
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 133...
Blammm...
Jaka yang masih memegangi Nalini ketika diserang Raja Ular Hitam langsung melancarkan pukulan halilintarnya ke arah lawannya tersebut. Untung saja Raja Ular Hitam sempat membuang badannya ke samping, hingga sambaran halilintar suami Cempaka itu hanya lewat di sampingnya.
“Jangan kau kira aku masih seperti dulu Pendekar Halilintar. Kali ini kau yang akan kubuat berlutut meminta ampun.” Bentak Raja Ular Hitam dengan sombongnya.
Memang Dewa Obat telah memberi sebuah ramuan yang membuat tenaga peminumnya bertambah satu tingkat dari sebelumnya. Apalagi Raja Ular hitam telah menguasai semua ilmu dan jurus-jurus peninggalan gurunya. Namun ia seharusnya juga tau, semua orang berproses, dan tentunya Pendekar Hakilintar bukan seperti yang ia temui sepuluh tahun yang lalu.
Raja Ular Hitam menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Sebentar saja kedua telapak tangannya berubah warna menjadi keunguan. Bau amis mulai tercium. Telapak Ular Hitam telah dikerahkannya.
Raja Ular hitam menerjang ke arah Jaka. Sementara Jaka sendiri sudah menyiapkan dirinya. Nalini yang tadi berada di dekatnya, kini telah menepi sambil mengembalikan tenaganya. Tak lama kemudian keduanya terlibat pertarungan jarak dekat.
Raja Ular Hitam menyarangkan telapak tangannya ke arah dada Pendekar Halilintar. Suami Cempaka itupun menarik badannya sedikit kebelakang sehingga serangan Raja Ular Hitam lewat begitu saja. Pendekar Halilintar balas menyerang lawannya dengan tendangan geledeknya.
Blammm..
Raja Ular Hitam terlempar beberapa tombak saat dia mencoba menangkis tendangan Jaka dengan kedua telapak tangannya. Sedangkan Pendekar Halilintar tak sedikitpun mengalami cidera. Ia pun melompat hendak membinasakan lawan dengan pukulan halilintarnya.
“Jangan bunuh dia tuan Pendekar!” seru Nalini.
Jaka yang mendengar teriakan Nalini mengurungkan niatnya lalu berpaling melihat kearah gadis itu. Dengan sekali lompatan Nalini kini berada di dekat Raja Ular Hitam yang sudah tidak berdaya lagi. Jaka yang melihat gerakan Nalini tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Apalagi sebelumnya ia mengira Nalini adalah gadis biasa yang tidak memiliki kemampuan ilmu bela diri.
“Katakan di mana Ayah dan Guruku?” tanya Nalini sambil mengancam leher Raja Ular Hitam dengan rantingbyang tadi ia pungut di tanah.
__ADS_1
Raja Ular Hitam meringis kesakitan. Ranting yang di tekankan Nalini ke lehernya berisi tenaga sakti. Bahkan ranting itu terasa menjadi setajam pedang. Ia merasakan perih di bagian lehernya, nampak darah mengalir di sana.
“Ayah dan gurumu berada di salah satu ruangan dalam Bangunan tempat kau dijebak tadi.” Sahut Raja Ular Hitam.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Tanya nya lagi sambil menekan lebih dalam ranting di tangannya.
Sontak Raja Ular Hitam semakin meringis menahan rasa sakit. “Kalau kau tidak percaya, kau bisa bawa aku kesana” sahutnya lagi.
“Tuan pendekar bila kau tidak keberatan boleh kah aku minta tolong untuk membawa orang ini ikut serta kembali ke kediamannya. Di sana ia menawan ayah dan guruku serta beberapa orang anggota Partai Pengemis Selatan.
Jaka mengangguk seraya melemparkan senyumannya. Kemudian Pendekar Halilintar mencengkram baju bagian belakang Raja Ular Hitam. Kemudian ketiganya bergerak ke gedung kediaman Raja Ular Hitam.
Lebih dari sepenanak nasi mereka melakukan perjalanan menghunakan ilmu meringankan tubuh, merekapun tiba di gedung kediaman Raja Ular Hitan. Terlihat beberapa orang anak buah Raja Ular Hitam tergeletak tak bernyawa. Tak kama kemudian Bayu keluar memapah ki Jatr dan Ki Farja.
“Ayah..” jerit Nalini seraya berlari ke arah Ki Jatar yang berada dalam papahan Bayu. Gadis itu terlihat sangat terpukul melihat keadaan ayah dan gurunya yang penuh dengan luka-luka. Sementara gurunya tak jauh berbeda keadaannya.
“Guru...” Jerit Nalini seraya menghampiri gurunya. Gadis itu memeluk gurunya dan memanggil-manggil sang guru. Namun sedikit pun tak ada jawaban dari ki Farja.
“Nalini, bagaimana kau bisa bebas dari tangan Raja Ular Hitam?” tanya Bayu.
“Tuan pendekar itu yang menyelamatkanku.” Sahut Nalini sesegukkan sembari menunjuk ke arah pendekar Halilintar.
Kemudian Nalini berpindah ke ayahnya. Ia pun memeriksa luka ayahnya. Kemudian gadis itu memanggil-manggil sang ayah. Perlahan mata ki jatar membuka. “Anakku..” ucap Ki Katar Lemah.
“Selamat bertemu tuan Rajawali Merah.” Sapa Jaka kepada Bayu. Pendekar Halilintar masih ingat dengan pemuda itu yang membantunya mengobati anak pemimpin kota yang waktu itu di bawanya.
Bayupun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Terima kasih atas pertolongan tuan pendekar.” Ucapnya kepada Jaka.
__ADS_1
“Anak ku, jagalah dirimu baik-baik.”
“Ayaaahh...”
Tubuh ki Jatar terkulai dalam pangkuan Nalini. Kepala desa Bojana itu tak mampu lagi bertahan karena luka-luka yang di deritanya. Setelah mengucapkan perkataan terakhirnya ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Nalini menjerit menangisi kepergian ayahnya. Gadis itu nemeluk erat kepala ayahnya yang sudah tak bernyawa itu. Bayu dan Jaka yang melihat keadaan itupun ikut trennyuh. Sesaat mereka hanya terdiam melihat keadaan Nalini.
Kesatangan Bayu menyelamatkan Ki Jatar dan Ki Farja terlambat. Saat dia berhasil menangkap salah satu bayangan hitam yang di kejarnya pada saat di hutan, ternyata orang itu bukan orang yang membawa Nalini. Ia pun bertanya di mana Nalini, namun yang di tanya tidak bisa menjawabnya. Tapi dari orang yang di tangkapnya itu, Bayu mendapat keterangan tentang keadaan ki Jatar dan ki Farja.
Sesaat kemudian Nalini berhenti dari tangisannya. Pandangannya di arahkan kepada Raja Ular Hitam yang berada di cengkraman Jaka. Raja Ular Hitam menjadi gentar dan bergidik melihat tatapan gadis itu. Terbesit kengerian dalam hatinya.
“Manusia Jahanam.. kau harus menerima balasan atas kematian guru dan ayahku.” Bentak Nalini.
Kemudian Nalini memungut sepotong ranting yang berada di dekatnya. Lalu gadis itu melontarkan rantinh itu ke arah Raja Ular Hitam. Karena dalam keadaan tertotok, lelaki tua mengenakan pakaian dari kulit ular itupun tak mampu menghindar.
Craabbb..
Ranting yang di lontarkan Nalini tepat menancap di tenggorokan Raja Ular Hitam. Ia pun roboh dan menggelepar di tanah. Sesaat tubuhnya berkelojotan, hingga akhirnyabtak bergerak lagi. Raja Ular Hitam pun tewas mengakhiri petualangannya.
Di bantu Jaka, Bayu menguburkan Ki Jatar dan Ki Farja tak jauh dari tempat itu. Sedangkan Nalini hanya menangis sesegukkan merasa sangat kehilangan. Sesudah keduanya di kuburkan, Nalini pun mendekati kuburan itu. Sedangkan Jaka dan Bayu kembali menguburkan Raja Ular Hitam dan beberapa orang anak buahnya yang tewas di sisi yang lain.
“Ayah.. guru.. Jangan khawatir! Tak lama lagi aku akan bersama kalian.” Rintih Nalini seraya memeluk kuburan ayahnya.
Hampir sepenanakan nasi lamanya Bayu dan Jaka mengumpulkan jasad-jasad yang sudah tak bernyawa lagi itu, lalu menguburkannya dalam satu lubang. Kemudian keduanya kembali ke tempat Nalini yang masih bersedih atas kepergian dua orang yang disayanginya.
***Bersambung...
__ADS_1
Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja***.