Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
26. Setan Tengkorak Putih


__ADS_3

"Bila benar demikian, berarti rumor yang beredar bahwa akan terjadi penyerangan ke perguruan Tangan Dewa benar adanya." Gumam lelaki tua yang tak lain adalah Ketua Perguruan Tongkat Sakti sendiri.


"Apakah tidak sebaiknya kita tangkap saja guru, mumpung dia berada di sini dan jauh dari pembantu-pembantunya." usul murid lain pembantu utama sang Ketua.


"Kita tak boleh gegabah, bagaimana kekuatan lawan sesungguhnya kita belum tau. Sedangkan rumor yang beredar ketua Istana Lembah Neraka itu kekuatannya sulit diukur. Bahkan kabarnya dia menguasai Ilmu kuno yang telah lama menghilang. Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta." sahut sang ketua.


"Sehebat apakah Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta itu?" gumam si murid yang merasa kurang puas dengan sikap gurunya.


"Baiklah, besok kita akan hadang orang itu di depan pintu keluar desa. Namun bila keadaan tidak menguntungkan, tidak ada salahnya kita mundur."


"Baik guru!" jawab semua murid yang ada di situ serentak.


Keesokan harinya Bayu dan Pranggala meninggalkan penginapan. Kali ini keduanya melakukan perjalanan dengan menunggang kuda, setelah sebelumnya mereka membelinya di desa Jati Wengi tadi.


Dari Kejauhan Rajawali Merah melihat sekitar dua puluh orang sedang menghadang di pintu keluar desa. Dari pakaian yang mereka kenakan merupakan ciri-ciri perguruan Tongkat Sakti. Bersama mereka seorang lelaki tua bersahaja membawa tongkat di tangan kanannya. Bayu menatap tajam kearah depan. Sementara Pranggala kelihatan resah, bukannya dia takut akan musuh. Tapi khawatir ketuanya akan menurunkan tangan kejam terhadap lawan.


Setelah sekitar enam tombak di hadapan orang yang menghadangnya Rajawali merah pun berhenti diikuti pengawalnya. Pranggala turun dari kudanya bermaksud menanyakan maksud orang kenapa menghadang, namun dihentikan oleh Bayu dengan isyarat tangannya. Pengawal itupun mengurungkan niatnya untuk maju.


"Pranggala! bertahun-tahun kau menghilang muncul-muncul sekarang menjadi anteknya Iblis Istana Lembah Neraka ini rupanya." Tegur Ketua Perguruan Tongkat Sakti pada Pranggala dengan nada tinggi.

__ADS_1


Memang Sebelum bergabung dengan Istana Lembah Neraka Pranggala merupakan salah satu murid utama dari perguruan Istana Lembah Neraka. Hingga pada suatu ketika dia dan beberapa orang murid utama yang lain ditugaskan mendampingi guru besar mereka menyerbu ke kediaman Setan Tengkorak Putih. Orang ini merupakan pimpinan dari gerombolan penyamun yang biasanya mengganggu dan merampok siapa saja yang melewati Hutan Karang Jati. Hutan ini terletak di sebelah timur perguruan tongkat sakti, yaitu antara Desa Jati Wengi dan Karang Waja.


Pada hari yang sudah di tentukan Ki Nyamat Ketua perguruan Tongkat Sakti bersama lima orang murid utamanya yaitu Pranggala, Norman, Mamudi, Darnu, dan Ramdan meninggalkan perguruan Tongkat Sakti menuju Hutan Karang Jati. Walaupun merupakan sebuah perguruan Silat, nama Perguruan Tongkat Sakti lebih dikenal sebagai sebuah perkumpulan bayaran. Siapa saja memerlukan jasa pengawalan, maupun jasa tukang pukul, perguruan Tongkat Sakti siap membantu dengan bayaran tertentu. Seperti menumpas kawanan perampok kali ini, atas aduan masyarakat setempat pemerintah di kota raja memilih menggunakan jasa perguruan Tongkat Sakti ketimbang melakukan penumpasan sendiri.


Tiba di ujung desa Jati Wengi, tak jauh sudah terlihat sebuah hutan yang sebagian besar tumbuhan nya pohon jati. Menuju kedalam hutan terdapat jalan kecil selebar kereta kuda. Dari tempat mereka berdiri saja sudah kelihatan betapa mencekamnya suasana di dalam hutan.


"Bila masuk ke dalam nanti bersiagalah, mungkin saja banyak jebakan yang menanti." ucap Ki Nyamat memperingati murid-muridnya.


"Baik Guru!" sahut mereka serempak.


Kelimanya mulai memasuki Hutan Karang Jati dengan perlahan. Kurang dari sepeminuman teh mereka sudah berada di tengah hutan.


Kiri kanan yang mereka lewati kini penuh dengan semak-semak yang tinggi. Ki Nyamat yang memiliki Tenaga Dalam diatas yang lain, dapat merasakan pergerakan pergerakan yang terus mengikuti mereka.


wush... wush... wush..


Tiba-tiba beberapa buah anak panah melesat mengincar mereka. Dengan sigap kelimanya berlompatan menghindari anak panah, sehingga tak satupun mengenai sasaran. Sesaat kemudian bermunculan sepuluh orang berpakaian hitam menggunakan topeng tengkorak berwarna hitam. Diantara mereka satu orang yang memiliki tampilan berbeda, baju yang di gunakan orang itu berwarna hitam dicampur dengan warna merah pada kerah dan ujung lengan bajunya. Topeng tengkorak yang digunakan pun berwarna putih, dialah Setan Tengkorak Putih.


"Bernyali juga kau Nyamat untuk datang ke tempatku ini" Tegur Setan Tengkorak Putih

__ADS_1


"Rupanya Kau mengenalku kisanak, apakah mungkin aku juga mengenalmu?" tanya Ki Nyamat atau Pendekar Tongkat Maut sedikit heran.


"Hahaha, Rupanya kau sudah melupakan suaraku Nyamat." balas Setan Tengkorak Putih Seraya membuka Topeng yang iya kenakan.


"Pardi!" seru Ki Nyamat terkejut sampai-sampai dia tersurut dua langkah kebelakang.


Pardi merupakan bekas saudara seperguruan Nyamat sewaktu menimba ilmu kepada seorang tokoh sakti bergelar Paderi Sakti berwajah Pualam. Dalam perjalanan mereka menuntut ilmu, keduanya mulai bosan dengan segala aturan yang guru mereka tetapkan, sehingga suatu hari mereka memutuskan untuk pergi dari perguruan. Keduanya merencanakan pergi secara diam-diam namun sebelumnya bermaksud mencuri kitab pusaka bela diri milik guru mereka. Pada waktu yang ditentukan mereka pun menjalankan rencana, namun semua diketahui guru mereka. Lalu dengan cara yang licik keduanya memperdaya hingga membunuh guru mereka sendiri.


Namun rupanya setan sudah merasuki keduanya. setelah berhasil membunuh guru dan membawa kitab pusaka ilmu beladiri, merekapun terlibat perkelahian karena masing-masing ingin menguasai secara penuh. Hingga pada akhirnya pertarungan terjadi dan dimenangkan oleh Ki Nyamat. Belum puas mengalahkan adik seperguruannya, Pendekar Tongkat Maut itupun merusak wajah adik seperguruannya, sehingga wajah itu penuh dengan codet dan bekas luka.


"Hahaha, rupanya kau masih ingat pada wajahku yang kau rusak ini Nyamat. Hari ini hutang piutang akan kita selesaikan. Hanya ada dua pilihan, kau atau aku yang akan meninggalkan dunia ini," Ucap Setan Tengkorak Putih. "Habisi mereka anak-anak!" tambahnya lagi seraya memerintah anak buahnya menyerang.


sembilan orang bertopeng tengkorak langsung menyerang Ki Nyamat dan murid-muridnya. Terjadilah pertarungan yang tak seimbang. Lima orang murid Ki Nyamat kelihatan kelimpungan memghadapi musuh. Hanya Ki Nyamat sendiri yang berada di atas angin, Namun ia pun tidak bisa melukai anak buah Setan Tengkorak Putih.


Satu per satu murid Ki Nyamat jatuh terjengkang, Hanya Norman dan Pranggala yang mampu bangkit lagi karena luka yang mereka dapat agak ringan. sedangkan tiga murid Ki Nyamat yang lain sudah tewas tak bernyawa.


"Cukup" Bentak Setan Tengkorak Putih. Serentak seluruh anak buah Setan Tengkorak Putih menghentikan serangannya. Untuk sementara Ki Nyamat dan dua orang anak buahnya yang tersisa bisa bernafas lega. Terutama bagi kedua murid itu.


"Kini saatnya giliran kita menyelesaikan segala urusan di masa lalu Nyamat. Hari ini yang boleh hidup hanya satu di antara kita berdua" ucap Setan Tengkorak Putih dengan nada mengancam.

__ADS_1


__ADS_2