
“Tapi guru, bila memang tadi malam terjadi pertarungan hebat, kenapa tak satupun dari kita mengetahuinya. Padahal keadaan yang porak poranda seperti ini mustahil tak dapat kita dengar.” Tanya Nalini lagi.
“Entahlah… tapi menurut pendapatku, sebenarnya kita merupakan target menjadi santapan mahluk jejadian ini. Karena konon untuk mempertahankan hidup dan kesaktiannya Genderuwo Pemakan Jiwa harus memakan daging manusia setiap satu purnama. Bisa jadi kita terkena ilme sirep dari mahluk ini sehingga tidak merasakan apa-apa.”
“Kalau begitu, berarti tokoh sakti yang bertarung dengannya itulah yang menyelamatkan kita. Lalu kemana dia? Kenapa menghilang begitu saja.”
“Hmmm.. kemungkinan besar memang seperti itu. Memang kebiasaan tokoh dunia persilatan yang berjiwa pendekar tidak ingin menonjolkan diri. Mereka tak haus akan imbalan ataupun pujian. Bersyukur kita terhindar dari marabahaya.” Kata ki Farja lagi menerangkan.
Kemudian guru dari Nalini itu merangkapkan kedua tangannya dan sedikit membungkuk. Hal itu diikuti oleh Nalini. Sedangkan Bayu hanya diam malah tersenym cengar cengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Eh.. Kenapa kau tertawa kak Bayu?” tanya Nalini keheranan.
Ki Farja pun mengawasi tingkah anak itu. Ada perasaan sedikit dongkol di hatinya melihat reaksi anak itu. Ia tahu bahwa Bayu pasti berpikiran aneh akan apa yang ila lakukan dengan Nalini. Menjura tanpa melihat orang yang di berikan penghormatan.
“Tidak apa-apa” Sahut Bayu sambil tersenyum simpul.”
Berdesir juga perasan Nalini melihat senyum Bayu yang ditujukan padanya. Apalagi pada dasarnya Pemuda itu memang sangat tampan. Di desa yang ia tinggali taka da satupun yang bisa menyamai pemuda itu. Terlebih lagi setelah mengenal kepribadian Bayu, Nalini berkesimpulan bahwa pemuda ini memang pemuda baik-baik.
“Tidak ada apa-apa kok senyum-senyum sendiri?” tanya Nalini polos.
“Sudah-sudah.. mari lanjutkan perjalanan.” potong ki Farja.
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan dengan Berjalan kaki. Sedangkan kuda-kuda mereka memang sudah di tinggal di sebuah rumah penduduk saat akan memasuki Hutan Kayu Arum. Karena memang letak Desa Karang Wangi memang berbatasan dengan Hutan Kayu Arum.
Sambil berjalan ki Farja menanyakan apa yang ia tau saat kejadian tadi malam, apakah dia terbangun atau merasakan sesuatu kepada Bayu. Namun Pemuda itu berkata tidak merasakan apa-apa. Dia juga dalam keadaan tertidur pulas sehingga tidak merasakan sesuatu apapun.
Bayu lebih memilih merahasiakan kejadian tadi malam. Ia sendiri merasa perlu menyelidiki siapa dirinya dan apa latar belakangnya. Saat Bayu sadar memiliki kekuatan yang istimewa, ia berkesimpulan ada sesuatu dalam masalalunya. Ia sendiri ragu apakah dulu menjadi orang baik atau orang jahat sehingga memutuskan untuk merahasiakan semuanya dulu.
Di perjalanan Bayu juga mulai sering bertanya tentang ilmu bela diri kepada ki Farja. Tidak sekali ia menanyakan tentang bagaimana caranya melakukan pukulan tenaga dalam, meringankan tubuh, dan banyak hal yang ia tanyakan. Sesekali Nalini yang menjawab pertanyaan-pertanyaan Bayu itu.
__ADS_1
Ki Farja sendiri cukup merasa senang dengan keingin tahuan Bayu. Karena sering kali ia ingin mengajari pemuda itu ilmu bela diri, namun selalu ditolak secara halus. Ki Farja memandang Bayu sebagai pemuda yang berbakat, sehingga ingin mengambilnya sebagai murid. Perubahan Bayu ini ia simpulkan karena apa yang mereka temui di hutan Kayu Harum. Guru Nalini itu menyangka Bayu ingin bisa menjaga dirinya sendiri.
Sebenarnya tujuan Bayu menanyakan itu semua berhubungan dengan tenaga sakti yang ia pahami tersimpan dalam tubuhnya, sedangkan dia tidak mengerti cara menggunakannya. Pemuda itu ingin mencari tau cara menggunakannya melalui ki Farja dan Nalini. Padahal Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta dapat ia pergunakan sekehendak hatinya tanpa perlu melakukan cara-cara tertentu.
Itulah kelebihan Ilmu tertinggi di dalam dunia persilatan itu. Bagi yang menguasainya, dia tidak memerlukan cara cara tertentu dalam menggunakan. Tenaga sakti itu mengikuti kehendak dari pemiliknya. Sehingga cukup mengkonsentrasikan fikiran maka dengan sendirinya tenaga itu bereaksi.
Setelah agak siang, akhirnya mereka keluar juga dari desa Kayu Arum. Hanya berjarak setengah mil dari hutan Kayu Arum, pintu gerbang desa Karang Wangi pun terlihat. Tak jauh berbeda dengan desa Bojana. Sama-sama memiliki pesisir pantai di sebelah kirinya. Perbedaanya nampak desa ini lebih ramai. Terdapat beberapa rumah makan dan penginapan di sana.
Ketiganya memasuki Desa Karang Wangi langsung menuju kediaman kepala desa di sana. Tak Jauh di tengah-tengah desa terdapat sebuah rumah yang sangat besar dengan ukiran-ukiran kuno menghiasi tiang dan dinding rumah. Ketiganya pun tiba di halaman depan rumah itu.
“Cari siapa ki?” tanya seorang lelaki paruh baya kepada ki Farja.
“Kepala Desa ada mang? Kami dari desa Bojana ada sedikit keperluan yang ingin di sampaikan.” Tanya ki Frja kepada lelaki separuh baya tadi.
“Ada ki, tapi sedang ke pesisir ada sedikit urusan. Silakan kalian masuk dulu ke dalam aku panggil beliau dulu. kedatangan kalian memang sedang di tunggu.
...***...
Hiyaattt…
Trang…
Singg…
“Istriku, sepertinya di sana ada orang yang sedang bertarung” ucap Jaka. Dari kejauhan Pendekar Halilintar mendengar pekikan suara orang bertarung dan beradunya sebuah senjata.
“Benar kakang, akupun mendengarnya.” sahut Cempaka.
“Mari kita liat siapa yang sedang bertarung.” Ajak Jaka.
__ADS_1
Pendekar halilintar melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya ke arah suara pertarungan. Di sana ternyata ada dua orang remaja lelaki dan perempuan berpakaian serba putih dengan mantel bulu melingkar di lehernya. Keduanya sedang bertarung melawan keroyokan delapan orang berpakaian abu-abu dengan topeng tengkorak menutupi wajah mereka.
“Bagaimana kakang? Apakah kita bantu mereka.” tanya cempaka kepada suaminya.
Keduanya memang sudah berada dekat dengan tempat pertarungan. Namun sepasang pendekar itu tidak langsung muncul, melainkan bersembunyi di atas pohon sambil memantau keadaan.
“Nanti dulu, kita lihat keadaan. Kita tidak tau pihak mana yang berada diposisi benar.” Cegah Pendekar Halilintar.
“Sepertinya kedua remaja itu berasal dari pulau Es kakang. Dari pakaian yang mereka kenakan merupakan ciri khas pakaian penghuni pulau Es.
“Benar katamu cempaka. Kemungkinan besar mereka berdua adalah penghuni pulau es. Dan dari pakaian yang digunakan kemungkinan mereka termasuk orang penting di pulau itu.”
“Bisa jadi kakang. Kalau tebakan ku tidak salah mereka adalah putra putri atau cucu-cucu dari raja pulau es sendiri.
Hiyaaaa..
Bukkk…
Bukkk…
Di tempat pertempuran nampak pemuda yang berpakaian putih mengeluarkan ilmu pukulannya. Seorang pengeroyok terhantam pukulan yang di lancarkan si pemuda. Kontan Orang yang terkena pukulan itu terjengkang dengan keadaan dada membeku dipenuhi gumpalan salju menutupi dadanya.
Tak lama berselang satu orang pengeroyok lagi mengalami kejadian yang sama. Terhantam oleh pukulan inti salju seorang gadis yang di keroyoknya. Kontan orang itu langsung tewas dengan dada membeku dipenuhi salju di dadanya.
“Anak-anak mundur kalian!”
Seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan menggunakan topeng tengkorak berwarna putih memerintahkan anak buahnya untuk mundur.
“Setan Tengkorak Putih..." seru kedua remaja itu berbarengan.
__ADS_1