Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.221. Rajawali Merah ke Barat


__ADS_3

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta


Episode 221


Jaka memposisikan diri tepat di belakang malaikat pedang dari negeri timur. Kemudian ia menempelkan kedua telapak tangannya di punggung pendekar Pedang tersebut. Perlahan pendekar Halilintar mulai menyalurkan tenaga saktinya ke tubuh lelaki tua tersebut.


Blaammm..


Tiba-tiba saja terjadi ledakan. Tubuh Jaka dan tubuh malaikat pedang dari negeri timur yang sama-sama terpental berlawanan arah. Untung saja Jaka tidak mengalami luka dalam karena kejadian tadi. Ia pun kemudian bangkit. Dilihatnya si Mata Malaikat dari Bukit Seribu Ular sedang mendudukkan kembali Malaikat Pedang dari Negeri Timur.


“Sudah kuduga kau pun tak akan mampu mengobatinya.” ucap Si Mata Malaikat dari Bukit Seribu ular.


“Apakah tidak ada cara pengobatannya lain untuk menyembuhkannya, tetua?”


“Tentu saja ada. Hanya saja apakah orang yang mampu itu ada?” jawab si Mata Malaikat penuh teka-teki.


“Maksud tetua bagaimana?”


“Selama aku menjalani hidup di dunia ini, hanya kau satu-satunya orang yang paling sakti yang pernah kutemui. Bahkan  bisa dikatakan melebihi guruku sendiri. Sedangkan jalan api yang dialami oleh Wira Mukti hanya bisa diobati oleh orang yang memiliki kesaktian berada di atasmu.


“Berapa lama dia mampu bertahan tetua?” tanya Jaka.


“Setahuku orang yang mengalami jalan api baginya hanya mampu bertahan selama empat belas hari. Mengapa kau bertanya demikian? Memangnya ada orang memiliki kesaktian melebihi dirimu di selatan ini.” Tanya si Mata Malaikat penasaran.


“Sebenarnya ada tetua. Hanya saja apakah kita bisa menemuinya dalam waktu kurang dari empat belas hari itu.”


“Benarkah? Siapakah orangnya yang kau maksud?”


“Dia adalah adikku sendiri si Rajawali Merah. Hanya saja aku tidak  tahu pasti di mana keberadaannya. Terakhir kami bertemu di bukit Benteng Dewa. Namun melihat dari lamanya waktu kami terakhir bertemu ada kemungkinan dia telah meninggalkan Bukit tersebut.” Jawab Jaka.

__ADS_1


“Kakang, bagaimana kalau kita berpencar. Kau ke Istana Lembah neraka sedangkan aku ke bukit benteng Dewa. Sesampainya di sana apabila kita tidak menemukan mereka maka kita dapat meminta pihak istana Lembah neraka ataupun benteng dewa untuk mencarinya.” Timpal Cempaka.


“Lalu tetua yang sedang terluka ini dibawa kemana?”


“Sebaiknya kau bawa serta ke lembah neraka. Apabila nantinya yang bertemu dengan Bayu aku yang berada di benteng dewa, maka akan ku suruh dia cepat-cepat untuk ke istana lembah neraka. dengan kemampuan yang sekarang tidak akan butuh waktu yang lama untuk berpindah tempat ke lembah neraka.”


“Boleh juga saranmu itu.” Jawab Jaka. “Bagaimana pendapatmu tetua?” tanya Jaka lagi kepada si mata malaikat.


“Sebenarnya Aku tidak keberatan. Hanya saja apakah benar adikmu yang bergelar Rajawali merah itu memang kesaktiannya berada diatas mu. karena apabila itu tidak benar maka apa yang kita lakukan hanyalah sia-sia.”


“Kau tidak bisa meragukannya Tetua. Ilmu yang ku miliki saat ini saja merupakan hasil dari yang diajarkannya. Mungkin kau pernah mendengar tentang kehebatan ilmu 7 gerbang alam semesta. Maka dialah satu-satunya orang yang memiliki ilmu tersebut di dunia persilatan ini.”


“Apa! Ilmu tujuh gerbang alam semesta?” apabila memang benar adikmu itu memiliki ilmu tersebut, maka memang benar dialah satu-satunya yang bisa mengobati sahabatku ini.”


“Yang dikatakan Kakang Jaka itu memang benar tetua.”


Setelah sepakat mereka pun akhirnya menempuh perjalanan yang berbeda. Cempaka seorang diri menuju bukit benteng Dewa sedangkan Jaka dan dua orang pendekar dari timur itu mengikuti Jaka menuju Lembah Neraka.


Sementara itu Bayu yang sedang dicari oleh Jaka dan Cempaka sedang berada di daerah perbatasan negeri Barat. Dia bersama dengan Intan sedang melakukan perjalanan mencari keberadaan Nalini. Kali ini Bayu telah mengganti pakaiannya dengan pakaian khas Rajawali merah. Intan sendiri sudah mengenakan pakaian serba putih dengan mantel layaknya seorang Dewi.


“Apakah kau yakin Nalini melewati jalan ini Intan?” Tanya Bayu kepada Intan.


“Benar kak Bayu. Kami yang di dalam tubuh terdapat kekuatan roh makhluk keramat, bisa saling merasakan keberadaan masing-masing. Hanya saja akhir-akhir ini keberadaan kak Nalini tidak lagi bisa kurasakan.” Jawab Intan.


“Apa jangan-jangan.. Ah..” ucapan Bayu terputus. Pemuda itu tidak jadi mengungkapkan kekhawatirannya.


Tenang saja kak Bayu tidak terjadi apa-apa pada diri kak Nalini. Seandainya orang yang di dalam tubuhnya memiliki kekuatan roh makhluk keramat meninggal dunia, maka kami bisa saling merasakan. Aku kehilangan jejak Kak Nalini ini bisa jadi dia memasuki daerah yang memiliki penghalang kekuatan ghaib.” Ucap intan menjelaskan.


“Syukurlah kalau begitu.” Ucap Bayu merasa lega.

__ADS_1


Keduanya kemudian menyusuri jalan setapak yang memasuki sebuah hutan menuju negeri Barat. Walaupun mereka hanya berjalan kaki, tak nampak debu debu menempel pada tubuh maupun pakaian mereka. Hal ini dikarenakan perlindungan otomatis dari tenaga sakti yang dimiliki masing-masing. Setiap debu yang terbang ingin menyentuh mereka selalu saja terhalang oleh sebuah kekuatan yang tak nampak.


“Berhenti sebentar Intan!” cegat Bayu.


Keduanya pun menghentikan perjalannya. Nampak Bayu tengah berkonsentrasi melihat ke depan. Rupanya pemuda itu sedang menggunakan Ilmu Jagad Netra dan juga Jagad rungu mengetahui keadaan di depan.


“Ada apa kak Bayu?” tanya Intan.


“Di depan ada ribuan prajurit sedang berkemah. Sepertinya mereka merupakan orang-orang nya Kerajaan Barat. Baiknya kita mengambil jalan memutar saja, atau kita melewati sungai saja untuk ke Negeri Barat. Bukannya aku takut, hanya saja aku tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.


Keduanya pun berbalik arah mengambil jalan berbeda. Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di tepian sungai. Bayu sesekali melihat-lihat ke arah sungai sambil menunggu perahu yang datang. Tahun berapa lama kemudian sebuah perahu yang cukup besar lewat.


“Den.. mau kemanakah?”


Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah perahu. Nampak seorang lelaki separuh baya melambai-lambai ke arah Bayu dan Intan.


“Kami ingin pergi ke negeri barat Paman. Apakah kalian juga akan pergi ke sana? Apa bila ke sana boleh kah kami ikut menumpang.” Teriak Bayu.


“Tunggu di sana dan kami akan menepi.” Seru lelaki separuh baya yang tadi berteriak.


Sesaat kemudian kapal itu pun merapat ke sebuah tempat singgah yang berbentuk dermaga kecil. Tak lama kemudian muncullah seorang lelaki separuh baya tadi menghampiri Bayu dan Intan.


“Den, den ayu.. majikan kapal mengundang kalian untuk masuk ke dalam. Mari den!” Ucap Lelaki separuh Baya itu.


Bayu dan Intan saling pandang. Kemudian keduanya mengikuti lelaki separuh baya itu masuk ke dalam kapal. Di dalam dek kapal terlihat dua orang lelaki dan perempuan separuh baya berdiri menyambut mereka. Keduanya langsung tersenyum ramah melihat kedatangan Bayu dan Intan.


“Ahhh.. ternyata benar-benar bak Dewa dan Dewi, sangat Tampan dan Cantik. Bukan hanya terlihat dari jauh ternyata dari dekat semakin nampak. Pasangan yang sangat serasi.” Ucap perempuan separuh baya yang langsung menggenggam tangan Intan.


“Ahh Nyai.. jangan seperti itu, kau membuat mereka tidak nyaman saja. Maafkan sikap istriku nona. Dia memang sangat senang dengan anak seumuran kalian. Anak-anak kami seandainya masih ada pasti mereka berdua seumuran kalian.” Ucap Lelaki yang merupakan suami dari perempuan itu yang juga merupakan sang pemilik kapal.

__ADS_1


__ADS_2