Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
79. Tiga Kelabang Hitam


__ADS_3

"Lalu bagaimana tuan pendekar? apakah anak saya bisa ditolong?" tanya Pemimpin kota yang semakin khawatir dengan keadaan anaknya.


"Bisa di tolong, seandainya kita menemukan salah satu dari dua orang tadi." tegas Jaka.


Seketika semua orang terdiam. Menemukan dua orang itu adalah hal yang sangat tidak mungkin dalam waktu dekat. Apalagi jarak yang ditempuh sangat jauh.


"Berapa lama gadis ini bisa bertahan kakang?" tanya Cempaka kepada Pendekar Halilintar.


"Empat puluh hari semenjak dia terkena pukulan kelabang hitam." jawab Jaka. "Sudah berapa lama anak tuan terkena pukulan ini?" tanya Jaka kepada Pemimpin kota.


"Sudah satu pekan ini tuan pendekar" jawab Istri Pemimpin kota yang melihat suaminya agak kebingungan menghitung-hitung dengan jari.


"Baiklah, dalam beberapa hari ini kita tinggal di sini, dan lihat siapa si penyerang. Untuk itu saya mohon bantuan tuan melakukan sandiwara memancing keluarnya si pelaku." ucap Jaka. "Kalau saya tidak salah perhitungan, dari cerita yang tuan ceritakan tadi, si pelaku punya maksud tersendiri yang berhubungan dengan jabatan tuan." tambah Jaka lagi.


Sehari sesudah kedatangan Jaka dan yang lainnya, diumumkan bahwa akan ada pengangkatan seorang wakil pemimpin kota. Di balai kota terlihat dikunjungi warga. Tepat di halaman luas balai kota nampak seorang lelaki yang di dampingi pemimpin kota sedang berdiri menyampaikan pidato. Dialah wakil pemimpin kota yang baru saja dilantik.


"Hihihi lucu juga kak Jaka didandani brewokan seperti itu." ledek Intan kepada Cempaka.


Nampak Intan dan Cempaka berada di kerumunan orang-orang di yang sedang menonton acara pengangkatan wakil pemimpin kota itu. Rupanya ini salah satu bagian dari rencana Jaka untuk memancing si penyerang datang. Jaka berpura-pura diangkat sebagai Wakil Pemimpin Kota.


Ternyata rencana ini memang cukup berhasil. Pada malamnya setelah tersiar berita pengangkatan pejabat wakil pemimpin walikota sebuah bayangan mengendap-endap berlompatan dari rumah kerumah menuju kediaman wakil pemimpin kota yang baru. Dari gerakannya melompat antar rumah kerumah tanpa menimbulkan suara sedikitpun, nampak ia bukanlah orang sembarangan.


Sesampainya di atas atap rumah baru wakil pemimpin kota, perlahan bayangan itu pun turun ke pekarangan rumah. Tanpa curiga sedikitpun bayangan itu memasuki rumah. Mudah saja bayangan itu menghancurkan kunci pintu tanpa menimbulkan suara.


Setelah beberapa kali membuka kamar rumah yang ternyata isinya bukan yang ia cari akhirnya bayangan itu menemukannya. Di kamar ke empat yang ia masuki ini nampak seorang lelaki sedang tidur dengan nyenyaknya.


"Hmmm... sebenarnya kau tidak punya salah denganku, tapi suruh siapa mau jadi pembantu tua bangka tak tau diri itu" bisik bayangan itu.

__ADS_1


Si Bayangan melakukan gerakan memutar pergelangan tangannya sambil melangkah ke kasur yang di tiduri wakil pemimpin kota palsu, yakni pendekar halilintar. Bau Amis mulai tercium. Nampak pergelangan tangan yang tadinya kecoklatan berubah menjadi hitam kelam. Si bayangan pun mengangkat tangan kanannya bersiap menghantam wakil pemimpin kota.


Blamm...


Uhhkkk...


Sebuah ledakan terjadi. Si bayangan terlempar sejauh tiga tombak. Sekilas tadi sempat terlihat kilat halilintar bersamaan terdengarnya ledakan. Ternyata bayangan itu terpental oleh hantaman pukulan halilintarnya Jaka.


Tiba-tiba saja lampu ruangan di nyalakan. Tempat yang tadinya gelap itu kini menjadi terang menjadi terang. Nampak si bayangan sedang berusaha bangun setelah terjengkang akibat pukulan tadi. Tanpa menunggu waktu Jaka langsung melesat memberi totokan pada penyerangnya sehingga orang itu tak mampu bergerak.


"Bangsatt... lepaskan aku, mari kita bertarung secara jantan." Bentak si penyerang.


Tak berselang lama datang ke tempat itu Pemimpin Kota. Hatinya lega bahwa kali ini jagoannya mampu mengatasi musuh. Sedang sepekan berselang tidak terhitung jaho-jago silat yang terluka atau binasa terhadap perusuh di tempatnya itu. Tak lama kemudian Intan dan Cempaka pun datang bergabung.


"Buka penutup wajahnya." perintah pemimpin kota kepada pengawal yang berada di sampingnya.


"Terkejutkah kau tua bangka hahaha, kau kira bisa tenang menjadi pemimpin di sini" ucap penyerang yang bernama Pradhika itu.


"Siapa dia tuan?" tanya Intan yang penasaran.


"Dia adalah putra tertua dari pemimpin kota sebelumku." jawab orang tua itu.


"Lalu dimana pemimpin kota sebelumnya berada sekarang? tanya Intan lagi.


"Telah tewas di tiang gantungan dua tahun yang lalu." Pemimpin kota menari nafas panjang sejenak, lalu menceritakan kejadian dua tahun berselang.


Rupanya karena telah banyak mendapat laporan dari rakyat, atas tuduhan perlakuan semena-mena, pungutan pajak liar, serta perlakuan tidak adil maka pihak istana datang menyelidiki pemimpin kota Rambalangan terdahulu. Ternyata hasil penyelidikan dari pihak istana membuktikan bahwa laporan itu benar adanya. Bahkan pihak Istana mendapatkan bukti lain tentang adanya niat makar menjadikan kota Rambalangan sebagai kerajaan baru.

__ADS_1


Lalu berdasarkan keputusan sidang pimpinan kota terdahulu beserta seluruh keluarga yang terlibat serta anak buah yang membantunya dijatuhi hukuman mati. Maka sejak itulah ki Jaga Reksa diangkat menjadi pimpinan kota Rambalangan yang baru. Rupanya Pradhika yang berhasil kabimur saat putusan sidang itu masih mendendam kepada pihak kerajaan dan menimpakannya kepada ki Jaga Reksa pemimpin kota yang baru.


"Ada pembunuh... ada pembunuhh..."


Tiba-tiba seorang pengawal yang berada di luar berteriak memberitahukan bahwa ada pembunuh. Para pengawal pun pun dengan sigap melindungi pemimpin kota yang kemudian menggiringnya ke tempat Jaka. Sedangkan pengawal yang lain menyeret Pradika ke arah Jaka pula.


Braakkkk...


Pintu kamar ditendang jebol dari luar. Tak lama kemudian muncul tiga orang lain berpenampilan sama dengan Pradika. Ketiga orang itu mengawasi orang-orang di hadapannya.


"hahaha kalian semua akan mati di sini" teriak Pradika. Laki-laki berumur empat puluh tahunan itu merasa kedatangan teman-temannya membawa kemenangan. Sehingga dengan percaya diri dia mengancam semua orang yang ada di situ.


"Serahkan dia pada kami, akan kami berikan kematian yang mudah bagi kalian. Kalau tidak, siksaan yang menyakitkan akan mengantarkan kalian menuju kematian." Ancam salah seorang dari penyerang yang baru datang.


Ngeri juga perasaan pemimpin kota dan anak buahnya mendengar ancaman musuh. Sampai-sampai mereka tersurut mundur beberapa langkah kebelakang. Pradika yang melihat itu, tersenyum sinis mengejek.


"Hmmm.. kau kira kami takut dengan cecunguk-cecunguk macam kalian. Jangankan dua orang macam kalian, sepuluh orang pun tak akan kami gentar." Tegas Jaka.


"Sombong kau, sudah mau mati masih tak tau diri" hardik salah satu dari rekan Pradika itu. "Serangg..!" serunya lagi..


Kedua orang itu mengeluarkan jurusnya. Seketika kedua telapak tangan mereka berubah menjadi kehitaman. Rupanya mereka sedang mengerahkan pukulan kelabang hitam.


"Kakang, biar aku dan Intan yang menghadapi mereka" pinta cempaka.


"Baiklah, hati-hati jangan sampai tenaga kalian di bawah tenaga mereka. Bisa-bisa kalian pun akan terkena ganasnya racun kelabang hitam." sahut Jaka memperingatkan istrinya dan Intan.


"Terimalah ini..." Pekik salah seorang berbaju hitam.

__ADS_1


Hiyaaaa....


__ADS_2