
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 250...
Setelah menyelesaikan makan lalu membayar semuanya, pangeran Mandaka dan kedua pembantunya segera meninggalkan tempat itu. Ketiganya tidak sedikitpun curiga bahwa di sana ada salah seorang yang dicarinya yaitu Dewi Api. Mereka pergi melanjutkan perjalanan ke arah Istana Kerajaan Selatan malam itu juga.
“Yudiba apa kau tau siapa mereka berdua?” Tanya Dewi Api kepada Empu Yudiba.
“Hamba tidak mengenali siapa mereka Dewi. Tapi kalau hamba tidak salah dengar, salah satu dari mereka dipanggil dengan sebutan Pangeran Mandaka. Mungkin saja mereka adalah orang-orang di kerajaan Selatan ini. Dan tidak menutup kemungkinan orang yang dipanggil pangeran Mandaka itu adalah putra raja sendiri,” jawab Empu Yudiba
“Aku juga menduga begitu Yudiba. Mendengar pembicaraan mereka tadi, salah satu dari mereka baru saja dipecundangi oleh Rajawali merah. Dan rupanya mereka juga sedang mencari aku. Apakah mereka mengira bisa dengan mudah menaklukkan aku. Bahkan pikiran mereka terlalu muluk untuk bisa menguasai kekuatanku. Kekuatanku dan jiwaku tidak terpisah,” ucap Dewi Api sedikit geram.
“Dewi, apa perlu kita perintahkan orang kita untuk mengikuti mereka?” Tanya Eka Wira.
“Tidak perlu. Kita pusatkan saja rencana kita pada mutiara pengikat jiwa, atau mendapatkan lagi gadis keturunan raja itu,” sahut Dewi Api tegas.
Keesokan harinya rombongan Dewi Api pergi menuju istana Lembah Neraka masing-masing menaiki kuda. Perjalanan yang mereka lakukan terkesan santai tidak terburu-buru. Berkali-kali mereka singgah di rumah makan apabila mereka menginginkannya.
Sementara itu di tempat lain Pranggala yang ditemani Intan dan putri Yassika serta empat orang istana Lembah Neraka melakukan perjalanan menuju desa Sangga alam untuk menemui malaikat putih di hutan jati alam. Rombongan itu melakukan perjalan menggunakan kuda pilihan yang dimiliki oleh Istana Lembah Neraka sehingga mempercepat perjalanan mereka. Setelah melakukan perjalanan sekitar dua hari dua malam dengan istirahat pada malam hari, akhirnya mereka pun sampai di desa sangga alam. Mereka langsung menuju ke hutan jati alam tempat kediaman malaikat putih.
__ADS_1
“Berhenti! Tuan-tuan mau kemana dan ada keperluan apa?” tanya seorang penjaga saat Pranggala dan rombongannya berada di depan hutan Jati Alam.
“Kami dari istana Lembah neraka ingin bertemu dengan tuan malaikat putih tolong sampaikan kepada beliau!” sahut Pranggala tegas.
“Sebentar tuan, harap menunggu di sini. Saya akan melapor ke dalam,” ucap penjaga.
Kemudian lelaki berumur sekitar empat puluh tahunan itupun masuk ke dalam hutan. Tak berapa lama menunggu ia keluar lagi menemui Pranggala. Kemudian penjaga itu memberitahukan bahwa malaikat putih menyuruh mereka masuk dan menunggu di tempat pertemuan. Penjaga itupun mengantar rombongan Pranggala menuju tempat yang dimaksud.
Setelah dipersilakan masuk oleh tuan rumah, rombongan istana Lembah neraka itu pun masuk ke dalam hutan. Sepanjang perjalanan menuju tempat pertemuan, Pranggala mendapati beberapa tempat telah berdiri pemukiman kecil di hutan itu. Sepertinya itu merupakan rumah-rumah para pemberontak yang menjadi bawahan Raden Raga Lawing.
“Silakan tuan, di sana tuan Malaikat Putih menunggu,” ucap seorang lelaki yang mengantarkan mereka dari depan penjagaan tadi sambil menunjuk ke arah tempat bersantai. Tempat itu terbuka hanya ada tihang menjadi penyangga tanpa dinding, namun di beri atap di atasnya.
Pranggala dan rombongannya pun melangkah menuju ke tempat yang ditunjuk oleh pemandu tadi. Di sana sudah berdiri malaikat putih dengan Raden Raga Lawing menyambut kedatangan mereka. Namun dilihat dari mimik wajahnya malaikat putih nampaknya kecewa dengan kedatangan Pranggala. Mungkin orang yang datang tidak seperti yang diharapkan olehnya.
Malaikat putih dan Pangeran Raga lain pun membalas penghormatan mereka dengan cara yang sama. Walaupun agak kecewa dengan kedatangan mereka yang bukan orang diharapkan, malaikat putih masih menunjukkan wajah ramah dan perlakuan baik terhadap mereka. Keraguannya tentang kehebatan utusan Istana Lembah Neraka ini semakin bertambah setelah melihat usia Pranggala yang hanya berkisar empat puluh tahunan itu. Panggala dan yang lainnya pun dipersilahkan untuk menempati kursi yang disediakan.
“Apa gerangan yang membawa kalian kemari?” tanya malaikat putih, berbasa-basi walaupun dia sudah bisa menebak maksud kedatangan orang.
“Maafkan kami yang mengganggu waktu istirahat tetua. Sesuai pembicaraan tetua dengan Pendekar halilintar kala itu tentang syarat dari bantuan yang tetua tawarkan untuk menyelidiki dimana keberadaan suku api, mengenai orang yang menjaga Raden raga lawing saat tetua menjalani sedang menjalani masa pemulihan. Ketua kami Rajawali merah memutuskan bahwa saya sendiri yang ditunjuk untuk menjalankan tugas tersebut,” jawab Pranggala.
__ADS_1
“Kau.. Apakah kau punya kemampuan untuk itu? Apakah Pendekar Halilintar sudah menjelaskan bahwa syarat yang harus dimiliki untuk menjadi pelindung Raden Raga Lawing adalah orang yang memiliki kemampuan berada di atasku atau minimal sama denganku. Apakah saat ini kau merasa sudah memiliki kemampuan yang sebanding atau bahkan lebih dari ku,” tanya Malaikat Putih.
“Saya tidak berani menyatakan bahwa kemampuan saya berada di atas tetua yang sudah malang melintang di dunia persilatan ini. Namun untuk mengemban tugas dari ketua Rajawali merah saya akan berusaha sekuat tenaga,” ucap Pranggala.
“Apa kau kira nyawa Raden raga lawing bisa kau buat pertaruhan seperti itu. Syarat dariku sudah mutlak, minimal kau harus memiliki kemampuan yang sama denganku lebih baik lagi kalau lebih maka aku akan merasa lega melepas Raden Raga Lawing dalam penjagaanmu,” balas malaikat putih dengan nada yang sedikit ketus.
Nampak di belakang Pranggala Putri Yassika sedikit kurang senang dengan perkataan yang dilontarkan oleh malaikat putih. Hampir saja dia mengeluarkan sumpah serapah kalau tidak segera dicegah oleh Intan yang berada di sampingnya. Tak jauh berbeda dengan para pengawal Pranggala yang berada di belakang, mereka pun nampak kurang puas dengan ucapan yang dilontarkan oleh malaikat putih.
“Kalau tetua mengijinkan, saya akan mencoba memperlihatkan kemampuan saya di depan tetua. Walaupun tidak sehebat ketua Rajawali marah namun saya merasa cukup pantas untuk menjaga Raden raga Lawing menggantikan tuan sementara waktu,” ucap Pranggala membalas kata-kata dari malaikat putih.
“Hmmmm.. Baiklah kalau begitu kalau kau memang ingin menjajal kemampuan itu di hadapanku akan aku layani. Apabila kau mampu bertahan selama lima puluh jurus aku anggap kau pantas untuk menjaga Raden Raja Lawing,” ucapan Malaikat putih yang sangat yakin akan kemampuannya berada jauh di atas Pranggala.
“Tidak boleh begitu, kita akan bertarung seberapapun banyak jurus yang dilakukan sampai ada yang kalah atau yang mengaku kalah maka sang lawan lah sebagai pemenangnya,” sahut Pranggala.
“Kau coba saja dulu apakah sanggup bertahan melawanku sebanyak lima puluh jurus. Jangan kau terlalu sesumbar untuk bisa memenangkan ku. Apakah kau anggap ilmu yang kumiliki ilmu silat kacangan yang beredar diluaran sana,” ketus Malaikat Putih.
“Kau jangan bicara sesombong itu orang tua, apa kau kira kami orang-orang istana Lembah neraka tidak memiliki kemampuan. Jangan kau kira guruku yang banyak mengalah denganmu itu kemampuannya lebih rendah darimu,” sahut Putri Yassika geram dengan sikap malaikat putih.
Memang beberapa waktu lalu Pranggala mengangkat Putri Yassika sebagai muridnya karena permintaan gadis itu sendiri. Semuanya pun atas persetujuan Bayu. Putri Yassika juga masuk menjadi anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka. Pranggala sendiri merasa senang melihat muridnya itu sangat berbakat.
__ADS_1
**Bersambung..
Ditunggu like dan komentarnya**.