Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.141. Serigala Sakti Daratan Timur


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 141...


Tak berapa lama melakukan perjalanan dengan kuda dari tempat ki Sarjo, Jaka, Cempaka, dan Canik Kemuning tiba di Balai Desa Panderaman. Nampak puluhan orang-orang berpakaian hitam sudah siap menanti kedatangan Jaka dan yang lainnya. Berjarak tiga puluh tombak dari orang-orang itu mereka mendapatkan kuda. Kemudian perlahan mereka mendekati orang-orang berpakaian hitam dan pimpinannya.


“Kisanak.. kau kah yang menantangku?” Tanya pimpinan orang-orang berbaju hitam.


Orang itu mengenakan pakaian berwarna coklat tua. Baju bagian dadanya nampak terbuka menampakkan otot-otot perut dan dadanya yang bidang. Yang anehnya walau badannya terlihat seperti orang muda berumur tiga puluh tahunan, namun wajah dan rambutnya nampak seperti kakek-kakek berumur enam puluhan.


“Hmmm.. kau kah yang menjadi pimpinan di tempat ini? Apa tujuanmu merusak pemuda-pemuda di sini?”


“Hahaha rupanya benar-benar kau orangnya. Dan kalau aku tidak salah kau adalah Pendekar Halilintar terkenal itu. Sebuah kehormatan bagiku bertemu denganmu. Dan juga sebuah kehormatan untukku bisa membunuhmu di sini hahaha.”


“Siapa kau orang tua? Sesumbar benar kau mau menghabisi suamiku. Melawan ku saja belum tentu kau mampu.” Ucap Cempaka sinis.


“Orang-orang menyebutku Serigala sakti daratan timur.” Jawab pimpinan orang-orang baju hitam itu. Cantik juga istrimu Pendekar Halilintar. Aku berjanji setelah kau mangkat istrimu itu akan kujadikan istri ke empat yang paling ju sayangi hahaha.”


“Bedebah kau orang tua. Siapa sudi menjadi istrimu manusia aneh separu tua separu muda itu.” Ejek Cempaka.


Dewi Selendang Ungu langsung melesat ke arah Serigala Sakti daratan timur. Melihat penyerangnya hanyalah seorang perempuan ia hanya tertawa meremehkan. Cempaka sendiri sudah mengebutkan selendangnya ke arah lawan. Selendang ungu yang mengandung tenaga sakti itu meluncur cepat ke arah Serigala Sakti Daratan Timur.


Blamm..


Tiba-tiba terjadi ledakan saat selendang ungu yang dikebutkan Cempaka di tangkis oleh lawannya. Istri Pendekar Halilintar itu terdorong mundur dua langkah. Begitu juga Serigala Sakti Daratan Timur, tubuhnya terhuyung dua langkah kebekakang.


“Berisi juga kau rupanya betina. Kali ini kau akan tau seberapa hebat calon suamimu ini hahaha.”


Serigala Sakti Daratan Timur melompat ke angkasa. Lelaki setengah tua setengah muda itu melesat ke arah Cempaka. Istri Pendekar Halilintar itupun sudah bersiap memapaki serangan lawannya.


“Kak Cempaka biar aku saja yang menghahajar lelaki kurang ajar ini.”

__ADS_1


Plakk..


Belum sempat Cempaka menjawab, Canik Kemuning telah melesat lalu menangkis serangan Serigala Sakti menggunakan sebuah pit (semacam alat tulis untuk melukis) yang menjadi senjata andalannya. Pit itu tepat mengenai langsung telapak tangan lawan. Seketika Serigala Sakti terlempar balik dan menimpa beberapa orang anak buahnya. Saking kerasnya daya lempar yang di hasilkan tenaga sakti Canik Kemuning, sampai-sampai beberapa orang anak buah lawannya yang tertimpa itu langsung tewas di tempatnya.


“Bedebah.. Anak-anak serang mereka bertiga. Bunuh sekalian jangan kasih ampun.” Perintah Serigala Sakti Daratan Timur yang sangat marah telah dipecundangi Canim Kemuning.


Serentak semua orang berpakaian hitam yang jumlahnya hampir empat puluhan itu menyerang Jaka dan yang lainnya. Sambil melesat ke arah lawan, orang-orang berpakaian hitam mengerahkan tenaga saktinya. Seketika kedua pergelangan tangan mereka berubah menjadi hitam, dan menimbulkan bau amis.


Walau dikeroyok empat puluh orang lawan yang menggunakan pukulan beracun, mudah saja bagi mereka  melayani. Hanya beberapa saat saja sudah sepuluh orang tewas karena hajaran mereka bertiga.


Hiyaaaa...


Blammm..


Pendekar Halilintar memekik dan melontarkan tinju halilintarnya. Tenaga dahsyat tercipta dan menghamtam lebih sepuluh orang musuh. Sontak mereka terkapar dengan kondisi menggenaskan ada juga yang masih hidup namun keadaanya sekarat.


Melihat anak buahnya semakin lama semakin berkurang, Serigala Sakti Daratan Timur hendak kabur. Namun sayangnya niat orang itu di ketahui oleh Jaka. Saat ia akan melesat meninggalkan tempat itu, Pendekar Halilintar langsung menyerangnya dengan pukulan sakti tingkat tinggi.


Serigala Sakti Daratan Timur tersambar langsung tinju halilintar yang menjadi andalan Jaka. Seketika orang itu terlempar melayang keatas lalu jatuh. Ia tewas seketika dengan keadaan tubuh membiru, hidung dan telinganya mengeluarkan darah.


“Sayang sekali pemuda-pemuda tak bersalah ini di jadikan alat oleh musuh menjadi senjata penghancur. Yang lebih di sayangkan walaupun kita bisa menyelamatkan mereka, namun kita tak bisa menyembuhkan kesadaran mereka. Bahkan seandainya mereka tak diapa-apakan empat puluh hari kedepan setelah dicekoki racun kelabang untuk dijadikan senjata, mereka akan mati sendiri.”


“Jadi bagaimana baiknya kakang?” tanya Cempaka yang bingung bertindak setelah mendengar penjelasan Jaka.


“Habisi saja mereka, dari pada menyusahkan orang-orang kampung.” Timpal Canik Kemuning.


Dalam waktu singkat tempat itu menjadi pembantaian masal orang-orang yang dianggap pembawa onar. Tak lama kemudian muncul Ki Sarjo bersama puluhan penduduk desa yang lain. Serempak beberapa orang dari mereka berhamburan hendak memeriksa para pemuda berbaju hitam kalau-kalau ada diantara mayat-mayat yang bergelimpangan.


“Awas jangan di sentuh! Tubuh mereka beracun! Cegah Jaka saat para penduduk hendak memeriksa jasad para pemuda yang bergelimpangan.


“Aaaa..”

__ADS_1


Tetap saja seruan Jaka terlambat. Beberapa orang penduduk sempat menyentuh jasad pemuda yang mereka periksa. Sontak mereka yang menyentuh menjadi keracunan dan tewas di tempat.


“Ki Sarjo, kami pamit dulu. Tubuh mereka baru bisa disentuh setelah setengah hari lamanya.” Ucap Jaka.


Jaka, Cempaka dan Manik Kemuning melompat langsung keatas kuda mereka. Kemudian ketiganya pun pergi meninggalkan Desa itu. Untuk sementara kedamaian kembali tercipta di desa Panderaman.


...***...


hari ini adalah hari ketiga semenjak Bayu terjebak di dalam dunia semadi seperti yang di katakan orang yang mengaku dirinya Sebagai Penguasa Jagad. Nalini dan beberapa orang utama Istana Lembah Neraka menunggui pemuda itu di samping pembaringan. Nampak tubuhnya tak lagi memancarkan sinar putih terang.


Mata Bayu mulai terbuka secara perlahan-lahan. Tangan dan beberapa anggota tubuh lain pun mulai terlihat bergerak. Beberapa saat kemudian mata pemuda itu benar-benar terbuka penuh.


“Di mana penyusup tadi?” bentak Bayu tiba-tiba. Secara tiba-tiba  pemuda itu bangun dari berbaring nya.


“Ketua, tenanglah.. musuh telah pergi dari tempat kita.” Ucap Pranggala.


Nalini, Pranggala, dan dua tokoh utama Istana Lembah Neraka saling pandang. Mereka mengira tak ada perubahan yang terjadi pada diri Bayu. Mereka menyangka ingatan pemuda itu belum kembali.


“Ketua? Apakah ingatanmu belum pulih?” Tanya Pranggala blak-blakan.


“Akhh..” tiba-tiba Bayu menjerit sambil memegangi kepalanya.


“Apa yang terjadi kak Bayu?” tanya Nalini sambil memijat kepala pemuda itu


“Aku telah bisa mengingat semuanya.” Seru Bayu.


Pranggala begitu senang mendengar ucapan Bayu. Lain halnya dengan Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Khayangan. Keduanya ada ke khawatiran kembalinya ingatan Bayu akan menjadi dirinya yang dulu. Terlebih lagi Nalini, gadis itu khawatir kalau-kalau Pemuda itu tak menghiraukannya lagi.


Bersambung...


Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja. 

__ADS_1


 


__ADS_2