Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
95. Menembusi Nadi Yang Tertutup


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.


Sebelum membaca lanjutan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ini, mohon kiranya sejenak dapat meluangkan waktunya untuk berdoa demi keselamatan kita bersama dan negara Indonesia yang kita cintai ini, khususnya untuk sauda-saudara kita yang menjadi korban bencana.


Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 95


Menembusi Nadi Yang Tertutup


"Aku kak?" tanya Nalini memastikan. "Bukan kah kau tahu bahwa aku bukan tandingan orang itu." tambahnya lagi.


"Kau pasti bisa, akan kubantu kau meningkatkan tenaga dalammu" jawab Bayu meyakinkan.


"Bagaimana caranya kak, bukankah ingatan mu belum kembali, bagaimana cara kita melakukannya?" tanya Nalini masih ragu.


"Kakek Dewa Tuak Gila telah mengajarkannya padaku. Asalkan kau mempercayaiku, maka kita akan mencobanya" jawab Bayu.


Nalini mengangguk, kemudian gadis itu duduk bersila sambil memejamkan mata atas permintaan Bayu. Setelah itu bayu menempelkan telapak tangan kanannya ke punggung Nalini. Lalu dengan menggunakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta Pemuda itu mengaliri tubuh Nalini untuk membuka semua nadi yang tertutup, sehingga peredaran tenaga dalam ditubuh gadis itu menjadi lancar.


Bagi orang yang belajar ilmu kesaktian, sangat penting pembuluh nadi yang bisa tertembusi semua. Hal ini akan membuat orang tersebut dapat menghimpun tenaga dengan mudah dan pada level yang tertinggi. Dan untuk melakukan hal itu harus dibantu oleh ahli silat tingkat tinggi. Hanya saja sangat jarang orang yang mampu melakukan hal itu.


Tenaga sakti yang dialirkan Bayu sedikit demi sedikit menerobos masuk ke dalam tubuh Nalini. Satu per satu nadi yang tertutup mulai tertembusi. Hingga sepeminuman teh tinggal satu nadi saja yang belum tertembus. Apabila nadi ini bisa tertembusi, maka akan lahir pendekar sakti wanita yang pilih tanding di negeri utara.

__ADS_1


Blarr..


Akhrinya seluruh nadi di tubuh Nalini berhasil di tembusi. Seketika tenaga sakti di tubuhnya memancar dengan hebat. Hembusan angin dari pancaran tenaga tadi membuat beberapa pohon disekitar bergoyang. Kemudian atas petunjuk Bayu, Nalini mulai mengitari seluruh pembuluh darah di tubuhnya dengan tenaga sakti.


Bayupun menarik tangannya dari punggung Nalini lalu menunggu gadis itu selesai bersemedi. Ada kepuasan atas usaha yang dilakukan tergambar dari raut wajahnya. Senyumnya pun mengembang saat secara perlahan Nalini membuka matanya.


"Terima kasih kak" ucap Nalini Haru sambil memeluk Bayu. Nampak dari kelopak matanya agak basah. Gadis itu merasakan haru yang teramat sangat.


Bayu pun membalas pelukan Nalini. Ada rasa keharuan yang menjangkiti perasaannya. Tanpa sadar pemuda itu membelai lembut rambut panjang Nalini. "Mari kita kembali" bisiknya.


Perlahan Nalini melepaskan pelukannya. Kemudian gadis itu mengangguk. "Nanti pulang biar aku sendiri tidak usah digendong" ucap nya tersenyum sambil meleletkan lidah.


Tanpa memberitahukan Bayu, Nalini langsung berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menuju rumahnya. Walaupun tak secepat sewaktu di bawa Bayu tadi, namun kecepatannya kali ini sangat jauh meningkat dibandingkan dirinya yang dulu. Tak berapa lama kemudian sampailah dia di kediamannya.


"Ayah, biarkan aku yang mengalahkan cucu Pendekar Pedang Kilat itu" Ucap Nalini dengan semangat. Sesudah masuk kerumah menemui ayahnya.


Ki Jatar sempat terdiam tak menjawab. Ia merasakan ada perubahan semangat dari diri anaknya. Tidak ada lagi kesedihan maulun keputus asaan yang tersirat dari ucapan putrinya itu. Namun tetap saja Ki Jatar tak ingin anaknya mengorbankan nyawa untuk sang ayah. "Kau bukan tandingannya anakku." jawab ki Jatar dengan suara bergetar.


Di Halaman rumah nampak Bayu sedang berdiri menghadap arah jalan. Tak Jauh dari rumah itu nampak ki Farja sedang berjalan. Tak berapa lama kemudian ia sampai di rumah ki Jatar.


"Guru!" seru Nalini sambil berlari ke arah ki Farja. "Sini ada yang ingin aku tunjukkan pada guru" ucapnya lagi kepada sang guru seraya menarik tangan orang tua itu dan membawanya ke kesamping ki Jatar.


Ki Farja melirik ke arah sang kepala desa sambil mengangkat keningnya, isyarat bertanya ada apa gerangan. Yang dilirik hanya mengangkat bahunya. Lalu keduanya mengalihkan pandangan ke arah Bayu seolah meminta jawaban. Pemuda itu hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Ayah.. guru.. lihat ini" seru Nalini lembut menampakkan keanggunannya.


Kemudian Nalini mengambil pedangnya. Lalu gadis itu mulai memperagakan gerakan-gerakan ilmu pedang yang diajarkan ki Farja kepada dirinya. Dari gerakan tentu tidak ada yang berbeda, namun dari segi kecepatan dan kekuatan setiap tebasan pesang itu mengandung hawa yang mematikan lawan. Nampak dedaunan dari pohon yang berada di sekitar rumah ki Jatar berguguran terkena sambaran hawa pedang.


"Luar biasa, apakah kau yang mengajari putriku Farja?" tanya ki Jatar yang terkagum-kagum dengan ilmu pedang putrinya.

__ADS_1


Lama tidak ada jawaban, ki Jatar menoleh ke arah ki Farja. Ternyata guru Nalini itu sedang terlongo melihat kearah muridnya. Tak disadarinya mulutnya ternganga lebar.


plakk..


"Aduh.." pekik ki Farja yang kesakitan di tepuk ki Jatar di Bahunya. Memang luka-lukanya belum sembuh benar, sehingga pukulan kecil saja bisa membuatnya kesakitan.


"Farja... aku sedang bertanya padamu" ucap ki Jatar setengah membentak.


"Eh... kenapa ki?" sahut ki Farja gelagapan.


"Apakah Nalini menjadi seperti itu, kau yang mengajarkan?" tanya ki Jatar lagi.


"Kalau gerakan pedang itu memang aku yang mengajarkan ki, api tenaga dalam yang dimilikinya sekarang aku tidak tau dari mana dia mempelajari." jawab ki Farja. "Aku jamin putrimu itu kemampuannya sekarang berada jauh diatasku ini. Bahkan dibandingkan denganmu saat masih muda dulu" puji ki Farja lagi.


"Sungguh mengherankan, aku rasa memang benar ucapan putriku tadi bahwa ia bakalan sanggup mengalahkan pemuda cucu dari Pendekar Pedang Kilat itu." ucap ki Jatar.


"Apa? Nalini ingin menghadapi pemuda itu?" tanya ki Farja yang terkejut dengan pernyataan ki Jatar. "Memang benar kemampuannya saat ini mungkin sekali berada diatas pemuda itu, tapi dari segi pengalaman dan kecepatan apakah dia bisa mengunggulinya? apalagi kalau sampai pendekar Pedang Kilat sendiri yang turun tangan, bagaimana jadinya?" tambah ki Farja.


Sejenak ki Jatar terdiam. Ia pun membenarkan pendapat ki Farja itu. Memang saat ini putrinya itu mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu kesaktian. Namun dari segi pengalaman gadis itu masih sangat hijau. Sedangkan Ilmu Pedang Kilat milik lawannya terkenal dengan kecepatan gerak yang belum ada tandingannya.


Ki Jatar melihat lagi ke arah Nalini yang sedang memainkan pedang. Tidak dapat dipungkiri kemajuan putrinya itu memang pantas membuatnya optimis bisa mengalahkan lawannya nanti. Namun pengalaman Nalini yang masih sedikit akan dengan mudah takluk dengan strategi lawan. Apalagi bila sampai Pendekar pedang kilat sendiri yang turun tangan. Tentu putrinya itu bukan tandingan sang pendekar.


Tiba-tiba saja Nalini menghentikan gerakannya. Lalu dengan indah gadis itu melumpat ke arah Ayah dan gurunya. Walaupun tadi asik memainkan pedang, namun telinganya masih bisa mengikuti pembicaraan ayah dan gurunya itu. Tenaga sakti yang meningkat di tubuh gadis itu menjadikan pendengaran dan penglihatannya meningkat tajam.


"Tenanglah ayah, masih ada waktu tiga hari untukku berlatih, tentu apapun muslihat orang itu, akan bisa aku hadapi" ucap Nalini percaya diri.


"Bagaimana mungkin kau berlatih lagi, aku sendiri tak akan dapat membantumu. Kemampuanmu sekarang sudah jauh berada diatasku" potong ki Farja.


"Tenanglah guru, akan ada pendekar yang akan membantumu mengajariku. Kelak bila Pendekar Pedang Kilat turun tangan, akan ada dia yang membantu kita menghadapinya. Dialah yang selama ini mengalahkan Genderuwo Pengikat Jiwa dan Datuk Sesat Seribu Wisa." ungkap Nalini.

__ADS_1


Ki Farja dan ki Jatar terkejud mendengar penjelasan Nalini. Memang mereka berdua sama-sama tau sewaktu menjalankan tugas untuk desa Karang Wangi dulu, mereka di bantu seorang pendekar yang tak mau menunjukkan jati dirinya.


"Siapa pendekar itu?" Seru ki Jatar dan ki Farja kompak.


__ADS_2