Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Perubahan Di Perguruan Tangan Dewa


__ADS_3

Episode 321


“Tenang saja, aku tidak akan melupakan janjiku pada orang-orang suku api,” ucap Pangeran Mandaka yang diingatkan tentang janjinya kepada orang-orang suku api.


Eka Wira hanya tersenyum melihat reaksi pangeran Mandaka. Ia tau bekas putra mahkota kerajaan selatan yang kini terguling itu sedikit tersinggung oleh ucapannya. Namun ia tidak peduli, karena apa yang dilakukannya semua untuk suki api. Eka Wira tak ingin ada orang yang meminta bantuan para suku api namun tidak memberikan apa-apa sebagai imbalannya.


Keesokan harinya Eka Wira datang ke tempat pertapaan Dewa Api dan Dewi Api. Kebetulan sekali saat pemuda itu datang, sepasang jelmaan Burung api keramat itu telah menyelesaikan pertapaannya. Itu artinya keduanya telah mendapatkan kekuatan penuhnya.


“Sembah kepada Dewa dan Dewi Api!” seru Eka Wira sambil berlutut.


“Bangunlah! Apakah yang membawamu datang kemari Eka Wira? Hingga kau tidak sabar untuk menunggu di pemukiman suku api saja,” tanya Dewi Api.


Eka Wira pun menceritakan tentang kedatangan Pangeran Mandaka pemukiman suku api. Ia juga menerangkan tentang sikap yang dimiliki oleh pangeran Mandaka yang terkenal liciknya. Eka Wira menerangkan syarat yang diberikannya untuk pihak suku api membantunya.


Dewi Api yang kala itu sebagai wakil dari sepasang burung api keramat memuji kecerdasan Eka Wira. Ia pun menyetujui untuk bertemu dengan pangeran Mandaka di pemukiman suku api nanti. Mendengar jawaban Dewi Api, pemuda itupun sangat senang. Kemudian ia memohon diri untuk kembali ke pemukiman suku api.

__ADS_1


Sesampainya di pemukiman ia langsung dihampiri oleh pangeran Mandaka yang tidak sabaran untuk mendengar hasil pertemuan antara Eka Wira dan Dewa Dewi suku api. Eka Wira pun menjelaskan bahwa sang dewa dan Dewi setuju bertemu denga pangeran Mandaka. Tak lama lagi keduanya akan datang ke pemukiman suku api. Tentu saja pangeran Mandaka sangat senang mendengar hal ini.


Sementara itu perjalanan Bayu menuju Benteng Dewa sedikit mendapati hambatan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan bekas anak anak buah raja selatan dari golongan persilatan. Rata-rata mereka berubah haluan menjadi perampok penunggu hutan atau jalanan yang sepi. Namun sayang usaha perampokannya kali ini salah sasaran, mereka telah cari penyakit dengan pendekar muda nomor satu saat ini.


“Anak muda, ini daerah kekuasaan kami. Apabila kau ingin melewati tempat ini maka tinggalkan barang bawaanmu. Kalau tidak maka nyawamu yang akan kau tinggalkan di sini.”


Bayu mengerutkan keningnya saat perjalanannya dicegat oleh sekumpulan orang berpakaian serba hitam  dengan gambar tengkorak di dada mereka. Seandainya ada orang-orang persilatan di sana,  pasti mereka akan mengatakan mereka orang-orang bodoh yang tak melihat tingginya langit. Jangankan mereka orang-orang yang memiliki kemampuan ilmu silat tingkat rendahan, para ketua perguruan silat ternama sekalipun akan berpikir seribu kali untuk merampok si Rajawali Merah.


Bayu terus berjalan tanpa memperdulikan ancaman orang yang menghadangnya. Seolah tak melihat pun orang di depannya ia berjalan dengan tenangnya. Melihat itu tentu saja para perampok itu merasa diremehkan. Kawanan perampok yang berjumlah sekitar lima belas  orang itu pun menghunuskan pedang bersiap menyerang Bayu.


Tiba-tiba saja puluhan batu kerikil di tempat itu terangkat dan melayang di udara. Kemudian seluruh kerikil melesat menyerang para perampok. Seketika mereka terdiam tak bergerak. Salah satu nadi kaku mereka tertotok sehingga mereka tidak bisa bergerak lagi.


Mendengar orang yang mereka hadang adalah Rajawali merah, tentu saja hal itu sangat mengejutkan para perampok itu itu. Nama Rajawali marah siapa pun tidak akan tidak mengenalnya. Bukan hanya di negeri Selatan yang kini bernama negeri Nagendrapura, bahkan di empat kerajaan besar dunia nama itu menjadi momok menakutkan bagi kalangan hitam. Apalagi semenjak tersiar kabar bahwa kini kawasan  Lembah Neraka dan sekitarnya sudah berubah menjadi kerajaan kecil, dan Rajawali Merahlah sebagai rajanya.


Setelah memberi peringatan Bayupun berlalu meninggalkan tempat itu. Kelak setelah mereka  terlepas dari totokan Bayu, para perampok itu benar-benar meninggalkan hutan. Mereka benar-benar ketakutan dengan ancaman Bayu.

__ADS_1


Setelah beberapa lama melakukan perjalanan, akhirnya Bayu sampai ke Benteng Dewa. Bayu memang sengaja melakukan perjalanan sedikit santai untuk mengetahui perkembangan dunia luar. Di perguruan Tangan Dewa pemuda itu melakukan beberapa perubahan. Ia menyerahkan posisi ketua kepada Arya sedangkan dirinya sendiri menjadi pelindung agung di perguruan itu.


Walau awalnya terdapat penolakan dari Arya dan sebagian besar murid, setelah Bayu menjelaskan bahwa ia tidak serta merta melepaskan perguruan tangan dewa, dan malah meminta diangkat sebagai pelindung agung di perguruan itu, akhirnya semua muridpun setuju. Besok harinya dilakukan upcara pengangkatan ketua baru, dan sebuah posisi baru yaitu pelindung agung. Pelindung agung sendiri diposisikan masih berada diatas ketua dalam hal kedudukan, namun dalam hal kepemimpinan ketua perguruanlah pemimpin mutlak.


Setelah beberapa hari berada di perguruan tangan dewa, Bayupun memohon  diri untuk meninggalkan tempat itu. Sebelumnya ia sudah meminta Arya untuk menyelidiki dimana keberadaan Pangeran Mandaka dan orang-orangnya. Arya pun menunjuk beberapa murid perguruan untuk mencari informasi tentang keberadaan pangeran Mandaka.


***


Hari itu, Dewa dan Dewi api datang berkunjung ke pemukiman para suku api. Kedatangan keduanya disambut gembira semua penghuni pemukiman suku api. Sebagian besar mereka menganggap Dewa dan Dewi api merupakan sepasang dewa dan dewi yang turun dari langit. Pangeran Mandaka yang masih berada di sanapun terlihat sangat senang dengan kedatangan mereka berdua.


“Puja Dewa dan Dewi Api!” seru para anggota suku api sambil bersujud menyembah keduanya.


“Bangunlah, siapkan hidangan istimewa buat kami,” ucap Dewi Api.


Kemudian Wira Eka menghampiri Dewa dan Dewi api, ia mengingatkan kembali keduanya tentang keberadaan Pangeran Mandaka yang masih berada di pemukiman suku api yang menunggu mereka  berdua. Dewa dan Dewi Api menganggukkan kepala mereka bersamaan, tanda memahami isyarat dari Eka Wira.

__ADS_1


Setelah menikmati hidangan yang telah disediakan orang-orang suku api, dewa dan dewi api pun beranjak ke Bangunan utama suku api. Tak lama kemudian Eka Wira datang bersama pangeran Mandaka untuk menghadap. Oleh Dewi Api mereka diizinkan untuk bertemu keduanya.


 


__ADS_2