
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 258...
Hanya butuh waktu sepeminuman teh Bayu, Pendekar Halilintar dan istrinya sampai ke istana lembah neraha menaiki naga emas jelmaan pedang pusaka naga. Kedatangan mereka disambut dengan rasa cemas para penghuni Lembah neraka. Terutama oleh gurunya Cempaka Dewi pedang Kayangan yang melihat keadaan muridnya. Perempuan tua itu sangat sedih dan cemas mengkhawatirkan keselamatan muridnya itu.
“Apakah tidak ada jalan lain untuk mengobatinya? Dengan keadaannya yang seperti ini paling lama bisa bertahan selama tiga hari lagi. Sesndainya dia tidak memiliki tenaga inti es dalam tubuhnya tentu sudah tewas seketika saat menyambut serangan ketua itu,” ucap Dewi Pedang Khayangan.
“Sebenarnya ada, hanya saja mungkin tidak keburu untuk melakukannya. Dalam kitab Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta dikatakan bahwa kak Cempaka hanya bisa disembuhkan dengan kekuatan gerbang ke enam yang sudah sempurna. Sedangkan aku belum mencapai tingkatan itu,” jawab Bayu.
Saat ini Bayu, Jaka, Pranggala, Intan, dan Dewi Pedang Khayangan sedang berkumpul di kamar peristirahatan yang ditempati Cempaka. Keadaan istri pendekar halilintar itu mulai memprihatinkan. Ia tak lagi sadarkan diri. Kondisinya sekarang benar-benar kritis.
“Mengapa ketua tidak mempelajarinya saja. Bukankah kitab itu sudah ditangan ketua. Hal ini pun akan membawa kebaikan pada kita dan dunia persilatan umumnya,” ucap Pranggala sedikit tidak mengerti dengan sikap ketuanya.
“Tidak akan keburu kalau aku mempelajari gerbang ke enam sekarang baru mengobati kak Cempaka. Orang yang paling cepat dalam mempelajari gerbang keenam dia membutuhkan waktu selama empat puluh hari bertapa ditambah dengan satu tahun melatihnya. Apabila orang itu tidak berbakat bagus maka pertapaannya bisa mencapai empat tahun lamanya,” ungkap Bayu menjelaskan.
Tentu saja semua yang ada di sana menjadi terkejut dengan penjelasan Bayu. Walaupun mereka tahu bahwa mempelajari ilmu yang tinggi bukanlah hal yang mudah dan waktu yang dibutuhkan pun tidaklah singkat. Namun karena mereka memang sangat berharap dengan kemampuan Bayu untuk bisa menyembuhkan Cempaka, maka merekapun menggantungkan harapan lebih kepada pemuda itu.
__ADS_1
“Anak muda, aku tunggu kau di belakang lembah dekat pemakaman”
Sedang sibuk memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengobati Cempaka tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sudah sangat dikenal oleh Bayu. Dialah sosok cahaya misterius yang beberapa waktu lalu menemui Bayu. Mendengar itu Bayu penuh semangat, timbul harapan di hatinya untuk meminta bantuan orang tua tersebut mengobati Cempaka.
“Tunggulah kalian di sini, sepertinya kak Cempaka bakalan tertolong. Ada seseorang yang memiliki kemampuan ilmu tujuh terbang alam semesta sampai ke tingkat tujuh. Aku akan meminta bantuannya untuk mengobati Kak Cempaka. Dia mengundangku untuk bertemu di belakang lembah,” ucap Bayu, kemudian melesat meninggalkan tempat itu.
Ucapan Bayu ini sangat sulit diterima kebenarannya oleh semua orang yang ada di sana. Sepengetahuan mereka semua yang ada di sana, Bayu lah satu-satunya yang memiliki ilmu tujuh gebang alam semesta yang tersisa setelah kematian Empu Adhiyak Sona. Namun mau tidak mau mereka harus percaya dengan perkataan Bayu, tak mungkin pemuda itu berbohong untuk sekedar menyenangkan mereka.
Di ujung Lembah neraka tempat dikuburkannya para suku api yang telah mati, nampak seorang lelaki tua yang dari penampilannya berusia sekitar enam puluh tahunan. Dia menggunakan pakaian serba putih memegang sebuah tongkat berwarna ke emasan yang berukiran sisik naga, dengan kepala burung rajawali. Sebenarnya usia lelaki tua itu bukanlah seperti yang terlihat dari penampilannya kalau dihitung-hitung mungkin usianya sudah mencapai seratus lima puluh tahunan lebih. Orang tua itu tidak lain adalah Begawan Nirwasita.
“Aku Bayu Aruna menghadap Datuk. Maafkan kelancangan cucumu ini saat pertemuan terdahulu,” ucap Bayu seraya berlutut kepada Begawan Nirwasita.
“Hahaha.. rupanya kau sudah mengetahui siapa aku, cucuku. Sebelumnya aku beritahukan padamu mungkin aku tidak akan lama disini. Mungkin aku akan moksa segera setelah ini. Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan petunjuk bahwa orang yang akan mewarisi seluruh kemampuanku akan lahir pada seratus lima puluh tahun yang akan datang. Untuk itu aku akan segera berpindah alam dengan cara moksa hingga seratus lima puluh tahun yang akan datang muncul kembali memenuhi kewajibanku,” tutur Begawan Nirwasita.
Sejenak Bayu terdiam mendengar ucapan orang tua itu. Mendengar ucapannya berarti begawan Nirwasita tidak akan lama lagi berada di dunia ini. Kelak seratus lima puluh tahun yang akan datang baru ia akan muncul lagi. Itu artinya tidak akan ada lagi orang yang bisa memberi petunjuk kepada Bayu mengenai ilmu tujuh gerbang alam semesta.
“Ada beberapa hal yang akan kusampaikan padamu dan harus kau ingat baik-baik!
__ADS_1
Pertama, kau telah terpilih oleh takdir untuk menguasai ilmu tujuh gerbang alam semesta, yang artinya bencana yang akan datang di dunia ini ada di pundakmu tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Untuk itu bersungguh-sungguhlah dalam berlatih untuk menguasai ilmu tersebut paling tidak sampai ke tingkat enam yang sempurna. Bila kau tidak bersungguh-sungguh mempelajarinya maka kelak alamlah yang akan memaksamu. Dan itu bukanlah hal yang menyenangkan, karena pemicunya tentu hal yang akan membuatmu mengalami kedukaan yang besar.
Kedua, ingat selalu nasehatku ini. Segala sesuatu yang terjadi di semesta ini sudah diatur oleh sang pencipta yang maha segalanya. Dan semua pasti ada kebaikan dibalik setiap kejadian sekalipun kejadian itu sangat menyedihkan bagimu. Maka bila bersedih janganlah terlampau sedih dan bila kau gembira janganlah terlampau bergembira. Dua hal itulah yang ingin ku sampaikan padamu dan harus kau pegang dan selalu kau ingat. Dalam kekuatan yang besar ada tanggung jawab dan ujian besar pula yang harus dihadapi.”
Panjang lebar Begawan Nirwasita memberikan wejangan kepada cucunya itu. Bayupun mendengarkannya dengan serius. Ada banyak sebenarnya yang ingin ditanyakannya kepada datuknya itu. Namun belum ucapan itu terlontar sang Datuk pun memberikan jawaban.
“Cucuku mengenai semua pertanyaan mu itu akan terjawab dengan sendirinya satu persatu dalam hidupmu. Biarlah takdir dan alam yang menjawabnya. Untuk istri kakak angkatmu itu kaulah yang harus berusaha mengobatinya. Karena ini takdirmu bukan takdirku.”
“Tapi bagaimana aku melakukannya Datuk. Sedangkan ilmu tujuh gerbang alam semesta yang ku kuasai saat ini hanya sampai ke tingkat lima secara sempurna. Untuk mempelajarinya pun memerlukan waktu yang lama sedangkan waktu yang dimiliki oleh kak Cempaka hanya tinggal beberapa hari saja.”
“Gunakanlah pedang pusaka naga dibantu oleh kekuatan bidadari giok es untuk menggunakan gerbang ke enam. Setelah pedang itu bercampur dengan kekuatan Bidadari giok es, perlu waktu tiga bulan untuk pedang penguasa naga pulih kembali kekuatannya. Jadi saat itu ia akan menjadi pedang biasa yang tak memiliki kekuatan apa-apa. Tapi perlu kau ingat, cara ini hanya boleh digunakan satu kali, apabila kau menggunakan nya untuk yang kedua kali maka seluruh kekuatan yang kau miliki akan musnah,” ucap Begawan Nirwasita menjelaskan.
Bayu pun mengangguk kan kepalanya tanda memahami apa yang disampaikan oleh datuknya itu. Pada dasarnya ia tidak terlalu membutuhkan pedang penguasa naga itu, sehingga dia berpikir tidak mengapa pedang itu kehilangan kekuatannya selama tiga bulan. Dengan ilmu tujuh gerbang alam semesta yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan di tingkat ke lima dirasanya sudah cukup.
Setelah berpamitan dengan Bayu akhirnya Begawan Nirwasitapun menghilang dalam bentuk cahaya yang sangat terang. Orang tua itu telah menjalani moksa untuk waktu yang sementara. Orang tua itu akan muncul lagi memenuhi janjinya untuk mewariskan seluruh kepandaiannya kepada seseorang yang memiliki takdir dengannya.
Bersambung..
__ADS_1