpa diketahui siapapun dengan menggunakan ilmu Jagat Netra (mata semesta) salah satu kemampuan dalam Ilmu Tujuh Gerbang Alam semesta itu, ia mengawasi semua yang ada di sana. Dengan Ilmu Jagat Netra ia mampu melihat di kegelapan maupun di kejauhan bagai melihat sesuatu yang berada di hadapannya.


__ADS_2