
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 122...
Bayu mengerahkan segala kemampuannya. Ilmu Tujuh gerbang Alam Semesta tingkat ke tiga dikerahkannya sampai kepuncak. Bunyi berderapan aliran listrik yang menyambar-nyambar nampak sangat jelas. Inilah kali pertama ia menggunakan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke tiga dengan kekuatan puncaknya.
“Tak akan kau mampu menahan seranganku kali ini anak muda.. Hiyaaatt..”
Singa Langit memekik keras. Ia pun menerjang ke arah Bayu dengan kedua telapak tangannya yang terbentang. Bayu sendiri sudah menyiapkan dirinya untuk menyambut serangan lawan.
Blammm..
Bentrokan dua pasang telapak tangan membuat ledakan yang amat dahsyat. Pintu gerbang istana tak mampu memoertahankan dirinya jebol hancur berantakan. Sedangkan Istana sendiri bagian depannya runtuh. Sungguh benturan tenaga sakti yang sangat mengerikan.
Kali ini malang bagi Bayu. Tubuhnya terlempar belasan tombak dan langsung terhempas ke tanah. Sementara lawannya sendiri masih kokoh melayang di udara. Nampak ada raut kepuasan terpancar di wajah Singa Langit.
Bayu berusaha untuk bangkit. Namun semua sangat berat di rasakannya. Tiba-tiba mulutnya menyemburkan darah segar. Ia pun kembali terbaring di tanah. Matanya masih mengawasi ke arah lawan yang terlihat semakin tangguh.
Kembali Singa langit mengerahkan tenaga saktinya. Kali ini dia benar-benar berniat untuk membinasakan Bayu. Kedua telapak tangannya nampak diarahkan ke arah Bayu yang sedang terbaring lemah. Bayu sendiri terlihat masih berusaha untuk bangkit.
Deeesssssssssssshh..
Tiba-tiba saja sebuah keanehan terjadi. Perlahan Tubuh singa langit mengalami kebekuan. Berawal dari kakinya perlahan merayap keatas. Tak lama kemudian seluruh tubuh orang tua itu membeku dan terselimuti es. Seketika tubuhnya jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Rupanya waktu sepeminuman teh yang menjadi batas kehidupan Singa Langit telah sampai. Ia pun harus meninggalkan dunia ini dalam keadaan penasaran. Ternyata kekuatan dahsyat yang ia miliki meminta tumbal dirinya sendiri.
__ADS_1
“huhhh.. hampir saja” ucap Dewa Pedang Sejagat.
Bayu pun akhirnya mampu merubah posisinya menjadi berduduk. Pemuda itupun menghela nafas panjang. Hampir saja dia tewas oleh musuh. Rupanya takdir berkehendak lain. Pemuda itu masih dapat menghirup udara segar dunia.
“Seharusnya kemampuanmu tak hanya sampai di situ anak muda.” Ucap Dewa Pedang Sejagat sambil berjalan menghampiri Bayu. “Kalau aku tak salah ingat, setidaknya kau sudah menguasai tingkat ke lima Ilmu Tujuh Gerbang Alam semesta itu. Dengan begitu jangankan lawan minum tiga biji pil peningkat tenaga, lima biji sekalipun akan dengan mudah kau kalahkan.” Ungkapnya lagi sambil duduk di sisi Bayu.
Pemuda itu hanya tersenyum kecut menanggapi penjelasan Dewa Pedang Sejagat. Sebenarnya ia tak memahami apa maksud pembicaraan orang tua itu. Makanya Bayu hanya tersenyum menanggapi pernyataan si orang tua.
“Salam hornat kepada ketua, semoga ketua panjang umur. Hidup Rajawali Merah.. Hidup Istana Lembah Neraka”
Tiba-tiba terdengar seruan kompak suara lebih dari satu orang. Saat Bayu melihat ke arah samping kirinya, ternyata berjarak enam tombak telah berlutut sekelompok orang ke arahnya. Ada sekitar dua puluhan orang jumlahnya.
Paling depan berlutut seorang lelaki berusia empat puluh tahunan dengan warna pakaiannya yang mencolok berwarna jingga. Di barisan kedua ada dua orang berpakaian putih, satu lelaki tua memegang tongkat berwarna keemasan, satunya lagi seorang wanita tua dengan sebilah pedang tergantung di punggungnya.
Di barisan ke tiga terdapat empat orang berpakaian serba hijau, pada barisan ke empat terdapat delapan orang berpakaian coklat. Terakhir di barisan ke lima semuanya menggunakan pakaian serba hitam. Namun dari semua pakaian yang mereka kenakan ada satu kesamaan, yaitu sama-sama bersulam gambar sebuah Istana yang di kelilingi api pada sisinya.
Kembali pandangan Bayu dialihkan pada orang-orang yang masih berlutut. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada satu orang yang dapat ia kenali.
“Hei.. Kakek Dewa Tuak, mengapa kau ada di sana, ada apa ini sebenarnya.” Seru Bayu.
Orang berbaju jingga memalingkan pandangannya ke arah Dewa Tuak Gila yang berada di barisan ke empat. Kemudian orang berbaju jingga yang tak lain adalah Pranggala wakil ketua dari Istana Lembah Neraka itu memalingkan wajahnya ke arah Dewa Tuak Gila. Ia pun memberi sebuah isyarat anggukkan.
Dewa Tuak Gila lalu bangkit dan melangkah ke arah Bayu. Sesampainya di hadapan pemuda itu, kembali ia berlutut dengan satu kaki.
“Dewa tuak gila anggota tingkat kedua menghadap ketua. Maafkan selama ini atas kelancangan saya, semua untuk menyelidiki kebenaran tentang jati diri ketua.” Ucap Dewa Tuak Gila.
__ADS_1
Semenjak Pranggala yang mengambil alih kepemimpinan Istana Lembah Neraka, urut-urutan keanggotaan diadakan perombakan. Ke anggotaan dibagi menjadi empat. Anggota terendah di kelompokkan ke dalam anggota tingkat 1 dengan menggunakann pakaian berwarna hitam. Selanjutnya anggota tingkat ke dua berwarna coklat, anggota tingkat ke tiga berwarna hijau. Terakhir anggota tingkat ke empat menggunakan pakaian putih. Sedangkan ketua dan wakilnya tidak di golongkan dalam tingkatan keanggotaan.
Bayu pun berpikir dengan cepat. Ia pun dapat menduga bahwa jati diri sebenarnya dia adalah Rajawali Merah ketua Istana Lembah Neraka. Walaupun sudah menyakini sepenuhnya, namun ada keraguan di hatinya untuk memposisikan dirinya sebagai Rajawali Merah sebenarnya. Karena ingatannya sedikitpun belum pulih, menjadikannya tidak tahu apa-apa tentang perkumpulan itu.
“Sudahlah, aku sendiri belum bisa mengingat apa-apa. Sementara ini aku terima penghormatan kalian, sudah bangun semua.” Perintah Bayu seperti apa boleh buat.
Serentak semua orang anggota Istana Lembah Neraka itu bangkit. Kemudian Pranggala menghampiri Bayu. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“Menghadap ketua.” Ucap Pranggala dengan suara bergetar sambil menjura. “Apa kabar ketua, apakah baik-baik saja.”
Bayu pun mengangguk seraya tersenyum. “Siapakah paman?” tanya Bayu.
Pada akhirnya Pranggala tak mampu lagi membendung air matanya. Panggilan ini lah yang selalu Bayu ucapkan apabila bersama dirinya dulu. Pemuda di depannya ini bukan saja telah menyelamatkan nyawanya, tapi juga telah meanugerahkan kesaktian sehingga ia menjadi seperti sekarang.
“Hamba pembantumu, pengawal pribadimu dulu yang kau percayakan menjadi wakil ketua di Istana Lembah Neraka.” Jawab Pranggala haru. “Budi baik ketua begitu besar untuk hamba, sampai kapanpun hamba tak akan mampu membalasnya. Maafkan hamba yang tak dapat mencari ketua selekasnya tentu banyak kesusahan yang ketua hadapi.” Ucapnya lagi sambil kembali berlutut.
“Bangunlah paman, sudahlah aku tak menyalahkanmu. Aku sendiri sampai sekarang belum bisa mengingat apapun. Untuk sementara kuserahkan kepadamu segala urusan Istana Lembah Neraka.” Sahut Bayu yang merasa tidak enak orang selalu berlutut.
Tak lama kemudian Muncul Raja Pulau Es bersama Intan dan yang lainnya. Bersama mereka juga ada beberapa orang penduduk pulau es yang setia kepada sang raja. Lelaki itu melongo melihat keadaan Istananya yang porak poranda. Memang sebelumnya salah seorang rakyatnya telah melaporkan keadaan pertarungan yang di menangkan Bayu dan Istana yang hampir hancur lebur.
Raja Pulau Es beserta anak-anak dan beberapa orang penduduk menghampiri Bayu. Lalu tanpa di duga mereka berlutut dan berseru.
“Terima kasih atas pertolongan Pendekar Muda, Negeri pulau es sangat berhutang budi atas pertolongan tuan pendekar.”
Melihat itu Bayu menjadi gelabakan sendiri. Ia pun bangkit dari duduknya lalu menghampiri Raja Pulau Es dan menyuruhnya bangkit.
__ADS_1
Bersambung...
**Jangan lupa like dan kasih komentar, biar novel ini mendapat apresiasi dari pihak Noveltoon**